
Pov Nafisa
“Nggak! Lepaas! Kumohon lepas … sakit … sakit … Ayah, Bunda, tolong Mbak Nafi … kumohon hentikan, sakit ….”
Aku terbangun dengan tubuh menggigil namun sekujur tubuhku basah oleh keringat.
“Ya Allah, alhamdulillaah hanya mimpi,” ucapku setelah memandang berkeliling dan ternyata aku berada di kamar yang kutempati di rumah Bu Maryam.
Sejak dibebaskan dari penjara, aku selalu tidur dengan lampu menyala. Terang benderang.
Kuusap wajah yang ternyata basah oleh keringat dan air mata. Bayangan malam-malam menyeramkan di sel sempit bersama 6 orang terlihat jelas.
Sepertinya waktu itu aku sengaja ditempatkan di sel yang isinya penjahat kambuhan. Mereka sungguh tidak punya belas kasih sedikit pun.
Sekali lagi kulayangkan pandangan ke seluruh ruang, hanya untuk meyakinkan aku benar-benar tidak di dalam sel sempit.
Perlahan aku turun menuju kamar mandi. Kutatap wajahku di kaca.
Mataku celong, rambutku basah karena keringat, bibirku pucat.
Dalam hati aku bertanya, “Mungkinkan aku bisa benar-benar melupakan semuanya?”
Lututku terasa lemas. Aku jatuh terduduk di kamar mandi. Menangis tergugu dengan tiba-tiba tanpa bisa kutahan. Tubuhku gemetar hebat.
Kuseret tubuh lemah ini ke bawah shower. Masih dengan pakaian tidur lengkap, kunyalakan sehingga air dingin mengguyur tidak saja tubuh namun juga pakaian yang masih melekat.
Terus menangis hingga kembali terduduk di bawah kucuran air. Kupeluk kedua lutut. Meringkuk di bawah dinginnya air.
Kudengar pintu kamar diketuk. Namun tak ada tenaga untuk melakukan apapun. Kutundukkan kepala hingga menempel ke lutut.
Air mata ini terus membanjir.
Kudengar suara di luar sana. Entah apa yang terjadi aku tak peduli. Mungkin betul aku masih di penjara dan ini semua hanyalah ilusi. Bisa jadi tak lama lagi para tahanan akan mulai menyiksaku.
Tak sadar aku mengeluarkan suara meraung. Kulihat seorang laki-laki muncul di ambang pintu. Siapa dia? Sepertinya aku ingat.
“Nafisa!”
Dalam ketidakberdayaan, aku seperti menonton film ketika laki-laki itu gegas mendekat diikuti beberapa wanita.
“Jangan, jangan sakiti lagi, kumohon. Jangan …”
Dengan sisa tenaga, kujulurkan tanganku sebagai bentuk pertahanan terakhir.
Kurasakan air berhenti mengguyur.
Tubuhku melayang. Mungkinkah ini akhir hidupku? Ketika tak lagi merasakan sakit dari siksaan? Apakah nyawaku sudah meninggalkan raga?
Perlahan tubuhku diletakkan di atas pembaringan hangat.
“Ahh sungguh nyaman. Sepertinya betul aku sudah mati. Laa ilaaha illallah.” Kurasakan bibirku bergerak.
Laki-laki tadi mungkin adalah malaikat maut.
Sekilas kulihat lengannya yang bertato. Kepalaku menggeleng.
Tato?
Dari sela mata aku melihat wajahnya yang terlihat cemas. Aku tahu dia. Tapi otakku menolak untuk berpikir.
Seorang wanita mendorong pria itu sehingga dia menyingkir. Ia juga menyuruhnya pergi.
Tidak! Aku harus ingat siapa dia.
Belum selesai berpikir, aku merasa tubuhku digosok kuat dengan kain lembut. Mereka membuka pakaianku.
“Jangan! Jangan lagi! Kumohon.”
“Nafisa, Sayang. Ini Mbok Mi dan Mbak Lastri.”
Tak kupedulikan suara mereka, aku terus meronta sebisanya.
Mereka terus melicuti pakaianku. Kupejamkan mata, bersiap menerima rasa sakit di area inti.
Mulutku terus memohon.
Terdengar suara, “Sayang, ini Mbok mau gantikan baju, ya.”
Aku tetap menggeleng, kurapatkan kedua kaki kuat-kuat.
“Sayang, sadarlah, istighfar. Ini Ibu.”
“Bunda …” Balasku mencari asal suara. Mataku masih terpejam.
“Bunda, Mbak Nafi takut. Jangan tinggalin Mbak.”
“Iya … iya Bunda di sini. Tapi Mbak Nafi harus tenang dulu. Biarin mereka bantuin Mbak.”
