
Valerie menyambut Zayn dengan penuh suka cita. Setelah kecewa karena suami dan seluruh keluarganya meninggalkan dirinya usai akad nikah.
“Zayn akhirnya kamu kembali. Aku lelah, Sayang, bisakah kamu memijat kakiku?” Pintanya sambil bergelendot manja.
Zayn menjauhkan tubuh Valerie.
“Aku sungguh-sungguh membencimu, Valerie. Jangan pikir aku menikah denganmu dan kita akan membina keluarga bahagia. Tidak! Ini adalah hukuman bagimu. Kesalahanmu padaku sudah begitu banyak. Kamu coba meracuni ibuku, memfitnah Nafisa, dan sekarang kamu hancurkan perkawinanku.”
Nada suara Zayn terdengar dingin membuat bulu kuduk Valerie berdiri.
“Nafisa mengubahku menjadi orang yang lebih baik, namun kamu telah mengembalikan sedikit sisi burukku. Rumah ini memang kubeli untuk memenuhi permintaanmu, tapi kamu tidak akan menikmatinya seperti yang kamu bayangkan. Aku sudah menyiapkan kamar di belakang bersama pekerja lainnya. Kamu akan bekerja menjadi pelayan.”
Valerie terbelalak.
“Ah sudahlah, tidak usah kaget. Aku sudah memenuhi permintaanmu, loh. Oya aku akan tinggal di sini, namun kamu tidak akan bisa menemuiku.”
“Nggak! Aku istrimu dan sedang mengandung anakmu.”
“Benarkah itu anakku? Atau anak salah satu dari laki-laki muda yang jadi mainanmu?”
“Ibumu sudah menunjukkan video? Dasar wanita jahat, semua itu fit …”
Dengan sekali gerakan, Zayn mencengkeram leher Valerie.
“Kamu yang wanita jahat!” Bentak Zayn tepat di depan wajah Valerie.
“Zayn lepas!” Seru Maryam yang baru datang.
Dengan kasar Zayn melepas tangan hingga Valerie terbatuk-batuk.
“Aku tidak sungguh mencekiknya, Bu. Bayi di dalam kandungannya berhak hidup meski itu belum tentu bayiku.”
“Bayimu, Zayn. Kumohon …” Valerie terisak dengan air mata berlinang.
“You know what, Val, kamu sudah sangat jahat hingga air matamu tidak lagi mampu menggerakkan sisi ibaku. Aku terpikir untuk menjebloskanmu ke penjara, tapi Ibu dan sifat lembut Nafisa membuatku urung. Kamu harusnya bersyukur dan bertobat, tidak ada orang yang kusuruh memperkosamu setiap malam atau memukulimu setiap ada kesempatan. Seperti dulu kulakukan terhadap Nafisa.”
Kini suara Zayn bergetar penuh rasa bersalah.
“Kamu tahu kenapa aku tidak mengirimmu ke penjara? Karena wanita manipulatif seperti kamu ada kemungkinan akan lolos dengan segala akal licikmu. Jadi nikmatilah penjaramu di sini sambil mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Mbok Mi dan Lastri yang akan mengawasi dan memberimu pekerjaan.”
Dua wanita yang sangat membenci Valerie muncul dengan wajah sengit.
“Pasangkan gelang pelacak di kaki perempuan itu!” Titah Mbok Mi.
“Tidak!”
Valerie melawan namun dua bodyguard telah menahan dan memasangkan gelang pelacak.
“Kamu nggak akan bisa kabur, Val. Oya jika memang sungguh berniat kabur, aku sudah mengumpulkan semua laki-laki muda yang pernah jadi budak napsumu untuk bersaksi ke media sehingga namamu hancur. Dan aku sudah memikirkan hukuman lain untukmu jika itu terjadi.”
“Zayn, Ibu, ingin istirahat,” pinta Maryam sambil menggamit putranya. Muak melihat wajah wanita yang tidak pernah dia sukai..
Valerie berusaha memegang tangan Zayn sebelum pria itu berlalu.
“Tolong, ini semua fitnah, aku nggak bersalah…”
Zayn melepas paksa tangan Valerie sambil menggumam, “Diamlah, karena semua yang keluar dari mulut busukmu itu adalah kebohongan. Cepat ke belakang, kerjakan tugasmu.”
“Zayn! Zayn! Aku akan laporkan kamu ke polisi.”
“Kenapa? Karena tinggal di rumah mewah? Karena mengerjakan tugas rumah tangga yang sudah jadi kewajiban seorang istri? Karena suamimu menyuruhmu tidak bekerja di luar demi menjaga kehamilan?” Tanya Zayn dengan nada sinis lalu memberi kode kepada Mbok Mi dan Lastri untuk membawa Valerie ke belakang.
