
“Bagaimana Anda menjamin Nafisa akan bisa mengasuh dengan baik anak-anaknya?”
“Karena saya akan menjadi pendampingnya. Ya, saya akan menikahi Nafisa Salsabila lalu kami akan membesarkan Aurelie dan Milo bersama.”
Sementara Zayn nampak tenang dengan keputusannya untuk menikahi Nafisa, tidak demikian dengan wanita yang baru terkena shock mendengar perkataan laki-laki yang paling dia benci seantero jagat.
Nafisa menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya melotot ke arah Zayn.
Tak disangka Reno menanggapi dengan nada dingin, “Seperti inikah orang-orang yang akan membesarkan anak-anakku? Memakai pernikahan sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu? Yang Mulia, saya harap hak asuh Aurelie dan Milo jatuh mutlak ke tangan saya dan istri saya. Kamilah yang paling pantas mengasuh mereka.”
Pengacara Nafisa langsung berdiri, khawatir kliennya akan mendapat dampak buruk.
“Majelis Hakim yang mulia, terus terang ini adalah perkembangan baru yang saya yakin sangat mengejutkan untuk Ibu Nafisa. Tapi dari ini semua kita bisa yakin bahwa klien saya bukanlah pembunuh seperti yang dituduhkan di awal.”
Wanita itu melanjutkan lagi, “Dan mengenai perkawinan, saya yakin jodoh di tangan Allah. Pak Zayn dan Bu Nafisa sama-sama single. Bisa jadi kejadian hari ini membuka jalan untuk klien saya dan Pak Zayn untuk benar-benar bersatu dan memulai mahligai perkawinan tanpa didahului perselingkuhan dan perzinahan.”
Tak mau kalah, pengacara Reno dan Dela siap membantah namun ketua majelis hakim memberi isyarat padanya untuk diam.
“Menilik sebab jatuhnya hak asuh ke tangan ayah di sidang pertama, maka kami lihat Ibu Nafisa sudah berjuang secara luar biasa untuk mencukupi kebutuhan finansialnya. Mengenai status sebagai mantan napi, kami juga tidak mempermasalahkan. Banyak mantan napi wanita yang sukses mendidik anak.”
Ketua Majelis Hakim berhenti sejenak lalu menatap lurus ke arah Nafisa.
“Kami mengkhawatirkan kondisi kejiwaan Anda. Walaupun kami tahu bahwa Anda adalah orang yang tegar dan kuat, namun kami mengkhawatirkan jika trauma Anda kembali saat bersama anak-anak. Kami akan mengevaluasi dalam waktu tiga bulan. Selama tiga bulan ini, harap Pak Reno dan Bu Dela mengembalikan jadwal kunjungan seperti sedia kala.”
Hakim mengetok palu. Reno tampak mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
Dela memegang lengan suaminya untuk menenangkan.
Berbisik dia berkata, “Tenang aja, Ren. Penjahat itu nggak akan dapetin Aurelie dan Milo.”
Setelah para hakim keluar ruangan, Reno dan Dela pun beranjak pergi. Demikian juga dengan Nafisa, pengacaranya, dan Zayn.
Sementara Nafisa melanjutkan langkah, Zayn m berhenti untuk berdiskusi serius dengan pengacara.
Tak sengaja Nafisa berhenti di depan lift bersama Reno dan istrinya. Malas berhadapan dengan mereka, Nafisa memutuskan untuk turun melalui tangga.
“Batalkan permohonan hak asuhmu, Nafisa. Kamu tetap bisa menikah dengan Zayn, aku nggak peduli,” cetus Reno dingin. Kalimat yang membuat Nafisa menghentikan langkah.
“Nggak akan! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hak asuh sepenuhnya. Oya, aku akan jemput Aurelie dan Milo Jumat ini. Mereka menginap seminggu penuh.”
Dengan nada sinis Dela berkata, “Anak-anak sudah terbiasa tanpamu. Bahkan mungkin mereka malu punya ibu mantan narapidana.”
Merasa tertohok di ulu hati, Nafisa berusaha tetap tegar dan menjawab, “Itu urusanku. Siapkan saja mereka. Nggak usah ikut campur.”
“Nafisa! Sopan sedikit ke Dela. Dia itu ibu yang luar biasa untuk anak-anak!” Bentak Reno dengan keras.
Zayn yang baru bergabung setelah bicara dengan pengacara Nafisa mengerutkan kening.
