
Setelah memarkir mobil, Mikail berjalan mendekati Nafisa.
Air mata terlihat membanjiri wajahnya yang kini polos tanpa cadar.
Jika Mikail tidak melihatnya di rumah sakit waktu Nafisa tidak sadarkan diri, mungkin dia tidak akan mengenali wanita yang hatinya sedang hancur berkeping.
Berulang kali Nafisa menghapus air mata dengan kedua tangannya.
Mikail sungguh ingin merengkuh Nafisa dan melindunginya dari segala kesedihan.
Nafisa menyandarkan kepalanya ke tiang. Orang lalu lalang menoleh ke arah wanita yang terisak dan kehilangan harapan.
“Nafisa,” panggil Mikail pelan.
Nafisa menoleh dan langsung menggeleng.
“Nggak, saya nggak mau pulang, Pak.”
“Terus mau kemana? Kita selesaikan baik-baik.”
“Apa bisa ada penyelesaian baik-baik ketika dengan mata kepala sendiri melihat suami sedang bercinta dengan perempuan lain? Setega itu Bapak sama saya?” Tanya Nafisa sesenggukan dan air mata berlinang.
Mika duduk di samping Nafisa.
“Geser, Pak. Bukan mahram.”
“Maaf.” Mika bergeser, makin kagum melihat bagaimana Nafisa tetap menjaga diri dalam kondisi apapun.
“Nafisa, terus kamu mau kemana? Kamu nggak mau berjuang untuk Aurelie dan Milo?”
Nafisa makin tergugu. Beberapa orang mendatangi termasuk security menanyakan apa yang terjadi.
“Dia, dia mau rampok saya.”
“Nafisa!” Mikail terbelalak mendengar jawaban yang diberikan Nafisa. Orang-orang menatapnya curiga.
“Enggak, Pak. Saya saudaraan sama dia. Nafisa jelasin. Please.”
“Bohong! Saya nggak kenal dia.”
Security berkata tegas.
“Bawa ke kantor. Kayaknya saya liat orang ini udah beberapa hari mondar-mandir.”
“Eh siapa? Bapak jangan macem-macem saya perkarain nanti,” tegas Mikail sebelum terlibat dalam pertengkaran dengan laki-laki yang mengerubunginya.
Kesempatan yang dipakai Nafisa untuk kabur dan menjauh.
Buru-buru membeli tiket bis dengan keberangkatan tercepat, tak peduli kemana, yang jelas dia hanya ingin menjauh. Kota ini terlalu menyakitkan untuk bertahan barang sedikit pun.
Dari atas bus, Nafisa sekilas melihat Mika digelandang ke arah markas sekuriti terminal.
“Maaf, Pak …” Gumam Nafisa sambil menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata.
Tak ada yang bisa menebak takdir. Hari yang dimulai dengan penuh cinta, berakhir menyedihkan. Sekali lagi, Nafisa terusir dan terbuang.
***
Mikail merutuk ketika mendapati Nafisa sudah tidak ada di terminal.
Susah payah meyakinkan bahwa dia bukan rampok atau orang yang dianggap mencurigakan di terminal bus, akhirnya bebas setelah salah satu security mengenalinya sebagai Mikail Malik.
Laki-laki itu bertanya ke petugas loket apakah melihat seseorang dengan ciri-ciri seperti Nafisa. Sayangnya dia adalah petugas yang baru datang setelah pergantian shift.
Tak mau menyerah, Mikail meminta jadwal keberangkatan bis sekitar waktu dirinya digiring ke kantor.
Setelah menduga Nafisa naik bus jadwal tersebut, Mikail menelepon seseorang.
“Bro, tolong lu ambil mobil gue. Kunci serep ada di laci meja kerja. Terus di sana ada cangkir dan piring yang lu harus kirim ke forensik.”
“Ada apa, Bro?”
“Berantakan, semua hancur berantakan. Gue harus pergi. Nanti gue kasih nomor baru karena nomor ini akan gue non aktifkan. Jangan kasih tau siapapun kalau gue hubungin elu.”
“Siap, ntar gue beresin.”
“Titip rumah dan Bude gue. Lu awasin. Terutama kalau Valerie sampai masuk lagi ke keluarga Malik.”
“Beres. Keep in touch.”
Mikail kemudian mencari sewa kendaraan untuk mengejar bis yang diduga ditumpangi Nafisa.
“Brengsek lu, Zayn!” Geramnya.
