Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Dela Mayangsari


__ADS_3

“Bye, Del. Nanti malam kita teleponan, ya. Jangan lupa bikin tugas tata ruang. Besok dikumpul.”


Reno Barlian menoel hidung mancung Dela Mayangsari. Kekasih hati yang telah dipacari sejak bangku kelas 2 SMA.


“Makasi udah nganterin, Ren. Besok pagi jemput lagi, kan?”


“Iya dong … Masuk, gih. Aku tungguin.”


Dela melambai sekali lagi lalu berlari kecil masuk ke rumahnya yang asri. Tak lama, terdengar motor Reno berlalu. Dela masih melihat dari balik kaca.


Hatinya berbunga-bunga. Penuh cinta walau tetap dalam batasan wajar. Begitulah hubungannya dengan Reno.


Mereka dijuluki couple goals oleh teman SMA hingga kuliah. Sama-sama rupawan dengan otak encer.


Masuk di universitas dan fakultas yang sama, nilai indeks prestasi keduanya adalah yang tertinggi di angkatannya. Bintang mahasiswa di jurusan arsitektur.


Cita-cita mereka sederhana. Menikah setelah lulus lalu membuka kantor aristektur kecil-kecilan.


Hanya perlu dua tahun lagi sampai mereka lulus kuliah dan mewujudkan cita-cita.


Dela menunggu sampai bunyi motor Reno tidak terdengar sebelum beranjak menuju kamarnya.


“Dela, sini ke kamar kerja Papa,” terdengar suara Vino, ayah tiri yang sangat dibenci Dela.


Tak punya pilihan, Dela masuk ke kamar kerja yang dulunya adalah kamar kerja ayahnya.


“Duduk,” titah Vino lagi sambil menyelesaikan pekerjaan di balik laptop.


Sambil menunggu, Dela memandang berkeliling ruang kerja yang dulu adalah tempat terasik di dunia.


Bersama ayah kandungnya, di sana Dela berdiskusi tentang banyak hal. Tak jarang mereka menghabiskan waktu sambil bermain catur.


Semuanya berubah setelah ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia tak lama kemudian.


Setahun setelahnya, ibunya menikah dengan Vino Bustaro, sepupu suaminya melalui perjodohan antarkeluarga.


Vino yang seusia dengan ayah Dela, belum pernah menikah. Dialah yang ditunjuk meneruskan perusahaan keluarga yang selama ini dipimpin oleh mendiang ayah Dela.


Bagi Ira, ibunda Dela, menikah dengan Vino adalah nasib buruk. Laki-laki itu menikahi semata untuk harta dan jabatan. Belum lagi sifatnya yang ringan tangan.


Berulang kali Dela melihat ibunya keluar kamar dengan lebam di sana-sini. Namun ibunya menyuruh untuk bersabar, mengatakan semua baik-baik saja.


Tak sengaja netra Dela dan ayah tirinya bersitatap. Vino melepas kaca matanya lalu menyandar ke kursi kerja besar.


“Papa sudah menyiapkan segala sesuatu. Malam ini kamu ke Amerika untuk menikah dengan teman bisnis Papa. Namanya Mr Jake.”


Netra Dela terbelalak.


“Pa! Jangan sembarangan menikahkan Dela!” Pekik Dela tidak terima.


Vino menggebrak meja.


“Diam kamu perempuan tak tahu diuntung! Kamu dan ibumu adalah parasit bagi Papa.”


“Papa yang parasit! Papa menikah hanya karena harta Daddy, kan?” Sahut Dela tak peduli.


“Bangsat!”


Vino menggebrak meja.


“Johan! Bawa sini!” Teriak Vino dengan suaranya yang menggelegar.


Dela menatap nyalang ke arah ayah tirinya hendak melontarkan makian ketika tak berapa lama ibunya masuk sembari diseret oleh dua laki-laki.


“Mommy!”


Seorang laki-laki menahan Dela. Ibunya tidak melawan. Ia menurut saja ketika didudukkan seperti manusia terhina di lantai. Wajahnya tertunduk.


“Mommy! Mommy! Lepas! Aku bilang lepas!”


Vino terkekeh, lalu berjalan mendekati istrinya. Laki-laki penjaga itu menjambak rambut Ira ke belakang, membuat wajah wanita itu menengadah.


