
Zayn duduk di dalam ruangannya yang sudah porak poranda.
Jika bisa membakar, maka akan ia hanguskan ruangan tempatnya bercinta dengan Valerie.
“Nafisa … kembalilah …”
Tangannya berulang kali menekan nomor hape Nafisa.
Dia betul-betul kehilangan jejak istrinya. Belum dua puluh empat jam namun Nafisa sudah hilang bak ditelan bumi.
Tak ada satu CCTV pun yang bisa memberi petunjuk kemana istrinya pergi.
Zayn yakin adanya campur tangan Mikail. Sepupunya memang terlatih untuk menghilangkan jejak.
Menduga kini Nafisa bersama Mikail membuat Zayn menjambaki rambutnya sendiri.
Tak bisa dibayangkan bagaimana hancurnya perasaan Nafisa ketika melihat langsung suaminya bercinta dengan perempuan lain.
Dengan langkah gontai, Zayn menuju basement tempat mobilnya diparkir.
Keningnya berkerut melihat satu orang yang berdiri di samping mobilnya.
“Reno?”
“BAJINGAN KAMU ZAYN MALIK. BAJINGAN!”
Reno melayangkan pukulan bertubi-tubi mengenai wajah dan tubuh Zayn yang belum pulih betul.
Zayn tersungkur dan Reno menendangnya. Beberapa security datang dan langsung membekuk Reno.
“Lepas! Bajingan kamu! Kenapa tega kamu menyakiti Nafisa? Cukup aku aja yang menghancurkan hidupnya, jangan kamu juga. Lepaskan, bedebah!”
Reno terus meronta untuk membebaskan diri.
Dibantu salah seorang security, Zayn berdiri masih sempoyongan. Salah satu pukulan Reno mengenai ulu hati hingga menyebabkan Zayn sempat kehilangan napas.
“Lepaskan dia,” perintah Zayn sambil terbatuk-batuk sekaligus mau muntah.
Begitu bebas, Reno hendak menyerang Zayn namun langsung dibekuk.
“Ren, apa masalah lu, hah? Nggak usah ikut campur. Lu urus bini sama bayi lu. Awas kalau ada apa-apa sama anaknya Nafisa!” Bentak Zayn akhirnya.
Tubuh Reno meluruh namun ditahan oleh para security.
“Pergi, Ren, berhenti mukul. Gue lagi kacau!”
“Ya emang lu kacau! Nafisa, dimana Nafisa, Zayn?”
“Kenapa lu yang cari dia? Urus Dela dan anak-anak lu!”
“Nggak bisa, Zayn. Gue nggak bisa bertahan kalau nggak lihat Nafisa.”
Zayn tertegun.
“Ikut gue!”
Zayn mengulurkan tangan untuk membantu Reno kemudian berjalan menuju lift privat yang membawa mereka ke ruangan khusus.
Setelah duduk dia bertitah, “Cerita!”
“Zayn, gue emang suami bajingan. Gue berkhianat sama Nafisa sampai akhirnya masuk ke perangkap Dela. Demi Allah, Zayn, waktu Nafisa kerja di Yogya, gue sama sekali nggak main gila sama Dela. Gue bertekat balikin duit lu dan secepatnya jemput Nafisa.”
“Trus?”
“Diam-diam Dela mempengaruhi para customer gue untuk membatalkan pembelian rumah-rumah. Gue harus balikin duit mereka. Lalu duit gue yang di sia bener-bener ditahan. Goblognya, gue nggak ada perjanjian apa-apa jadi nggak bisa gue bawa ke ranah hukum. Dan yang lebih gue takut adalah, satu hari dia udah di rumah, duduk di samping tempat tidur anak-anak gue. Mereka tidur pulas padahal bukan jam tidurnya. Dela bilang kalau ibunya nggak ada, gampang banget buat anak-anak untuk celaka.”
Reno melemparkan pandangan putus asa jauh keluar jendela.
“Demi Allah, dia nunjukkin semua foto-foto Nafisa lagi di pasar sama Mbok Mi dan Lastri. Sempat juga dia suruh orang buat serempet Nafisa tapi nggak sampai kena. Semua itu akan berhenti kalau gue mau nikah sama dia.”