Aku mengangguk.
“Bunda, bawa Mbak Nafi pergi sama Bunda. Mbak Nafi nggak mau sendirian lagi.”
“Bunda akan selalu di samping Mbak Nafi.”
Kurasakan pakaian hangat mulai menutupi tubuhku.
__ADS_1
“Mbak istighfar, bisa?”
“Bisa, Bunda. Astaghfirullah, Astaghfirullah. Bunda, Mbak Nafi kangen.”
“Bunda juga kangen. Makanya Bunda nemenin Mbak Nafi di sini.”
“Jangan pergi lagi, Bunda …”
“Bunda nggak pernah pergi, Sayang. Bunda selalu ada di hati Mbak Nafi. Sampai sekarang, Bunda bangga karena Mbak Nafi selalu tegar dan baik hati. Seperti nasihat Bunda terakhir. Mbak ingat, nggak?”
Kurasakan kepalaku mengangguk.
“Tapi Mbak Nafi udah nggak kuat …”
“Sssh, selalu berdoa. Bunda yakin, Mbak akan kuat. Tinggal Mbak harus sabar menjalani apapun takdirnya.”
Tubuhku kini telah hangat dibalut pakaian yang nyaman. Seseorang memijat kakiku.
“Mbak Nafi pengin dipeluk Bunda.”
“Sini, Sayang … Bobok, Bunda jagain.” Kurasakan tangan lembut mendekap tubuhku. Nyaman sekali.
“Bobok, Sayangku. Bobok yang enak.” Suara itu terdengar lagi.
“Iya, Bunda.”
Jari jemari halus mengelus rambutku dengan lembut. Suara-suara makin menjauh kemudian film itu pun selesai.
***
Pov Reno.
Pukul dua dini hari. Aku masih mengerjakan perencanaan bisnis baru ketika mendengar pipa air berbunyi.
“Aku harus mengganti pipa-pipa air di rumah ini,” begitu pikirku.
Sambil berkutat menatap angka-angka, keningku berkerut ketika bunyi pipa air itu tak kunjung berhenti. Siapa yang mandi pukul dua dini hari, begitu pikirku.
Gegas, kumenuju kamar Ibu.
“Bu, ibu, buka pintu. Ibu baik-baik, kan?”
Pintu terbuka, kulihat Mbok Mi memakai mukena.
“Mana Ibu?” Tanyaku.
Mbok Mi memang tidur di dalam menemani Ibu jika perlu ke kamar kecil.
“Lagi sholat tahajjud, Pak.”
Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju kamar sebelah.
“Nafisa! Nafisa! Buka pintunya!”
Telingaku menempel ke daun pintu. Memang betul bunyi air terdengar dari balik pintu.
“Nafisa!” Kugedor kamarnya.
“Zayn! Ada apa?”
“Nggak tau, Bu. Tapi feelingku nggak enak. Dari tadi pipa air bunyi seperti biasa. Sepertinya Nafisa mandi, tapi masak jam dua pagi?”
“Mbok, ambil kunci serep di laci.”
Sementara Mbok Mi menuju kamar Ibu, aku terus menggedor.
“Ini, Pak.” Tak lama Mbok Mi mengulurkan anak kunci.
“Nggak bisa, kunci terpasang dari dalam. Nafisa! Nafisa!”
Kubenturkan tubuhku dan daun pintu tetap berdiri tegak. Kokohnya kayu besi tidak terkalahkan.
Bayangan Nafisa berkelebat di mataku.
“Bismillah.”
Kutendang pintu itu hingga akhirnya terbuka. Segera aku berlari ke kamar mandi. Di sanalah Nafisa, meringkuk di bawah shower yang menyala.
“Jangan, jangan sakiti lagi, kumohon. Jangan …”
Mencelos hatiku menemukan Nafisa menatap dengan pandangan ketakutan. Tangannya merentang, mencegahku untuk mendekat.
Kuputar kenop shower lalu kuangkat tubuhnya. Hanya memakai piyama yang sudah basah kuyup.
Tubuhnya kecil dan ringkih.
Dia terus mengucapkan tahlil, seperti berpikir dirinya sudah meninggal.
Kubaringkan tubuhnya di tempat tidur.
“Zayn, keluar. Nafisa nggak tertutup.”
Tak kuhiraukan suara Ibu. Tanganku terus mengusapi wajahnya.
“Zayn!”
__ADS_1
Ibu menjauhkan tubuhku.
“Keluar, kondisi Nafisa nggak pantas dilihat.”
Aku pun mengangguk.
“Tolong dia, Bu.”
Di luar kamar aku terduduk di lantai.
