Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Pertautan Cinta 3


__ADS_3

Zayn tiba di depan Hidangan Pantai. Dia harus menenangkan diri untuk dua hal; bertemu wanita yang sangat dia cintai dan menghadapi kenyataan bahwa wanita itu sudah milik orang lain, yaitu sepupunya sendiri.


Dari kejauhan dia melihat dua orang yang selama bertahun-tahun hilang dari kehidupannya.


Mikail dan Nafisa berjalan menuju kendaraan mereka. Masing-masing membawa kotak besar. Di belakangnya Dimiko berlari lalu mengganggu keduanya sambil tertawa-tawa.


Netra Zayn tidak berkedip sedikit pun. Ada rasa tercubit karena kini Nafisa tidak memakai cadar sehingga kecantikannya dapat dilihat oleh orang lain. Dulu kecantikan Nafisa hanya miliknya.


Tidak dapat dipungkiri bahwa Nafisa masih secantik saat terakhir mereka bersama.


Jantung Zayn berdegup lebih cepat. Tangannya menggenggam kemudi untuk menahan emosi aneka rupa yang membuncah.


Kendaraan Mika dan Nafisa berlalu dan Zayn tetap diam di sana.


Kepalanya menyandar, matanya terpejam, dan detak jantungnya masih kacau balau.


Kemudian kepalanya tersentak.


“Innalillaahi! Aku harus memperbaiki semuanya.”


Zayn menjalankan mobilnya mencari Nafisa dan Mikail. Dia berkeliling kota Banyuwangi namun tidak ada jejak Mika.


“Lu hilang lagi, Mik? Damn!”


Tak mau buang waktu Zayn memutar kendaraan menuju ke arah restoran.


Dia berlari untuk mendapati restoran hari itu tutup. Tak ada seorang pegawai pun terlihat.


Kemudian ia melongok ke belakang. Sebuah rumah mungil nan cantik dan asri yang ia yakini adalah rumah Mika dan Nafisa.


Zayn melompati pagarnya dan mengintip ke jendela-jendela yang tertutup tirai.


Bolak-balik ia mengetuk pintu. Tak ada yang menjawab.


“Aku harus memperbaiki demi Mika dan Nafisa.”


***


“Surprise! Happy birthday Aisya!”


Gadis kecil berumur tujuh tahun itu menari dan melonjak kegirangan.


“Tante Nafi! Dim! Eyang Ibu! Loh Eyang Ti mana?”


“Ciluk Ba … ini Eyang Ti,” seru Bu Romlah yang mengendap dari belakang Aisya. Gadis kecil itu langsung bermanja kepada eyangnya.


Mata Aisya berbinar-binar karena tak menyangka semuanya berkumpul untuk merayakan hari jadinya.


“Aisya pikir semua pada lupa ulang tahun aku. Malah diajakin ke klinik sama Ibu.”


“Mana mungkin lupa, sini Cantiknya Ayah.”


Mikail menggendong putrinya.


“Selamat ulang tahun, ya, Cantik, semoga sekarang nggak ketelatan lagi kalau bangun.”


Lagi-lagi Aisya terpekik ketika Mikail menyerahkan kado berupa jam tangan berwarna biru muda dengan gambar Little Mermaid.


“Ayah! Alhamdulillah, ya Allah, ya Allah. Ibu aku mau pake.”


“Cium Ayah dulu, dong,” sela Mikail sebelum putrinya merosot turun.


“Muah. Makasi Ayahku yang baik hati. Semoga Ayah sehat dan panjang umur.”


“Aamiin …” jawab semuanya.


Aisya langsung lari ke arah Dian untuk minta dipasangkan jam tangan barunya.


Mikail begitu bahagia melihat Dian yang kesulitan memasangkan jam tangan di pergelangan karena anak itu tidak mau diam.


“Ayah … endong …”


Helmy, Si Bungsu menarik-narik celana Mikail.


Mikail mencium gemas pipi gembil putra bungsunya. Helmy menunjuk-nunjuk ke arah kakak sulungnya yang kini menari-nari dengan tangan kanan terangkat memamerkan jam baru yang sudah bertahtah di pergelangannya.


