Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Pantang Menyerah


__ADS_3

Setelah beberapa saat Nafisa bangun dari tidur panjang, dokter memindahkan ke kamar perawatan biasa.


Ketika dibawa menuju ruang perawatan terbaik, Nafisa menggeleng.


“Saya nggak sanggup bayar, Sus. Bawa saja saya ke kelas tiga.”


“Maaf, Bu, ini semua sudah ditanggung oleh Pak Zayn Malik. Dan beliau sudah berpesan tetap membawa Ibu kesini meski ngeyel nggak mau.”


Nafisa memalingkan wajah. Begitu bencinya dia terhadap laki-laki bernama Zayn Malik. Juga terhadap Mikail Malik yang lembek dan tak punya pendirian itu.


Dalam hati Nafisa bertekat untuk menjauh dari seluruh keluarga Malik. Walau berat untuk meninggalkan Maryam yang sudah dianggap sebagai ibu kandung.


Hari itu, Nafisa juga mulai belajar jalan karena setelah beberapa minggu terbaring.


Hatinya mencelos mendapati cedera lutut berakibat cacat permanen. Kini langkah Nafisa sedikit pincang.


Kembali ke kamar, ia menunaikan kewajiban lima waktunya. Bersyukur masih diberikan hidup dan memohon untuk tetap dikuatkan dalam menjalani suratan takdir yang merupakan rahasia Ilahi.


Usai sholat, Nafisa menyalakan televisi. Valerie terlihat sedang membeberkan kisahnya dicerai sepihak oleh Zayn Malik. Bagaimana dia berusaha tetap memohon agar Zayn mencabut talaknya dan mereka kembali bersatu.


Valerie bahkan mengaitkan dengan kebebasan Nafisa yang dinilai mendadak. Mencurigai ada sesuatu antara suaminya dan wanita yang dituduh membunuh Maryam Malik.


Muncul juga di layar, Zayn Malik yang menghindar dari wawancara media. Pria kejam itu berlindung dibalik para bodyguard-nya.


Nafisa mematikan televisi. Perutnya mual memikirkan carut marut keluarga Malik yang berimbas pada dirinya.


Ingin rasanya saat itu juga pergi jauh meninggalkan semua, namun sadar diri bahwa tubuhnya belum sekuat itu.


Merebahkan diri, tiba-tiba Nafisa merasa lelah. Kelopak matanya terasa berat.


Sebelum terlelap, Nafisa menggumam, “Aku harus cepet sembuh buat melihat anak-anak lalu pergi jauh.“


***


“Zayn! Turun kamu. Aku tau kamu ada di atas. Zayn, please. Nggak lucu deh. Okay I’m sorry. Maafkan aku, Sayang. Aku janji akan berubah. ZAYN MALIK!”


Teriak Valerie dari depan lobby gedung kantor Zayn Malik.


Di ruangannya, Zayn melihat wanita cantik mantan istrinya berteriak-teriak seperti orang gila. Seperti disengaja karena beberapa pejalan kaki mengambil video.


“Kamu harus melakukan sesuatu. Tiap hari dia membuat kegaduhan,” gumam Mikail yang berdiri di sebelahnya.


Zayn diam, hanya terdengar bunyi nafas beratnya.


“Kenapa kamu nggak menghukum dia? Bukankah sudah terbukti kalau Valerie yang meracuni Bude?”


Zayn menggosok wajahnya.


“Ibu. Aku sudah berjanji pada beliau untuk tidak mengulang perbuatan burukku atas Nafisa. Jika diserahkan padaku, Valerie sudah berada di dalam peti mati, terapung di laut lepas.”


“Tetap saja kamu harus melakukan sesuatu. Dia sudah mulai menyangkutpautkan Nafisa. Dugaan kamu ada main dengannya.”


“Nafisa…”


Zayn memijat pucuk hidungnya tanda dia sedang kalut.


Pintu ruangan Zayn terbuka.


“Pak … Ibu Sepuh di TV …” Ujar sekretaris sambil menyalakan televisi.


Terlihat Maryam sedang berdiri menghadap awak media yang kini sering bergerumbul di depan rumah.


“Teman-teman, mohon beri privasi untuk anak saya Zayn Malik. Perceraiannya sedang diurus di pengadilan.”


Wartawan bertanya, “Apa penyebab perceraian? Kami lihat selama ini Zayn dan Val mesra-mesra aja.”


“Jodoh mereka sampai di sini. Ibu harap ke depan Zayn dan Valerie dapat belajar dari pengalaman buruk ini kemudian mencari kebahagiaan masing-masing,” jawab Maryam dengan tenang.


“Lalu dugaan perselingkuhan dengan Nafisa?” Cecar wartawan lagi.