Tubuhku gemetar.
Di dalam sana, seorang wanita sedang berjuang untuk keluar dari trauma kekejaman yang pernah kutimpakan atasnya.
“Maafkan aku, Nafisa.”
Kusandarkan tubuhku ke sofa. Sepertinya Mbok Mi yang kini dibantu Lastri sedang kesulitan mengganti baju Nafisa.
Terdengar suara mereka berusaha menenangkan Nafisa.
Kutangkupkan kedua tanganku ke wajah.
Tiap malam dia pasti mengalami kekerasan hingga efeknya sedemikian dahsyat. Kutelan saliva.
“Jika saja waktu itu aku nggak terbawa emosi. Di mataku, dia adalah pembunuh. Dan ternyata Valerie, istriku sendiri yang berniat meracuni ibu.”
Tubuhku tak berdaya mendengar suara Nafisa yang terus merintih.
Aku masih bertahan. Sampai beberapa menit, agaknya Nafisa sudah mulai tenang.
Timbul rasa lemah dimana aku perlu bersandar kepada Sang Pemilik.
Kakiku melangkah ke kamar, setelah wudhu, kugelar sajadah. Delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir akhirnya mampu menenangkan hatiku.
“Nafisa, akan kubayar penderitaanmu dengan hidupku. Mulai detik ini, aku akan berjuang memberikanmu kebahagiaan.”
***
Pov Maryam
Malam ini aku memutuskan tidur di kamar Nafisa. Wanita yang hadir dan memberiku semangat hingga kondisiku kembali seperti sedia kala.
Kutatap wajah pucatnya. Tangannya masih menggenggam erat tanganku. Berulang kali memqnggil ‘Bunda’.
Kubelai rambutnya. Sungguh aku menyayangi dia seperti anakku sendiri.
Hatiku bergetar mengingat kejadian barusan. Ketika Nafisa memohon untuk tidak disakiti.
Di rumah sakit, dokter dulu menjelaskan bahwa area intinya sempat terluka dan infeksi karena kekerasan seksual.
Kueratkan gengamanku. Di umur yang masih terbilang belia, dia sudah merasakan penderitaan begitu berat.
Keluargaku berhutang banyak pada Nafisa.
Aku, yang sembuh karena dorongan darinya dan Zayn, yang telah melemparnya ke penjara. Jika waktu itu aku tidak sadar, mungkin Nafisa sudah menjalani hukuman mati.
Atau mungkin, ia merasa lebih baik mati?
Kurapatkan selimut untuk menghangatkan tubuh rapuh di sampingku.
Mbok Mi dan Lastri duduk di sofa sambil menatap Nafisa dengan cemas. Mereka tidak mau tidur meski sudah kusuruh.
Kami berempat memang kompak.
“Bu Sepuh, sare. Ben dalem kalean Lastri ingkang jogo Non Nafisa,” ucap Mbok Mi yang menyuruhku tidur.
“Wis rapopo. Toh biasane aku jam sakmene yo ora turu, moco Qur,an.”
Lastri bangkit dari sofa lalu mulai memijat kaki Nafisa.
“Saya nggak bisa ngebayangin bagaimana Non Nafisa bisa bertahan di sana. Ibu liat kan tadi badan dan punggungnya masih ada bekas luka sundutan.”
Kuusap air mata. Seharusnya anakku tidak perlu bertindak sejauh itu meski dengan dalih membalaskan penderitaanku.
“Bu, desak Non Nafisa untuk menikah dengan Pak Zayn. Biar ada yang jagain. Lastri liat Pak Zayn juga udah sayang, hanya Non aja yang masih jaga jarak.”
“Mbok liat Pak Mika juga suka sama Non.”
“Iih kalau dia mah dari dulu,” sahut Lastri ketus.
“Non jangan sama Pak Mika, Bu. Maaf banget, tapi dia mencla-mencle jadi orang. Nggak teges,” sambungnya lagi.
“Nek Mbok kok pingine Non sama Pak Mika …”
“Iiih, Mbok. Pak Mika itu nggak punya sikap. Dulu, dia udah percaya kalo bukan Non yang meracuni Ibu Sepuh. Lak, meneng ae tho?”
“Tapi Non, benci sama Pak Zayn,” lirih Mbok Mi menatap Nafisa yang bergerak mengganti posisi kepala.
Akhirnya aku bersuara.
“Zayn-lah yang harus bertanggung jawab. Juga terancam mendapatkan hak asuh jika kondisinya seperti ini. Nanti pelan-pelan tak bujuki.”
Tubuh Nafisa bergerak, bibirnya menggumam, “Nafisa benci Pak Zayn, dia jahat.”
***
__ADS_1