
Nafisa tidak memercayai nasibnya yang begitu buruk. Setega itukah Allah SWT pada dirinya?
Hidup tanpa ingatan masa kecil, tidak tahu siapa orang tua atau saudara. Dijadikan gadai atas pernikahan dan kemudian dicampakkan begitu saja. Kini dituduh membunuh wanita yang sangat ia sayangi.
Di lantai dingin sel tahanan, Nafisa meringkuk memeluk lutut. Hatinya serasa diremas mengingat Zayn dan Malik datang menemuinya tak lama setelah dirinya ditahan.
Nafisa hendak bertanya ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga ia jatuh tersungkur.
Dengan sorot penuh kebencian Zayn menatapnya.
“Kamu akan mati karena sudah mencoba untuk membunuh ibuku!” Bentaknya dengan suara menggelegar.
Mengindahkan rasa sakit, Nafisa menjawab penuh harap, “Berarti Ibu sekarang masih dirawat. Ya Allah semoga cepat sembuh.
Belum sempat berdiri, Zayn sudah menamparnya lagi. Mikail tidak berbuat apa-apa. Sorot matanya aneh menatap Nafisa. Para polisi berpaling, membiarkan Zayn melampiaskan kemarahannya.
“Bajingan! Kamu mau ibu saya benar-benar meninggal? Ingat, kamu yang akan mati, Nafisa!”
Zayn menendang perut Nafisa lalu berbalik meninggalkan ruang pertemuan. Nafisa meringkuk menahan sakit teramat sangat dengan berurai air mata.
Dengan kasar, dua polisi wanita menyentaknya untuk berdiri dan membawa Nafisa kembali ke sel. Di sana mereka berdua melempar tubuh lemah Nafisa.
Semenjak ditahan, para tahanan lain bersikap jahat pada Nafisa. Tak jarang ia menerima kekerasan fisik.
Seperti siang itu, ia baru saja menerima tamparan berkali-kali dari teman selnya. Hingga akhirnya ia meringkuk di pojokan.
Tak ada satu pun kerabat yang menengoknya. Tidak juga Mbok Mi atau Lastri.
Seorang polisi wanita menunjukkan video Valerie yang berlinang air mata menceritakan kondisi Maryam yang masih tidak sadar dan kritis. Wanita cantik itu berharap Nafisa dihukum seberat-beratnya.
Berbulan-bulan sudah dia menjalani pesidangan. Semua bukti mengarah padanya, baik dari CCTV yang menunjukkan dirinya memasukkan racun ke dalam teh dan mangkok kacang ijo, sidik jari di berbagai alat makan, hingga sisa racun yang ditemukan di rumahnya.
Tidak ada alibi yang menguatkan Nafisa karena pada hari itu ia seorang diri di rumah.
Polisi menelusuri dari mana racun itu dibeli dan penjualnya mengatakan seorang wanita bercadar dengan mata berwarna abu-abu membelinya beberapa hari lalu.
Ia bahkan menunjukkan rekaman dimana wanita bercadar dengan mata abu-abu itu menatap lurus ke kamera CCTV.
Dibela oleh pengacara abalan, Nafisa hanya mampu menunduk ketika semua pembuktian dibeberkan.
Kini wanita itu pasrah menunggu penentuan nasib di sidang putusan. Matanya menyorot keputusasaan, belum lagi kerinduan pada anak-anaknya yang sudah pasti tidak akan diijinkan menemuinya oleh Reno dan Dela.
Begitu terdengar adzan dzuhur, Nafisa tertatih bangkit untuk mengambil air wudhu. Salah seorang tahanan menendang lututnya hingga ia terjerembab.
Memegangi lututnya yang sakit, Nafisa berusaha bangkit untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat.
Usai menunaikan kewajiban, ia menengadahkan tangan.
“Ya Allah, Engkaulah pelindungku. Sebaik-baiknya pelindung. Jaga hamba, anak-anak hamba, dan sembuhkanlah Bu Maryam. Hamba tidak mengerti dengan takdir yang Kautetapkan atas hamba, namun berikanlah hamba daya dan kekuatan untuk menjalaninya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Ya Allah, aku mengharapkan kun fayakun-Mu. Aku mengharap kun fayakun-Mu. Aku mengharap kun fayakun-Mu.”
