Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Valerie Malik


__ADS_3

Minggu-minggu berlalu sejak kebakaran meluluhlantakkan kedai pertama milik Nafisa.


Melalui akun media sosial, ia menceritakan musibah yang menimpanya. Sekaligus Nafisa mengumumkan pengalihan seluruh bisnis ke kedai kedua.


Dukungan mengalir untuk Nafisa. Para followers menyampaikan simpati dan berharap Polisi mengusut tuntas.


Selama belum ada kejelasan, Maryam memaksa Nafisa untuk tinggal bersamanya. Walau rikuh, akhirnya Nafisa setuju sampai kondisi lebih tenang.


Pagi itu Nafisa sedang menyiapkan sarapan untuk Maryam. Bubur kacang ijo, pisang kukus, dan ketimus. Walau sederhana, namun Maryam justru malah menyukai daripada hidangan dari chef yang bekerja di rumahnya.


Sedang asik mengobrol di teras belakang, seorang wanita masuk dan langsung duduk bersama mereka.


“Valerie?” Tegur Maryam ragu.


“Iya dong, Bu. Siapa lagi? Nafisa, buatin saya kopi americano,” titahnya sambil memeriksa penampilan lewat kamera hape.


“Baik, Nyonya,” sahut Nafisa, gegas berdiri.


“Enggak, kamu di sini aja. Mbok Mi, tolong bikinin Nyonya Valerie americano.”


Val menatap tak senang ke arah Nafisa.


“Kenapa bukan dia yang bikin? Kok Ibu ngeliatin aku seperti itu?”


Maryam memandang wanita yang mengaku menantu itu dengan tatapan heran.


“Ibu heran, tiap ketemu kok muka kamu beda terus.”


“Jangan norak ah, Bu. Aku cuma meninggikan tulang pipi sama mancungin hidung aja di Korea. Bagus, kan?”


“Aslinya juga kamu udah cantik,” ucap Maryam tulus.


“Begini lebih cantik. Oya Bu, aku mau kasih tau kalo besok ada pemotretan di sini. Mmm, kok laper, ya? Nafisa, tolong keluarin kue-kue yang katanya fenomenal itu. Heran seenak apa sih sama Zayn muji-muji.”


Sadar tempatnya bukan di sana, Nafisa mohon untuk diijinkan ke dapur membantu Mbok Mi.


Sementara Maryam yang enggan menghadapi mantu songong binti gadir seorang diri tentu saja tidak mau ditinggal.


“Nafisa, Naf … ck.” Maryam mendelik ke arah Nafisa yang langsung mengambil langkah seribu.


Valerie ikut melihat Nafisa, heran dengan kedekatan ibu mertuanya dengan wanita yang notabene bukan siapa-siapa.


Suasana canggung sangat terasa.


“Mmm ada pemotretan apa, Val?”


“Untuk majalah lifestyle. Mereka mau bikin artikel khusus tentang aku,” jawab Valerie dengan nada bangga.


“Oh. Tumben di sini?”


“Nggak apa kan, Bu. Lagi pula ini semua punya Zayn jadi aku juga berhak memakai fasilitas di sini.”


Maryam tertegun.


“Punya Zayn? Jangan ngarang, Val. Dari dulu, Ibu dan Zayn punya harta terpisah. Ayahnya Zayn sudah mengatasnamakan ini semua untuk Ibu, juga beberapa perusahaan yang memang dikelola Zayn atas nama Ibu. Ayahnya Zayn tidak ingin ibu merepotkan siapapun.”


“Nantinya kalau Ibu udah nggak ada kan jadi punya Zayn juga,” jawabnya acuh.


“Salah lagi. Ibu sudah mewasiatkan jika meninggal ini semua akan jadi milik yayasan untuk dijual dan uangnya dibangun pesantren anak yatim dari SD sampai SMA, gratis.”


Maryam menatap tajam, lalu melanjutkan, “Tolong bicara yang sopan. Kamu sebagai menantu mestinya tau etika bahwa berbicara seperti tadi itu tidak pantas.”