***
Di pemberhentian bus luar kota, bus yang dinaiki Nafisa berhenti untuk mengambil penumpang.
Mika segera menaiki bus. Bernapas lega ketika melihat Nafisa ada di sana. Duduk menyandarkan kepala ke jendela dengan tatapan kosong.
Memakai topi baseball dan mengganti pakaian kerja dengan pakaian olah raga, Mika duduk di deretan bangku Nafisa.
Memaksakan dirinya yang jangkung untuk duduk nyaman di perjalanan yang cukup jauh: Banyuwangi.
***
Zayn bangun dengan tiba-tiba.
“Nafisa!” Panggilnya setengah berteriak.
Pria itu memandang berkeliling di ruangan yang tidak dikenali. Ibunya duduk di sofa menatap sinis dengan mata sembab.
“Bu, Zayn di mana? Aw!” Zayn mengaduh karena rahangnya terasa nyeri akibat pukulan Mikail.
“Rumah sakit.”
“Mana Nafisa? Kenapa Ibu nangis?”
Maryam menatap anaknya dengan sedih.
“Bu, mana Nafisa?” Zayn gegas turun dari tempat tidur dan melepas infus.
Dengan sedih Maryam membiarkan anaknya.
“Bu. Apa yang terjadi sama Nafisa. Apa dia baik-baik saja? Bu kenapa diam aja?”
“Nafisa sudah pergi, Nak.”
Zayn berhenti bergerak. Tubuhnya lemas hingga ia harus menopang ke tempat tidur.
“Nggak. Nggak mungkin. Apa yang terjadi, Bu? Zayn nggak ingat.”
Maryam mendudukkan anaknya.
__ADS_1
“Duduklah, Zayn. Ceritakan apa yang kamu ingat semalam.”
“Aku mau liat Nafisa dulu.”
“Zayn Malik! Duduk! Ceritakan apa yang kamu ingat!” Bentak Maryam membuat Zayn terkesiap.
“Bu, ada apa? Semalam, aku dan Nafisa janjian mau makan di Meat Me. Tapi aku nggak ingat kami akhirnya ke sana. Sebelum berangkat, Nafisa malah datang ke kantor. Kami … kami melewati malam indah berdua …”
“Malam indah berdua Nafisa?”
Netra Zayn menatap heran ke arah ibunya.
“Dengan siapa lagi, Bu? Tolong, aku ingin ketemu Nafisa,” ucap Zayn lalu bangkit dari duduknya.
“Kami nggak ingat ini?”
Maryam menunjukkan foto dan video Zayn Malik mencumbui Valerie sedemikian.
“Itu malam indah kamu?”
Mata Zayn terbelalak.
“Nggak mungkin. Ini prank kan, Bu? Semalam aku melakukannya dengan Nafisa.”
Maryam menghela napas.
“Tidak, Zayn. Semalam kamu melakukannya dengan Valerie. Dan Nafisa … Nafisa melihat kalian berdua.”
“Nggak mungkin. Nggak!” Zayn melempar hape yang dipegangnya.
Air mata jatuh dari sudut mata Zayn, demikian juga Maryam.
“Nafisa tidak pulang semalam.”
“Aku harus cari Nafisa. Mana pakaianku.”
“Ibu sudah mengerahkan semua orang kita untuk mencarinya, Zayn.”
“Kenapa aku bisa di sini? Mana Mikail?”
“Ibu juga nggak bisa menemukan Mikail. Dia yang menemukan kamu bersama Valerie dan langsung pergi mengejar Nafisa. Sampai sekarang nggak ada yang bisa tau dia dimana.”
“Aku punya track mobil dan hapenya. Mana hapeku, Bu?”
“Mobil dan hapenya ditemukan di daerah Blok M. Ibu udah periksa CCTV traffic dan sepertinya sudah dihapus.”
Zayn menutup wajahnya.
“Aku harus keluar dari sini dan cari Nafisa.”
Maryam menatap sedih ke anaknya yang masuk ke kamar mandi untuk berganti baju.
Tak peduli dengan diagnosis dokter yang menyuruhnya istirahat karena takut ada gegar otak, Zayn keluar dari rumah sakit.
Dengan tangan gemetar ia menghubungi kontaknya di kepolisian.
“Waaah, Zayn Malik, kamu masuk DPO loh …” ucap teman di kepolisian.
“Maksud?”