“Dasar cewek,” gerutu Dimiko dan Abidzar yang duduk bersebelahan.


“Aisya, ini kado dari Tante Nafisa dan Dimiko.”


“Aku sih nggak setuju ya, lebih seneng belikan skateboard,” gumam Dimiko yang langsung mendapatkan lirikan maut dari ibunya.


“Sepeda mini! Warna pink!”


Lagi-lagi Aisya kegirangan menerima kejutan demi kejutan.


Dian mendekat lalu merangkul sahabatnya.


“Thanks, Bestie. Sekarang anakku bakal jarang ada di rumah. Main sepedaaaa terus.”


Dua sahabat itu terdiam lalu serempak berkata, “Kayak kita dulu!”


Dimiko berdehem lalu maju mendekati kakak sepupunya.


“Mbak Cha, kado dari Dim.”


Aisya yang dipanggil Cha oleh Dimiko menerima kotak berwarna pink.


“Kalung! Ini kan yang aku mau. Ya, kan, Bu?” Aisya melihat ke arah ibunya.


Nafisa mengomentari, “Mas Dim beli pakai uang sakunya sendiri yang ditabung loh.”


“Pakein, Dim,” titah Aisya.


Dimiko yang gengsi hanya diam saja.


“Mas Dim,” ucap Nafisa yang cengar-cengir melihat kelakuan anaknya.


“Oke, oke. Sini aku pasangin, Mbak Cha.”


Setelah dipasangkan Aisya berbalik ke arah Dimiko.


Dengan centil gadis cilik itu bertanya, “Cantik nggak? Cantik nggak? Cantik laaaah.”


“Nanya sendiri, jawab sendiri. Aneh,” balas Dimiko sambil memutar bola matanya karena sebal tapi sekaligus juga senang melihat Aisya menyukai kadonya.


Dian mendekati suaminya yang masih menggendong Helmy.


“Makasi surprise party-nya.”


“Sama-sama, Sayang. Makasi udah bikin harapan aku punya keluarga jadi nyata. I love you.”


“I love you, too.”


“Mmm Helmy, main sama Mas Abi dulu, ya,” pinta Mika pada Si Bungsu.


“Okeh,” kata Si Bungsu yang langsung bergabung dengan kakaknya dan Dimiko.


“Ada apa, Mas?” Dian curiga melihat ekspresi suaminya.


Mikail menggandeng Dian, sedikit menjauh dari keluarganya.


“Ada Zayn.”


“Apa?”


“Mantan suaminya Nafisa ada di Banyuwangi. Tadi dia ada di depan restoran. Dia di dalam mobil, nggak turun, tapi aku yakin dia kakak sepupuku.”


“Nafisa tau?”


“Kayaknya enggak. Sepertinya juga Zayn pikir aku suaminya Nafisa. Tadi kebetulan pas aku lagi angkat barang-barang pesta sama Si Dim juga.”


“Biarin aja. Aku mau kerjain orang gila itu. Ada istrinya juga nggak?”


“Zayn sendirian. Semenjak Val melahirkan, nggak ada satu pun berita tentang mereka. Sumberku pun tidak berkata apa-apa. Eh tadi maksud kamu bilang biarin aja itu apa?”


“Biarin aja Zayn pikir kamu itu suaminya Nafi.”


“Hah?”


“Kita siksa dulu batinnya. Aku yakin, Zayn masih cinta sama Nafi meski udah nikah lagi sama orang lain. Kalau nggak, mana dia nyari.”

__ADS_1


“Enam tahun, hampir tujuh tahun. Mungkin dia sudah mencintai Val. Atau mungkin Nafisa yang udah nggak punya rasa apa-apa lagi.”


“Nafi? Kamu pikir dia menolak permintaan ta’aruf dan lamaran kemarin-kemarin itu karena apa? Tujuh orang kualitas nomor wahid ditolak semua. Apa namanya kalau bukan masih-ada-Zayn di hatinya? Aku nggak mau Nafisa sakit hati liat Zayn dan istrinya.”