Bukannya minta maaf, Valerie makin menyerang,


“Ah biasa aja kok. Ibu aja yang dari dulu nggak suka sama Val. Jadi semuanya yang aku omongin pasti salah. Lagi pula kenapa sih nggak mau menerima kekalahan bahwa Zayn memilih menikahi Val daripada nurut sama Ibu?”


Maryam menghela napas lalu menjawab, “Sekarang kamu sudah jadi menantu Ibu. Ini bukan soal menang atau kalah. Memang butuh kedewasaan untuk paham hal ini.”


Valerie menatap mertuanya dengan pandangan merendahkan.


Perlahan, Maryam melanjutkan ucapannya, “Ini soal pilihan benar atau salah. Peran Ibu tidak akan selesai sampai akhir hayat. Saat ini, Ibu sedang mendidik Zayn tentang konsekuensi sebuah pilihan.”


“Apa maksud Ibu?”


“Sudahlah, Val. Kamu mungkin berpikir Ibu adalah orang yang kolot, bodoh, kuno. Sepertinya, kolot dan kuno, itu benar. Tapi bodoh? A big no-no. Ibu tau kok wanita mana yang baik dan … mmm … tidak baik.”


“Ibu menghina Val?” Nada tinggi mulai keluar dari mulut Valerie Malik.


“Mungkin, tapi itu kenyataan.”


Maryam mencari sesuatu dari hapenya. Tak lama ia menunjukkan ke Valerie.


Sepasang manusia sedang bergumul hebat di sebuah kamar. Wanita itu dengan penuh gairah melahap pusaka milik pria muda yang sedang pasrah menerima kenikmatan duniawi.


Mata Valerie terbelalak. Wanita di video itu adalah dirinya yang sedang bercinta dengan pacar gelapnya Arman.


Dengan marah ia meraih hape lalu membanting ke lantai hingga pecah berantakan.


“Ck ck ck, Val. Kasarnya. Ibu bisa loh dari dulu nunjukin video mesum kamu dan laki-laki tadi ke Zayn. Dia adalah pacarmu dari dulu sampai sekarang. Benalu yang hidup dari uang yang kamu berikan. Betul?” Maryam menyeringai.


“IBU!”


Maryam menggeser duduk mendekati menantunya.


“Kamu heran, ya, kenapa Ibu nggak ngasih tau Zayn kalau istrinya itu wanita murahan? Oh percayalah, Ibu akan memberitahu Zayn. Tapi Ibu mau beri kamu kesempatan. Anakku mencintaimu. Bertobatlah. Jadi istri yang sholihah untuk anakku, jangan hanya memanfaatkan kekayaan dan statusnya saja.”


Dari jauh terlihat Nafisa datang membawa nampan dengan kue-kue dan kopi di atasnya.


Dengan dada menggelegak marah, Valerie menunjuk Nafisa dengan dagunya.


“Seperti dia? Itu kan rencana, Ibu? Zayn menceraikan aku dan menikahi Nafisa?”

__ADS_1


“Astaghfirullah. Demi Allah, tadinya ibu nggak kepikiran. Senang juga punya menantu sholihah seperti Nafisa. Tapi tenang, ibu nggak kayak mertua-mertua yang suka menyetir anaknya. Dan untuk Nafisa, dia masih punya buanyak problem hingga tak sempat memikirkan kehidupan cinta. Saran Ibu, fokus menjadi lebih baik demi Zayn, jika kamu memang mencintainya. Jika tidak, tinggalkan, Ibu yakin Zayn tetap akan memberikan bekal yang melimpah untuk hidupmu.”


“Nggak semudah itu menyingkirkanku.”


“Val, daripada operasi muka terus akan lebih baik jika kamu menambah daya otak. Ibu nggak ada keinginan untuk menyingkirkanmu. Justru Ibu ingin kamu berubah. Sudahlah, nikmati kue dan kopimu. Ibu lelah dan mau istirahat.”


Maryam berjalan menuju kamarnya sementara Nafisa mendekati Valeri untuk menyajikan kue dan teh.