Nafisa terus berdoa dengan berlinang air mata. Karena kini ia hanya memiliki Allah sebagai tempat bersandar.
***
Nafisa jalan dengan kaki pincang membawa cucian milik teman-teman satu sel menuju tempat jemuran. Tak dihiraukan sakit di lutut yang semakin hari semakin terasa.
Besok adalah hari sidang putusan. Jaksa menuntutnya hukuman seumur hidup karena setelah beberapa bulan, Maryam masih belum juga sadar. Tubuhnya masih kaku tak bisa digerakkan.
“Heh brengsek!”
Nafisa terjatuh dan semua cuciannya berantakan.
Sekelompak tahanan tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Nafisa. Mereka menginjak-injak cucian yang siap dijemur.
“Lu cuci sekali lagi! Awas kalau baju gue masih kotor.”
Perlahan, Nafisa memunguti baju-baju yang berserakan di tanah. Sambil menahan sakit dari tendangan ke punggungnya. Telapak tangannya lecet karena setiap hari dia harus berkali-kali mencuci baju.
Nafisa sudah pasrah dengan nasibnya. Mungkin hukuman mati lebih baik daripada hidup penuh penderitaan.
Dia juga dengar tahanan hukuman mati akan dipisahkan selnya dari tahanan lain. Betapa Nafisa sangat mengharapkan hal itu.
Kini Nafisa kembali mencuci pakaian-pakaian semua teman selnya. Ia tidak memperhatikan ketika seseorang mengendap lalu mengguyurkan air sisa cucian ke kepalanya. Sekujur tubuhnya basah oleh air kotor.
Para tahanan wanita itu kembali menertawakan kesialan Nafisa lalu meninggalkan wanita yang berlinang air mata sambil terus mencuci pakaian-pakaian kotor teman-temannya.
***
Nafisa masuk ke ruang sidang dan duduk di kursi pesakitan. Sekilas ia melihat Zayn, Mikail, dan Valeri datang untuk menonton.
Zayn dan Valerie bergandengan tangan di bangku. Mereka melihat Nafisa dengan penuh kebencian.
Mikail hanya diam dengan tatapan datar.
Setelah pembukaan, hakim bersiap untuk membacakan putusan. Nafisa diminta berdiri.
Hakim ketua lalu membacakan putusan sidang, “Berdasarkan bukti-bukti kuat yang diajukan jaksa penuntut umum dan melihat bagaimana korban sampai saat ini masih belum sadar. Meski terdakwa bersikap baik dan kooperatif, kami memutuskan terdakwa Nafisa Salsabila dijatuhi hukuman lebih berat dari tuntutan jaksa yaitu… hukuman … mati!”
Kedua lutut Nafisa terasa lemas namun ia berjuang untuk tetap berdiri tegak. Tubuhnya gemetar hebat.
Di belakangnya ia mendengar Zayn dan Valeri berseru, “Alhamdulillah, keadilan sudah ditegakkan.”
Ketika hakim menanyakan apakah ada permohonan banding, Nafisa melalui pengacaranya menolak dan menerima hukuman yang diberikan.
Hati Nafisa seperti diremas, jika dikatakan ikhlas, maka dia tidak ikhlas. Namun kekuatan apa yang dia miliki?
Dia hanya berharap di sisa umur masih diijinkan untuk beribadah sepuasnya.
“Biar mampus kamu, Nafisa!” Terdengar suara Valerie ketika Nafisa digiring keluar ruang sidang.
Melangkah gontai, Nafisa berjalan mengikuti dua polisi wanita yang mengapit. Nafisa sempat melemparkan pandangan ke arah penonton sidang dan mendapati Reno menatap sambil mengusap wajah.
Nafisa kembali menunduk, mungkin pikirannya mulai sakit karena tidak mungkin Reno ada di sana apalagi menangis untuk dirinya.
Hari itu, Nafisa sudah kehilangan harapan untuk terus hidup. Bahkan wanita malang itu berpikir bahwa mati akan jauh lebih baik daripada hidup.
Ketika mobil tahanan ditutup dan dia seorang diri di sana, Nafisa menangis tergugu sembari memegangi dadanya.
***
Zayn dan Valerie diiringi Mikail berjalan keluar dengan susah payah karena dikepung awak media yang ingin tahu mengenai pendapat mereka atas hasil putusan sidang.