Zayn termangu.
“Gue pernah mau kabur bawa anak-anak tapi dia udah nempatin orang-orangnya. Sebelum rencana gue terlaksana, Milo hilang. Anak gue dibius makanya dia nggak inget. Gue mohon ke Dela untuk melepas Milo, syaratnya satu, gue nikahin dia saat itu juga.”
Dengan suara gemetar, Reno melanjutkan, “Gue panik waktu Nafisa tiba-tiba pulang. Diam-diam Dela udah siapin pisau untuk sakitin Aurelie jika keadaan mendesak. Gue terpaksa jatuhin talak supaya Nafisa pergi. Lu tau, waktu sepupu dan orang-orang lu bawa Nafisa, saat itu juga gue nggak pengin hidup, Zayn.”
Zayn bertanya, “Gue liat anak-anak lu bisa nerima Dela?”
“Dela masih baik sama mereka. Selalu belikan mainan, ajak keluar negeri. Milo masih kecil, pikirannya polos. Mungkin Aurielie yang agak jaga jarak. Itu sebabnya tiap malam, gue selalu pelukin Aurelie. Dalam tidur dia selalu panggil mamanya. Gue takut kalau Aurelie keceplosan dan Dela dengar, terus menggila. Dela itu sakit, Zayn. Dia bunuh orang yang pernah nyiksa ibunya. Dimutilasi.”
“Kenapa lu nekat ambil hak asuh? Kenapa nggak lu biarin Nafisa yang asuh anak-anaknya?” Zayn bertanya lagi sambil mengerutkan kening.
“Karena Dela ancam gue. Dia yakin selama Aurelie dan Milo ada di dekatnya, gue nggak akan macam-macam. Makanya dia mati-matian mempertahankan Aurelie dan Milo. Dia bahkan nekat culik Nafisa. Dan sepertinya dia tau … dia tau kalau gue yang selametin Nafisa. Ya, laki-laki pake motor itu gue.”
Zayn tersentak.
“Lu juga yang nolongin Nafisa di jembatan?”
“Iya, dan juga kebakaran di kedai. Gue cuma kalah dari elu di penjara. Gue nggak bisa nembus buat lindungin Nafisa. Zayn, please, Nafisa memang bukan istri gue lagi, tapi tolong lu cari dia sampe ketemu.”
“Apa perlunya?”
“Please jangan bunuh gue, karena ada Aurelie dan Milo yang harus gue jaga. Setiap hari gue selalu cari cara untuk ngeliat Nafisa dari jauh. Termasuk gue nyamar jadi sokter hanya untuk bisa liat dia waktu di rumah sakit. She’s my air, my sunshine. Cuma dengan liat dia biar cuma seujung gamisnya, gue punya alasan untuk tetap waras.”
Zayn termenung. Hatinya tercubit karena ternyata di balik sikap dingin Reno, dia masih menyimpan banyak cinta untuk Nafisa.
“Nafisa pasti dibantu Mika. Sepupu gue itu emang mendidik dirinya untuk jadi ahli menghilangkan jejak. Gue kacau, Ren.”
“Tega banget lu khianatin Nafisa. Lu emang BAJINGAN!”
“Valerie kasih obat di kue dan kopi gue. Dan ternyata sekretaris gue yang namanya Roy itu ngebantuin. Sekarang Roy hilang.”
Reno tertawa melecehkan.
“Kok bisa sih, Zayn Malik, security sama bodyguard aja sepeloton nggak bisa cegah satu perempuan biar nggak ganggu hidup lu lagi?”
“Udah lah, Ren. Gue juga nanya, kenapa dari awal lu nggak bisa jaga napsu lu dari Dela. Itu kan awal mulanya?”
Sembari menghela napas, Reno bangkit dari kursinya.
“Aku akan bantu sebisaku.”
Tanpa berpamitan Reno melangkah pergi meninggalkan Zayn yang termangu.