Begitu Nafisa selesai meletakkan hidangan, Valerie menarik kerudung panjang Nafisa dan mencekalnya erat.


“Jangan kamu pikir bisa menikah dengan Zayn. Kamu nggak sederajat dengan dia.”


Kaget, Nafisa tak mampu bergerak. Setelah bisa menguasai diri, dia mencekal balik tangan Valerie.


Dengan wajah didekatkan ia berkata, “Nyonya, saya masih bicara sopan, ya. Coba istighfar, mungkin Anda kesurupan. Nggak ada angin nggak ada hujan nuduh saya mau merebut Pak Zayn. Naudzubillah, Nyonya.”


Nafisa kemudian melepaskan tangan Valerie yang masih mencekal erat hijabnya.


Tak terima, Valerie berdiri untuk menampar Nafisa. Dengan sigap Nafisa menghindar.


“Nyonya!”


Valerie mendesis, “Pergi! Jangan sampai saya liat kamu lagi! Jangan pengaruhi Ibu mertua saya agar terus membela kamu! Saya tau perempuan-perempuan laknat macam kamu.”


Tiba-tiba terdengar suara Maryam berteriak dari depan pintu kamar.


“VALERIE! Keluar kamu dari rumah saya!”


Nafisa gegas mendekati Maryam, takut terjadi apa-apa. Bagaimana pun seseorang yang pernah terkena stroke rentan untuk terkena lagi terutama jika ada pengaruh dari emosi.


Mendengar teriakan ibu mertuanya, Valerie langsung bangkit dan mendekat.


“Kamu sudah nggak punya bukti apa-apa, perempuan tua. Hapemu sudah hancur.”


“Nyonya! Sopan sama Ibu Sepuh!” Seru Nafisa, terus memegangi Maryam yang mulai bergetar tubuhnya menahan marah.


Nafisa berkata dengan lembut sambil mengelus punggung Maryam.


“Bu, sampun njih. Nanti Ibu sakit lagi. Kita istirahat di kamar. Nafisa pijitin kakinya. Ibu suka, kan?”


Valerie maju hendak mendorong Maryam namun aksinya disadari Nafisa yang langsung menghadang.


“Nyonya! Berhenti! Rumah ini ada CCTV, jangan sampai Pak Zayn tau kelakuan Nyonya. Apapun masalah Anda dengan Ibu Sepuh, tetaplah bersikap sopan!”


Bukannya luluh, Valerie mengangkat tangan hendak menampar Nafisa.


“Nyonya! STOP!” Nafisa menangkap tangan Valerie.


“LEPASKAN AKU PEREMPUAN MUNAFIK!”


“Nyonya, saya besar di jalan. Anak panti pula. Melawan Nyonya adalah hal kecil buat saya,” ancam Nafisa dengan geram.


Suara Maryam terdengar bergetar.


Mata Valerie menatap nyalang ke arah Nafisa dan Maryam.


“Awas kalian, ya!”


Kemudian dengan murka wanita itu keluar dari rumah Maryam. Tak lupa membanting pintu depan sekeras-kerasnya.


Air mata mengalir dari sudut mata Maryam. Tangannya memegang dada.


“Ibu! Bisa jalan ke tempat tidur? Nafisa panggil bantuan. Tol …”


“In syaa Allah bisa, Nak. Ibu hanya kesel banget sama mantu gadir itu.”


Perlahan, Nafisa menuntun Maryam ke sofa di kamarnya karena wanita sepuh itu enggan tiduran.


Diselonjorkan kaki Maryam dan Nafisa mulai memijit jari-jari. Tak lupa sebelumnya mengambilkan minum supaya Maryam lebih tenang.


“Bu, kalau Nyonya Valerie datang, Ibu harus banyakin istighfar. Mohon supaya Nyonya dilembutkan hatinya.”


“Ibu malah berharap Valerie nggak datang sama sekali. Setiap kali selalu berakhir buruk dan menyakiti hati Ibu. Dari kecil Val tinggal Amerika bersama orang tuanya. Mungkin di sana biasa ngomong ke mertua kayak tadi, ya?”