“Apakah, Pak Zayn sudah lega?”
“Belum, saya sudah lega jika Nafisa sudah tergeletak tak bernyawa dengan peluru menembus jantungnya. Dia sudah membuat ibu mencelakai ibu saya.”
“Wah masih lama dong.”
“Kita lihat saja nanti. Yang jelas nyawanya untuk mengganti penderitaan Ibu saya. Cukup sekian dulu dari kami keluarga Maryam Malik.”
Setelah berhasil masuk ke dalam mobil, Zayn memerintah Mikail.
“Pastikan Nafisa siksaan untuk Nafisa terus berlanjut. Suruh teman-temannya mematahkan kakinya sekalian, jangan nanggung.”
Mikail tidak menjawab.
“Mika!” Seru Zayn yang sebal ketika adik sepupunya tidak merespon. Terlebih Zayn tahu Mikail sempat suka pada wanita penyebab ibunya terbaring kaku di rumah sakit berbulan-bulan.
“Iya aku akan bayar mereka lagi untuk menyiksa Nafisa,” jawab Mika yang tidak mau berdebat dengan Zayn.
Sejujurnya pria itu tidak percaya jika Nafisa sanggup melakukan kejahatan demikian fatal terhadap Maryam Malik.
Mikail pernah diam-diam menemui Nafisa dan wanita itu bersumpah tidak pernah terbersit pikiran untuk mencelakai Maryam.
Namun semua bukti menyudutkannya. Bahkan security rumah bersumpah bahwa Nafisa-lah yang datang pagi itu karena mereka mendengar suara Nafisa yang khas.
Akhirnya ia terpaksa menerima bahwa Nafisa-lah yang melakukan kejahatan terhadap Maryam dan kini wanita yang pernah ia sukai akan dihukum mati karena kejahatannya.
Hape Zayn berbunyi.
“Ya … apa? Alhamdulillah. Baik, kami ke sana.”
“Ada apa, Zayn?” Tanya Valerie sambil meraih tangan suaminya.
“Ibu sadar, Val. Kita ke rumah sakit sekarang.”
“Oh … bagaimana kondisi Ibu?” Tanya Valerie lagi.
“Sudah sadar dan ingin bertemu. Untung ada Mbok Mi dan Lastri di sana.”
“Alhamdulillah. Ikut lega. Bersyukur ada Mbok Mi dan Lastri yang setia menjagai Ibu 24 jam meski dari luar ruang ICU,” sahut Valerie lagi.
“Iya. Cepat, kita harus ke rumah sakit,” perintah Zayn pada driver.
Wajah Zayn nampak penuh harapan setelah berbulan-bulan.
Begitu sampai di rumah sakit, Zayn menggandeng Valerie berlari menyusuri lorong-loromg rumah sakit menuju ruangan HCU, ruang perawatan untuk pasien dengan tingkat kritis di bawah ICU.
Mikail mengikuti di belakang mereka.
“Ibu!” Zayn menyibakkan tirai dan bahagia bukan kepalang melihat Ibunya duduk bersandar di tempat tidur. Mbok Mi dan Lastri berdiri di kedua sisi brankar.
“Sayang,” balas Maryam dengan tangan membentang mengharapkan pelukan dari putra tunggalnya.
Ibu dan anak itu berpelukan erat sekali.
“Ibu, ya Allah, Ibu udah sehat, kan? Zayn takut kehilangan Ibu.”
__ADS_1
Maryam mengurai pelukannya lalu menangkup tangan ke kedua pipi Zayn.
“Kasihan, anak Ibu. Oya mana Naf …”
Ucapan Maryam berhenti begitu melihat Valerie muncul dari balik tirai.
Dengan mendengus Zayn menjawab, “Dia sedang membusuk di penjara menunggu hukuman mati karena sudah menyakiti Ibu. Tenang saja, Ibu sudah aman sekarang.”
Maryam menatap lurus ke arah Valerie.
“Ibu, alhamdulillah sudah sehat, Valerie lega …”
Valerie hendak memeluk ibu mertuanya namun langsung dihalangi Mbok Mi dan Lastri.
Maryam pun langsung memandang menantunya dengan sengit.