“Loh, kemana aja, Bro? Lu nggak liat internet? Foto mesum lu sama mantan dah kesebar dimana-mana. Ada satuan yang ditugaskan buat bawa elu ke kantor. Dah lebih baik lu sukarela aja ke sini.”
Zayn memijat pucuk hidungnya.
“Valerie?”
“Brengsek!”
“Oya, satu lagi, Bro. Valerie bilang kalo Mikail memerintahkan penyekapan di gudang. Dia melaporkan saudara lu. Dia juga masuk ke DPO sekarang.”
“Gue kesana.”
“Bawa pengacara.”
***
Sepuluh jam lebih, Nafisa berada dalam bis. Ketika para penumpang lain turun, dia tidak bergerak sama sekali.
Bahkan saat ibu muda yang duduk di sebelahnya menawarkan minum, dia pun hanya diam.
Mikail sangat mengkhawatirkan kondisi mental Nafisa.
Tiba di terminal Banyuwangi, seluruh penumpang turun. Terhuyung Nafisa bangkit dari tempat duduknya. Dengan sigap Mikail menangkap tubuh lemah yang kini tak sadarkan diri.
Para penumpang panik dan kasihan. Menawarkan aneka rupa minyak angin dan mengipasi Nafisa.
“Nafisa, bangun.”
Akhirnya, Mika membopong Nafisa ke dalam klinik bersalin tak jauh dari terminal.
Seorang perawat muda dan bidan langsung menolongnya.
“Bidan Dian, tolong ada penumpang pingsan.”
“Cepat baringkan di sini.”
Mikail membaringkan Nafisa ke ataa brangkar. Dengan sigap, bidan bernama Dian mengambil stetoskop dan alat pengukur tekanan darah.
“Anda suaminya?”
“Bukan.”
“Mahram?”
“Bukan.”
“Silakan tunggu di luar. Saya akan periksa dulu.”
Bidan Dian menutup tirai lalu menatap wajah wanita yang terkulai tak berdaya di atas brankar. Keningnya berkerut.
“Nafisa?”
***
Valerie menatap Zayn dengan sorot penuh kemenangan.
“Hai, Babe.”
Zayn tak menggubris, langsung masuk ke ruang pemeriksaan.
Enam jam dia diperiksa untuk tahu apakah dia yang menyebarkan foto-foto dan video.
Alibi mematahkan dugaan karena sepanjang malam Zayn terkapar di rumah sakit.
__ADS_1
Di dalam darahnya terdapat sisa jejak obat perangsang. Tanpa diduga polisi mendapatkan bukti forensik anonimus terhadap piring dan cangkir yang dipakai Zayn.
Kini Valerie harus menghadapi tuduhan meracuni dan pencemaran nama baik. Dengan lihai, dia mengatakan bahwa tidak tahu menahu.
Wanita itu bersikeras jika kedatangannya adalah untuk memberi selamat. Tak disangka ia disambut oleh Zayn dengan sentuhan hingga akhirnya tergoda.
Mengenai penyebaran foto dan video, dia juga tidak tahu menahu karena hapenya sempat disita oleh sekuriti kantor Zayn. Jadi Val mengarahkan polisi untuk juga melakukan penyelidikan ke sana.
Selama di kantor polisi, Zayn mencari Nafisa. Tidak ada satu pun celah yang bisa menunjukkan kemana istrinya setelah meninggalkan kantor.
“Mikail!” Ucapnya geram karena yakin sepupunya membantu Nafisa untuk mengilang.
Karena tidak ada bukti penyebaran video dan foto yang memberatkan akhirnya Zayn dan Valerie dilepaskan. Para pengacara masih mengurus segala sesuatu sehingga Zayn dan Valerie harus menunggu.
Para wartawan mulai berdatangan.
Sementara Zayn kalang kabut mencari Nafisa, di lain pihak Valerie malah menikmati momen ketika wartawan menanyakan mengenai kemungkinan rujuk.
“Saya tahu kami tidak semestinya melakukan perbuatan itu semalam. Saya mohon maaf. Tidak ada niatan bagi saya untuk menjadi pelakor. Tapi saya merasakan masih ada percikan di antara kami, jadi ya tunggu saja.”
Zayn mendengus kesal lalu mendekat ke arah wartawan. Bagai nyamuk melihat mangsa, mereka langsung menyerbu Zayn.
“Tidak ada percikan. Semalam adalah kesalahan. Nafisa, pulanglah, Sayang. Mas … Mas minta maaf,” ucapnya dengan tenggorokan tercekat.