“Nggak tau, Bu. Nafisa nggak punya temen dari Amiriki. Semoga Nyonya Valerie cepet sadar.”


“Aamiin. Kamu sendiri bagaimana? Masih jalan permohonan untuk review hak asuh?” Maryam ingin mengalihkan dari fakta menyedihkan tentang menantunya.


“Masih, Bu. Hanya kata Pak Mika, karena diputuskan di sidang kalau reviewnya satu tahun dari putusan, kemungkinan besar tidak akan ada percepatan. Kita lihat aja, Bu. Allah pasti kasih yang terbaik.”


Maryam memandang Nafisa dengan sorot mata keibuan.


“Ibu ingin ketemu sama orang yang kasih nasihat kamu supaya tegar dan baik hati.”


“Sama, Nafisa juga.”


Keduanya terkekeh lalu mengobrol ringan hingga waktunya Nafisa harus berangkat ke kedai.


***


Valerie menghembuskan asap rokok keluar jendela. Hanya berbalut selimut tipis setelah percintaan panas dengan Arman.


Laki-laki itu terkapar kelelahan di atas ranjang. Kamar mereka porak poranda seperti biasa jika mereka bertempur.


Ya, Valerie adalah seorang hyper. Zayn perkasa, namun Valerie masih perlu penyaluran lain. Dia menjadi sugar mommy untuk Arman yang usianya masih jauh di bawahnya.


Valerie merupakan yang pertama bagi Arman. Waktu Arman baru lulus SMA dan bekerja sebagai model figuran. Sementara Valerie sudah menjadi model ternama. Jauh sebelum dia bertemu Zayn.


Dulu Valerie biasa mengumpulkan beberapa teman Arman untuk memuaskannya. Para model muda yang butuh jalan masuk ke industri fashion.


Syarat yang diajukan Valerie hanya satu, citranya sebagai model baik-baik tidak boleh rusak. Atau dia akan menghancurkan karir pria-pria muda itu.

__ADS_1


Berselang, hanya Arman yang sanggup mengimbangi permainannya. Valerie harus memegang kendali permainan ranjang.


Dengan Zayn, wanita itu tidak diberi kesempatan untuk memimpin permainan. Dia adalah budak ranjang bagi Zayn. Maka Val melampiaskan dengan belanja sesuka hati, jalan-jalan ke luar negeri, operasi wajah sana-sini.


Sementara hasrat seksualnya tetap dipuaskan oleh sosok muda yang masih tergeletak kelelahan.


Kepada semua orang, Valerie mengenalkan Arman sebagai keponakan. Termasuk pada Zayn untuk menghindari kecurigaan. Valerie menyuruh Arman untuk tinggal di rumahnya yang kosong setelah ia menikah.


Dia membebaskan Arman untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Yang penting, saat ia butuh, Arman harus siap melayani.


Hal yang tidak masuk dalam perhitungannya adalah Maryam. Bagaimana video dirinya sedang bercinta bisa bocor ke tangan mertuanya.


Arman sudah bersumpah bahwa bukan dia yang merekam. Namun demikian, Valerie tetap melampiaskan kekesalan dengan menyiksa Arman siang itu.


Laki-laki muda itu sampai memohon agar diberi kesempatan untuk beristirahat.


Valerie memandang ke arah Arman yang mulai bergerak. Hasratnya kembali naik melihat tubuh muda di hadapannya.


Sebelum memulai lagi pertempuran, Valerie menghabiskan sisa rokok.


Sebersit ide untuk memukul dua nyamuk sekaligus muncul di kepalanya.


***


Arman tertatih menuju dapur. Ia perlu menjauh sebentar dari Valerie yang masih menantinya di kamar.


Jika hubungan seksual merupakan kenikmatan yang didamba oleh anak muda seusianya, tidak bagi Arman. Hubungan seksual bersama Valerie adalah penuh penderitaan dan tak jarang penghinaan.


Sesungguhnya Arman rela terlempar dari dunia fashion dan kembali ke kampung asal bisa lepas dari Valerie.


