
Sudah hampir dua bulan Nafisa tinggal bersama Dian. Walau sadar pergi tanpa ijin suami adalah dosa besar, tapi dirinya belum sanggup bertemu dengan Zayn.
Meski Mikail sudah membuktikan bahwa Zayn memang diberi obat perangsang oleh Valerie namun rasa sakit melihat suaminya bercinta penuh napsu tetap belum bisa terobati.
Di ibukota, Zayn masih belum patah arang mencari istrinya. Di kota-kota besar, ia menyebarkan anak buahnya. Setiap hari ia menunggu kabar baik yang tak kunjung datang.
Sesuai keinginannya gedung kantor tempatnya melakukan perbuatan terkutuk bersama Valerie sudah diratakan dengan tanah.
Maryam jatuh sakit. Terlalu shock dengan rumah tangga dua orang yang sangat dia cintai.
Kini jantungnya bermasalah sehingga harus sering bolak-balik ke rumah sakit untuk periksa bahkan diopname.
Dalam satu tayangan Maryam pernah memohon pada Nafisa untuk pulang dan membicarakan semuanya baik-baik.
Valerie di lain pihak membangun cerita bahwa Nafisa dan Mikail mengambil kesempatan untuk bisa bersama. Terlebih lagi Mikail pernah menyatakan cinta dengan balon terbang sempat viral di jagat maya.
Wanita licik itu berhasil berkelit dari tuduhan memberikan obat, bahkan mengatakan itu semua adalah akal-akalan Nafisa untuk melewatkan malam romantas dan malah jadi senjata makan tuan.
Malam itu langit Banyuwangi cerah. Nafisa duduk di ayunan seorang diri. Larutnya malam
membuai semua yang ada di rumah itu untuk terbang ke alam mimpi.
“Nggak bisa tidur?” Sapa Dian yang sudah berdiri di samping ayunan.
Nafisa menggeleng.
“Kita duduk di sana yuk,” ajak Nafisa sambil melangkah ke gazebo ala-ala di pinggir pekarangan.
Dian mengikuti Nafisa.
“Maaf sampai sekarang aku belum mengingat kamu. Tapi sepertinya masa kecil kita seru, ya.”
Sambil terkekeh, Dian tersenyum. Selama ini dia sering bercerita ke Nafisa tentang masa kecil mereka yang penuh tawa dan duka, terutama jika Nafi harus sendirian membawa ibunya ke kota untuk berobat.
“Dari dulu kamu tangguh. Sekarang pun kamu juga masih,” balas Dian sambil melempar batu ke kolam kecil di samping gazebo.
Nafisa tak menjawab.
“Aku merindukan anak-anakku.”
“Pulanglah. Selesaikan masalahmu bukan dengan kabur seperti ini.”
“Aku takut.”
“Berperang langsung tidak semenakutkan seperti yang kita bayangkan. Dulu setiap Mas Aris berangkat, aku selalu ketakutan dia tidak kembali. Aku berpikir akan mati jika itu terjadi. Betapa dulu aku mencintainya. Pada akhirnya aku diberi kabar dia gugur di medan tempur ketakutanku berubah jadi ketegaran. Terutama karena ada janin yang membutuhkanku, seperti juga kamu.”
Nafisa mengusap perutnya yang mulai membuncit.
“Sembilan minggu. Malam itu aku berencana memberikan hadiah berupa test pack dengan dua garis kepada Mas Zayn …” Suara Nafisa terdengar menggantung.
“Belum terlambat. Di TV, media sosial mana pun, suamimu selalu memohon kamu untuk pulang. Lagi pula kamu perlu membasmi hama wereng yang sibuk menyebar hoax tentang kamu dan Mas Mikail.”
“Sepertinya begitu. Aku memang sulit melupakan kejadian yang sudah-sudah. Trauma di penjara aja kadang masih suka muncul. Bayangan melihat Mas Zayn dan mantannya malam itu hampir membuatku gila.”