Valerie masih berteriak memanggil nama Zayn kemudian mengumpat ketika dua algojo Maryam menyeretnya ke dapur.
“Sudah, nggak usah berlagak jadi nyonya. Di Keluarga Malik hanya ada satu nyonya muda yaitu Nyonya Nafisa, sampai kapan pun. Cuci piring-piring tadi bekas akad extravaganza-mu, jangan banyak cingcong.”
“Brengsek kalian! Aku nggak mau! Coba aja kalau berani suruh-suruh … akan …”
Tiba-tiba Valerie merasa basah sekujur badannya.
Dari arah belakang, Lastri mengguyurnya dengan air dingin.
“Bajingan!”
“Untuk ukuran ibu hamil, kamu terlalu banyak mengumpat. Dan untuk penjahat seperti kamu yang bertingkah bak malaikat, keluarga Malik sudah teramat sangat baik. Jadi diam dan nikmati hukumanmu.”
“Aku nggak melakukan apapun tuduhan Ibu! Wanita gila itu memang tidak menyukaiku! Zayn terpengaruh bujukannya.”
Mbok Mi dan Lastri bersitatap.
“Kasih liat, biar tahu betapa beruntungnya dia dibanding Nyonya Nafisa.”
“Nyonya Nafisa? Dia hanyalah pembantu seperti kalian.”
“Sabar Mbok, Nyonya Nafisa pasti tidak ingin mak lampir ini mati kita pukulin. Baiklah Ratu Halu, coba lihat ini, dan jangan banting hapeku karena per-cu-ma,” cetus Lastri dengan nada merendahkan.
Di layar, Valerie melihat dirinya sedang membeli zat kimia untuk meracuni Maryam.
Tidak hanya itu, CCTV di area taman yang berhasil menangkap wajahnya ketika Maryam yang meregang nyawa menarik cadar yang dipakai untuk menutupi wajah Valerie demi memfitnah Nafisa.
__ADS_1
Video berlanjut ke tingkah liarnya bersama pemuda-pemuda dengan wajah dan tubuh polos yang terpampang jelas.
“Para laki-laki muda yang ada di video ini sudah berniat melaporkan kamu. Dulu mereka takut tapi kini kamu sudah bukan siapa-siapa. Hanya orang gila yang berpikir kehidupan di penjara lebih baik dari di sini. Seberapa pun bulusnya kamu.”
“Kalian semua sudah sinting!”
Dengan nada tak sabar, Mbok Mi menanggapi, “Cuci semua peralatan makan sampai bersih. Setiap ada yang pecah, barang-barangmu kuambil.”
“Dasar maling!”
Mbok Mi dan Lastri terbahak-bahak lalu memanggil beberapa pekerja senior yang semua membenci Valerie karena kesombongannya selama jadi majikan.
“Semua, kita punya asisten baru. Anggap dia bisu tuli. Jangan ajak bicara kecuali kita mau perintah dia. Tugas pertamanya adalah mencuci setiap peralatan makan. Oya kata Pak Zayn, setiap dia punya salah, kita boleh ambil barang-barang dia. Hanya saja kita tetap harus kasih makan dan minum yang layak.”
“Siap,” jawab para pekerja dengan wajah gemas dan puas.
“Cepat cuci!”
Penuh keengganan Valerie mendekat ke arah sink lalu wajahnya terlihat jijik.
“Kerjain aja lah …” Desak para pekerja.
“Kuku palsunya dicopot dulu tuh …”
“Kalau pecah aku mau cincin berlian mata satu yang warna pink.”
“Pecahin semua aja Val!”
Sambil menahan geram Val mau tidak mau mencuci satu persatu piring, gelas, sendok, garpu yang dipakai tamu sebelum acara akad nikah dimulai.
Setiap ada barang pecah, para pekerja bersorak kegirangan.
Jika biasanya penonton Valerie menatap dengan penuh kekaguman, kali ini hingga entah sampai kapan dia akan menjadi tontonan yang menggelikan.
Tak ada air mata karena bagi Valerie, menangis adalah simbol kelemahan.
Setelah selesai, Mbok Mi, Lastri, dan pekerja lainnya pergi ke kamar Valerie untuk mengambil barang-barang yang mereka mau.
Valerie berteriak histeris lalu mengusir mereka dari kamarnya yang jauh dari mewah. Ia membanting pintu dan tertegun memandang berkeliling.