“Wahai istriku nan cantik dan sotoy. Kenyataannya memang Nafisa belum nikah dan Zayn udah. Cepat atau lambat dia harus siap menghadapi Zayn dan keluarga barunya.”


“Biarin aja lah Zayn dengan sangkaannya.”


“Kamu tau nggak, dulu Nafisa udah terima akta cerai atau belum?”


“Nggak tau. Aku nggak berani nanya. Nafi emang ketutup banget masalah Zayn. Dia kayak nggak mau cerita apa-apa. Malah banyak ngomong tentang Aurelie dan Milo.”


“Kalau tentang Reno?”


“Siapa Reno? Ooh itu yang pertama, paling sekilas-sekilas aja. Lebih ada kaitannya sama anak-anak aja. Kelihatan banget kok. Sebagai sesama wanita, aku merasa Nafisa masih belum move-on.”


“Dari siapa?”


“Nafisa!” Dian dan Mikail terjingkat melihat Nafisa sudah berdiri di belakang mereka sambil menyeruput es cendol buatannya sendiri.


“Ngomongin aku, ya? Apa sih, apa sih? Kenapa lagi tu Si Nafisa?” Seloroh Nafisa membercandai Dian dan Mika.


“Dia belum bisa move-on dari Zayn Malik, ya, kan?” Dian tembak langsung.


Mendengar nama laki-laki yang dia cintai sekaligus juga melukainya begitu dalam, raut wajah Nafisa berubah sendu.


“Hidup kami udah masing-masing. Nggak ada yang bisa diubah. Hanya saja, dia memang berhak tau kalau ada anak dari pernikahannya denganku. Ah males mikir dia. Yuk, anakmu udah ribut mau potong kue,” jawab Nafisa, masih dengan nada yang mendadak lesu lalu beranjak menjauh dari Dian dan Mikail.


Begitu Nafisa menjauh, Dian dan Mikail saling bersitatap, “Fix masih cinta mati.”


“Let it flow aja kalau memang harus ketemu ya berarti qadarullah. Yang penting, ada kita. Nafi nggak sendirian lagi menghadapi semua,” sambung Dian sambil memerhatikan wajah sahabatnya yang masih murung.


“Nomor hape Ayah Yusuf ada di speed dial,” gumam Mika.


“Eh jangan, nanti sama Oom Yusuf sahabatku dibawa ke Dubai.“


“Hmmm istriku ini, ya.”


Mikail mencubit lembut hidung Dian lalu merangkulnya erat.


Mikail tidak berani membayangkan bagaimana jika dia harus berpisah dari Dian dan anak-anaknya.


Dia tidak membuka celah sedikit pun bagi siapa pun untuk masuk ke pernikahannya.


Bukannya tidak ada yang mencoba, namun akses itu dia kunci. Meski godaan begitu besar, Mika selalu kembali ke istrinya.


Dian juga selalu menjagai fitrahnya sebagai seorang istri dan ibu. Dirinya menempatkan Mikail sebagai imam dan partner sehidup sesurga.


Bukan sekedar menyediakan keperluan dan melayani lahir batin, Dian juga belajar untuk memahami bisnis Mikail.


Sudah tak terhitung ide-ide bisnis yang berhasil dijalankan, berasal dari obrolan di kala minum teh sore antara pasangan suami istri itu.


Mika menggenggam jemari istrinya lalu menciumnya lembut.


“Aku sayang kamu, Di …”


“Aku juga, Mas …”


***


Dimiko berjalan cemberut di belakang rombongan yang sedang mendaki ke Ijen.


Semalam, Aisya mengajak semuanya bertamasya di sebuah vila milik kenalan Eyang Ibu. Ide yang disambut meriah oleh semuanya kecuali Dimiko yang punya janji untuk datang bermain ke villa-nya Cinta.


“Bu, kita nggak usah ikut, lah. Kan udah seratus kali kita ke sana,” rengek Dimiko di pesta ukang tahun Aisya.


“Seratus kali?” Nafisa terkekeh.