Ingatannya kembali ke kemarin pagi penuh cinta bersama Nafisa. Rengekan manja untuk bisa lolos dari kungkungan suaminya. Tawa renyah ketika Zayn mendaratkan ciuman ke lekuk lehernya. Hingga suara ******* yang menjadi candu ketika akhirnya mereka menikmati cinta.
“Andaikan aku bisa mengulang waktu bersama kamu, Sayang …”
Dadanya sesak.
“Aaargh!”
Zayn menggebrak meja lalu menelepon seseorang.
“Kosongkan gedung ini lalu robohkan, rata dengan tanah. Saya tidak mau ada bekasnya sedikit pun. Kirim orang kita ke seluruh stasiun bis, istriku tidak mungkin naik kereta atau pesawat karena harus mengisi data penumpang. Ia pasti naik bis atau menyewa mobil. Cari juga ke semua penyewaan mobil. Beri saya laporan sore ini!”
***
Nafisa duduk di bebatuan menghadap laut lepas. Mikail dan Dian duduk tak jauh dari sana.
“Jadi Nafisa sudah punya dua orang anak dan sekarang mereka bersama suami dan ibu tirinya?”
__ADS_1
“Yep.”
“Berat banget cobaan yang harus dia hadapi seorang diri. Kamu tau nggak, dulu ibunya meninggal di pangkuan Nafisa. Aku ada di sana. Ibunya berpesan agar Nafisa menjadi anak yang …”
“Tegar dan baik hati,” sahut Mikail yang sering mendengar Nafisa selalu teringat nasihat itu.
“Ya, betul. Dia cerita, ya?”
“Nafisa nggak ingat siapa yang kasih nasihat. Tapi dia selalu berusaha untuk mengikuti. Terakhir waktu traumanya kumat, kudengar dari Bude kalau Nafisa memanggil bundanya.”
“Dian …”
Dua orang wanita paruh baya berjalan mendekat. Mikail memperhatikan salah satunya memiliki paras mirip Nafisa.
“Ibu, Bulik Siti.” Dian mencium takzim keduanya.
Wanita yang dipanggil Bulik Siti melihat Nafisa.
“Ya Allah. Romlah liat, Nafisa mirip banget sama almarhumah Mbak Jamila.” Suara Bulik Siti bergetar karena haru.
Mikail mendekat.
“Perkenalkan saya Mikail Malik. Suami Nafisa adalah Zayn Malik, sepupu saya.”
“Innalillaahi wa innaailayhi rooji’un. Jadi Nafisa menikah sama Zayn Malik yang video mesumnya lagi tersebar di mana-mana? Ya Allah, Nafisa …”
Tenggorokan Mikail tercekat.
“Ibu kandung Nafisa adalah kakak kandung saya. Dulu dia memanggil saya Bulik Siti. Saya denger dari Dian, Nafisa kena amnesia. Ya Allah kok mesakno tenan to cah iki.”
“Injih, Bu. Nafisa mboten kemutan menopo-menopo. Dia nggak bisa ingat semua yang terjadi sebelum sampai ke panti,” jawab Mikail lagi.
“Ya Allah, terus Yusuf piye?”
“Yusuf?” Tanya Mikail keheranan.
“Bapak e Nafisa ku jenenge Yusuf. Ibune jenengi Jamila. Yusuf kerja di perminyakan Malaysia. Terus setelah tiga bulan mereka hilang kabar. Dian ini sahabatan banget sama Nafisa,” jelas Bulik Siti. Netranya terus menatap wanita yang masih duduk menatap laut lepas.
Bulik Siti bertanya takut-takut, “Pak Mikail, opo, Nafisa liat bojone nganu …”
Dengan berat hati Mikail menjawab, “Sepertinya, Bu.”
“Wis lah, Nafisa tinggal di sini aja. Dia belum punya anak tho karo bojone?”
“Nafisa sudah bercerai dari suami sebelumnya dan punya dua anak. Namanya Aurelie dan Milo.”
“Innalillaahi! Kenopo?”
“Mmm Reno, mantan suaminya kawin lagi. Hak asuh anak-anak dipegang Reno. Saya akan ceritakan semuanya nanti, tapi sekarang yang penting Nafisa tenang dulu.”