“Mbok Mi, Lastri! Pergi kalian. Tinggalkan kami!” Titah Zayn dengan emosi, tidak suka istrinya dihalangi untuk memeluk ibunya.
“Maaf Pak. Kami hanya menjalankan perintah Ibu Sepuh.”
“Apa maksud kalian? Ibu?” Zayn mendelik.
“Sudahlah Zayn, mungkin Ibu hanya lelah. Aku akan tunggu di luar,” ucap Valerie lembut kemudian beranjak menjauh.
“Berhenti di situ!” Perintah Maryam.
Dari belakang Valerie muncul Pak Linggar dan Pak Kasno dua bodyguard yang juga setia menjaga Maryam siang dan malam bersama Mbok Mi dan Lastri.
“Ada apa ini?” Tanya Zayn penuh keheranan. Begitu juga dengan Mikail.
Maryam berkata pada Pak Kasno, “Panggil Dokter Rafi.”
“Njih, Bu. Sekedap.”
“Bu? Ada apa sebenarnya?” Tanya Zayn lagi.
“Bersabar, Sayang.”
Valerie resah namun tak berani bergerak karena mata Maryam terus menatapnya tajam. Belum lagi Pak Linggar yang siap menghadang dengan tubuh tinggi besarnya.
Dokter Rafi datang diiringi suster dan security rumah sakit. Semua berdiri mengepung Valerie.
Zayn mengulurkan tangan lalu menggandeng Valerie erat.
“Bu?” Zayn menuntut penjelasan.
Dokter Rafi berdehem lalu meminta Zayn untuk melihat ke monitor yang ia bawa.
“Pak Zayn, ini adalah video pantauan CCTV sebelum Ibu Maryam sadar.”
Zayn memerhatikan dengan seksama. Ibunya terbujur kaku tak bisa digerakkan. Bahkan selama berbulan-bulan mereka tidak bisa membuka telapak tangan Maryam yang terus mengepal.
Menit-menit berlalu ketika tiba-tiba tubuh Maryam bergerak dan sesuatu terlepas dari genggamannya.
Valerie ternganga lalu menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Apa itu?” Zayn bertanya.
Seorang suster lalu memberikan benda tersebut dari atas nampan medis.
“Ini, Pak. Kami simpan. Mohon jangan langsung dipegang. Mungkin bisa dijadikan bukti di pengadilan.”
Zayn langsung mengenali gelang bertabur berlian yang pernah ia belikan untuk Valerie.
“Val, kenapa benda itu bisa …”
Zayn terdiam menyadari sesuatu.
“Valerie, kamu?”
“Bukan Zayn, aku nggak mungkin menyakiti Ibu. Ini semua adalah perbuatan Nafisa.”
“Ibu melihat wajahmu hari itu, Val. Kamu ingat kan, ketika tangan Ibu menarik cadar yang kamu pakai? Ibu hanya ingin membuktikan bahwa bukan Nafisa yang menyakiti Ibu.“
Valerie menggeleng. Zayn melepaskan tangan dari istrinya.
“Zayn, ini fitnah. Aku nggak mungkin menyakiti Ibu. Mungkin Ibu masih belum sepenuhnya sadar.” Valerie mendekati Zayn tapi laki-laki itu malah mundur menghindar.
Dokter Rafi langsung membantah, “GCS atau nilai tingkat kesadaran Ibu Maryam adalah normal 15. Ini adalah sebuah mukjijat. Beliau seperti sembuh begitu saja.”
“Zayn, percayalah, bukan aku,” rengek Valerie.
Melihat tidak ada respon dari Zayn, maka Valerie beringsut menjauh kemudian berbalik hendak melarikan diri namun ditangkap oleh Pak Lingga dan Pak Kasno.
“Lepaskan!”
“Val?”
“Lepaskan tanganku, bangsat! Lepaskan! Zayn, kamu liat sendiri jika semua bukti mengarah ke Nafisa.“
“Kenapa gelangmu bisa berada digenggaman Ibu? Aku sudah melihat rekaman berkali-kali dan Ibu memang menggenggam tangan wanita yang aku pikir Nafisa sebelum tak sadarkan diri.”
Valerie menggeleng, matanya terlihat panik. Sementara Zayn menatapnya tajam.
“JAWAB!” Bentak Zayn.