Kamarnya berukuran 2x3 meter. Bahkan kamar mandinya dulu lebih luas dari ukuran kamar tidurnya sekarang.
Di sana ada dipan, lemari, dan nakas kecil. Tanpa AC namun ada jendela kecil menghadap ke tanah sempit di belakang.
Tidak ada kamar mandi di dalam kamar hingga Valerie harus berbagi dengan pekerja lainnya.
“Arrgh!”
“Awas kamu, Zayn!” Teriaknya frustasi.
Dari luar kamar terdengar riuh rendah suara-suara pekerja meledek Valerie.
***
Berbeda dengan kondisi Valerie, di Banyuwangi, seorang wanita hamil terlihat sangat menikmati kehidupan di kampung yang sederhana.
Tidak ada manusia usil yang mengulik-ulik kehidupan orang lain.
Semua berjalan pada roda kehidupan masing-masing.
Akhirnya mereka tahu siapa Nafisa, namun tidak seorang pun berniat membocorkan identitasnya demi keuntungan pribadi.
Warga desa malah menyambut serta mendukung untuk bangkit.
Nafisa membuka kios kecil di pasar yang menjual camilan-camilan ringan. Kemudian berkembang menjadi warung nasi.
Setelah itu, ia menyewa sebuah rumah pinggir pantai yang nyaman dan membangun paviliun kecil untuk tempat tinggalnya. Bagian rumah utama dijadikan restoran mungil dengan pemandangan laut yang menawan.
Tamu-tamu resor sangat menikmati restoran yang ditata cantik dan mentajiksn hidangan lezat khas nusantara.
Mikail membuka usaha tempat cuci mobil dan dengan koneksinya, membantu pengrajin batik di sana untuk mengembangkan usaha ke luar negeri.
Adik sepupu Zayn Malik itu menepati janjinya untuk menjaga Nafisa.
Dian di lain pihak kini menjaga perasaannya dari Mikail. Bidan cantik itu bisa melihat betapa pria tampan itu memuja sahabatnya.
Dia yakin, Mikail akan segera menikahi Nafisa begitu masa iddahnya selesai yaitu ketika bayinya lahir.
Bidan Dian selalu memantau kesehatan Nafisa dan kandungannya. Mengantarnya ke rumah sakit besar untuk pemeriksaan USG di bulan-bulan tertentu.
Rindu tak tertahan yang dirasakan Nafisa untuk Aurelie dan Milo diobati dengan doa di setiap sujud.
Nafisa kini lebih tenang dan ikhlas serta berjuang untuk bayi yang ada di kandungannya.
Semua mengalir indah untuk Nafisa, meski diakui ia masih memikirkan Zayn, namun ia mengikhlaskan pria yang sudah menjadi mantan suaminya untuk hidup bahagia.
Apalagi ia melihat tayangan Zayn dan Valerie sedang memeriksakan kandungan. Keduanya nampak lelah namun berusaha yang terbaik untuk si bayi.
Nafisa tidak pernah menduga bahwa itu semua adalah settingan. Zayn memaksa Val agar semua menyangka dia baik-baik saja. Begitu di rumah, Val tidak lebih dari seorang pekerja kasar.
__ADS_1
Tanpa Nafisa tahu, Valerie harus bekerja dari pagi sampai malam. Sama seperti dirinya dulu di penjara hanya tanpa kekerasan fisik.
Wanita sombong dan serakah itu seperti dicabut dari kejayaannya. Tidak ada akses ke dunia luar karena Zayn minta kepada media untuk tidak lagi memberikan job atau wawancara supaya Val bisa fokus pada kehamilannya.
Dunia luar termasuk Nafisa hanya bisa menduga bahwa Val hidup bahagia tanpa tahu Zayn menciptakan penderitaan baginya. Menjauhkan Val dari semua impian, menghancurkannya perlahan dengan penuh perhitungan.
***
Seorang laki-laki setengah baya turun dari pesawat di lapangan terbang privat. Meski menggunakan tongkat, namun tubuhnya gagah dan ketampanannya masih tergambar jelas.
Laki-laki itu menghirup udara bumi Indonesia yang sudah lama dia tinggalkan.
Seorang laki-laki menyambutnya lalu membukakan pintu mobil.
“Tuan Yusuf, apakah kita akan ke kampung halaman Anda.”?”
“Ya, aku yakin putriku ada di sana setelah pengkhianatan suaminya.”
***
Flash back On
Hampir setahun lalu, ketika berita Nafisa dijebloskan ke penjara karena dituduh meracuni Maryam Malik, keajaiban menyentuh Yusuf.