“Lah, Pak Mika kok ngikutin Nafisa sampai sini?” Tanya Bulik Siti menyelidik.
Sambil mengeraskan rahang, Mikail menjawab, “Supaya kakak sepupu saya nggak bisa menemukan Nafisa. Tapi jika sudah siap, saya tidak keberatan mengantarkan lagi Nafisa ke suaminya.”
“Yo, yo. Dian, kita bisa nginep rumahmu tha?”
“Bisa, kita nginep sana sak karepe Nafisa. Tapi kl buat Pak Mika nggak boleh, ya. Takut fitnah. Bagaimana pun, Nafisa pergi tanpa ijin suami bersama bukan mahram. Nanti Dian bantu carikan penginapan dekat sana.” Bu Romlah menjawab sebelum Dian sempat mengiyakan. Ia ingin menjaga nama baik putrinya.
“Nggak masalah. Yang jelas saya akan ada di sini memastikan Nafisa baik-baik saja. Sebentar saya panggilkan Nafisa dulu.”
Mikail mendekati Nafisa.
“Mmm, Nafisa, kamu bisa istirahat dulu di rumah Bidan Dian.”
Mata Nafisa menerawang kosong.
“Nafisa …” Panggil Mika perlahan.
“Mbak Nafi …” Panggil Bulik Siti.
Nafisa menoleh. Netranya memandang dengan heran.
“Bunda?” Dengan ingatan yang masih belum kembali, Nafisa hanya sering memimpikan sosok seperti yang dia lihat berdiri di depannya.
Gegas Nafisa menghambur memeluk Bulik Siti yang juga langsung membalas dengan erat.
Keduanya berpelukan lama, menangis menumpahkan kerinduan. Bulik Siti memang memiliki wajah mirip Jamila, hanya secara perawakan lebih besar.
Romlah dan Dian melihat keduanya penuh haru. Mikail lega karena teka-teki kehidupan masa lalu Nafisa mulai terjawab.
“Bunda, Nafi nggak mau sendirian lagi. Nafi mau sama Bunda. Jangan tinggalin …”
“Enggak, yang penting Mbak Nafi tenang dulu. Ayo, kan dulu janji mau tegar dan baik hati.”
“Susah, Bunda. Nafi udah nggak kuat. Nafi cape …”
Nafisa terus memeluk Bulik Siti.
Dian mengelus punggung sahabatnya, “Nafi, yuk ke rumahku. Kita bisa santai di sana.”
“Bunda?” Nafisa tetap memeluk erat Bulik Siti.
“Kita ke sana. Mbak Nafi mandi terus kita sholat dzuhur setelah itu makan. Kamu masih seneng pepes ikan sama pisang goreng?”
Nafisa mengurai pelukannya.
“Nafi nggak ingat, Bunda.”
“Wis, pokoke kita ke rumah Dian dulu. Nanti tak masakin semua. Saya Romlah, ibunya Dian. Yuk, mulai panas iki.”
Mereka kemudian menaiki omprengan menuju rumah Nafisa.
Nafisa tak melepas tangan Bulik Siti dan menyandar di bahunya.
Mikail menurunkan topinya hingga menutupi setengah wajah.
“Kenapa?” Tanya Dian heran.
“Supaya nggak dikenalin. Rumahmu di kota atau di pedesaan?”
“Kampung, jangan kaget, ya.”
“Bagus lah. Kalau di sini mudah dikenali.”
“Seingatku waktu dulu baca berita pernikahan Zayn Malik, istrinya pakai cadar.”
“Nafisa memang membuka cadar ketika memutuskan untuk minggat.”
“Bagus, nggak ada yang kenalin dia. Tapi kamu, nggak ada orang desa yang gayanya kota banget. Nanti kamu pakai baju-baju suamiku.”
“Eh jangan, aku bisa beli.”
“Mmm, suamiku sudah meninggal. Beliau tentara, gugur di Bumi Papua. Semua pakaiannya sudah kudonasikan, tinggal beberapa yang bisa kamu pakai.”
“Innalillaahi wa innaailayhi rooji’un. Maaf.”
Suara Dian sedikit bergetar.