“Buktikan jika memang aku yang meracuni Ibu! Dari dulu Ibu selalu membela Nafisa. Ibu tega menuduhku, menantu sendiri …”
Valerie tidak bisa melanjutkan kalimat ketika tangan Zayn mencekik lehernya.
“Zzz … a …yn.”
Maryam memanggil anaknya dengan lembut.
“Zayn … lepaskan.”
“Bu, manusia biadab ini sudah merencanakan untuk membunuh Ibu. Biar Zayn bunuh saja dia!” Sahut Zayn penuh emosi.
Mikail dan security rumah sakit berusaha melepaskan tangan Zayn yang mencengkeram leher Valerie.
“Zayn, anakku, lepaskan. Tak ada gunanya jika dia mati,” bujuk Maryam lagi.
Mendengar suara lembut ibunya, Zayn melepaskan tangan dari leher Valerie.
Wanita itu jatuh sambil terbatuk-batuk.
“Bawa dia ke gudang, jangan sampai dia lolos.”
Mikail mengangguk. Lalu Pak Linggar dan Pak Kasno mengangkat tubuh Valerie agar tegak berdiri lalu menggiringnya pergi.
Dengan suara serak, Valerie berteriak, “Aku harap kamu mati Ibu Tua! MATI!”
Dari ruangan masih terdengar teriakan Valerie.
“Bu, maafkan Zayn, harusnya memang Zayn nggak menikah sama dia.”
Maryam mengelus tangan anaknya.
“Bu Maryam saya periksa dulu, apakah jantung dan tekanan darah Ibu baik-baik saja setelah kejadian tadi,” pinta Dokter Rafi.
“Alhamdulillah, Dok, saya merasa baik-baik saja. Tapi silakan periksa untuk amannya.”
Usai Dokter memeriksa kondisi Maryam yang sudah normal, tim medis pun pamit undur diri.
Meninggalkan Zayn bersama Maryam yang masih dikawal Mbok Mi dan Lastri.
“Mana Nafisa, Nak? Ibu kangen.”
“Nafisa … Ya Allah, Nafisa.”
Wajah Zayn berubah terlihat pucat dan panik.
“Kenapa? Apa yang terjadi pada Nafisa. Astaga tadi kamu bilang ia membusuk di penjara menunggu hukuman mati? Pasti dia disalahkan gara-gara Valerie? Zayn, kamu harus segera bebaskan dia!”
“Bu, tapi Zayn nggak mau jauh dari Ibu.”
“Zayn Bilal Malik! Kamu bawa Nafisa ke sini atau Ibu nggak mau ketemu kamu lagi!”
***
Di penjara, Nafisa sedang digiring dari selnya menuju mobil tahanan untuk dipindahkan ke lapas yang lebih besar.
Setiap Nafisa melewati sel maka seluruh penghuni sel mencemooh dan menghinanya. Tidak sedikit yang meludah ke arahnya.
Nafisa hanya menunduk. Jalannya tertatih karena lututnya makin terasa sakit.
Tanpa belas kasihan, sipir penjara mendorongnya sehingga Nafisa tersungkur.
Para penghuni sel yang menonton pun bersorak kegirangan melihat penderitaan Nafisa.
“Bangun!” Perintah salah seorang sipir sambil menyentak tubuh Nafisa.
Meringis kesakitan, Nafisa menahan sakit.
Dalam sel ia tidak diperkenankan memakai cadar, sehingga terlihat wajahnya yang pucat dengan bulir-bulir keringat membasahi.
“Semoga cepat mati, ya,” kata seorang tahanan sambil meludah ke arahnya.
__ADS_1
Nafisa meneruskan langkahnya. Tiga bulan di penjara, ia selalu mendapatkan siksaan dan hinaan. Tak sabar ia berada di mobil tahanan. Andai saja kakinya bisa melangkah lebih cepat.
Baru beberapa langkah, kepala penjara datang dengan langkah cepat.
Nafisa sudah siap menerima cacian dan hinaan ketika wanita bertubuh gempal itu berkata, “Ada bukti baru. Kamu tidak bersalah. Kamu akan segera bebas.”
Tak bergeming, Nafisa mendengar kalimat yang rasanya asing di telinganya.