“Mencintai karena Allah. Mungkin kamu harus mengubah mindset-mu. Ada Allah tempat kamu bersandar. Allah yang tak akan membiarkan hamba-Nya hancur jika terus bersabar dan berdoa. Ubah rasa lelah menjadi lillah.”
Netra Nafisa menghangat.
“Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi sahabatku dari dulu sampai sekarang.”
“Hey, kita kan amplop dan perangko. Eh sekarang udah nggak ada lagi ya. Atau wajan sama sutil?”
Dua wanita itu tertawa. Air mata Nafisa berganti dengan rasa hangat yang menjalar di dalam hatinya.
“Baiklah, aku akan coba pulang dan membicarakan semuanya,” ucap Nafisa setelah berpikir sejenak.
“Mau aku temani?”
“Aisya?”
“Nah itu, kalau diijinkan Si Boss,” jawab Dian sambil terkekeh.
***
Mikail, Nafisa, dan Dian menyewa kendaraan menuju ke Ibukota.
Di tempat duduknya, Nafisa meremas tangan karena gugup. Kemudian dia membaca beberapa surat-surat dari Al Qur’an untuk menenangkan diri.
“Kita istirahat di restoran itu dulu, ya. Aku agak-agak ngantuk. Perlu ngopi,” usul Mikail yang sudah menyetir selama empat jam dari Banyuwangi.
Dua wanita yang bersamanya mengangguk karena mereka juga perlu ke kamar kecil.
__ADS_1
Restoran dengan bangunan sederhana namun apik menyajikan aneka minuman hangat dan makanan yang menggoda selera.
Setelah memesan segelas kopi pahit, Mikail memesan soto ceker untuk mereka bertiga.
Nafisa dan Dian ikut bergabung dan menyeruput kuah soto yang gurih segar. Ketiganya terlibat dalam pembicaraan hangat dan berhasil membuat Nafisa sedikit terhibur.
Televisi sedang menayangkan berita gosip. Sedang asik bercanda tiba-tiba tubuh dan wajah Nafisa menegang.
Di layar nampak Zayn dan Valerie sedang memberi pernyataan pada media.
“Kerasin deh Pak, itu kan suami bejat yang main gila sama mantannya,” titah ibu pemilik restoran kepada suaminya.
Wajah Zayn nampak tirus, matanya terlihat lelah. Sementara di sampingnya Valerie sumringah sembari mengaitkan tangannya ke lengan Zayn.
Terdengar suara laki-laki yang masih menjadi suami dari Nafisa.
“Selamat siang rekan media. Kami berdua mohon maaf atas kegaduhan yang kami timbulkan. Saat ini kami sedang menerima buah dari perbuatan karena Valerie tengah mengandung anak saya. Rencananya kami akan segera menikah ….”
Netra Zayn menampakkan kesedihan teramat sangat.
“Apakah istri pertama Anda sudah memberi ijin?” Tanya salah satu awak media.
Zayn menelan saliva.
Valerie menjawab dengan ringan, “Calon suami saya akan segera membereskan semua dan kami berdua bersama buah hati akan menjadi keluarga bahagia selamanya, ya, kan, Mas?”
Zayn tidak menanggapi dan langsung pergi meninggalkan tempat wawancara mengindahkan para wartawan yang memanggil namanya.
Kembali kamera menyorot wajah Valerie yang terlihat bahagia sambil menunjukkan perutnya yang sudah menonjol.
Nafisa menahan napas, bulir air mata mengembang di pelupuk dan buru-buru dihapus.
“Nafi,” lirih Dian sambil merangkul sahabatnya.
Di hadapannya Mikail mengeraskan rahang.
Nafisa mengangguk sembari menguatkan mentalnya.
“In syaa Allah, aku kuat. Kita kuat ya, Dek.”
Mikail terbelalak. Dian memang tidak memberitahukan kehamilan Nafisa yang tersembunyi di balik gamis longgar.
“Brengsek, Zayn harus tahu!” Desisnya geram.