“Suamiku meninggal membela tanah air. Tak ada yang perlu disedihkan. Aku bangga karena sampai titik darah terakhir dia masih berjuang membebaskan rekannya yang ditahan lawan. Begitu kudengar dari atasannya.”
Mikail melirik Dian. Tertutup gamis berwarna coklat dengan bunga-bunga pink dengan kerudung senada.
__ADS_1
Wajahnya manis dengan lesung pipit di pipi kiri. Matanya jernih dan sorotnya lembut, gaya bicaranya tegas namun ramah.
“Waktu Nafisa pindah ke Malaysia, aku nangis sampai beberapa hari. Masih ingat sebelum meninggalkan desa, dia dan ayahnya mampir ke makam. Aku dan teman-teman mengejar dan mengiringi mobil mereka sampai ke jalan besar.”
“Kalian sedekat itu?”
“Yap. Kami seperti sodara. Amplop dan perangko kaya orang dulu. Nafisa itu tegar banget. Ayahnya TKI sering kerja di luar negeri dan setahun pulang hanya dua kali. Jadi selama ibunya sakit, dialah yang merawat.”
“Dia juga pernah merawat Budeku. Dia cerita entah kenapa dia selalu ingin jadi perawat. Semenjak dirawat Nafisa, Bude jadi punya semangat sembuh. Bahkan buat Bude, Nafisa sudah dianggap sebagai anak sendiri.”
Dian tersenyum.
“Nafisa memang selalu gampang disukai. Selalu ada orang yang sayang dan membantu dia. Dari dulu seperti itu. Dia adalah tipe orang yang selalu melakukan semuanya dengan tulus. Makanya sedih mendengar betapa berat cobaan yang harus dihadapi.”
Romlah menoleh ke anaknya.
“Dian, carter mobil aja dari pangkalan depan. Ibu ada uang kok.”
“Biar … biar saya yang bayar semuanya. Kamu tunjukin aja dimana saya bisa sewa mobil.”
“Biar aku aja, kamu itu tinggi, ganteng pula. Pasti banyak yang bakal inget.”
Menyadari ucapannya, Dian menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Napas Mikail tersentak.
“Mmm pokoknya kamu di sini aja,” ucap Dian sambil pergi menjauh karena malu.
Dari seberang tempat duduk mereka, diam-diam Romlah tersenyum melihat interaksi putrinya dengan Mikail.
***
Rumah Dian terletak satu jam lebih dari kliniknya. Di sebuah desa dekat pantai. Rumah dengan pekarangan luas dan aneka tanaman di pot. Ada sepeda roda tiga diparkir sembarangan di halaman.
“Ibuuuuu,” teriak seorang anak perempuan umur tiga tahun yang dikejar oleh seorang wanita paruh baya begitu mereka semua turun.
Si Anak berhenti melihat Nafisa dan Mikail, namun begitu melihat ibunya dia langsung menghambur.
“Ibuuuu, angeeen,” ucapnya sambil melonjak-lonjak minta gendong.
“Eyang Mamaaa,” teriaknya lagi ketika melihat Romlah juga turun dari mobil.
“Holeee banyak amuuu,” celotehnya riang. Anak itu mencuri-curi pandang ke Nafisa dan Mikail.
“Aisyah, kenalin ini Tante Nafisa dan Oom Mikail. Tante Nafisa ini sahabat Ibu. Oom Mikail mmm kakak sepupunya Tante Nafisa.”
Aisyah mengangguk lalu dari gendongan mengulurkan tangan ke Nafisa kemudian ke Mikail.
“Oom endong,” pintanya sambil mencondongkan tubuh ke arah Mikail.
“Whop,” cetus Mikail sambil menyambut tubuh Aisyah. Tak sengaja tangannya bersentuhan dengan Dian.
Mika tersenyum ke arah Dian yang langsung berjalan cepat ke dalam rumah.
Sambil menggendong Aisyah, Mikail berjalan di belakang Nafisa.
“Pak Mika, Nafi, ini ibu mertuaku, Bu Wati. Aisyah manggilnya Eyang Ibu.”
