Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Bertemu Oom Bupati


__ADS_3

Dalam mobil, Dim sibuk memperhatikan model dashboard yang belum pernah dilihatnya.


“Oom rame banget buletannya. Kalau di mobil Mama aku cuma ada dua. Ini buat apa? Yang paling ujung itu buat apa? Ini buat bensin, kan?”


Dan pembicaraan mengenai mobil pun mengalir hangat antara seorang anak berumur enam tahun dan pria berumur tiga puluh enam tahun.


Setelah puas dengan jawaban Zayn, Dimiko menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menikmati suasana sore lalu lintas Banyuwangi.


“Dim, Oom boleh tanya? Ayahnya Dim kerja di mana?”


“Nggak tau, Oom. Dim nggak pernah ketemu. Mama cuma bilang Papaku udah nikah lagi lalu hidup sama keluarganya. Itu aja.”


“Mama nggak pernah kasih liat foto?”


“Nggak pernah. Tapi Mama bilang kalau Dim udah lebih besar, Dim akan dikenalkan dengan Papa. Tapi Dim nggak terlalu pengin sih.”


“Kenapa?”


“Mmm Dim takut bikin Mama sedih. Temen Dim ada yang ibunya bunuh diri karena ayahnya nikah lagi. Dim nggak apa deh nggak ketemu Papa. Yang penting Mama nggak sedih.”


Mendengar jawaban polos putranya, Zayn hanya bisa menghela napas dalam.


“Kalau nih, misalnya Dim ketemu sama Papa, Dim mau ngomong apa?”


“Apa ya? Nggak tau Oom. Aku lagi mikirin besok mesti selesaikan kerajinan tangan menyulam. Bosenin banget.”


Mau tak mau Zayn menahan tawa. Dirinya juga waktu kecil paling musuh dengan pekerjaan tangan yang berkaitan dengan seni. Lebih sering Mbok Mi yang mengerjakan.


“Nggak suruh Bibik kerjain?”


“Nggak boleh sama Mama. Walau jelek, aku harus kerjain sendiri. Tapi ini jelek banget sih, Oom. Parah.”


Tak tahan, Zayn mencubit pelan pipi Dimiko.


“Eh Oom. Kok aku dicubit.” Dimiko menggosok pipinya sambil nyengir.


“Kamu kayak Oom dulu. Kalau disuruh bikin kerajinan tangan paling males.”


“Ya, kan.” Dim mengangguk-angguk merasa menang ada yang memahami perasaannya.


“Oom, tadi kenapa sih kok peluk Dim? Emangnya Abidzar sama Helmy juga dipeluk?” Dim bertanya dengan nada menyelidik. Alisnya naik satu.


“Oom masih merasa bersalah yang kemarin itu.”


“Oooh. Terus Oom Mika sama Tante Dian ngapain di sana?”


“Mmmm, Oom Mika itu saudara Oom yang sudah lamaa banget nggak ketemu.”


“Oom juga kenal sama Mama aku?” Dim semakin menyelidik.


“Kenal.” Jantung Zayn langsung berdegup.


“Saudara juga dong berarti. Mama sama Oom Mika kan sodara-an. Kl Tante Dian itu bestie-nya Mama. Oom, mamanya Cinta kok nggak pernah kelihatan?”


“Oom sudah bercerai sama mamanya Cinta.”


“Cerai … kenapa orang nikah kalau akhirnya bercerai?” Gumam Dim lirih.


Zayn tidak menjawab. Mereka berdua terdiam dalam pemikiran masing-masing. Tak lama, bangunan resto Hidangan Pantai sudah terlihat.


Mobil-mobil mulai berdatangan. Pengunjung ingin menikmati makanan lezat sekaligus melihat matahari terbenam.


“Oom, kalau repot, aku turun di sini aja.”


“Nggak repot. Oom antar kamu sampai rumah. Kasian kamu sendirian.”


“Iih, nggak perlu. Rumah Dim ada restorannya, jadi banyak orang, Oom. Paling nanti malam Dim main-main ke restoran kalau sudah selesai bikin PR. Bibik juga ada kok.”


Mereka tiba di depan restoran Hidangan Pantai. Zayn dan Dim turun lalu mengeluarkan sepeda dari mobil.


“Mama kamu pulang jam berapa?”


“Hari ini pulang malam banget. Biasanya kalau ada catering selesai jam sembilan. Sampai rumah jam sebelas. Biasanya, tapi kadang juga Mama cuma awasin persiapan abis itu ditinggal,” jelas Dimiko dengan runtun. Beberapa kali dia ikut ibunya mengurus catering di acara-acara.


“Dim, kamu kok bisa pinter banget?”

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju rumah yang terletak di belakang restoran.