Sekuat tenaga Vino menampar Ira hingga terguling.


“Mommy! Biadab kamu Vino Bustaro!” Dela berteriak dan meronta melihat ibunya diperlakukan semena-mena.


Ira sudah tidak punya kekuatan apalagi keberanian untuk melawan.


Laki-laki penjaga menarik tubuhnya Ira dan menjambaknya sekali lagi. Kini Vino menampar pipi sebelahnya. Darah mengalir dari bibir Ira.


“Papa akan terus melakukan ini. Pilihannya adalah kamu setuju atau ibumu mati.”


Ira menatap putrinya dengan lembut lalu menggeleng.


“Jangan. Mommy ikhlas, Sayang,” bisiknya disertai dengan darah yang mengalir dari bibirnya yang sudah pecah.


“Bener, kan. Emang nggak ada gunanya jadi istri.”


Vino menampar lagi dan lagi. Berulang kali. Setiap kali terguling laki-laki penjaga akan menegakkan tubuh Ira dengan kasar dan menjambak hinga Vino leluasa menampar kedua pipi yang sudah mulai bengkak.


Dela meratap dan melawan. Namun pria yang menahan bukanlah tandingannya.


Kini Vino semakin menjadi. Ira terbaring tak berdaya harus menerima tendangan berulang kali di bagian perut.


“Papa! Dela setuju. Tolong berhenti! Jangan siksa Mommy lagi.”


Vino terkekeh. Dia mengambil rokok dan menyalakannya. Menghembuskan dengan wajah pongah.


Dela tersedu-sedu melihat kondisi ibunya. Sedari tadi Ira tidak menitikkan air mata. Namun begitu Dela mengatakan setuju, netra wanita itu berlinang.


“Satu syarat. Mommy ikut aku ke Amerika.”


Vino tertawa terbahak-bahak.


“Lalu apa jaminan Papa kamu tidak akan aneh-aneh di sana. Tidak ada syarat. Kamu berangkat malam ini juga. Ingat, kalau kamu aneh-aneh. Ibumu akan mati.”


Dengan langkah lambat Vino mendekati Ira.

__ADS_1


“Jangan kau apa-apakan ibuku!” Pekik Dela putus asa tak mampu melawan pria yang menahannya.


Terkekeh dan tak memedulikan anak tirinya, Vino merobek baju Dahlia di bagian punggung. Sengaja memperlihatkan banyak luka bekas sundutan rokok.


Ira memejamkan mata ketika Vino menempelkan rokok panas ke punggungnya.


Dela berteriak kesetanan.


“Stop! Papa, aku mohon. Stop jangan siksa Mommy!”


Ira memejamkan matanya erat-erat, menahan sakitnya kulit terkena bara rokok.


Dengan enteng Vino melepas sundutannya lalu memindahkan ke bagian lain. Sekali lagi Ira menahan sakit tanpa suara karena Vino akan memberikan hukuman lebih berat jika ia merintih.


Dela menatap nanar. Ibunya kini antara sadar dan tidak.


Vino memberi kode pada pria di belakang Dela untuk membebaskan anak tirinya.


Tergopoh, Dela menghambur ke ibunya.


“Mommy, Mommy Sayang. Bangun. Dela akan rawat luka-luka Mommy.”


Vino menatap keduanya dengan sinis lalu berkata.


“Tak usah bawa banyak pakaian. Jake sudah menyiapkan semuanya. Papa ikut dengan kamu. Ira akan tetap di sini,” ucapnya memberi perintah. Sama sekali tak peduli akan kondisi istrinya.


“Papa nggak akan bisa menikahkan. Papa bukan waliku!”


“Anak bodoh! Aku nggak peduli kalau kamu berzinah seumur hidup dengan Jake.”


Dela hanya bisa menatap Vino dengan penuh kebencian sambil berusaha memapah ibunya. Dia tak peduli lagi akan masa depannya, yang penting saat itu dia harus segera mengobati ibunya.


“Kamu harus kuat, Del. Jangan pikirkan Mommy. Yang penting kamu harus bertahan hidup demi Mommy,” bisik Ira tidak ingin terdengar oleh Vino saat Dela memapah tubuh lemahnya ke kamar.


