Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Bayiku …


__ADS_3

“Bu Maryam, Pak Zayn, maaf, Bu Valerie dilarikan dari rumah sakit karena jatuh dari tangga.”


“Astaghfirullah …”


Zayn dan Maryam sedang menikmati makan pagi ketika seorang bodyguard membawa kabar mengagetkan. Gegas mereka menuju rumah sakit.


Setiba di sana mereka langsung diarahkan ke depan ruang operasi dimana dokter langsung menemui.


“Kondisi Ibu Valerie dan bayi tidak baik. Dari hasil darah kami menemukan kandungan alkohol yang cukup tinggi. Detak jantung ibu tidak beraturan demikian juga dengan bayinya. Kami sudah menyiapkan ruang operasi.”


“Lakukan yang terbaik untuk Ibu dan bayinya, Dok,” ujar Zayn tegas.


“Baik, Pak. Silakan ikut saya untuk menemani Ibu.”


“Zayn, anakmu atau bukan, selamatkan dia. Anak itu tak berdosa.”


“Baik, Bu.”


Gegas, Zayn menyusul dokter.


Di dalam ruang operasi Valerie dalam kondisi setengah sadar. Dokter memberikan epidural.


Bau minuman keras menguar dari mulutnya.


“Ini semua gara-gara kamu Zayn. Kamu jahat sama istri dan anak …” Racaunya begitu melihat Zayn.


“Aku hanya ingin kita seperti dulu lagi … kau memujaku, dunia hanya milik kita …”


Melihat wanita yang dinikahinya seperti itu, Zayn tetap bergeming. Percuma bicara dengan Valerie dalam keadaan sadar, apalagi kini setengah sadar.


“Jika ada apa-apa sama anakmu, maka kamu harus tanggung jawab! Kamu bapaknya!”


Valerie mulai mengibaskan tangan lalu menunjuk-nunjuk Zayn. Melontarkan umpatan dan sumpah serapah.


Dokter obgyn memerintahkan dokter anestesi untuk menambah dosis bius agar pasien lebih tenang. Tekanan darahnya mulai naik. Padahal operasi harus segera dilakukan untuk menyelamatkan bayi.


“Aku … nggak … mau ma … ti … gara-ga … ra bayi … sialan i..ni,” ucap Valerie setelah obat bius mulai berpengaruh.


“Maaf, Pak, ini bukan kondisi ideal, tapi operasi harus dijalankan. Mohon persetujuan Bapak yang akan direkam.”


“Saya setuju.”


Bulir-bulir keringat muncul di kening Zayn. Valerie, ia sungguh-sungguh tidak peduli, namun bayi dalam kandungannya adalah makhluk tanpa dosa yang terjebak dalam carut marut kehidupan mereka.


Bau pisau elektrik yang menyentuh daging bagian perut kini tercium di ruang operasi.


“Dokter anak, siap!”


Dokter kandungan memberi aba-aba. Seorang dokter anak dan perawat stand by untuk menerima bayi.


“Bismillaah, bayi keluar.”


Tidak terdengar tangisan. Dokter anak langsung membawa ke sebuah ruangan yang sudah disiapkan inkubator karena bayi Valerie memang lahir prematur.


Seorang perawat meminta Zayn mendekati bayinya.


“Bayi dalam keadaan kritis, silakan diadzani sebelum kami masukan ke NICU.”


Netra Zayn melembut melihat bayi merah yang matanya sudah ditutup pengaman. Dari sisi kanan, Zayn berbisik melafazkan adzan.


Tangan kecil bayi mungil itu bergerak. Zayn menjulurkan telunjuknya. Sentuhan pertama langsung melumerkan hati yang telah membeku.


“Aku akan menyayangi dan menjagamu. Bertahanlah…” Ucapnya dalam hati.


Zayn mengirimkan doa untuk bayi perempuan yang kini terpaksa berjuang hanya karena kecerobohan dan keegoisan ibunya.


“Kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Silakan kembali mendampingi istri Anda. Doakan terus, ya, Pak.”


Enggan, Zayn kembali ke ruang operasi. Valerie masih dalam keadaan tak sadarkan diri dan sudah siap dibawa ke ruang pemulihan.


“Bagaimana kondisi Valerie?”


“Kami baru saja menjalankan operasi yang sangat berbahaya. Istri Anda mengalami pendarahan akibat jatuhnya. Kondisinya sudah stabil. Semoga bayi Bapak dan Ibu juga semangat untuk berjuang.”


“In syaa Allah.”


“Silakan jika ingin menunggui istri Anda.”


“Terima kasih.”


