
Bayi Cinta berulang kali mengalami kondisi kritis. Zayn dan Maryam selalu menemani sementara ibunya sendiri enggan menengok dan lebih sibuk menerima teman-teman dan media yang menjenguk di kamarnya.
Dokter mendatangi Zayn.
“Pak, kami sudah selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh. Kondisi Cinta yang tidak stabil adalah karena ada substance beracun yang masuk ke dalam darahnya.”
Maryam memegang lengan anaknya. Rahang Zayn mengeras.
“Ginjal bayi Cinta belum cukup kuat untuk melakukan pembersihan. Satu-satunya cara adalah dengan melakukan cuci darah. Risikonya sama tinggi dengan tidak melakukannya.”
“Dokter, saya mohon lakukan yang terbaik untuk bayi saya. Jika ada alat atau tenaga ahli yang harus didatangkan tolong diupayakan. Bismillaah, saya memilih untuk melakukan cuci darah untuk Cinta.”
Suara Zayn bergetar.
“Tolong selamatkan anak saya, Pak.”
***
Valerie sedang mematut cat kuku yang baru dipasangkan oleh seorang nail artist terkenal.
Pintu kamar perawatannya. Matanya berbinar mengharapkan Zayn namun begitu melihat Maryam, wajahnya berubah kecut.
“Mau apa kemari?”
Di belakang Maryam berdiri seorang laki-laki memakai jas hitam.
“Aku membawa surat cerai untuk ditandatangani. Juga pelepasan hak asuh atas Cinta Malik, bayimu.”
“Oh masih bertahan dia?” Tanya Valerie enteng sembari membenahi bantal-bantalnya.
Tak mau meladeni kegilaan calon-mantan-menantu, Maryam memberi kode kepada pengacara untuk menyiapkan semuanya.
“Aku minta tambahan uang seratus milyar sebagai uang talak.”
“Berikan dan tidak ada tambahan.”
Netra Valerie berbinar-binar.
“Pergilah dari Indonesia dan jangan pernah kembali. Semua berkas kejahatanmu sudah didokumentasikan dan tinggal dilaporkan. Kecuali kamu mau berurusan dengan hukum.”
“Well, it’s been my pleasure to fool Zayn and you. Aku sekarang wanita kaya raya. Aku tidak perlu Zayn Malik.”
“Dan kami juga tidak butuh kamu. Besok, kamu harus sudah pergi dari negara ini. Mengerti?”
“No problem. Selamat mengurus anak cacat itu, ya. Dasar bodoh.”
Maryam melangkah keluar diikuti pengacara. Di depan pintu langkahnya terhenti.
“Kamu pikir sudah begitu hebat ya, berdansa masuk ke keluarga kami, merusak hubungan ibu dan anak, hampir membunuh, menjebak Zayn lalu lolos dari jeratan hukum dan mendapatkan uang berlimpah pula. Waaah. Pasti kami selalu kauanggap bodoh. Ck ck ck, Val, Val … otak dungumu itu hanya berpikir uang. Kamu lupa bahwa harta yang paling berharga itu adalah keluarga. Di mana pun, dengan siapa pun, kamu tidak akan mendapatkan keluarga.”
Valerie mendengus.
__ADS_1
“Teman-temanmu? Itu yang kauanggap keluarga? Mereka akan hilang jika saldo di tabunganmu nol. Pria-pria muda yang kamu siksa? Buat mereka kamu adalah monster. Bahkan ayah ibumu tidak kauanggap ada sejak menikah. Mereka meninggal pun kamu tidak datang karena sedang ooerasi entah apa lagi di wajahmu. Wuaaah, kamu sendirian Val. Nikmatilah. Kamu akan meninggal tanpa ada tangan yang memegangmu di napas terakhir. Sendirian.”
Suara Maryam yang biasa lemah lembut terdengar dingin menusuk.
“Pastikan pelacur ini keluar dari Indonesia besok malam paling lambat,” titah Maryam kepada pengacara yang tidak berani menatap wajah wanita oenuh wibawa itu.
“Baik, Nyoya,” jawab pengacara itu dengan hormat.
Valerie terus menatap pintu setelah Maryam meninggalkannya.
“Siapa bilang aku sendiri? Wanita tua sok tau. Udah bau tanah aja masih banyak bacot.“
Valerie lalu memejamkan matanya.
“Mungkin lebih baik aku pulang ke Amerika. Ngapain juga maksain di sini apalagi ngurus bayi cacat.”
Valerie menyuruh pengacaranya untuk memindahkan semua harta ke sebuah bank di Swiss.
Belum sempat mematikan hape, notifikasi pesan berbunyi. Salah seorang pegawai bank tempatnya menyimpan kekayaan memberikan notiifikasi di rekeningnya telah masuk uang seratus milyar.
“Hmm segitunya mereka ingin aku pergi. Apa aku minta lebih ya?”
Otak serakah Valerie mulai bermain. Tiba-tiba ia teringat kalimat ancaman yang diucapkan Maryam. Wanita itu bergidig.