“Kakak akan jagain kamu. Jangan khawatir, semua akan baik-baik aja.”
Dian melirik ke arah layar kaca yang menyorot tubuh Valerie yang mulai berisi dan perut yang mulai menyembul.
Dalam hati membatin, “Paling usia kandungan baru beberapa minggu, kok udah gitu perutnya.”
***
Beberapa minggu setelah mengumumkan pernikahannya, Zayn menerima amplop coklat dengan kop pengadilan agama.
Dibiarkannya amplop itu beberapa, hingga pagi ini ia menguatkan diri.
“Nafisa, kamu pasti tahu bahwa aku tidak berniat melakukannya dengan Valerie. Bahkan aku hanya ingat melakukannya denganmu. Tapi ketika kamu melihatnya, aku yakin kamu merasakan sakit teramat sangat. Dan kini Mas harus menikahi Val karena ada janin di sana. Apakah Mas harus melepaskan demi kebahagiaanmu?”
Semenjak Valerie memberi tahu bahwa dirinya hamil, Zayn kehilangan semangat untuk mencari Nafisa. Bukan karena menerima Valerie dan bayinya dengan penuh cinta, tapi ia tidak ingin menyakiti Nafisa lebih jauh lagi.
Zayn mengambil bolpen untuk menandatangani surat gugatan cerai tersebut. Sebuah tanda tangan yang akan mengubah hidupnya dan Nafisa.
“Bismillaah, semoga ini yang terbaik.”
***
Nafisa menghirup udara kampung halamannya. Setelah tayangan yang menggemparkan, ia minta diantar ke sini untuk berziarah ke makam ibunya.
Sebetulnya ketika tahu Bundanya sudah tiada, Nafisa ingin berziarah, namun Dian melarang karena usia kandungan yang masih sangat muda dan Nafisa juga saat itu dalam keadaan tertekan.
Di kampung halaman, Nafisa tinggal sementara di rumah Bulik Siti, sementara Mikail menginap di rumah tetangga tak jauh dari sana.
Sudah berulang kali Nafisa minta agar Mikail pulang namun laki-laki itu keukeuh pada pendiriannya.
“Apakah Kakak masih menyimpan rasa untukku? Jika, ya, lupakan. Nafisa udah nggak pingin menikah lagi. In syaa Allah setelah ini aku akan buka usaha bikin kue lagi jadi bisa menghidupi diri sendiri dan bayiku.” Tanya Nafisa waktu itu ketika mereka baru beberapa hari tiba di sana.
Mikail tersenyum. Dari dulu, dia sangat menyukai gaya bicara Nafisa yang ceplas-ceplos.
“Apakah aku masih bisa melindungi dan menjaga kamu sebagai adik?”
Nafisa tersenyum, “Kakak suka sama Dian, ya? Dia juga suka loh.”
__ADS_1
“Aaah kamu tersenyum, hati Kakak jadi meleleh lagi,” selorohnya sembari menatap ke arah Dian yang baru keluar dari rumah Bulik Siti namun memutuskan untuk masuk lagi begitu melihat Mikail dan Nafisa sedang bercakap.
“Kejar, gih. Tapi inget, ya, kalau Kakak sampai sakitin Dian, maka aku nggak mau kenal Kakak lagi.”
“Siap, Bos. Kakak sepupuku juga tidak berniat menyakitimu, Nafisa. Semoga kamu tau itu. Hanya sepertinya takdir kalian seperti ini. Yang kuat, ya …”
“In syaa Allah. Aku udah janji sama Bunda. Don’t worry so much, Kak. Aku akan baik-baik saja. Harusnya Mas Zayn sudah terima dan tanda tangan surat gugatan cerai. Aaah, Nafisa, nasibmu jadi janda lagi.”
Mikail mengamati wajah Nafisa.
Sorot netranya sendu, namun wajahnya terlihat lebih ikhlas.
“Kamu akan jadi ibu yang luar biasa seperti untuk Aurelie dan Milo.”