Otaknya mulai berfungsi walau sedikit demi sedikit. Dia mulai merespon setiap rangsangan di titik syaraf yang diberikan oleh para ahli. Mereka semua bekerja atas perintah Syekh Rashedi untuk merawat Yusuf.
Bagi Syekh Rashedi, kehadiran Yusuf meski dalam keadaan koma seperti pengganti putranya yang meninggal karena sakit.
Dulu dirinya kalut saat menyetir mobil di Malaysia hingga menabrak Yusuf yang juga sedang bingung karena Nafisa hilang diculik atas perintah istri barunya.
Dengan telaten, Syekh Rashedi selalu membacakan cerita dan ayat -ayat Qur’an setiap hari.
Berharap Yusuf masih bisa mendengar dan tidak merasa sendirian di tengah kondisi koma.
Memastikan perawat dan dokter terbaik menjaga Yusuf. Melaporkan semua perkembangan yang terjadi.
Perawat memberi tahu bahwa Yusuf menyebut Nafisa Salsabila sebagai putrinya.
Syekh Rashedi langsung bergerak cepat namun tetap hati-hati karena pada saat itu Yusuf masih belum bisa diajak bicara.
Dengan berat hati, Syekh menceritakan kondisi Nafisa yang memprihatinkan dengan tuduhan berat hingga vonis hukuman mati yang dijatuhkan padanya.
Yusuf menangis dalam diam. Namun semangatnya untuk sembuh semakin membara.
Sedikit demi sedikit, tubuhnya yang lebih dari sepuluh tahun tidak bergerak mulai bisa berfungsi.
Dia ingin dan harus sembuh untuk menyelamatkan Nafisa.
Syekh Rashedi menempatkan layar monitor dan membuka akun media sosial Nafisa untuk bisa diperlihatkan ke Yusuf.
Setiap hari Yusuf akan berlatih dengan melihat semua kegiatan Nafisa sebelum di penjara.
Kondisi Yusuf masih naik turun. Ada hari-hari tubuhnya menampakan kesembuhan namun ada kalanya dia tidak bisa merespon sama sekali.
Itu sebabnya Syekh Rashedi tidak mau gegabah dan cepat-cepat membiarkan Yusuf kembali ke Indonesia.
Ketika Nafisa menikah untuk kedua kalinya, saat itu Yusuf baru selesai dioperasi untuk menghilangkan sumbatan yang muncul di kepalanya.
Kerinduan terhadap putri satu-satunya menjadi motivasi utama untuk sembuh.
Yusuf kerap memandangi foto Nafisa bersama Aurelie dan Milo di media sosial. Mencari beritanya di media online.
Tiga bulan kemudian, video Zayn dan Val beredar. Meski belum seratus persen pulih, akhirnya Syeikh Rashedi mengijinkan Yusuf kembali ke Indonesia untuk mencari Nafisa.
“Ajaklah anakmu ke sini. Aku akan menjamin kehidupan kalian. Kamu tau sendiri, kan, anak dan istriku sudah berpulang,” ucap Syekh ketika Yusuf berpamitan.
Yusuf pun bertekat membawa Nafisa ke Dubai jika memang putrinya begitu menderita di sana.
“Terima kasih atas semua kebaikanmu selama bertahun-tahun Syekh,” ucap Yusuf sambil berusaha mencium takzim namun ditolak dengan halus.
“Sudahlah, Nak. Aku yang menyebabkan kamu koma. Semoga Allah mengampuniku. Berilah kabar. Perkenalkan aku kepada anakmu sebagai kakek. Kamu mau kan?”
“In syaa Allah, Syekh.”
Yusuf pun berangkat ke Indonesia dengan pesawat pribadi milik Syekh ditemani seorang pengawal pribadi yang akan menemani sampai Yusuf bisa mandiri.
Dalam pesawat, Yusuf tak henti berdoa dan berharap untuk bisa bertemu Nafisa, putri tercintanya.
***
Yusuf duduk di samping makam istrinya. Tangannya mengusap nisan.
“Mil, maaf, aku gagal menjaga amanahmu. Perjalanan hidup Mba Nafi begitu berliku dan dia menghadapi semuanya seorang diri. Maafkan aku …”
Dari tetangga-tetangga, Yusuf tahu apabila Nafisa memutuskan untuk hidup di Banyuwangi.
Mereka pun memberikan alamat dan mendoakan yang terbaik untuk Yusuf dan Nafisa.
Ditemani pengawalnya, Yusuf berangkat ke Bayuwangi.
__ADS_1
***