Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Malam Pertama


__ADS_3

Pesta pernikahan Zayn Malik dan Nafisa Salsabila menjadi perhelatan yang paling dinantikan.


Mulai dari para tamu undangan, media gosip, netizen, siap memasang mata dan telinga.


Keluarga Malik tidak pernah mengungkapkan kenapa Zayn dan Valerie bercerai. Dan kini Zayn malah menikahi Nafisa yang pernah dituduh sebagai tersangka percobaan pembunuhan Maryam Malik.


Spekulasi pun beredar liar bahwa Nafisa menjadi penyebab retaknya hubungan Zayn dan Valerie namun segera dibantah dengan fakta bahwa dulu Zayn-lah yang melaporkan Nafisa hingga divonis hukuman mati.


Dugaan lain adalah pernikahan yang tumbuh karena kasihan. Nafisa terbukti tidak bersalah sesudah memberi kesaksian setelah sadar.


Yang jelas semua mata ingin melihat bagaimana seorang Zayn Malik yang sebelumnya menikah dengan Valerie, salah satu model yang sudah mendunia, menikah dengan Nafisa yang lebih memilih memakai gamis dan cadar.


Tepat pukul tujuh malam, Zayn dengan gagah dan raut wajah penuh kebahagiaan menggandeng Nafisa.


Sosok yang tadinya beku kini terlihat ramah menyapa para tamu.


Mereka berdua memakai pakaian pengantin berwarna nude. Sangat nampak bagaimana Zayn terpesona dengan istrinya. Bolak-balik dia melirik Nafisa sambil tersenyum.


Banyak orang yang bertanya dari mana asal Nafisa melihat perawakannya yang tinggi semampai dan mata berwarna abu-abu tua.


Maryam berjalan sambil menggandeng Aurelie dan Milo. Kedua anak Nafisa melambai tangan ke para tamu dengan penuh semangat.


Aurelie membayangkan dirinya sebagai princess yang sedang berjalan di sebuah parade kerajaan sementara Milo menganggap dirinya super hero yang disambut setelah pulang tempur.


Media gosip dan netizen langsung membuat perbandingan bagaimana Maryam sangat jauh di pesta pernikahan Zayn dan Valerie dulu.


Wanita paruh baya itu cenderung diam dan tersenyum seperlunya ketika putranya menikah dengan Val. Sementara sekarang, Maryam tampak ikut berseri dan gembira menyambut kehadiran Nafisa.


Di pelaminan, Zayn dan Nafisa menerima ucapan selamat dari para tamu.


Tak diduga, Reno dan Dela hadir meski Nafisa hanya sekilas saja mengundang. Tepatnya memberitahukan tanpa berniat mengundang.


“Selamat Zayn, semoga nggak nyesel,” ucap Dela dengan mata sinis melirik Nafisa.


“Bunting gede mulut lu masih lemes aja, Del,” bisik Zayn sambil tetap tersenyum.


Dela mendelik hendak menjawab ketika dipotong oleh suaminya.


“Pak Zayn, semoga bahagia. Kamu juga Nafisa,” ujarnya singkat lalu menggandeng Dela turun dari pelaminan agar tidak membuat keributan.


Aurelie dan Milo berlari menyambut. Melonjak-lonjak kegirangan karena pernikahan ibu mereka.


Diam-diam Zayn memperhatikan reaksi Nafisa, namun istrinya tidak menggubris Reno dan hanya sesekali memperhatikan anak-anaknya.


Zayn merangkul Nafisa lalu mencium sisi kepalanya sambil berbisik, “I will make you happy again, Sayang.”


“In syaa Allah,” jawab Nafisa penuh harap.


***


“Sayang, aku belum akan meminta hakku jika kamu belum siap. Take it easy, no rush. Tapi mmm jangan kelamaan, ya.”


Nafisa terkesiap mendengar ucapan suaminya ketika mereka sudah selesai merapikan diri di kamar hotel.


“Aku nggak apa-apa, kok, Mas.”


Zayn mengamati wajah istrinya. Meski mengatakan bersedia namun sorot matanya menyorotkan sebaliknya.

__ADS_1


“Suamimu ini ikhlas kok, yang penting pada saatnya nanti, kamu udah bener siap menerima aku. Mmmm tapi kalau cium-cium sama peluk, boleh, ya?” Zayn menaikturunkan alis.


Wajah memerah, senyum malu-malu membuat Zayn harus memalingkan wajah untuk tidak menerkam istrinya.


Sementara Nafisa yang gugup setengah panik lega karena tidak harus bersitatap dengan suaminya.


Telepon kamar hotel berbunyi.


Zayn langsung mengangkat.


“Zayn, ganggu nggak?” Terdengar suara Maryam menyelidik.


“Nggak kok.”


“Loh kok nggak? Yo wis sabar aja, kasih waktu buat Nafisa seperti kata Dokter Yuni. Awas kamu maksain, Ibu yang bakal potong burung kamu.”


“Bu, idiiih. Ada apa deh malam-malam?”


“Ini Milo ngerengek mau tidur sama Nafisa. Bisa dikasih ngomong ke istrimu biar dia tenang?”


“Aku jemput aja, biar Milo tidur sama aku dan Nafisa.”


“Waah, malam pertama gagal total blas. Udah biar Milo ngomong aja sama mamanya.”