Dengan licik wanita itu mengikatnya sedemikian dengan ancaman memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang bagaimana kehidupan Arman di ibu kota.


Pria muda itu bergidig mengingat apa saja yang harus dia lakukan untuk mengikuti permainan Valerie Malik.


Bekas cakaran di punggung dan sabetan ikat pinggang terlihat jelas. Valerie sedang ingin main kuda-kudaan.


Di kedua pahanya terdapat bekas gigitan, beberapa mengeluarkan darah.


Belum sempat mengambil minum, Arman merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang.


Kedua mata pria muda itu terpejam ketika merasa sepasang tangan bermain dengan pusakanya.


“Kak, please, aku mau minum dulu.”


Valeri membalik tubuh pria di depannya. Ada seringai kejam di wajah cantik itu sembari tangannya memainkan botol kosong.


“Bertumpu di meja makan!” Titahnya.


Mata Arman terbelalak, dia tahu betul apa yang akan dilakukan Valerie kepada dirinya dengan botol itu.


“Kak, jangan aku mohon.” Kepalanya menggeleng.


“Wait, smile …” Valerie mengambil foto Arman yang masih polos tanpa selembar kain.


“Nurut atau aku kirim foto ini ke ibumu?”


Takut dengan ancaman Valerie, Arman merebahkan dadanya ke atas meja makan. Valerie melebarkan ke dua kaki pria yang tak berdaya itu. Sedetik kemudian terdengar teriakan kesakitan dari mulut Arman.


Ia terus memohon agar Valerie berhenti, namun justru rintihannya membuat wanita itu semakin gila.


Air mata keluar dari kedua matanya. Arman berusaha keras untuk tidak muntah karena menahan sakit, sampai akhirnya Valerie menghentikan permainannya.


“Berbalik!”


Arman belum bisa bergerak. Rasa sakit masih mendera area privat bagian belakang.


“Cepetan!”


Valerie membalik tubuh yang terkulai lemah lalu me lu mat, pusaka Arman hingga berdiri tegak. Lagi, ia menuntut laki-laki itu untuk memuaskan.


Melihat Arman yang hanya bisa pasrah membuat Valerie semakin bersemangat.


Entah berapa jam Arman harus merelakan dirinya menjadi pemuas napsu Valerie. Yang jelas ketika dia melihat wanita itu akhirnya pergi, ia mengunci pintu lalu berlari ke kamar mandi.


Setelah memuntahkan isi perut, Arman menangis dengan memeluk kedua lututnya. Meratapi nasib. Merutuki ketakutan untuk lepas dari Valerie.


Wajahnya menegang ketika ia mendengar suara langkah sepatu berhak mendekat.


Pintu kamar mandi dibuka. Valerie masuk dengan tubuh setengah polos.


“Sudah kuduga kamu akan meringkuk seperti tikus di sini. Nggak salah aku memeliharamu. Kamu dan gaya cupumu itu membuatku bergairah. Malam ini aku nginep.”


***


Matahari sudah siang ketika Arman membuka matanya. Perlahan ia berusaha bangun. Seluruh tubuhnya sakit dan penuh lebam.


Karena kelelahan, semalam ia sempat tidak bisa memuaskan Valerie. Walhasil wanita itu mengamuk dan menendanginya.


Mau tak mau, Arman minum obat agar bisa kembali bertempur. Setidaknya agar ia tidak menerima pukulan dan tendangan.


Malam itu menjadi malam penuh penderitaan buat Arman.


Setelah memeriksa ke seluruh penjuru rumah, Arman membersihkan diri dan berangkat menuju ke tempat pemotretan. Beruntung siang itu hanya pemotretan wajah.


Arman meraih hape rahasia yang disembunyikan di tas lalu mengetikkan pesan.


“Bu, saya nggak kuat lagi. Tolong …”


Beberapa menit kemudian, Si Penerima Pesan membalas, “Jebak dia. Kamu tau apa yang harus dilakukan.”


***

__ADS_1


__ADS_2