“Bawa dia ke klinik. Obati luka-lukanya jangan sampai ada bukti penyiksaan terjadi di sini.”
Semua tahanan terdiam.
“Apakah ini berarti perintah Tuan Zayn Malik dibatalkan? Kita tidak perlu menyiksanya lagi?” Tanya salah seorang di antara mereka.
Nafisa tidak bergerak. Matanya sayu, kepalanya tetap tertunduk.
“Nafisa berjuanglah!”
Dari arah sel terdengar seruan.
“Bangkit, Nafisa! Kamu bisa!”
“Alhamdulillah! Allahu Akbar!”
Dari arah sel tempatnya ditahan terdengar pekikan, “Kun Fayakun-mu dijabah, Nafisa! Kamu kuat! Maafkan, tapi kami tidak punya pilihan selain menuruti permintaan Zayn Malik untuk menyiksamu.”
Kepala Nafisa tetap tertunduk, ia melangkah. Setapak demi setapak.
“Bangkit, Nafisa.”
***
Untuk beberapa hari, Nafisa tidur di klinik. Pertama kali setelah tidur di lantai tanpa alas, akhirnya Nafisa merasakan tidur di atas kasur.
Luka di kulit akibat siksaan tahanan-tahanan lain sudah diobati. Hanya saja cedera lutut harus mendapat perawatan khusus di rumah sakit.
Nafisa menatap keluar jendela yang mengarah ke lapangan. Para tahanan sedang berolah raga di sana. Ia melayangkan pandangan ke area cuci di sebelah lapangan. Salah satu tempat yang sangat ditakutinya.
Namun setiap titik dalam penjara adalah tempat yang menakutkan. Bukan saja kekerasan fisik namun dia juga pernah mengalami kekerasan seksual.
Jiwa dan tubuhnya mati perlahan di tempat itu.
Bahkan ketika sipir menyerahkan baju yang dia pakai saat masuk, tidak ada binar di matanya. Ia menandatangani semua berkas pembebasannya.
Beberapa sipir meminta maaf atas perlakuan kasar padanya selama ini. Nafisa hanya mengangguk lalu melangkah keluar dari neraka dunia itu.
Di luar penjara, sudah ada Zayn dan Mikail juga awak media.
Nafisa bersyukur ia diperkenankan memakai cadarnya lagi, sehingga manusia-manusia di depannya tidak bisa melihat wajah yang mengekspresikan tekanan batin teramat sangat.
Zayn maju untuk menyambut Nafisa.
“Maafkan saya, Nafisa. Maafkan,” ujar Zayn begitu berhadapan dengan Nafisa.
Wanita itu mengangguk lemah.
“Nafisa … aku minta maaf.”
Lagi-lagi Nafisa mengangguk lemah.
Awak media mulai bertanya, “Pak Zayn, apa yang menyebabkan Nafisa dibebaskan dari segala tuduhan.”
“Ibu saya yang sudah sadar menyebutkan bahwa bukan Nafisa pelakunya.”
Nafisa menoleh ke arah Zayn.
“Ibu Sepuh sudah sehat?”
“Betul, Nafisa. Setelah ini kita akan menemui Ibu, kamu mau, kan? Ibu sudah berkali-kali menelepon menanyakan kamu.”
“Alhamdulillah kalau sudah sembuh.”
“Nafisa, apa yang akan kamu lakukan setelah bebas? Apakah kamu akan menuntut balik keluarga Malik.”
Semua diam menunggu jawaban Nafisa.
Dengan suara terdengar lemah, Nafisa berkata, “Saya ingin pulang.”
“Apakah Anda akan menuntut keluarga Malik?”
Nafisa menjawab singkat, “Tidak.”
Awak media tertegun lalu beralih ke Zayn.
“Jadi siapa yang mencelakai Bu Maryam? Apakah Nyonya Valerie?”
Zayn menahan napas sebelum menjawab.
“Bukti-bukti sudah di kepolisian. Untuk sementara hanya itu yang bisa saya sampaikan.”
“Mengapa perlakuan begitu berbeda? Ketika Nafisa baru menjadi tersangka, nama dan fotonya langsung tersebar. Kini sepertinya semua serba ditutupi. Apakah benar Nyonya Valerie? Kenapa dia tidak ada di sini?”
Berondong seorang wartawan.