“Bu, aku ada janji besok.”


“Cieee, Mas Dim punya date sekarang,” ledek Abidzar, putra sulung Mika.


“Bukan date. Sok tau, kamu. Ayolah, Bu, kita pulang aja. Yah, yah …” Rayunya dengan muka memelas.


“Ibu pengin, ikut, Mas Dim. Kan udah lama nggak pergi rame-rame. Ibu butuh healing.”


“Ya udah, Ibu aja. Mas Dim pulang. Berani kok.”


“Bu …”


“Mau pergi sama siapa sih, Mas Dim?” Nafisa memeluk putranya yang bibirnya malam itu manyun satu meter.


Dimiko tetap tidak mau cerita dan terus melancarkan aksinya.


“Aah Ibu. Tapi malam ini kita pulang, kan?”


“Loh kan nginep. Ibu udah bawakan baju dan perlengkapan kamu. Lupa ya?”


“Aaah Ibu, maaah.”


Dimiko menggelendot ke tubuh ibunya dan terus membujuk agar membatalkan rencana.


Sebuah usaha yang gagal total karena anak kecil itu pagi-pagi berjalan sambil menendangi kerikil menuju vila di daerah Ijen.


***


Cinta bolak-balik menanyakan apakah temannya sudah datang.


Bocah itu minta Mba Lastri untuk menyiapkan makanan yang enak-enak untuk Dim.


Menjelang sore, belum ada tanda-tanda Dimiko datang hingga akhirnya Cinta melangkah gontai ke kamarnya.


Zayn menatap putrinya.


Tanpa bicara mengambil kunci mobil lalu menuju restoran milik Nafisa.


Di sana ia mendapati restoran tetap tutup.


Beberapa pengunjung kecewa karena mereka sudah sangat ingin menyantap hidangan-hidangan lezat dengan view laut lepas.


Seorang penjaga pantai mengatakan bahwa Bu Nafisa sedang keluar kota sampai hari Minggu.


Zayn bertanya, “Apakah Bu Nafisa dan Pak Mika memiliki anak selain Dim?”


Penjaga pantai dan pengunjung yang masih berdiri di sana terbengong mendengar pertanyaan di luar konteks.


Enggan menjawab karena tidak mengenal siapa Zayn, penjaga itu hanya membalas sekenanya, “Nanti aja kenalan sama mereka kalau sudah pulang.”


Zayn mengangguk lalu berbalik. Laki-laki itu berjalan menuju pantai. Dia mengambil kerang-kerang lalu melemparkan ke laut.


Masih bisa melihat restoran dan rumah Nafisa, dirinya duduk di pasir. Membiarkan kakinya basah oleh deburan ombak.


Jari-jarinya meminjat pucuk hidungnya menandakan dia sedang gundah.


“Kamu pasti bahagia, ya, Sayang. Wajah kamu berseri-seri. Mika juga … Arrgh Si Brengsek itu benar-benar beruntung mendapatkan kamu.”


Lama Zayn duduk menghadap laut menunggu matahari terlelap di ufuk barat. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, Zayn bangkit untuk kembali ke mobilnya.


Berulang kali pria itu menghela napas, menyesali semua yang terjadi antara dirinya dan Nafisa.


“Andaikan malam itu nggak kejadian, bisa jadi kita lagi bahagia bersama anak-anak. Sekarang aku harus merelakan kamu bukan sama aku.”


Sekali lagi melihat ke arah rumah di belakang restoran, Zayn lantas menjalankan mobilnya untuk kembali ke villa.


***


Sekembalinya dari tetirah bersama keluarga sahabatnya, Nafisa merasa lebih segar.


Pagi-pagi dia membersihkan restorannya. Dimiko sudah berangkat naik sepeda ke sekolah.


“Assalamualaykum.”


“Waalaykumussalam, hai, Kak. Tumben ke sini pagi-pagi.”


“Antar kaosnya Dimiko.”


“Ya Allah, rempong amat, bukannya biasa anak-anak tukeran kaos.”


“Nggak apa-apa. Aku numpang ke toilet, kebelet.”