“Nggak ada yang boleh bicara kasar ke calon istriku. Del, nggak usah berlagak jadi pahlawan. Nafisa terpisah dari anak-anaknya juga karena lu, kan?”
“Dia sudah merebut Reno dari gue, Zayn. Lu diem aja kalau nggak tau apa-apa.”
Tergelak Zayn menggelengkan kepala.
“Aduh, lu lawak, ya. Hidup di dunia halu mana sih? Anyway, kalau lu mau dihormati sebagai ibu sambung, lu hormati juga ibu kandung.”
Reno maju dan langsung berhadapan dengan Zayn, matanya menatap dengan bengis.
Tetap tenang, Zayn berkata dengan nada mengejek, “Kenapa sih kamu khawatir kalau aku dan Nafisa menikah? Toh itu kan salah satu senjata kalian di sidang pertama selain kondisi keuangan Nafisa? Apa kamu masih … cemburu?”
“Aku nggak pengin anak-anakku punya ayah sambung macam kamu!” Desis Reno geram.
Nafisa maju untuk melawan.
Sengit ia berkata, “Aku nggak pengin anak-anakku punya ibu sambung macam dia.”
Telunjuknya mengarah lurus ke Dela.
“Kamu …” Mata Reno menatap nyalang ke arah mantan istrinya.
“Cukup! Nafisa kita pulang. Kalian berdua, bisa nggak sih normal aja jadi orang? Yang satu bisa-bisanya menggadaikan istri lalu kawin lagi. Yang satu sudah jadi pelakor sekarang sok jadi pahlawan. Kita ketemu tiga bulan lagi dan kalian harus siap.”
Zayn berpaling untuk bicara dengan Nafisa namun lagi-lagi dia kehilangan wanita bercadar itu.
“Wanita itu lihai banget menghilang,” cetusnya dalam hati.
Merasa tak perlu melanjutkan perdebatan, gegas ia menuruni tangga. Terdengar langkah Nafisa sudah lebih dulu beberapa lantai di bawahnya.
“Nafisa, tunggu …”
Zayn mendecak karena yakin Nafisa bisa mendengar tapi sengaja tidak mau berhenti.
Tiba di lobby, ia mengejar Nafisa yang berjalan ke arah mobilnya.
“Nafisa, berhenti!” Titah Zayn Malik.
Yang dipanggil malah masuk ke dalam mobil. Tak mau ketinggalan, Zayn masuk ke kursi penumpang.
“Bisa nggak sih kamu dengerin kata orang sedikiiit aja?”
“In syaa Allah bisa, cuma bukan Bapak. Oya Si Belegug Mikail itu juga. Telinga saya udah nutup buat kalian berdua,” jawab Nafisa acuh, sibuk mempersiapkan diri untuk pergi dari kantor pengadilan agama.
Diam-diam Zayn tersenyum tapi memalingkan wajah karena tidak mau Nafisa melihatnya.
“Kita harus bicara.”
Zayn memencet tombol di mobil dan mesin mobil pun mati.
“Pak, berhenti lah mengurus hidup saya. Tolong. Biarkan saya menyelesaikan semuanya sendiri. Jika pun saya gagal mendapatkan hak asuh, ya sudah, mau nggak mau saya akan berusaha ikhlas. Tapi saya nggak ingin kita membuat problem baru,” cetus Nafisa penuh emosi.
“Nikah sama saya problem?” Tanya Zayn, alis terangkat, harga diri terusik.
“Secara garis besar, Bapak yang problem buat saya. Please, Pak, jangan ngide yang bakal bikin kita berdua menyesal. Gini deh, saya maafin Bapak udah ngirim saya ke penjara. Saya lupakan semua kejadian di sana. Saya mohon dengan teramat sangat, Bapak pergi dari kehidupan saya atau ijinkan saya pergi dari keluarga Malik. Sepakat?”
Netra Zayn melembut mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan Nafisa dengan berapi-api.
“Nggak ada kata sepakat. Satu-satunya cara melawan Reno dan Dela adalah jika kita menikah. Secara finansial nggak perlu ditanya, dari sisi psikologi untuk anak-anak juga bagus karena kita pasangan suami istri, lalu yang jelas aku bisa jagain kamu supaya nggak kumat. Perfect.”
“Pak, please. Banyak kok cara lain yang bisa SAYA ambil, nggak perlu Bapak …”
Hape Zayn berbunyi dan di layar tertulis Maryam.