Zayn terdiam lalu menjawab dengan nada menahan emosi.
“Untuk masalah itu, sudah ada di ranah kepolisian. Sekarang saya hanya ingin mengantar Nafiss … Loh mana Nafisa?”
Zayn dan Mikail mencari keberadaan Nafisa yang sudah tidak ada lagi di sampingnya.
***
Nafisa menaiki ojek pangkalan di depan penjara menuju satu tempat; sekolah Aurelie dan Milo. Betapa dirinya sangat merindukan anak-anaknya.
Tahu diri, Nafisa tidak akan mendekati mereka hingga menimbulkan kehebohan. Ia hanya ingin melihat dari jauh.
Tiba di depan sekolah, Nafisa menuju ke arah pekarangan. Jam yang tepat karena saat itu anak-anak sedang bermain.
Nafisa melepas cadar karena tidak ingin menjadi perhatian. Tidak ada orang yang mengenalinya tanpa cadar.
Dari jauh ia melihat Aurelie sedang main ayunan. Sulungnya terlihat cantik sekali. Memakai seragam berwarna biru dengan rambut dikepang dua.
Hati Nafisa berdenyut mengenali jepit yang dipakai Aurelie adalah pemberiannya.
Kemudian pandangannya beralih ke kelompok anak yang lebih kecil. Mereka sedang bermain dipandu guru.
Milo yang iseng sedang menjahili temannya. Nafisa tersenyum melihat kekonyolan anak bungsunya.
Cairan bening menetes dari sudut matanya.
“Mama cinta kalian Aurelie dan Milo. Selalu, selamanya.”
Setelah kembali memasang cadar Nafisa kemudian tertatih berjalan menuju ojek yang menunggunya.
Babang ojek yang biasa mangkal di depan penjara sudah terbiasa dengan kebiasaan para tahanan yang baru dibebaskan.
Mereka akan langsung melihat anak-anak mereka dari jauh.
Duduk di boncengan, Nafisa mengarahkan ojek ke arah kedai.
Di depan bangunan yang pernah populer, Nafisa menghela napas.
Kedainya tutup. Di rolling door terdapat tulisan pylox merah: KEDAI PEMBUNUH.
Lagi-lagi cairan bening lolos dari netranya.
Setelah itu, Nafisa minta diantar pulang.
Begitu sampai, Nafisa mendapati pintu rumah terkunci. Beberapa orang tetangga menghampiri. Nafisa siap menerima cercaan, penghinaan, bahkan pengusiran.
“Mbak Nafisa, alhamdulillah. Kami sudah dengar beritanya dan ikut lega. Ini kunci rumah,” ujar salah seorang Ibu.
“Terima kasih,” sahut Nafisa yang gegas masuk untuk mengambil uang bayaran ojeg.
“Mbak, maaf kami tidak menjenguk karena tidak diperbolehkan oleh suami-suami.”
“Tidak apa-apa. Mari Ibu-ibu, saya ijin masuk dulu ingin beristirahat.”
“Silakan. Kabari jika perlu apa-apa.”
Begitu masuk rumah, Nafisa menuju kamarnya. Membuka seluruh baju lalu memasukkan ke dalam plastik dan membuangnya.
Masuk ke kamar mandi, Nafisa mengguyur dan menggosok seluruh badan. Air mata mengalir bersama dengan air yang membasahi tubuhnya.
Sholat adalah kegiatan setelah Nafisa selesai membersihkan tubuhnya. Dilaksanakannya ibadah wajib dengan khusyuk hingga akhirnya ia bersimpuh untuk melafazkan doa.
“Ya Allah, hanya kuasaMu yang membuat hamba bisa berada di sini. Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih. Tapi hamba lelah, ya Allah. Kuatkan hamba …”
Nafisa kemudian merebahkan tubuhnya di atas sajadah. Air mata membasahi wajahnya. Kepalanya terasa sakit, tiap persendian ngilu luar biasa.
Akhirnya mata indah itu terpejam, entah berapa lama. Sampai Nafisa mendengar suara-suara memanggilnya.
Lirih, ia menggumam, “Jangan, jangan tangkap saya. Jangan sakiti saya.”
Setelah itu ia merasa tubuhnya diangkat dan ia hilang kesadaran sepenuhnya.
***
__ADS_1