
Zayn melihat dari jendela kamar ke arah taman. Ibunya sedang sibuk memberikan komando pada pasukan tukang kebun untuk merawat bunga-bunga.
Valerie datang lalu memeluk suaminya dari belakang dengan hanya memakai handuk yang dililit menutupi tubuhnya. Keduanya baru menyelesaikan pertempuran panas di atas ranjang.
“Jago juga Nafisa itu. Bagus lah, Ibu jadi nggak ngerepotin kita.”
Zayn menghela napas.
“Val, bisa nggak sih kamu berdamai sama Ibu?”
“Yang mulai kan Ibu. Dia yang nggak merestui pernikahan kita. Stroke kan akhirnya, makanya jadi orang jangan ribet.”
Tangan Valerie mulai bermain di area sensitif suaminya. Sesungguhnya wanita itu enggan jika Zayn memiliki belas asih pada Maryam. Wanita yang tidak pernah menyukai dirinya.
“Val, mau lagi? Hmmm mau lagi? Awas kamu ya,” kata Zayn dengan gemas, siap menyerang istrinya.
Valerie terpekik ketika tubuhnya diangkat oleh Zayn menuju ranjang yang sudah berantakan.
Dari arah taman, Maryam melirik ke kamar anaknya lalu menghela napas.
“Seandainya kamu tahu, Zayn …”
***
Hampir tiga bulan sejak Nafisa merawat ibunda dari Zayn Malik.
Selama itu banyak sekali kemajuan yang terjadi pada Maryam.
Wanita paruh baya itu mulai bisa berjalan menggunakan tongkat. Bicaranya juga sudah kembali lancar.
Nafisa memegang peran penting untuk kemajuan yang dialami Maryam
‘Jangan kasih kendor’ adalah prinsip yang dipegang Nafisa agar Maryam mau mengikuti latihan-latihan. Mulai dari latihan fisik sampai latihan bicara.
Untuk melatih daya ingat, Nafisa kadang-kadang mengajak Maryam bermain kartu. Supaya makin seru Nafisa juga mengajak Mbok Mi dan Nasti, para asisten rumah tangga di rumah utama.
Walau awalnya bersungut-sungut namun akhirnya Maryam menurut.
Setiap terapis profesional datang, Nafisa akan mendampingi. Bahkan belajar teknik-teknik fisio terapi agar tetap bisa melatih Maryam di lain waktu.
Selama tinggal di rumah Zayn Malik, Nafisa tidak pernah bertemu dengan pria itu juga istrinya. Membuat Nafisa tak habis pikir bisa-bisanya anak dan menantu tidak punya waktu untuk bertemu Maryam padahal mereka tinggal dalam satu pekarangan.
Hubungan Maryam dan Nafisa sangatlah akrab. Maryam menyayangi Nafisa, begitu pula sebaliknya.
Maryam dan Nafisa sering menghabiskan waktu di dapur untuk masak ini itu. Walau akhirnya yang makan adalah ‘orang-orang belakang’ karena Zayn dan Valerie hanya makan hidangan dari catering hotel.
Mbok Mi dan Nasti ikut bergabung dan membantu kegiatan masak memasak. Nafisa bahkan mengajari keduanya cara untuk membuat jajanan pasar dan kue ulang tahun.
Maryam juga sudah mengenal Reno dan anak-anak Nafisa melalui video call. Hatinya terasa hangat. Baginya, Nafisa dan keluarganya bisa menghibur hatinya yang kesepian.
Jika ada yang sedikit merepotkan Nafisa adalah Mikail. Entah kenapa laki-laki itu makin sering berada di sekeliling Maryam dan Nafisa. Sekadar memeriksa ini itu. Kadang-kadang menyelidik apakah Nafisa bekerja dengan benar.
Sebuah tindakan yang menurut Nafisa buang waktu karena toh jika dia asal-asalan menjaga Maryam tentunya tidak akan ada kemajuan dalam tiga bulan.
Dari balik cadar, Nafisa sering menjebikkan bibir atau memeletkan lidah ke arah Mikail jika pria itu mulai menyebalkan.