“Nggak tau. Malah kata Oom Bupati, Dim anak ajaib.“


“Oh, Dim kenal baik sama Oom Bupati?” Zayn terkekeh mendengar jawaban Dim.


“Dengerin gosip oom dan tante di restoran, katanya Oom Bupati sebenernya naksir Mama. Tapi Mama nggak mau. Istrinya Oom Bupati sudah meninggal.”


Napas Zayn tersentak.


“Oom Bupati sering ke sini?” Tanyanya setelah berhasil menguasai diri.


“Sering banget,” jawab Dim polos.


“Terus Mama kamu?”


“Mama aku kenapa, Oom?”


Zayn harus berhati-hati jika ingin bertanya lebih jauh karena Dimiko anak yang cerdas. Akhirnya ia memutuskan tidak lagi membahas tentang Oom Bupati.


Di depan rumah Dim berhenti lalu menghadap ke arah Zayn.


“Oom kapan-kapan sama Cinta dan Eyang mampir ke restoran Mamaku, ya. Mama paling enak bikin tumis teri pare, cumi hitam cabe ijo. Yang terkenal juga kerang darah bumbu pari pari. Aku suka gule udang tapi nggak pake daun singkong. Tumis parenya enak, loh, nggak pait, Oom.”


Netra Zayn menerawang jauh. Ingatannya kembali ke masa-masa Nafisa masih berada di sisinya dan sering mengirim makanan untuk makan siang ke kantor.


“In syaa Allah, Oom ajak Cinta dan Eyang. Kamu beneran nggak apa sendirian di rumah?”


“Nggak apa. Bye Oom, assalamualaykum.”


Dim mencium takzim kemudian memarkirkan sepeda di samping rumah sebelum masuk lewat pintu samping.


“Aku akan menemuimu, Nafisa. Apapun yang kamu mau, aku akan terima dengan lapang hati dan ikhlas. Semoga kamu tetap mengijinkan aku untuk dekat dengan putra kita,” gumam Zayn sebelum melangkah pergi.


Langkahnya terhenti ketika di samping restoran yang bangunannya terbuka itu ia mendengar seorang pelayan menyapa tamu, “Wah, Pak Bupati. Monggo lenggah.”


Netra pria itu langsung menatap seorang pria yang juga menatapnya curiga karena datang dari arah rumah Nafisa.


Orang yang dipanggil Pak Bupati itu kurang lebih sebaya dengannya. Perawakannya tinggi, kulitnya sawo matang, rambutnya hitam cepak model tentara. Wajahnya tampan ala priyayi Jawa.


Zayn memutuskan untuk masuk ke restoran Nafisa dan duduk.


“Dengan Pak Dino? Saya Zayn Malik, baru pindah ke Banyuwangi dua minggu ini.”


“Oh sebentar. Anda dari PT Reka Raga Semesta yang sedang mengajukan perijinan membangun resort di Pantai Gumawa?”


“Benar, Pak.”


“Waaah, saya baru liat pengajuannya eh sudah ketemu di sini. Tadi dari rumah Bu Nafisa?” Selidik Dino.


“Nganter Dim. Dia temenan sama putri saya.”


Ada sorot lega di mata Dino Laksito yang dikenal sebagai Bupati di sana.


“Duduk bareng, Pak. Saya ini duda, jadi nggak ada yang masakin. Ya hampir setiap malam saya ke sini.”


Zayn berusaha keras tidak membalik meja karena terbakar api cemburu.


Susah payah ia menjaga sikapnya. Berpura-pura santai ia bertanya, “Di sini enak masakannya? Saya belum coba.”


“Cobain tumis teri pare. Lalu kalau suka, ikan gabus bumbu palawan. Wah endes surendes. Ibu saya juga sampai rantangan.”


“Oh ya ya. Saya mau coba ikan gabus bumbu palawan


“Cocok. Saya juga suka.”


Pelayan menerima pesanan mereka, kemudian datang lagi dengan membawa minuman komplimen untuk Pak Bupati dan Zayn.”


“Dari Bu Nafisa,” ucapnya ramah. Nafisa memwng biasa memberikan minuman komplimen pada tamu-tamu VIP.


“Aaah, teh jahe-nya Bu Nafisa emang terdebes. Bikin seger dan enak di perut. Monggo Mas Zayn, dicoba. Saya panggil Mas aja lah ya. Santai kok.”


“Monggo, Pak. Ijin tetap panggil Pak Dino,” balas Zayn penuh rasa hormat. Sebagai pebisnis ulung, dia memang tahu bagaimana menempatkan dirinya, terlebih pada pejabat negara.


Dino menganggukkan kepalanya. Pria itu menyeruput lagi kemudian meletakkan cangkir dengan wajah penuh rasa nikmat.

__ADS_1


“Aaah. Pas semuanya. Pedesnya, legitnya. Perfect.”