“Assalamualaykum, Zayn, apa benar berita di semua channel entertainment kalau kamu mau nikah sama Nafisa? Gila kamu … ?”
Nafisa menyerobot hape dari tangan Zayn, “Waalaykumussalam, iya Bu. Tolong minta anak Ibu untuk cabut ide gilanya. Saya nggak mau nikah sama dia,” sambar Nafisa.
Maryam terdiam, tidak menyangka ada Nafisa di sana.
“Mmm maksud Ibu mau ngomong gini ke Zayn, gila kamu pinter banget. Ibu bahagia kalau kamu menikah sama Nafisa …”
Zayn berusaha menahan tawa melihat mata Nafisa yang melotot.
“In syaa Allah ya Bu. Tapi Ibu langsung dapet paket lengkap nih, istri dan cucu.” Zayn balik menyerobot hapenya.
“Ibu seneng banget, Nak.”
Nafisa melihat ke arah layar, Maryam tampak luar biasa berseri.
__ADS_1
“Bu … please Nafisa nggak mau nikah sama Pak Zayn. Nafisa akan bertempur untuk mendapatkan hak asuh tanpa harus menikah. Jangan berharap banyak, ya, Bu.”
“Oh, baik, Nak. Ibu ngerti. Zayn, dengar itu? Jangan ganggu Nafisa lagi.”
Zayn tertegun namun matanya menangkap kedipan mata Ibunya.
“Bbbaaik. Kupikir tadi adalah ide bagus demi mendapatkan Aurelie dan Milo.”
Nafisa menggeleng.
“Pak, jangan cari solusi dengan masalah. But anyway, terima kasih sudah mau membela saya di pengadilan.”
“No worries. Malam ini aku pulang ke apartemen.”
Tak mengerti harus menjawab apa, Nafisa akhirnya menjawab, “Baik. Fii amanillah, assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam,” jawab Ibu dan anak itu serempak dan Zayn segera keluar dari mobil Nafisa.
Setelah wanita itu pergi, Zayn berkata kepada Maryam, “Bu, bantu Zayn supaya bisa menikahi Nafisa.”
“Kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahi Nafisa? Ibu nggak yakin kamu jatuh cinta sama dia. Apa karena rasa bersalah?”
Sambil berjalan ke mobilnya, Zayn terus bercakap.
“Campur-campur, Bu. Sepertinya, wanita pembangkang itu sudah membuatku suka. Ditambah lagi, aku juga masih sangat merasa bersalah. Tapi yang lebih penting, bersamaku ia tidak akan sendirian lagi. Aku janji akan melindunginya, Bu.”
“Ibu akan bantu agar Nafisa mau membuka hati untuk kamu. Tapi tidak ada paksaan. Jika dia tidak mau maka harus berhenti.”
“Untuk itu, Zayn in syaa Allah akan usaha sendiri juga. Doakan, Bu, semoga Nafisa adalah jodoh Zayn sampai ke surga.”
“Maa syaa Allah anak Ibu. Alhamdulillah, Ibu seneng kamu bisa ngomong gitu.”
Zayn tersenyum dan mengangguk. Terdengar adzan berkumandang.
“Bu, Zayn ke masjid dulu. Nanti kita ngobrol lagi.”
***
Di ruang rias sebuah stasiun TV, Valerie mengamuk. Melempar barang-barang, memporak-porandakan semua yang ada di sana.
Asistennya hanya bisa menatap kecut ketika salah seorang manajer pengelolaan mengatakan akan mengirim tagihan perbaikan.
Trending topic siang itu adalah lamaranZayn* dan *Valeriemengamuk.
Nafisa sendiri mendapat banyak tanggapan di akun media sosialnya. Ada yang mendukung, ada yang mencibir.
Memilih untuk menyingkir, Nafisa melajukan kendaraannya ke pantai. Dia perlu waktu untuk berpikir.
Menikahi Zayn tentunya akan memperbesar kemungkinan untuk mendapat hak asuh, namun sanggup kah dia menikah dengan laki-laki yang telah membuat hidupnya menderita?
Nafisa duduk di tepi pantai. Dibiarkan kakinya sesekali basah karena deburan ombak. Memandang berkeliling, wanita itu mengingat dulu bersama Reno dan anak-anak sering ke pantai ini.