“Sebentar, Bu.”


Zayn memanggil Nafisa yang sedang mengeluarkan barang-barang dari koper ke lemari hotel.


Terkesiap melihat pemandangan menggoda namun belum bisa disentuh. Nafisa memakai piyama satin biru muda dengan rambut panjang bergelombang dikuncir asal.


“Mas, jangan. Ini kan malam pertama kita. Biar Nafisa ngomong sama Milo.”


Istrinya bangkit mendekati.


“Aku ikhlas, Sayang. Nggak apa-apa, kok biar Milo tidur sama kita. Malam pertama aku jadi Daddy,” balas Zayn sambil terkekeh.


Nafisa menatap netra suaminya.


“Mas beneran ikhlas?”


Terdengar suara berdehem dari telepon.


“Sebentar, Bu. Aku jemput, Nafisa sudah oke,” jawab Zayn sambil mengedip satu mata ke istrinya.


“Aku aja yang jemput, Mas.”


“Eh, jangan, kamu harus pakai gamis dan lain-lain. Biar Mas aja. Kamu tunggu di sini ya, Sayang.”


Zayn menutup telepon dan melangkah keluar.


“Mas sebentar.”


Nafisa berdiri di hadapan Zayn. Ingin memberi ciuman di pipi namun masih rikuh. Akhirnya Nafisa hanya mencium punggung tangan Zayn.


“Makasi buat pengertiannya. Nafisa janji akan berusaha melayani Mas sebaik mungkin,” ujarnya sungguh-sungguh.


Tidak ada rasa terpaksa sama sekali bagi Zayn untuk menunggu. Dia pun ingin saat pertama bersama Nafisa menjadi saat yang indah untuk mereka berdua.

__ADS_1


Zayn menangkup ke dua tangan ke wajah istrinya kemudian berkata, “Amazingly, I’m totally fine. I know myself, Nafisa. Normalnya aku nggak bisa menahan, tapi dengan kamu semuanya mudah dan ringan. Aku pun heran kenapa bisa seperti ini. Jadi kamu jangan khawatir. Sekarang aku jemput Milo dulu di kamar Ibu.”


Tak berapa lama, Zayn tiba di kamar Maryam dan ternyata kedua anak itu ingin tidur bersama ibunya.


Zayn menggendong Aurelie yang sudah setengah mimpi. Milo bergelayut di kaki ayah sambungnya.


“Zayn, kamu sekarang bukan hanya suami, tapi juga ayah. Jaga keluargamu, ya.”


“In syaa Allah, Bu. Tidur jangan begadang, nanti cepet keriput,” candanya.


“Suami idaman, sholih, setia, ganteng. Ucapan Ibu adalah doa, semoga kabul,” pungkas Maryam sambil menutup pintu dengan perasaan dongkol namun bahagia.


Sepeninggal Zayn, Maryam tak henti bersyukur. Dia sudah mendapatkan Zayn yang hangat dan akrab seperti sebelum berkenalan dengan Valerie.


“Semoga bahagia terus, ya, Nak.”


Di kamarnya, Nafisa membukakan pintu dan terbelalak melihat Aurelie dan Milo.


“Mas, maaf. Padahal tadi Nafisa udah bilang ke anak-anak kalau malam ini tidur sama Oma. Nanti kalau udah pulas aku pindahin.”


“Sssh udah, tempat tidur gede. Kita tidur berempat aja. Tapi kamu yang di sebelah aku, ya.”


“Mama, Milo mau pegang rambut Mama.” Suara Milo terdengar manja.


Zayn meletakkan Aurelie di pinggir lalu menempatkan kursi makan sebagai pembatas.


Milo ditidurkan di tengah di samping Nafisa. Jari-jari gendut bocil itu sibuk mengkruwel-kruwel rambut ibunya.


Setelah semua terlihat nyaman, Zayn membaringkan tubuhnya di samping Nafisa.


“Mas, aku kasih punggung dulu. Nanti kalau Milo sudah pulas aku balik badan, ya.”


“Nggak usah, Sayang. Tapi aku akan peluk, kamu dari belakang, ya, “ pinta Zayn dengan hati-hati.


Wajah Nafisa bersemu merah, membuat Zayn harus menggigit bibirnya menahan gemas.


“Selamat tidur, Mas.


“Selamat tidur, Sayang.”


Zayn melingkarkan satu tangannya ke pinggang ramping Nafisa. Bukannya risih, Nafisa merasakan nyaman.


Dalam hitungan menit, keluarga baru itu melewatkan malam pertama di alam mimpi masing-masing.


***


Dela menatap Reno yang sudah tidur pulas. Mereka baru selesai bertempur. Dokter memang menyarankan agar Dela dan Reno mulai sering berhubungan untuk memancing kelahiran.


Dengan lembut, Dela membelai rambut Reno yang lembut bergelombang. Mencium pucuk hidung, kening, pipi, dan bibir suaminya.


“Aku cinta banget sama kamu, Ren. Semoga mulai sekarang, cinta kamu hanya untuk aku.”


Kemudian Dela merebahkan diri, mematikan lampu.


Dalam gelap, Reno membalik badan. Air mata mengalir dari kedua matanya bersama isak yang setengah mati dia sembunyikan.


***

__ADS_1


__ADS_2