“Silakan, Kak.”

__ADS_1


Nafisa kembali menyibukkan diri di restoran.


Di saat yang bersamaan, seorang laki-laki tiba di pantai setelah berlari pagi belasan kilometer dari vilanya.


Di mobilnya, Dian menelepon Mikail.


“Assalamualaykum, Mas, rambut coklat, tinggi gede, ganteng … uhuk uhuk …”


“Waalaykumussalam, kecuali ganteng, semuanya bener. Awas kamu, ya, nanti malam.”


“Oops, siapa batuk?” Dian makin menggoda suaminya.


“Sekarang kita pulang, aku gempur kamu.”


Dian terkikik hingga membuat Mikail hampir lupa diri.


“Mas, mas, mas … kita kelarin dulu. Zayn Malik lagi liatin Nafisa, tapi nggak mendekat. Dasar pengecut.”


“Oke, oke, aku keluar pura-pura pamitan sama Nafisa. Aku pake kecup-kecup dahi nggak, nih?”


“Wuah, pulang tinggal nama kamu, Mas.“


“Nggak deh, aku masih mau happy-happy sama kamu seumur hidup. Udah dulu, ya.”


“Acting yang meyakinkan. Tanpa sentuh. Aku perhatikan dari sini. Awas kamu!”


Mikail terkekeh kemudian berjalan mendekati Nafisa. Dari sudut mata dia melihat sepupunya berdiri agak jauh dari restoran.


Ada kerinduan yang dirasakan kepada kakak sepupunya. Bagaimana pun mereka tumbuh seperti kakak adik. Namun ia tetap menjalankan rencananya semula yang dibuat bersama Dian.


Ayah tiga anak itu sengaja berdiri memunggungi Zayn.


“Nafisa, Kakak berangkat dulu, ya.”


Mikail menunduk sedikit seolah mengecup kening istri. Tangannya di arahkan ke pundak Nafisa hingga membuat wanita itu terjingkat dan hampir memukulnya dengan gagang sapu.


“Ada lebah. Idih, GR deh.” Mikail berkelit.


“Lagian aneh, kayak mau nyosor. Aku bilangin Dian, baru nyaho.”


Mikail sengaja tertawa agak berlebihan membuat darah Zayn sukses menggelegak membayangkan kebahagiaan mereka.


Laki-laki yang sedang dilanda cemburu itu langsung balik badan dan berlari menuju vila-nya.


Langkahnya terhenti.


“Nafisa …” Gumamnya putus asa.


Zayn memutar arah kembali ke restoran Nafisa. Ia mengambil tempat yang aman untuk bisa mengamati Nafisa dari jauh.


“Sayang, betapa aku ingin memelukmu seperti dulu.“


Lama Zayn menikmati pemandangan terindah yang dirindukan selama bertahun-tahun.


Dia tersenyum sendiri melihat Nafisa yang kesulitan menjangkau benda-benda yang tinggi. Lalu ingin tahu dengan siapa Nafisa bicara di telepon dengan gaya akrab.


“Pasti Mika. Baru juga berangkat, udah nelepon bini. Lebay lu, Mik,” sungut Zayn.


Setelah matahari agak tinggi, Zayn memutuskan untuk kembali ke vila melewati jalan kota.


Dirinya ingin mengenal lingkungan tempat mantan istri dan sepupunya tinggal.


Tidak ada rumah di daerah itu, hanya beberapa warung ala kadar yang masih tutup pagi itu.


Banyuwangi memang terkenal indah pantai-pantainya namun masih kalah pamor dari Bali sehingga arus wisatawan belum ramai.


Restoran Nafisa menjadi satu-satunya gem di wilayah itu.


Zayn terus berlari menjauh menuju pusat kota.


Sementara dari dalam restoran, Nafisa melihat sekelebat sosok yang sangat dikenalnya berlari menuju jalan ke kota.


“Mas Zayn?”


***


Setelah menjalankan rencana mereka, Dian dan Mika menuju ke alun-alun.