“Cukup, Val. Uang segini cukup untuk hidup mewah. Pergi sebelum Ibu Tua itu tiba-tiba berubah pikiran dan langsung menjebloskanmu ke penjara.”
Malam itu juga, Valerie meninggalkan Indonesia dengan pesawat pribadi menuju tanah kelahirannya.
Tanpa keinginan melihat bayinya hanya untuk sekejap saja.
Begitu Maryam dan Zayn tahu, mereka berdua bernapas lega.
“Hubungi orang kita di imigrasi, jika dia masuk lagi ke Indonesia, langsung jebloskan ke penjara,” perintah Zayn kepada anak buahnya.
“Sekarang kita fokus merawat Cinta, Zayn.” Maryam merangkul pundak putra tunggalnya.
Zayn nampak begitu tertekan. Wajahnya masih tampan namun kantung matanya semakin cekung. Pipinya tirus. Jenggotnya tumbuh berantakan.
“Mika dan Nafisa sudah menikah, Bu.”
Maryam tersenyum lalu membalas, “Mika mengirim pesan ke Ibu. Sudah Ibu perintah orang untuk melacak teleponnya.”
“Nggak berhasilkan, Bu? Didikan aku itu.”
“Halah, dia kan juga belajar-belajar sendiri buat teknik menghilangkan jejak. Sampai ke Jepang.”
Mengingat sepupunya, Zayn tersenyum lebar.
“Ikhlas ya, Nak. Semoga mereka bahagia.”
“Mika hidupnya ke seruwet aku. Tapi akalnya lebih cerdik. Dia pasti bisa menjaga Nafisa.”
__ADS_1
“Hey, kamu juga sudah menjaga dirimu dan Nafisa. Tapi iblis di mana-mana. Kamu harus berhenti menyalahkan diri sendiri.”
Maryam melirik cincin yang dikenakan Zayn. Cincin pernikahannya dengan Nafisa.
“Move-on, Nak.”
“Bu, itu terlalu berat. Musibah itu datang ketika aku dan Nafisa sedang sangat jatuh cinta. Ibu tau kan perjalanan kami seperti apa. Tiba-tiba itu semua terenggut. Hampir setahun dan sakitnya masih seperti kemarin.”
“Ibu ngerti, Nak. Ibu hanya bisa doakan yang terbaik untuk anak-anak Ibu.”
“Itu sudah lebih dari cukup.”
“Bagaimana dengan Aurelie dan Milo? Apakah Nafisa ada menghubungi anak-anaknya?”
“Enggak sama sekali. Reno mengatakan ke mereka kalau Nafisa harus pergi selama beberapa tahun. Mereka sedih tapi bisa menerima.”
“Reno?”
“Dia yang masih diam-diam mencintai Nafisa dan terpaksa berpura-pura mencintai Dela.”
“Kenapa ya perempuan itu banyak yang manipulatif dan tega untuk merebut apapun yang mereka mau?”
“Perempuan tanpa akhlak, Bu. Ada juga wanita luar biasa seperti Nafisa yang berjuang tanpa harus menginjak kaki orang lain. Dan menurutku, laki-laki juga sama salahnya. Reno membuka peluang dengan berselingkuh. Aku … seharusnya aku langsung membuang Valerie jauh-jauh, namun aku membiarkannya bebas.”
“Ibu kan yang minta kamu. Val pasti akan menyeret Nafisa jika kita melaporkannya waktu itu. Sudahlah, Nak. Kita tutup chapter ini dan kita fokus ke Cinta.”
“Jangan minta aku untuk menutup hati dari Nafisa, Bu. Meski dia sudah milik Mikail tapi cintaku padanya masih teramat besar. Aku tidak akan merebutnya jika suatu saat bertemu. Biarlah kupendam saja sampai selamanya.”
***
Zayn dan Maryam berjuang sekuat tenaga, mendatangkan para ahli untuk merawat Cinta.
Hingga dokter menyatakan bahwa organ-organ Cinta mulai merespon baik terhadap semua tindakan yang diberikan.
Cinta semakin kuat.
Setiap hari Maryam dan Zayn bergantian menungguinya.
Ketika genap sebulan dia berada di NICU, seorang dokter memberikan berita yang mengguncangkan untuk Zayn dan Maryam.
Cinta dinyatakan buta. Bayi kecil itu tidak akan bisa menikmati indahnya dunia. Transplantasi mata pun hanya bisa dilakukan setelah ia memiliki kekuatan yang lebih baik mengingat kondisinya. Itu pun jika ada donor yang cocok.
Dokter juga memberikan hasil pemeriksaan DNA Paternitas yang diminta oleh Zayn.
Cinta Malik memiliki 0,00% DNA dari Zayn Malik.
Zayn masuk ke ruang NICU. Begitu banyak selang dan kabel yang menempel di tubuh sekecil itu.
“Kamu anak Ayah, selamanya. Cinta Malik harus kuat, Ayah akan tunjukkan indahnya dunia meski kamu nggak bisa melihat. Ayah akan menjadi mata bagimu.”
***
__ADS_1