“Dela nggak mau ninggalin Mommy.”


“Mommy kuat, kok. Yang penting kamu harus survive.”


“I will, Mommy. Aku akan jemput Mommy. Semoga suamiku orang baik.”


Ira memejamkan mata. Dia mengenal siapa Jake. Seorang duda berumur enam puluh tahunan yang nantinya akan bersanding dengan putrinya.


“Nggak usah pikirin Mommy. Kamu harus bertahan, ya, Sayang. Janji?”


Dela mengangguk lemah.


Sesampai di kamar, ia membersihkan luka-luka ibunya. Mengompres kedua pipi yang kini sudah membengkak.


Air matanya berlinang melihat begitu banyak bekas sundutan dan lebam-lebam di tubuh ibunya.


Betapa dulu ayahnya sangat memuja dan memuliakan istrinya. Kini ayah tirinya menganggap Ira tidak lebih dari sebuah samsak.


Setelah selesai. Ibu dan anak berpelukan erat. Menangis, saling menguatkan.


Malam itu, Dela berangkat ke Jakarta bersama Vino untuk melanjutkan penerbangan ke Amerika.


***


Dua hari kemudian, di Texas, Amerika, Dela menikah secara catatan sipil dengan Jackson McMalloy. Seorang pengusaha tambang.


Perawakannya tinggi, gemuk dengan wajah jauh dari tampan. Kumis berwarna perak tebal melintang, sama dengan warna alis dan rambutnya. Matanya kecil berwarna biru.


Umurnya enam puluh lima tahun. Wajahnya sangar namun lembut saat berbicara pada Dela. Sesekali tertawa memamerkan gigi emas di sana sini.


Di tengah pesta, Vino berbisik, “Awas kalau Papa dengar kamu macam-macam. Akan Papa sundut seluruh tubuh ibumu.”


Dela mengangguk lemah. Mimpinya hancur sudah.


Jake di lain pihak terlihat sangat bahagia. Dia menggandeng Dela ke mana pun. Mengenalkan pada teman-teman dan keluarganya.


Laki-laki tua itu telah lima kali menikah tanpa anak. Semua istrinya diceraikan dengan tunjangan yang cukup membuat mereka bungkam dan menikmati hidup.


Sementara Dela bergidig setiap kali tangan Jake melingkar di pinggangnya, pria itu malah tidak segan mulai bermain-main dengan istri kecilnya.


Mencium Dela di sana-sini. Tangannya mulai aktif meraba tubuh istri yang baru beberapa jam dinikahi.


Dela mengamati teman-teman Jake yang semuanya menampakkan kepalsuan. Ikut bahagia padahal tak peduli. Tak sadar jika Jake sedang memandangnya dengan mata yang mulai berkabut.


“You are incredibly beautiful, My Wife. I can’t wait for tonight,” bisik Jake di telinga Dela.


Dela memaksakan senyuman. Dengan lihai, Jake menahan tengkuk istrinya lalu me lu mat bibir Dela dengan penuh napsu.


Dela menahan diri agar tidak mendorong dan menampar suaminya. Terbayang luka-luka sundutan di punggung ibunda tercinta.


Para tamu bersorak melihat ciuman panas sepasang pengantin baru.


“It’s time,” bisik Jake. Kini suaranya terdengar serak.


Dela berniat melarikan diri namun urung saat dari sudut mata ia melihat Vino berdiri tak jauh.


Akhirnya dengan patuh Dela mengikuti suaminya menaiki tangga melingkar di rumah bak istana.


***


Keesokan hari, Dela bangun dengan tubuh letih. Kesucian yang ia simpan untuk Reno telah diambil oleh Jake.


Pria itu bagai lebah yang tak pernah lelah menyesap madu. Dela harus menuruti semua perintahnya.


Tak peduli apakah Dela yang baru pertama kali melakukan hubungan suami istri harus meringis kesakitan menahan perih di area inti sepanjang malam.


Pagi itu, Dela hendak membersihkan diri dan menjalankan salat subuh.


“Mau kemana?”


“Aku harus salat, Jake.”


“Lakukan nanti.”

__ADS_1


“Please, aku akan melakukan apa saja yang kamu minta asal aku tetap boleh salat,” pinta Dela dengan nada memohon.