Netra Maryam mengeruh, “Belum puaskah kalian menghancurkan Nafisa? Berbulan-bulan dia mendekam di penjara atas perbuatan yang tidak dia lakukan.”


“Lalu siapa sebetulnya yang akan mencelakai Ibu?”


“Seseorang yang tidak saya kenal dan menyamar menjadi Nafisa.”

__ADS_1


“Ibu tidak mengenal sama sekali?”


“Tidak, Nak. Ibu tidak kenal seseorang yang sejahat itu tega menghabisi nyawa seseorang,” sahut Maryam kini tersenyum tipis.


“Dimana Nafisa sekarang?”


“Selepas dari lapas, Nafisa mengalami shock. Saat ini keadaan sudah membaik. Sekarang dia adalah tanggung jawab Ibu.”


“Jadi tidak ada perselingkuhan antara Zayn dan Nafisa?”


“Sama sekali tidak. Itu adalah kabar bohong yang disebarkan oleh mantan menantu saya. Sebelum saya sudahi tanya jawab ini, ada pesan untuk Valerie. Nak, sudahlah, berhenti berkoar-koar dan menyebar fitnah. Ingat, sampai saat ini kami masih menutup aibmu. Sekian. Terima kasih teman-teman.”


Maryam berbalik dan pintu gerbang langsung ditutup.


“Loh, Bu. Kok nggantung? Aib apa? Bu … bu …” Panggil awak media bersamaan.


Dari dalam terdengar jawaban.


“Kami dari keluarga Malik tidak akan membuka aib siapa pun. Tanyakan saja pada Valerie, dia sedang di kantor anakku. Atau mungkin ke rumahnya di Jalan Soka.”


“Siaaap! Makasih Bu…”


***


Hari-hari berlalu. Valerie mulai melunak setelah mendengar mantan ibu mertua di tayangan stasiun-stasiun TV. Dirinya sadar bahwa Maryam telah mengancamnya secara halus.


Akhirnya ia memutuskan untuk tiarap. Pasrah ketika melihat surat cerai tiba, namun berbinar saat Mikail memberitahu bahwa Zayn sudah memenuhi kewajiban atas nafkah iddah dan gono-gini.


Atas perintah Maryam yang tidak mau anaknya terus menerus menjadi manusia dzholim, Valerie diberi hak atas rumah yang mereka tempati dan nafkah selama masa iddah yang cukup fantastis.


Melalui Mikail, Maryam minta agar Valerie tidak lagi mengusik Zayn apalagi Nafisa.


Melihat kekayaan yang bertambah setelah perceraian, Valerie memutuskan untuk melepaskan Zayn. Hanya sementara.


Dia bukannya bucin, namun menjadi istri Zayn memberikan status sosial yang sangat tinggi. Istri pengusaha kaya raya hingga sepuluh turunan, tampan bak manusia setengah dewa, belum lagi urusan ranjang. Meski belum sepenuhnya terpuaskan namun Valerie tetap menikmati setiap pertempuran dengan Zayn.


Dalam waktu singkat ia menjual rumah yang pernah mereka tinggali bersama, ingin membentuk image bahwa dirinya sudah move on. Padahal Val selalu memantau gerak-gerik Zayn.


Seperti siang itu ketika orang suruhannya mengabarkan bahwa mantan suami, ibunya, dan sepupu bodohnya itu menjenguk Nafisa di rumah sakit.


Seorang laki-laki muda meringkuk ketakutan di sudut kamar.


“Ke sini!” Titah wanita itu.


Laki-laki muda itu menggeleng.


“Aku nggak akan minta dua kali,” ucapnya sambil menghembuskan asap rokok.


Enggan laki-laki itu mendekat. Valerie melebarkan kedua pahanya dan memerintahkan si pemuda itu untuk memberi kenikmatan di sana.


Setiap kali pemuda malang itu berhenti, maka tak segan Valerie menyundut punggungnya.


Mendesah panjang, sesaat Valerie menikmati permainan lidah dan melupakan ambisinya untuk kembali kepada Zayn Malik.


***


Maryam, Zayn, dan Mikail berjalan di lorong rumah sakit menuju kamar Nafisa.


Kamar itu kosong. Seorang suster mengatakan Nafisa sedang di ruang fisioterapi. Ketiganya memutuskan untuk menunggu di kamar.


Semenjak Nafisa sadar, sudah beberapa kali Zayn ingin menemui langsung dan minta maaf. Tapi Nafisa selalu menghindar dengan alasan masih kurang sehat dan repot jika harus memakai baju gamis plus cadar.


Hari itu, Zayn membulatkan tekat untuk meminta maaf. Dia juga sudah membangun kembali kedai Nafisa yang terbakar dan memastikan semua operasional berjalan lancar.