“Rinduku pada mereka bagaikan ada belati yang membelah jantungku, Kak.”
“Ngeri banget. Ayolah aku antar ke sana. Tenang aja, Zayn dan pasukannya akan kuhalau, yang penting adikku bisa ketemu anak-anaknya.”
“Sok tau,” balas Nafisa sambil tersenyum.
“Aku juga punya pasukan. Emang kenapa sampai detik ini Zayn nggak bisa menemukan kamu?”
“Karena Allah menutupi jejakku.”
“Aaah aku kicep. Nafisa kenapa sih kamu selalu ngalahin aku?” Mikail menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Pada saatnya nanti aku akan menemui Aurelie dan Milo. Aku yakin Bang Reno akan melindungi mereka dengan baik.”
Mikail dan Nafisa memandang jauh ke arah ladang jagung yang membentang di depan mereka.
“Sepertinya Kakak harus bicarakan perasaan sama Dian. Jangan norak kayak dulu, pakai balon terbang segala.”
Mikail tergelak.
“Iya, iya, nanti aku sewa baju pangeran lalu melamar Dian pakai kuda.”
“Ya Allah, Dian, tabah ya …”
***
Sebuah acara akad nikah digelar sederhana dan tertutup untuk keluarga inti di rumah yang nanti ditempati Zayn dan Valerie.
Setengah memaksa, Valerie minta dibelikan rumah baru di kawasan elit. Zayn hanya menyuruh asisten barunya untuk melaksanakan permintaan Valerie tanpa peduli.
Maryam duduk di atas kursi roda diapit Mbok Mi dan Lastri, menatap putranya dengan sendu.
Zayn dua kali harus mengulang bacaan akad karena menyebut nama Nafisa Salsabila.
Valerie di sebelahnya menatapnya kesal.
“Pak, sekali lagi masih salah, maka akad ini batal,” ucap penghulu mengingatkan.
“Saya juga sejujurnya tidak ingin menikah,” jawab Zayn dengan suara bergetar. Sepanjang persiapan ia hanya membayangkan perasaan Nafisa apabila menonton berita ini di televisi.
“Zayn, kamu sudah janji demi bayi kita,” desak Valerie dengan suara mengiba, sengaja mencari simpati dari para saksi dan tamu yang ada di sana.
Dengan pandangan putus asa, Zayn menoleh ke arah ibunya.
Setelah menarik napas dalam, akhirnya Zayn berhasil mengucapkan janji yang tidak ingin dia buat, ikrar yang tidak ingin dia bangun.
Dengan penuh kelegaan, Valerie hendak mencium tangan Zayn namun lagi-lagi suaminya pergi meninggalkan tempat akad bersama ibunya.
“Zayn … Zayn …” Panggilnya sambil mengejar suaminya.
“Apa-apaan kamu? Aku ini istrimu.”
“Kamu sudah dapat apa yang kamu mau, kan? Jadi istri Zayn Malik. Sudah aku kabulkan.”
“Kita harus memberi pernyataan bahagia ke pers.”
“Kamu saja. Aku tidak bahagia, kok.” Jawabnya sambil mendorong kursi roda ibunya.
“Zayn!” Valerie melihat punggung Zayn yang menjauh disusul keluarga Malik yang juga keluar dalam diam.
Mereka semua menyayangi Nafisa dan tidak menyukai bahkan membenci Valerie.
“Pergi saja kalian! Yang penting Zayn Malik sudah terikat denganku!”
Berita pernikahan Zayn Malik dan Valerie sampai juga ke telinga Nafisa.
Dengan sedih ia mengusap perutnya, “Kita doakan Ayah bahagia, ya Sayang. Semoga suatu saat kamu bisa bertemu dengannya. Ayah Zayn sebetulnya orang yang baik, entahlah, Bunda juga nggak paham kenapa seperti ini. Kita jalani bareng. Ikhlas, tegar, dan baik hati. Oke, Dek?”
__ADS_1
Sebuah gerakan dari dalam perut seolah menjawab Nafisa.
***