Jake menyeringai, memamerkan beberapa gigi emas lalu memberikan ijin. Di benaknya sudah berkelebat fantasi liar yang akan dilakukan pada Dela.


Lima kali menikah tapi baru kali ini ia mendapatkan istri yang masih suci. Jake juga merasakan sesuatu yang berbeda dari Dela.


Istri-istrinya terdahulu hanya bermodal tubuh dan kemampuan di ranjang. Namun Dela bagaikan lembaran baru yang siap ia tulis.


Jake melihat Dela keluar dari kamar mandi lalu menjalankan salat.


Setelah Dela selesai menjalankan ibadah, Jake duduk di tepi tempat tidur. Tubuh tuanya polos menampakkan gelambir di sana sini.


“Mendekatlah, aku menagih janjimu.”


Dela menatap Jake dengan pandangan bertanya. Ketika akhirnya ia memahami apa yang diinginkan suaminya, tak punya pilihan lain, dengan menahan mual, Dela menjalankan perintah Jake.


Pria itu mengerang penuh kenikmatan.


Seharian penuh, Jake mengerjai Dela, hanya berhenti jika Jake menitahkan. Itu pun hanya untuk makan dan minum atau ke kamar mandi.


Keesokan hari mereka berdua berbulan madu ke daerah pegunungan.


Jika bisa merutuk, Dela merutuki parasnya yang cantik dan tubuhnya yang indah ideal.


Beberapa menit saja ia ingin Jake tidak menjamahnya.


Hanya sebentar sekadar untuk merasakan bahwa tubuhnya adalah miliknya.


Cukup beberapa menit, ia ingin dunia berhenti berputar dan membiarkan dirinya menangis.


Tapi itu semua hanya angan. Jake mendidik Dela menjadi pemuas hasratnya setiap saat.


Bersama Jake, Dela merasakan semua yang bisa dilakukan seorang pria terhadap seorang wanita. Dan tidak ada pilihan bagi Dela untuk pasrah dan patuh.


Tidak ingin memiliki keturunan, Jake menyuruh Dela untuk memasang alat kontrasepsi. Lagi-lagi Dela pasrah ketika seorang obgyn memasang IUD di rahimnya.


Dela pernah memberanikan diri untuk bertanya, dari semua wanita, kenapa dirinya yang harus menikahi Jake.


Enteng, Jake menjawab, “Vino kalah taruhan. Dia satu-satunya yang mempertaruhkan putri tirinya. Pikirku kenapa tidak. Kulihat di foto, kamu cantik dan Vino juga menjanjikan kesucianmu.”


Emosi Dela menggelegak, namun dirinya tidak diberi kesempatan untuk marah karena Jake sudah merebahkannya ke tempat tidur.


Jika di dalam kamar Dela adalah mainan bagi suaminya, di luar kamar, Jake memperlakukan istrinya dengan baik.


Dela diberi kesempatan untuk mempelajari bisnis tambang. Bertemu dengan orang-orang kaya di Texas. Jake mengajarinya untuk bicara dengan penuh percaya diri.


Ternyata, banyak pria seumuran Jake yang memiliki istri muda belia. Dela berteman dengan beberapa di antaranya. Semuanya adalah istri pajangan.


Dela tidak tertarik untuk menjadi istri pajangan, namun berbinar setiap Jake mengajaknya ikut serta ke pertemuan-pertemuan bisnis.


Ternyata Dela tidak hanya cerdas. Intuisi bisnisnya juga tajam. Jake harus mengakui itu.


Untuk istrinya Jake membuatkan perusahaan penanaman modal kecil-kecilan. Dela mengajak teman-temannya sesama istri pengusaha tambang ikut berinvestasi.


Awalnya mereka setuju karena Jake yang menjamin. Namun Dela berhasil membuat portofolio investasi yang menguntungkan hingga akhirnya para wanita itu berbondong-bondong menanamkan uang di perusahaan Dela.


Meski dikenal sebagai business woman muda yang handal, namun di tempat tidur, Jake tetap menuntut kepatuhan. Dela tidak peduli lagi akan tubuhnya. Selama suaminya puas dan memberinya kebebasan di luar kamar, ia akan melakukan apa saja.