Dada Zayn terasa sesak. Dia sudah mengingatkan, memasang CCTV, bahkan menempatkan Mbok Mi untuk menjaga Valerie namun juga masih kecolongan.


Dia membaca pesan yang masuk di hape dari kepala sekuriti rumah Valerie:


Kami menemukan banyak sekali botol minuman keras di kamar mandi. Area tanpa CCTV.


Zayn mengeraskan geraham.


“Memang kamu tidak pernah berpikir untuk orang lain selain dirimu, Val.”


Dengan enggan, Zayn melongok ke ruangan pemulihan. Valerie yang dalam kondisi setengah sadar meracau dan memanggil nama-nama pria entah siapa.


Mendengus kesal, Zayn terus melangkah keluar menuju NICU sekaligus memberi kabar pada Maryam yang menunggu.


“Zayn?”


“Mohon doanya, Bu. Anakku kritis. Kita ke NICU, sekarang bayiku di sana.”


“Astaghfirullah.”


“Aku mau ke NICU, Bu.”


“Valerie?”


“Dia sudah stabil. Bu, maafkan Zayn, tapi aku sudah nggak kuat lagi menjadi suaminya.”


“Anakmu dulu, setelah itu kita pikirkan wanita itu. Anakmu lahir di usia mau masuk delapan bulan. Pertumbuhannya belum sempurna. Zayn, sudah yakin itu anakmu?”

__ADS_1


“Entahlah. Hanya tadi waktu selesai mengadzani, Zayn memegang tangan mungilnya. Detik itu juga aku mencintai bayi itu seperti bayiku sendiri.”


“Kalau begitu, Ibu juga akan menganggapnya sebagai cucu kandung. Kita akan jaga dia dari ibunya.”


“Bu, itu bayiku yang di ruangan khusus.”


“Ya Allah Zayn. Mungil sekali.“


“Berat dan panjangnya kurang. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh.”


Ibu dan anak itu terdiam.


“Andaikan malam itu nggak terjadi. Mungkin aku masih berbahagia bersama Nafisa. Bisa jadi kami sedang menantikan anak.”


Maryam menyentuh lembut pundak putranya.


“Ibu juga menyayangkan. Ikhlaskan semuanya.”


“Nafisa dan Mikail apakabar ya, Bu? Apa mereka akhirnya bersama? Mika pasti sangat mencintai Nafisa sampai rela meninggalkan semua untuk menjaganya.”


Maryam tidak bersuara, matanya terus menatap bayi mungil yang sedang berjuang untuk hidup.


“Semoga mereka selalu bahagia. Jangan bebani dirimu, Nak. Kamu sudah merelakan Nafisa dengan berhenti mencarinya.”


“Sejak ibu memintaku menikahi Valerie, aku sudah berhenti mencari. Nafisa pasti akan sakit sekali jika aku gigih mempertahankannya. Dia layak mendapatkan yang lebih baik. Mika … Mika lebih baik dari aku.”


“Allah pasti menjaga mereka berdua.”


“Aku sempat kehilangan semangat hidup. Apalagi ketika Valerie mengatakan dia hamil. Kenangan terhadap Nafisa yang membuatku bertahan, Bu. Sebatang kara, kehilangan memori masa lalu, Reno, penjara, dan aku. Dia nggak punya siapa-siapa yang membelanya dan masih bisa survive.”


“Bertahan demi anakmu, ya. Kamu udah siapkan nama?”


“Cinta Kasih Malik.”


“Kalau kamu sudah mantap, lakukanlah, Nak. Ibu dukung.“


Seorang perawat mendekat, “Maaf, Pak, mohon kembali ke ruang pemulihan karena Ibu Valerie mengamuk ketika tidak melihat Bapak di sana.”


“Saya di sini menjaga anak yang sedang kritis. Katakan itu padanya. Tempatkan di ruang perawatan kalau sudah pulih semuanya.”


“Ibu Valerie ingin Bapak menemaninya.”


“Biar Ibu saja. Ada Mbok Mi dan Lastri. Kamu di sini temani anakmu.”


Mengingat ibunya memiliki riwat stroke dan sakit jantung, akhirnya Zayn memutuskan untuk menemui Valerie.


Istrinya sudah berada di ruang perawatan. Berteriak begitu melihatnya.


“Zayn! Kamu harus selalu berada di sisiku! Kakiku tidak bisa digerakkan. Mana dokter bodoh itu? Kenapa dia tidak ke sini juga.”


Perlahan, Zayn mendekatkan wajahnya ke wajah Valerie. Menyangka akan mendapt ciuman, wanita itu pun terdiam.