Jika terserah Mikail, mereka pasti langsung pulang karena dia sudah tidak sabar untuk berdua-an dengan istrinya.


Menggunakan dalih masih pagi dan belum sarapan, Dian ngotot untuk mampir ke warung aneka bubur di alun-alun.


Mereka berdua menikmati bubur kacang ijo dan bubur candil. Kadang saling menyuap. Mumpung masih belum rame jadi masih bisa mesra-mesra, begitu kata Mika.


“Mas, aku mau candilnya, yang itu.”


“Buka mulutnya, aaa, enak?”


“Enak banget, aku suka candil dari kecil. Kita beli buat Abidzar dan Helmy.”


“Aisya sukanya merah delima, kan?” Tanya Mika memastikan.


“Beli dua, besok dia pasti juga minta lagi. Mas bentar deh, di bibir kamu ada celemotan. Aku bersihin.”


Dian membersihkan sisa makanan di sudut binir Mikail sambil sesekali digoda oleh suaminya.


Ibu penjual bubur hanya tersenyum-senyum melihat aksi bucin pasangan pertama yang datang pagi itu ke warungnya.


“Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak,” celetuknya.


Mika tertawa lalu mencuri kecupan ke pipi istrinya sebelum terdengar suara menggelegar.


“Mikail Malik! Bangsat kamu!”


Belum sempat, sebuah pukulan keras mendarat ke pipi Mikail.


“Mas!” Teriak Dian melihat suaminya terhuyung jatuh. Ibu pemilik warung menariknya.


Tahu persis siapa yang bisa memukulnya seperti itu, Mikail menyeringai.


“Aku nggak apa. Begundal ini suara doang gede. Tenaganya mah, loyo.”


“Biadab! Sini kamu.”


Zayn memegang kerah baju Mikail lalu bersiap memukulnya wajahnya lagi. Matanya nyalang.


Mikail menyengkat kakinya namun berhasil ditahan oleh Zayn hingga dirinya malah tersungkur ke meja.


Dian dan ibu pemilik warung berteriak ketakutan. Beberapa laki-laki datang untuk melerai.


Bukannya marah, Mikail malah terkekeh. Zayn adalah lawan yang seimbang untuknya dan sudah lama dia tidak adu otot dengan sepupunya itu.


“Aman … aman, kami aman. Ini kakak sepupu saya. Emang kami begini.”


“Begundal! Lu itu udah beruntung dapatin Nafisa, kenapa masih sama perempuan lain, ha? Dan asal tau aja, pernikahan lu sama Nafisa itu nggak sah! Awas gue bikin kalian berdua menderita udah sakitin Nafisa!”


Zayn mendorong Mikail hingga terduduk di bangku warung lalu pergi meninggalkan mereka. Sebuah mobil jeep mewah berwarna hitam berhenti di depan warung dan pria itu langsung naik.


Dian langsung membantu suaminya. “Mas, sakit pasti, ya.”


“Nggak ada apa-apanya, ini.” Mika menutupi rasa senut-senut yang ia rasakan.


“Ngerik banget sih Zayn Malik itu. Berangasan, sok tau, dasar tukang pukul.”


Dian memapah suaminya ke mobil.


Mika hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena semua kata sifat yang disebutkan istrinya adalah gambaran dirinya juga. Jauh sebelum menikah dengan Dian.


“Kamu tenang aja, ini kayak pukulan anak kecil.”


“Apa kita harus bilang Nafisa?”


“Enggak. Malah aku pikir, kita harus menghentikan rencana ini. Aku nggak mau malah jadi fitnah.”


Dian berpikir lalu berkata, “Setuju. Mas, hari ini kamu nggak usah ke kantor, aku obati memarnya.”


“Aaaw sakit, sakit.” Mikail langsung memegang pipi dan kepalanya. Wajahnya penuh penderitaan dan mengiba.


Paham betul kode dari suaminya, Dian menjawab, “Hmmm iya, iya Sayaang. Boleh kok. Mumpung anak-anak pulang sekolah langsung ke rumah Eyang Ti.”


***

__ADS_1


__ADS_2