Seperti siang itu, tiba-tiba Mikail ingin menginspeksi kerapihan dapur paviliun saat Maryam sedang tidur siang.
Sambil menunggu Mikail memeriksa lemari dan laci-laci entah untuk apa. Nafisa memilih mengambil sapu dan pel lalu membersihkan ruang tengah paviliun.
“Nafisa, sini sebentar. Kenapa kukusan ini ditaruh di lemari bawah? Harusnya kan di atas.”
“Karena Ibu Sepuh suka makanan kukusan jadi sering dipakai Pak. Kalau di atas repot bolak balik ngambil.”
“Nggak rapi,” tukasnya dengan nada ketus.
Nafisa mengerutkan keningnya. Malas berdebat, ia memindahkan kukusan ke lemari gantung.
__ADS_1
“Ini juga, kenapa rice cookernya nggak pakai yang kecil? Kan Bude nggak boleh makan banyak. Mubazir buang-buang nasi.”
Masih dengan nada sabar, Nafisa pun menjawab, “Ibu sepuh sekarang daharnya boleh agak banyak. Sudah sesuai dengan takaran ahli gizi. Rice cooker itu selain untuk masak nasi juga bisa dipakai bikin kue. Ibu Sepuh lebih suka daripada kue yang dioven. Saya lagi masak cake bolu sepertinya baru matang.”
Mikail membuka tutup rice cooker. Aroma menggoda menguar ke seluruh ruangan.
“Ih masak iya sih kue kamu lebih enak daripada kue yang dibuat chef hotel?” Nyinyir Mikail lengkap dengan satu alis terangkat dan bibir miring melecehkan.
Nafisa hanya mengendikkan bahu lalu kembali meneruskan kegiatan beres-beres.
“Nafisa! Bukannya saya dikasih kue buat nyobain, kok malah ngerjain yang lain.”
“Oh Bapak, mau minta kuenya.”
“Nyobain, Nafisa. Nyo-ba-in,” ujar Mikail menegaskan, gengsi jika kentara dia sebetulnya ngiler begitu melihat cake bolu yang baru matang.
“Silakan duduk kalau gitu, Pak. Saya bikinin teh poci sekalian mau?”
“Mau! Eh maksudnya bikinin aja.”
“Ini bolunya masih ngepul, bagusnya ditanak dulu,” ucap Nafisa melongok ke dalam rice cooker.
“Oh masih lama ya?” Mikail menatap penuh harap, sementara Nafisa berusaha keras meredam keinginan untuk mengerjai laki-laki rewel di depannya.
“Bapak bantuin kipas-kipas kalau gitu, sambil saya jerang air buat teh pocinya. Nih kipasnya.”
Nafisa menempatkan bolu di atas piring saji lalu memberikan kipas ala tukang sate ke Mikail. Dengan patuh Mikail mengipasi kue sembari menahan liur agar tidak menetes.
Di balik wajahnya yang tertutup cadar, Nafisa susah payah menahan tawa.
Beberapa menit kemudian Maryam ke luar dari kamar. Mengernyit melihat keponakannya mengipasi kue dengan wajah menderita menahan lapar.
“Mika, kamu ngapain?”
“Ini biar tanak kata Nafisa harus dikipasin.”
Maryam menatap Nafisa yang buru-buru menyajikan teh poci.
Maryam mengangguk dan menahan geli melihat keponakannya nanar menatap kue yang sedang dipotong Nafisa.
“Sini, mana buat saya.”
“Eh sabar. Buat Bu Sepuh dulu. Ini juga motongnya harus rapi.”
Nafisa memotong kue bak mengerjakan prakarya. Pelan dan penuh presisi.
Maryam yang sudah duduk di samping Mikail tertawa lebar melihat kelakuan Nafisa. Tahu betul Nafisa sedang mengerjai Mikail.
“Bu Sepuh, cobain dulu enak nggak?”
Dengan gerakan yang didramatisir, Maryam mencicipi kue hingga mengerjapkan mata menandakan kelezatan tiada tara. Lalu keduanya mengobrol tentang bahan baku dan cara memasak.