“Valerie, saat ini juga kamu kutalak. Ibu macam apa yang tidak memikirkan anaknya dan sibuk memikirkan diri sendiri. Hiduplah bersama rokok dan minuman-minumanmu. Bayi yang kamu lahirkan kritis karena kebodohanmu.”


“Tidak! Teganya kamu. Bajingan! Kebodohanku, Zayn? Kamu yang egois. Kamu memperlakukan aku seperti pembantu, aku ini istrimu! Lalu kamu melemparku tinggal sendirian. Aku tersiksa!” Jeritnya nakin histeris.


“Dasar batu. Aku tak ingin berdebat. Jangan pusingkan anakmu. Aku yang akan menjaga dia, terlepas dia darah dagingku atau bukan.”


“Oooh sudah berani berurusan dengan hukum? Fine, aku juga punya banyak yang harus dilaporkan atas kamu. Belum lagi lima pemuda yang siap menuntut kamu.”


“Zzaayn, jangan.”


“Kamu selalu menganggap ibuku wanita tua bodoh kan? Nah wanita itulah yang membuatku tidak menyeretmu ke penjara. Tapi sepertinya kesabaran ibuku juga sudah habis. Jadi terima nasibmu.”


“Zayn, beri kesempatan, aku akan menjadi istri dan ibu yang baik.” Valerie mengiba


“Kesempatan itu sudah lewat ketika kamu meracuni ibuku. Jangan ganggu kami lagi. Aku akan urus dan umumkan perceraian kita.”


“Tidak. Aduh! Temani aku, perutku mulai sakit.”


“Aku akan bersama anakku. Namanya Cinta Kasih Malik. Selamat tinggal, Val.”


***


Siang hari di Banyuwangi, Nafisa sedang berjalan-jalan sekeliling klinik bersalin. Dian, Malik, Yusuf, Rafiq, Bu Romlah, Bu Wati, dan tak ketinggalan Aisya mengikuti kemana pun.


Di pesta, Nafisa mengalami kontraksi sehingga gelas yang ia pegang jatuh. Beruntung tidak mengenai siapa-siapa.


Pesta pernikahan sederhana langsung diselesaikan dan semua berangkat ke klinik mengantar Nafisa.


“Maaf … maaf banget. Masih bukaan enam. Di, kamu sama Kak Mika pulang aja, gih. Lagi pula ini kelahiranku yang ke tiga kali, loh.”


“Jangan berisik. Kita semua di sini nungguin kamu.”


“Aisya au iat adek,” celetuk Aisya yang sebetulnya mengantuk tapi tetap bertahan.


“Adeknya cewek atau cowok?” Tanya Mikail yang menggendong bocil tiga tahun itu.


“Cowok. Ya kan Ante Nafi?”


“Iya. Ouuuuch.” Nafi meringis.


“Udah makin cepat jarak kontraksinya. Aku periksa dulu, ya.”


Nafisa kemudian melangkah ke arah pembaringan dan membiarkan Dian memeriksa bukaannya.


“Tu kan, udah bukaan sembilan. Aku bilang juga apa. Justru karena kamu sudah melahirkan dua kali maka jalan lahirnya sudah terbuka. Kamu tiduran aja. Atau kalau mau duduk di medicine ball jika lebih nyaman.”


“Aku tiduran aja, pinggangku pegel. Ya Allah … sakit. Astaghfirullah … astaghfirullah …”


“Nafi, aku siapin semuanya dulu ya. Sepertinya nggak lama lagi kamu lahiran.”


“Ya Allah … Dian cepetan aku kerasa bayiku mau keluar!”


“Bismillaah.”


Sigap, Dian menyiapkan segala sesuatu dibantu perawatnya.

__ADS_1


“Aaaargh … Allahumma sholi wa salim ala Muhammad …” Teriak Nafisa berusaha terus melafadzkan sholawat diantara rasa sakit yang menghempasnya.


“Nafisa, dorong. Kepalanya udah nongol.”


“Allahu akbar aaaaaarh!”


“Cukup, ambil tenaga. Atur nafas.”


Perawat melap kening Nafisa yang basah keringat. Di luar semua menunggu sambil melantunkan doa, dzikir, dan sholawat agar proses melahirkan mudah dan semua selamat.


“Allahu Akbar laa ilahaillallah! Aaaarggh!”


“Dikit lagi, satu kali dorong, lolos, in syaa Allah, siaap!”


Ketika kontraksi mendera, Nafisa mendorong sekuat tenaga.