“Apa salah aku sama kamu, Bang, sampai segitu bencinya?” Ucap Nafisa lirih sembari menghela napas.
“Halo, halo. Kita harus stop ketemuan kayak gini.”
Seorang laki-laki dengan masker dan kaca mata hitam duduk di samping Nafisa.
“Kamu ngikutin aku?” Tanya Nafisa mengenali dia sebagai laki-laki yang pernah menolongnya ketika hampir bunuh diri di jembatan. Lali-laki itu memakai jaket yang sama, masker dan kaca mata hitam.
“Enak aja. Emang aku gabut. Gak deh. Dulu aku sama istri dan anak-anak sering ke sini. Pantai ini satu-satunya di Ibukota.”
“Istrimu yang sekarang atau yang sudah meninggal?”
“Meninggal? Ooh ya ya, yang sudah meninggal. Dia sangat menyukai suara deburan ombak. Kamu makin ngetop ya sekarang, dipinang sama Zayn Malik di pengadilan agama, loh. Waaaw …”
“Aku kesini mau menyepi, eh ketemu kamu ngomongin itu lagi.”
“Memangnya kamu ada hubungan sama dia? Bukannya dia yang jeblosin kamu ke penjara? Aku kepo,” tanya laki-laki itu terkekeh.
“Ck. Gada hubungan. Dia aja tiba-tiba pengin jadi pahlawan. Lagian, bisa-bisanya lamaran Pak Zayn ke aku langsung viral gitu.”
“Mata dan jempol netijen sekarang lebih cepat dari suara,” balas laki-laki itu dengan suara datar.
Mereka berdua diam menikmati silir angin dan ombak yang berdebur.
“Kamu … kamu mau nikah sama Zayn Malik?”
Nafisa menggigiti bibirnya.
“Pasti kamu tau kan, pernikahanku kandas? Rasa sakit yang ditinggalkan oleh mantan suamiku masih terasa sampai sekarang. Waktu di penjara dan menerima siksaan, aku sering membandingkan mana yang lebih sakit, dikhianati atau dipukuli. Ternyata masih sakit dikhianati.”
Terdengar napas laki-laki yang duduk di sebelahnya tersentak.
“Kenapa, kaget? Pasti laki-laki mikir nggak bakal sesakit itu ya kehilangan cinta. Salah. Sakitnya sampai ke tulang. Padahal kami dulu saling mencintai. Paling tidak, aku pernah sangat mencintai mantan suamiku. Mungkin dia tidak demikian, buktinya dengan gampang menyingkirkanku yang sudah rela berjibaku buat bayar hutang dia.”
Lirih, Nafisa melanjutkan, “Jika bisa bertanya, apa kesalahan yang begitu besar kuperbuat hingga dia membenciku. Bahkan jika memang dia tidak mencintaiku lagi, setidaknya dia akan legowo memberikan hak asuh anak padaku. Tapi tidak. Dia malah berjuang menunjukkan bahwa aku adalah ibu yang tidak layak mengasuh anak-anakku.”
“Dia akan berjuang untuk mempertahankan anak-anaknya. Karena hanya mereka bagian dari dirimu yang masih dia miliki. Well, atau memang dia orang tanpa hati, iblis berwujud manusia,” balas laki-laki itu terkekeh.
“Kemungkinan besar kemungkinan yang kedua ya,” timpal Nafisa juga sambil terkekeh.
“Ouch …”
“Kamu kenapa sih? Seolah-olah aku menyakitimu dari tadi?”
“Sebagai laki-laki, harga diriku tercabik.”
“Lebay. Kamu sendiri yang ngomong.”
Sepasang burung laut terbang melintas langit yang cerah di siang menjelang sore. Di belakang mereka, kesibukan kafe-kafe bersiap untuk menerima tamu mulai terdengar.
“Nafisa, mungkin aku hanya menebak karena tidak terlalu mengenal dirimu. Tapi feelingku mengatakan, mantan suamimu itu masih sangat mencintaimu. Dia memang berbuat kesalahan dan harus bertanggung jawab dengan menikahi istrinya yang sekarang. Mengenai Zayn …”
Nafisa menoleh karena tiba-tiba pria itu terdiam.
“Apa?”
“Mungkin … mungkin dia memang bisa jadi pendamping buat kamu. Beri waktu supaya kalian saling … saling mengenal.”
“Kenapa kamu gelagapan gitu, sih?”