Zayn meneguk perlahan minuman yang menjadi kesukaannya selama masih bersama Nafisa. Gelombang memori kala itu makin bermain di benaknya.


“Jadi apa yang membuat Mas Zayn pindah ke Banyuwangi?”


“Anak saya. Dokter menyarankan kami untuk sering ke laut. Bali sudah terlalu padat. Lombok terlalu jauh. Banyuwangi menjadi lokasi terbaik karena masih lebih dekat untuk mendapat akses kesehatan di Surabaya. Anak saya .. Cinta punya banyak kendala di masa pertumbuhannya.”


“Kalau saya sebetulnya asli Surabaya, tapi penugasan di sini. Kebetulan Ibu saya juga tinggal bareng karena sudah sendiri. Baru kurang lebih setahun di sini. Lalu rencana resort kapan dimulai.”


“Jika proses perijinan selesai, kami siap mulai, Pak. Saya coba skala kecil dulu. Tanah yang sudah kami bebaskan sekitar dua koma delapan hektar.”


“Yah semoga lancar.”


Wajah Dino tiba-tiba sumringah, sekonyong-konyong dia berdiri dan menyapa, “Assalamualaykum Bu Nafisa, wah jangan bosen kalau saya datang terus, ya.”


Nafisa tidak menjawab, netranya menatap lurus ke arah punggung laki-laki yang duduk membelakanginya.


Di tempat duduknya, Zayn memejamkan mata, mengambil napas dalam lalu berdiri, dan membalik badan ke arah Nafisa.


Netra mereka bersitatap lama.


Ada kerinduan.


Ada luka.


Pastinya ada cinta yang masih tersimpan.


Menyadari bahwa laki-laki di depannya bukan lagi mahram, Nafisa menundukkan pandangan.


Wanita itu membalas salam Dino dengan ramah, “Waalaykumussalam, silakan, Pak. Dengan senang hati.”


Nafisa berusaha keras untuk tetap tenang.


“Bu, kenalkan ini Pak Zayn Malik. Beliau berencana membangun resort di sini.”


Nafisa mengatupkan tangan sementara Zayn mengulurkan tangan. Netra Zayn tidak lepas dari wanita yang ada di depannya.


“Semoga semuanya lancar, Pak Zayn. Silakan nikmati hidangan. Saya ke dapur dulu.”


Gegas Nafisa berjalan menuju dapur dengan jantung yang masih berdegup kencang.


Ia langsung mengambil segelas air dan menegaknya habis.


“Ya Allah, aku belum siap. Tujuh tahun dan hati ini masih sakit ya Allah. Aku belum siap bertemu Mas Zayn dan keluarganya.”


Nafisa memejamkan matanya. Menghalau semua rasa yang mengganggu kalbunya. Tak menyadari bahwa sepasang mata mengintip dari celah pintu dapur yang tidak tertutup rapat.


Dari kejauhan, Zayn melihat Nafisa memejamkan mata erat.


“Ya Allah, apakah dia masih mencintai aku?”


Dino memerhatikan betapa sikap Zayn berubah setelah bertemu Nafisa.


“Begitulah Bu Nafisa. Saya pun nggak bisa melepaskan pandangan darinya sejak pertama bertemu.”


Seketika Zayn mengalihkan pandangannya.


“Calon istri idaman. Shalihah, cantik, dan pintar. Jujur aja, saya kagum sama beliau,” lanjut Dini lagi.


Tenggorokan Zayn tercekat mendengar puja-puji laki-laki di depannya yang ditujukan kepada Nafisa.


Dino melanjutkan setengah berbisik, “Bukan sekadar kagum, saya sedang berjuang untuk mendapatkan cinta Bu Nafisa. Jadi, Mas minggir dulu, ya.”


Kalimat terakhir diucapkan dengan penuh penekanan dan sorot mata yang tidak lagi ramah.


“Jodoh lari nggak ke mana, Pak. No worries,” jawab Zayn tenang. Netranya kembali melirik dan bersitatap dengan Nafisa yang juga sedang memandangnya.


Sudut bibir Zayn terangkat namun Nafisa memilih untuk mengalihkan pandangannya.


“Pak Dino, sepertinya saya harus pulang untuk sholat maghrib bersama keluarga. Saya harap bisa bertemu Bapak untuk mendapat arahan tentang rencana investasi di Banyuwangi. Selamat malam, Pak. Assalamualaykum.”


“Waalaykumussalam, Pak. Saya tunggu janji temu kita lain waktu.”


Zayn mencari sosok Nafisa ketika dia sedang membayar di kasir. Namun wanita itu telah hilang.

__ADS_1


“Alhamdulillah ya Allah. Ini hari terbaik setelah kelahiran Cinta yang kauberikan pada hamba.”


***


__ADS_2