Begitu juga dengan kedai lainnya yang sudah beroperasi. Zayn bahkan membuat promosi sehingga kedai itu kini ramai seperti sedia kala.


Mikail juga sudah mengurus permohonan hak asuh yang tertunda. Kini mereka tinggal menunggu kesiapan Nafisa.


“Duduk, Zayn,” ucap Maryam yang gemas melihat anaknya gugup.


“Gimana kalau Nafisa nggak maafin aku?”


“Kesalahan kamu begitu besar. Kamu sudah merusak hidupnya. Kalau dia tidak atau belum bisa memaafkan, maka usaha lagi. Sampai kamu dapat kata maaf darinya.”


Pintu kamar perawatan dibuka, seorang petugas fisioterapi masuk.

__ADS_1


“Maaf, saya dari tadi menunggu Ibu Nafisa untuk latihan,” kata petugas itu dengan sopan.


“Lho, kata suster di depan Nafisa sedang latihan,” jawab Mikail dengan nada heran.


“Jadwalnya pukul sembilan, tapi sampai barusan Bu Nafisa nggak datang, maka itu saya susul.”


Mikail gegas memanggil suster jaga. Zayn dan Maryam bersitatap dengan cemas.


“Maaf, memang Bu Nafisa tidak ke sana? Tadi mau mengantar tapi beliau mengatakan ingin latian jalan sendiri,” jawab suster jaga dengan wajah memucat.


“Gimana sih? Pasien kok dibiarin keluar-keluar tanpa pengawasan?” Sentak Zayn.


“Kami akan cari lewat CCTV, Pak.”


***


Dari jauh, Nafisa melihat segerombolan anak-anak bermain di sekolah.


Hatinya menghangat melihat Aurelie dan Milo asik bercanda ria dengan teman-teman.


“Anak-anakku, maafkan Mama. Sepertinya kalian lebih baik bersama Papa. Hidup Mama kacau balau.“


Air mata lagi-lagi mengalir. Sebenarnya, Nafisa sudah lelah menangis. Wanita itu merasa ia salah menjalani takdir.


“Mungkin Mama memang nggak ditakdirkan mengasuh kalian. Setiap Mama berusaha, pasti ada saja yang terjadi dan membuat semuanya hancur.”


Nafisa mengusap matanya yang basah.


“Baik-baik kalian di sini, ya. Nurut sama Papa dan Tante Della. Suatu saat, Mama akan menemui kalian. I love you so much Aurelie dan Milo.”


Dengan langkah pincang, Nafisa menjauh dari sekolah. Tidak menyadari sepasang mata anak kecil memandangnya dengan berkaca-kaca.


“Mama, mama jangan pergi. Aurelie kangen,” lirih Aurelie.


Seorang guru mendekat.


“Aurelie kenapa nangis?”


“Kelilipan, Miss.”


Guru tersebut memeriksa Aurelie lalu menyuruhnya bermain lagi setelah memastikan baik-baik saja.


Sebelum bergabung dengan teman-teman, Aurelie menoleh ke belakang. Sosok yang dicarinya sudah hilang.


“I love you, too, Mama,” gumamnya.


Guru tadi mengikuti arah pandang Aurelie. Della menghendaki jika Nafisa datang maka semua guru harus mencegahnya bertemu Aurelie dan Milo.


Meski tidak setuju karena bagaimana pun, Nafisa adalah ibu kandung Aurelie dan Milo, namun Della ridak bisa menerima penolakan.


Tidak melihat ada Nafisa di sana, guru itu bernapas lega. Dirinya adalah seorang Ibu yang pasti akan hancur jika dipisahkan dari anak-anaknya. Dengan alasan apapun.


Ia gegas mendekati Aurelie lalu memeluknya erat.


***


Nafisa berdiri di tepi jembatan menghadap ke sungai. Matanya terlihat lelah karena jiwanya memang lelah.


Bertahun-tahun ia bertahan untuk tegar dan baik hati, namun kali ini sepertinya Nafisa ingin menyerah.


Ingatan siksaan demi siksaan di penjara berkelebatan di benaknya. Rintihan tertahan setiap malam ketika teman-teman sel bergantian melecehkannya.


Tak sadar, ia memanjat pinggir jembatan. Siap menerjunkan dirinya.


“Aku nggak kuat, Bunda. Maafkan Mbak Nafi nggak kuat.”


Entah dari mana, Nafisa memanggil dirinya seperti dulu Bunda memanggilnya.


Wanita itu memejamkan mata.


“Maafkan aku, Ayah, Bunda. Tapi Mbak Nafi sudah lelah.”


Nafisa siap menjatuhkan tubuh ketika merasa seseorang menariknya.


“Nafisa, jangan!”

__ADS_1


***


__ADS_2