Tak berapa lama terdengar bunyi tangis kencang memecah sunyi.


“Alhamdulillah ya Allah,” Seru para pengantar. Raut lega menghiasi wajah-wajah mereka.


Dian membereskan proses kelahiran sementara perawat membersihkan bayi.


Nafisa terengah-engah.


“Alhamdulillah gampang banget. Ini kelahiranku yang paling gampang. Cuma berapa jam ya, Di?”


“Tiga jam lah dari kontraksi pertama. Jalan-jalan itu ngebantu banget sih.”


“Di, makasi banget, ya. Kamu itu bestie aku banget. Bayangin dandan berjam-jam abis ijab kabul langsung ganti baju lalu nungguin aku.”


“Kamu pikir aku bakal bisa enak-enakan pesta sementara kamu pringas-pringis? Nggak semudah itu kamu bisa lolos dari aku lagi Nafisa Salsabila. Dah tu, beres jahitan rapi, singset set.”


“Halah, gabakal dipake lagi kok.”


Terdengar deheman dari luar ruang bersalin yang hanya terpisah tirai.


“Kita semua bisa denger di sini,” cetus Mikail dengan nada malas mendengar pembicaraan yang terlalu perempuan.


Nafisa terkekeh lalu berbisik.


“Ada yang bakal minta jatah pertama nanti malam.”


“Masih kedengeran, Nafisa,” ujar Mikail lagi kini dengan nada sebal.


Dua sahabat itu tergelak bersama lalu berpelukan.


“Selamat, ya. Semoga anakmu menjadi penyejuk hati buat kamu.”


“Aamiin.”


Perawat datang membawa bayi merah yang sudah terbungkus selimut.


“Mas Zayn … ini Mas Zayn banget waktu bayi. Bu Sepuh pernah kasih liat fotonya.”


Dian menatap ibu dan anak itu dengan sorot bahagia. Perasaan inilah yang memberinya kepuasan setiap selesai membantu proses kelahiran.


Momen bahagia seorang ibu yang melihat bayinya untuk pertama kali.


“Aku panggilkan Oom Yusuf supaya bisa adzanin?”


“Iya.”


Yusuf bersama rombongan masuk sebelum dipanggil.


“Cucuku, ya Allah. Mbak Nafi, cucu Ayah ini.”


Nafisa menyerahkan bayi kepada ayahnya. Yusuf menggendong bayi laki-laki yang mulai menggeliat-geliat. Netra tua itu berkaca-kaca.


Suara adzan terdengar lembut mengalun. Si Bayi terdiam seolah mendengarkan dan mulai bergerak lagi begitu Yusuf selesai.


“Mbak, mau dikasih nama siapa?” Tanya Yusuf tak melepas pandangan dari cucunya.


“Dimiko Yusuf Malik. Dimiko artinya Dian dan Mikail, hanya karena aku ini ternyata wong Jowo, huruf a aku ganti menjadi o. Yusuf dari Ayah, dan Malik karena dia putra dari Zayn Malik.”


Mikail menutup bibirnya dengan mulut, berusaha menahan emosi. Aisya berpindah ke gendongan Dian yang posisinya lebih dekat dengan Bayi Dimiko.


“Adek aku.”


“Iyah, ini adeknya Aisya juga. Nanti, Aisya bakal punya banyak adek dari Bapak dan Ibu, ya kan?” Nafisa bertanya kepada pasangan pengantin baru sambil menaikturunkan alis.


Mikail berpindah posisi di samping istrinya lalu merangkul dengan penuh rasa sayang.


“Siapa takut.”


***


Berteman dinginnya AC di ruang tunggu NICU, Zayn Malik memainkan gawainya. Iseng membuka media sosial yang sudah lama dia tinggalkan.


Matanya tertegun melihat foto di akun Mikail. Sepasang cincin dengan caption: Akhirnya kamu milikku.


Dada Zayn terasa sesak. Meyakini pemilik sepasang cincin itu adalah Mikail dan Nafisa.


Ia menelepon seseorang dan memberikan perintah, “Cari dari mana gambar ini diposting.”


Tak lama sebuah jawaban sampai ke gawainya.


“Kediaman Mikail Malik. Your cousin is too good, Bro. Sorry aku nggak bisa bantu lebih jauh.”


Zayn kembali melihat ke foto itu.


“Andai kalian tahu …”


Dari arah NICU terdengar suara di speaker.


“Kode Biru … Kode Biru di ruang NICU.”


Seorang perawat keluar.

__ADS_1


“Pak Zayn, Bayi Cinta makin memburuk. Silakan masuk.”


***


__ADS_2