“Kamu tau kan, kalau aku masih mencintai istriku yang dulu? Aku hanya membayangkan kalau dia menikah dengan orang lain … mungkin duniaku runtuh.”
“Yaelah, drama. Kamu harusnya berdoa supaya mendiang istrimu tenang di sana, lalu berusaha mencintai istri kamu yang sekarang.”
“I know. Anak-anakku semua mirip ibunya. Aku sering masuk ke kamar mereka hanya untuk membayangkan istriku … ehm mendiang istriku. Tidak ada hari yang kulewati tanpa merindukannya.”
“Lalu istrimu yang sekarang?”
“Tentunya nggak tau. Dia sangat mencintaiku, namun hati ini belum terbuka untuknya. Aku sudah menerima dia sebagai istri, terbukti dia sedang mengandung anakku. Tapi hati ini, tidak.”
“Berjuanglah, Kawan. Nggak adil buat dia untuk hidup tanpa cintamu.”
“Terima kasih nasihatnya, loh, Kawan,” balas pria itu lagi-lagi sambil terkekeh.
“Kamu kenapa nggak buka masker dan kaca mata?”
__ADS_1
“Nanti kamu naksir.”
“Innalillahi. Aku udah cukup pusing dengan problemku.”
“Kamu juga kenapa nggak buka cadar? Becanda-becanda. Kan ada tu artis yang bercerai dan buka cadar. Pakai press conference pula. Kamu nggak mau ikutan?Pasti viral, judulnya calon istri Zayn Malik melepas cadar.”
“Nanti kamu naksir.”
“Udah …”
“Apa?” Nafisa mendelik.
“Makanya kalau orang ngomong dengerin dulu. Aku mau bilang, udah mending kita begini aja. Walau sebenarnya aku sudah pernah liat wajah kamu pas di ICU. Cuma ya kan gitu, banyak selang infus. Dari mulut, hidung. Nggak keren lah …”
“Sial. Btw, siapa namamu?”
“Sabtio … Sabtio Naren.”
“Dokter Naren? Masih praktek di rumah sakit yang sama?”
“Yep. Panggil aja Tio.” Laki-laki itu melempar batu ke dalam air.
“Pertimbangkan untuk menikah dengan Zayn. Kamu tidak lagi sendirian menghadapi dunia ini.”
Nafisa menggeleng kuat.
“Aku takut, Yo. Dulu mantan suamiku juga menjadi pelindung dan tempat bergantung. Kenyataannya apa?”
“Mungkin Zayn lebih baik dari manusia macam mantan suamimu itu. Berikan kesempatan dirimu dan dirinya saling mengenal. Jika tidak ada kecocokan, ya nasib, jomblo lagi.”
“Iiih nggak lucu tau, Yo.” Nafisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sabtio menoleh lalu menatap Nafisa.
“Sudah, sudah. Hidup itu memang mengalir, tapi kita harus jadi nakhoda untuk diri kita. Riakan air di belakang tidak bersisa untuk ke depannya. Jangan tenggelam di masa lalu. Pahit dulu belum tentu pahit di depan.”
“Belum tentu manis juga, kan? Cuaaakz.”
Tiba-tiba Nafisa tertawa geli.
“Aku … aku nggak ngerti kenapa aku bisa ketawa, padahal rasanya getir. Tapi makasih, udah dua kali aku ngakak di depan kamu. Hmm aku harus pulang, keburu macet. Akan kupikirkan soal Zayn. Makasi buat pencerahannya. Take care, Yo. Moga kalau ketemu lagi, aku udah nggak galau. Pamit, ya. Assalamualaykum.”
Sabtio hanya menggangguk sekilas. Dari sudut matanya melihat Nafisa jalan menjauh menuju parkiran mobil.
Matanya kembali menatap jauh ke batas ufuk.
“Berbahagialah, Nafisa …” Gumamnya.
***
Zayn duduk di penthouse yang menghadap ke jalan-jalan utama metropolitan.
Di depannya berserak foto-foto Nafisa dari masih kecil di panti, pernikahan, hingga menjadi seorang ibu. Dibacanya laporan dari detektif yang dia sewa untuk menyelidiki latar belakang Nafisa. Semua hanya bermula di panti yang sudah puluhan tahun tidak beroperasi.
Meski dirinya anak tunggal, tapi kasih sayang ayah dan ibu selalu mengiringi perjalanan hidup Zayn. Sementara Nafisa sebatang kara tanpa ingatan apapun tentang masa lalunya.