Selama menikah dengan Jake, Dela tidak diperkenankan pulang ke Indonesia. Setelah memohon, akhirnya Jake memperkenankan Dela menelepon ibunya setiap seminggu sekali.


Ibunya nampak semakin kurus dan menderita. Namun ditutupi dengan tatapan penuh cinta dari wanita yang melahirkannya. Ira selalu berpesan agar putrinya bertahan dalam kondisi apapun.


Setahun menikah, Dela mendapat berita ibu kandung dan ayah tirinya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Mobil yang dikendarai Vino terguling dan terbakar di jalan bebas hambatan. Keduanya tidak bisa diselamatkan.


Dela memohon untuk diijinkan pulang ke Indonesia, namun Jake melarang.


Dengan hati hancur ia hanya bisa melihat pemakaman ibunya melalui media sosial teman-temannya di kampung halaman.


Dela berusaha mencari tahu apakah Reno hadir, namun pria yang masih dicintainya tidak nampak di foto-foto.


Lima tahun, Dela menikah dengan Jake.


Suatu hari Jake datang menggandeng wanita muda berambut pirang bergelombang dengan wajah mirip boneka Barbie.


Jake berkata, “Del, aku akan segera menikahi Brigitta. Aku sudah mengurus perceraian kita. Dana satu juta dollar telah kutransfer ke rekeningmu. Pulanglah ke Indonesia.”


Kalimat Jake bagaikan musik yang sangat merdu di telinga. Dela menghadapi perceraiannya dengan bahagia.


Sejak hari itu, Jake tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Akhirnya, Dela dapat tidur nyenyak sepanjang malam tanpa harus menjadi mainan suaminya.


Dela tidak mempermasalahkan jumlah uang yang diterima. Salah seorang teman menyebutkan jumlah yang diterima para mantan istri Jake terdahulu jauh lebih fantastis.


Baginya, bisa pulang ke Indonesia, berziarah ke makam orang tuanya sudah lebih dari cukup.


Uang dari Jake langsung disimpan di sebuah bank di Swiss. Hanya diambil secukupnya untuk modal membuka lembaran baru. Dela akan pulang ke Indonesia dengan cerita bahwa selama ini ia kuliah di Amerika.


Begitu akta cerai diterima, Dela langsung terbang ke Indonesia. Jake pun nampaknya tidak lagi peduli pada Dela. Laki-laki tua itu sudah asik dengan mainan barunya.


Di hadapan nisan kedua orang tuanya, Dela lama berdiam diri. Cita-citanya pernah hancur gara-gara ayah tirinya, namun kini ia mendapat kesempatan emas untuk membuka lembaran baru.


Kegetiran membuat Dela jauh berubah. Setelah beberapa tahun di Amerika ia mulai meninggalkan ibadah.


Hatinya mengeras. Kini Dela bertekat hidup untuk dirinya. Tak peduli harus melakukan apa, yang penting dia akan memastikan keinginannya terwujud.


Dela mencari dua laki-laki yang menjadi antek ayah tirinya. Membayar begundal, yang dengan sekali libas, dua laki-laki itu ditemukan tak bernyawa di pinggir sungai dengan jasad tak lengkap.


Dia kemudian menjual rumah, mengambil semua hasil penjualan rumah tanpa membagikan pada keluarganya barang sepeser pun. Padahal masih ada hak keluarganya atas rumah warisan turun temurun.


Wanita itu menyalahkan keluarganya atas perjodohan ibunya dengan Vino Bustaro sehingga menorehkan derita begitu dalam.


Setelah urusannya beres, Dela memutuskan pindah ke Bandung. Meninggalkan kota tempat ia pernah merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang mendalam.


Di Bandung, ia akan meneruskan salah satu bisnis mendiang ayah kandungnya yaitu penanaman modal.


Sebelum meninggalkan kota kelahiran, ia mengubah penampilan seperti saat kuliah. Dela sudah mengumpulkan semua keterangan mengenai Reno Barlian dan Nafisa Salsabila.


Menatap pantulan wajahnya di cermin, Dela berkata, “Kita akan mewujudkan mimpi kita, Ren. No matter what.”

__ADS_1


***


__ADS_2