Nafisa dan Mikail langsung mencium takzim. Mereka lalu duduk di ruang keluarga yang luas dan nyaman.
Romlah dan Wati saling berpelukan karena sudah lama tidak berjumpa. Demikian juga Bulik Siti.
“Mau minum apa?” Tanya Dian kepada semuanya.
“Wis buatin teh manis buat Nafisa, kalau Nak Mika mau kopi? Dian kalau bikin kopi enak loh,” celoteh Romlah.
Wati langsung memperhatikan Mikail hingga membuat pria itu salah tingkah.
“Eh iya, kopi aja.”
“Mantuku juga enak buat cemilan. Tadi sebelum berangkat kamu bikin klepon tho, Dian. Coba keluarin biar Mas Mika dan Mbak Nafi nyobain,” sambung Wati lagi.
Empat tahun lalu putranya meninggal di medan tempur. Dian sedang hamil muda. Wati melihat sendiri perjuangan Dian untuk ikhlas menerima takdir.
Hingga kini Dian membesarkan Aisyah seorang diri. Tidak ada keinginan untuk menikah lagi walaupun banyak yang sudah mendekati.
Dian datang membawa minuman dan makanan kecil.
“Mbak Dian, apa aku bisa ke kamar mandi?” Tanya Nafisa.
Dian langsung menggandengnya ke kamar mandi.
“Maaf seadanya ya.”
“Nggak masalah buat saya. Terima kasih.”
“Nanti aku ambilkan baju-baju. Silakan kalau mau mandi supaya lebih segar,” ucap Dian lagi dengan ramah. Nafisa mengangguk lemah.
Tak lama, Nafisa keluar dengan wajah lebih segar. Mikail menatap terbengong tak menyadari sepasang mata memandangnya dengan rasa kecewa.
“Maaf saya sama Pak Mikail jadi merepotkan,” cetus Nafisa, mengambil tempat di samping Bulik Siti.
Mikail membalas, “Bidan Dian dan Bu Romlah akan mengenalkan kita sebagai sepupu. Jadi kamu bisa panggil aku Mas.”
Dian menundukkan wajah.
“Oh begitu. Mmm saya rasa sebaiknya Kak, karena Mas adalah panggilan ke Mas Zayn. Tapi entahlah, semuanya kacau, saya bingung.”
“Apa aja aku nggak keberatan. Bu Romlah dan Bulik Siti mengajak kamu untuk menginap di sini. Kamu bisa pakai waktu supaya bisa menenangkan diri.”
Nafisa menatap Bulik Siti, masih menganggap sebagai Bundanya.
“Terserah Mbak Nafi. Bulik akan temani.”
“Bulik?” Nafisa bertanya keheranan.
Bulik Siti mengambil napas dalam lalu
berkata, “Benar, Sayang. Aku ini bulikmu, adik ibumu. Dari dulu emang mirip. Jamila, ibumu jauh lebih cantik. Kamu mirip sekali mendiang ibumu.”
“Mendiang? Bunda … Bunda udah nggak ada?”
Bulik Siti menggeleng.
Dari kamarnya, Dian membawa kotak lalu meletakkan di atas meja. Bidan itu duduk bersimpuh di hadapan Nafisa.
“Nafi, aku dan kamu sahabatan saat kita masih kecil. Waktu itu kita nggak bisa dipisahkan sampai bundamu meninggal dan Oom Yusuf memutuskan untuk pindah ke Malaysia.”
Dian mengambil 2 foto dari dalam box.
“Ini foto kamu bersama ayah dan ibumu waktu kalian liburan ke Dufan. Dan ini foto kita berdua jadi juara balap karung di sekolah.”
Nafisa mengambil dua foto tersebut lalu mengamatinya.
“Ayah, Bunda …” Telunjuknya meraba gambar kedua orang tuanya.
Lalu ia mengamati fotonya bersama Dian.
Sekonyong-konyong dia memeluk Dian.
“Aku tau anak di foto itu adalah aku. Aku mungkin kehilangan suami karena pengkhianatan tapi aku mendapatkan keluarga yang selama ini kurindukan,” ucapnya diselingi isak bahagia.
__ADS_1
***