Detektif mengatakan bahwa pernah ada seorang syekh dari Dubai mencari anak bernama Nafisa Salsabila. Namun pencarian dihentikan karena tidak ada titik terang.
Ketika detektif menyelidiki, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya syekh itu sehingga belum ada informasi penting terkait masa lalu Nafisa.
Hape Zayn berbunyi. Entah berapa kali sudah Valerie menghubungi baik melalui telepon hingga pesan. Dari cacian hingga permohonan untuk rujuk.
Zayn menghela napas panjang. Tidak bisa dipungkiri dia masih mencintai Valerie, tapi perbuatan keji tanpa penyesalan sedikit pun membuat Zayn mantap untuk mundur. Herannya, ternyata tidak sesulit dan sesakit itu melepas Valerie.
Meski bukan sosok yang suci dan bersih apalagi taat beragama, namun Zayn tahu batasan yang tidak boleh dilanggar. Membunuh tidak pernah ada dalam kamusnya. Melemparkan fitnah keji juga tak bakal ada di benaknya.
Sejak menikah, sekuat tenaga ia berusaha membuat Valerie diterima Ibunya. Bahkan menutup mata terhadap perilaku istrinya yang kurang elok.
Gigih, Zayn dulu terus minta ibunya membuka hati untuk Valerie dengan mengatakan karena istrinya lahir dan dibesarkan di Amerika sehingga memiliki karakter yang berbeda.
Dua hal menjadi penyesalan Zayn Malik. Pertama adalah membawa masuk Val ke dalam keluarga Malik hingga akhirnya Maryam hampir terbunuh. Kedua, menjebloskan Nafisa ke penjara atas tuduhan kosong.
Hapenya berbunyi lagi. Tak ingin berurusan, Zayn memblokir telepon Valerie.
Dia terlonjak ketika terdengar pintu penthouse digedor.
Menyangka itu Valerie, Zayn gegas mengintip ke lubang pintu dan melihat Mikail yang baru pulang dari tugas luar negeri.
“Hey, Bro,” sapa Zayn seraya membuka pintu.
Tanpa basa-basi, Mikail langsung melayangkan bogem ke wajah Zayn.
“Brengsek, lu mau apalagi sih sama Nafisa? Belum cukup lu siksa, sekarang lu mau nikah sama dia?”
Zayn mengusap wajahnya yang terkena pukulan dan langsung menghindar ketika Mikail kembali menyerangnya.
Mereka berdua memegang sabuk hitam di ilmu bela diri.
“Mik, duduk. Gue bisa jelasin.”
“Lu emang bedebah. Sini lu!” Mika terus menyerang.
Zayn awalnya hanya menghindar akhinya terpaksa membalas sesekali. Tubuhnya lebih tinggi dan besar dari adik sepupunya sehingga tidak sulit baginya untuk melawan.
“Mika, stop it!”
Dengan sekali pitingan, Zayn berhasil melumpuhkan Mikail.
“Brengsek lu, Zayn. You don’t even like her.” Mika berusaha melepaskan cekalan kakak sepupunya.
“Sepertinya, gue jatuh cinta sama dia, Mik. Sorry.”
“Aaaaargh, lepas!”
Zayn melepaskan Mika sementara adik sepupunya sudah nampak kacau. Mereka berdua duduk bersebelahan di karpet.
“Gue suka sama dia Zayn. Lu tau kan dia wanita pertama yang gue suka.”
“Terus lu mau apa? Jujur aja gue memang belum cinta sama dia, tapi gue merasa nyaman banget sama Nafisa meski dia marah-marah nggak karuan. Perlu ada orang yang jagain Nafisa. Dia uda mengalami banyak hal pait.”
“Lah kan elu juga yang bikin. Dan gue bego ngikut aja apa kata elu padahal hati gue yakin Nafisa nggak akan nyakitin Bude.”
“Nafisa belum bilang setuju, Mik. Gue akan berusaha.”
“Gue juga.”
“Maksud?”
“Gue akan bikin Nafisa jatuh cinta sama gue. Kita bersaing mendapatkan dia.”
“Damn, nggak bisa gitu, Mik.”
“Nope, selama belum ada janur kuning, dia masih available. Tapi sebelum kita mulai, gue akan minta lu mundur. Gue juga lebih dari mampu jagain Nafisa.”
“Nggak akan.”
***
__ADS_1