Mikail sudah putus asa menunggu bagiannya.
“Nafisa, please.”
“Oh lupa ada yang mau nyo-ba-in.” Diam-diam Nafisa terkekeh lalu memotong kue masih dengan gerakan slow motion.
“Iiiish ini orang. Bude, tuh liat perawatnya nggak becus.”
“Mikail, belajar sabar. Nanti makin enak deh kuenya.”
“Iya soalnya lapar.”
“Ni Pak, emang nggak sekelas sama buatan chef, tapi pasti enak.”
Mikail langsung memasukkan potongan besar ke mulutnya.
__ADS_1
“Enak, ya ampun. Kue apa ini?”
Nafisa tersenyum lalu mencetus, “Awas seret. Minum teh pocinya, kasih gula batu satu aja karena rotinya udah manis.”
Mikail mengikuti ucapan Nafisa. Merasakan nikmatnya teh hangat membasahi kerongkongan.
Bak orang kelaparan, lagi dan lagi dia melahap hingga habis potongan kuenya.
“Kamu belum makan ya? Mau nemenin bude makan sore?”
Mikail cepat mengangguk.
Nafisa lalu menyiapkan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya. Hidangan sederhana namun lezat, tempe oreg, ayam panggang kalasan, dan sayur asem.
“Aku nggak suka nasi merah,” gumam Mikail dengan kening berkerut.
“Eh cobain dulu, nasi merahnya Nafisa beda. Pulen banget.”
Sangsi, Mikail menyendok lauk dan nasi lalu terbelalak.
“Eh iya, Bude. Enaak!”
Maryam terkekeh. “Kamu kayak udah nggak makan berhari-hari.”
“Aku tadi siang makan sama Zayn di hotel Bude. Tapi ini lebih sedep. Ada sambel nggak?” Mikail bertanya penuh harap.
“Ibu Sepuh nggak dahar sambal, tapi kalau Bapak mau saya buatin di dapur rumah utama. Mau sambel terasi atau sambel matah?”
“Terasi, sambel terasi.” Mikail menjawab dengan semangat.
“Bu, sebentar Nafisa tinggal, ya,” ujar Nafisa seraya melangkah keluar dari paviliun menuju dapur di rumah utama.
Tak lama setelah Nafisa pergi, sambil menyantap makanan rumah yang nikmat, Maryam berkata dengan nada lembut pada keponakannya, “Kamu suka ya sama Nafisa?”
Mikail terbelalak.
“Nggak, iiih, dia kan ibuk-ibuk. Kalau mau Mika bisa dapetin model yang masih gadis.”
Maryam menepuk pundak keponakannya.
“Jangan ya, Sayang. Nafisa sudah punya keluarga. Kalau mau, kamu justru bantu dia untuk cepat pulang.”
Mikail meletakkan sendok garpunya. Wajahnya terlihat pias.
“Mika, sejak Bapak dan Ibumu meninggal, Bude yang besarin kamu. Jadi Bude tau kelakuan kamu. Bude nggak pernah liat kamu blingsatan kayak gini selain sama Nafisa. Tapi dia harus pulang setelah hutang suaminya lunas.”
“Nanti Bude nggak bisa ketemu Nafisa dong.”
“Bude atau kamu?”
Mikail tidak menjawab namun matanya menerawang ke arah pintu yang menuju rumah utama.
“Mika belum pernah sesuka ini sama orang, Bude. Salah ya.” Akhirnya pria itu mengaku dengan nada lirih.
“Ya jelas salah. Jangan jadi pebinor. Merusak rumah tangga itu kerjaan setan,” jawab Maryam lembut.
“Aaaah, kenapa harus dia, sih?”
“Cinta emang gitu. Datangnya nggak terduga.”
Mikail terdiam sejenak, kemudian mengatakan sesuatu dengan lirih.
“Bude. Sebetulnya hutang suaminya Nafisa sudah lunas. Bukan cuma cicilan, tapi udah lunas semuanya.”
“Loh, kapan?”
“Dari dua minggu lalu.”
__ADS_1
“Kok nggak dijemput Nafisa-nya?”
***