Dengan gontai, Zayn masuk ke mobilnya. Meninggalkan Valerie membangun cerita tentang hubungannya dengan Zayn Malik pasca perceraian.
***
Nafisa bangun dan langsung terduduk.
“Mas Zayn!”
Dian dan Mikail gegas mendekat.
“Nafi. Ssssh, tenanglah, kamu aman di sini.”
“Aku dimana? Pak Mika, aku mimpi Mas Zayn dan Nyonya Val … mereka …”
Nafisa menatap Mikail lalu Dian bergantian. Dia baru menyadari bahwa ada wajah asing dan juga tempat yang tidak dia kenal.
“Aku dimana? Alhamdulillah hanya mimpi. Aku harus siapkan segala sesuatu untuk suamiku. Kenapa aku diinfus? Pak Mika, mana Mas Zayn?”
Mika dan Bidan Dian saling bertatapan.
“Nafi, kamu istirahat dulu, kamu habis dari perjalanan jauh. Ini sudah kubuatkan teh manis hangat. Kamu dehidrasi dan sepertinya sudah lama tidak makan,” jawab Dian sambil menyuruh Nafisa untuk kembali berbaring.
Dari luar tirai terdengar suara pasien lain. Ibu-ibu yang bercerita.
“Gila juga ya, Zayn Malik sama Valerie. Bisa-bisanya bikin foto mesum gitu. Si Zayn apa nggak mikirin istrinya. Mana baru kawin tiga bulan.”
Netra Nafisa terbelalak.
“Bukan mimpi …” bisiknya lalu menatap nanar ke arah Mikail.
“Pak ….”
“Tenang, Nafisa. Istighfar,” bisik Mikail tidak ingin ibu-ibu rumpi di depan mendengar ia menyebut nama Nafisa.
Dian langsung keluar dan mempersilakan para pasien menunggu sebentar di teras klinik dengan alasan ada tindakan gawat darurat dan pasien perlu tenang.
Bidan berparas manis itu kembali ke brangkar Nafisa yang kini menahan tangis. Di sebelahnya, Mikail berdiri canggung.
“Saya tidak bisa memberikan dia obat tenang karena bukan dokter. Tapi jika kondisi kejiwaannya benar-benar mengganggu, saya terpaksa alihkan ke rumah sakit besar. Mmm Anda bisa mengaji? Dulu waktu kecil, jika kondisi ibunya sedang drop, Nafisa selalu mengaji.”
Wajah Mikail terlihat panik.
“Mmm saya belum lancar. Tapi kalau surat-surat pendek, in syaa Allah bisa.”
“Nggak apa, bacakan saja. Saya akan tinggal sebentar. Tirai saya buka sedikit supaya tidak ada fitnah. Saya juga akan tempatkan perawat untuk ikut menjaga.”
“Terima kasih, Bidan Dian.”
“Permisi, Pak Mikail.”
Nafisa masih terisak sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Lirih, Mikail membacakan surat-surat pendek dari juz 30.
Setelah beberapa saat, Nafisa berkata dengan suara bindeng, “Pak, makasi udah baca. Saya lebih tenang. Abis ini belajar ngaji, ya.”
“Kamu …”
“Saya mau wudhu lalu sholat aja. Percuma nangisin suami bejat moral.”
Tenggorokan Mikail tercekat. Ia menduga jika kelicikan Valerie ada andil dalam kejadian pahit ini namun ragu untuk memberitahukan Nafisa.
Semalam, ketika mendapati Zayn bercinta penuh napsu dengan Valerie, sepupunya terus memanggil nama istrinya.
Mikail berusaha menenangkan, “Tunggu Bidan Dian. Kamu masih diinfus. Nafisa, aku minta maaf atas kelakuan Zayn. Tapi aku yakin dia …”
“Cukup, Pak. Saya sudah lelah menangis. Mungkin sudah takdir saya untuk dikhianati. Tapi ini yang terakhir. Saya nggak akan membuka hati untuk siapa pun lagi. Inget, Pak, apabila suatu saat Anda menikah, jangan main api.”
Mikail mendengarkan Nafisa yang masih sesenggukan dan bicara dengan suara bindeng bekas menangis. Matanya sembab, hidungnya merah.
Dari wajah yang masih basah oleh air mata, muncul tekad kuat dari wanita iti untuk bangkit.
Dian masuk membawa makanan kecil.
“Nafi, kamu nampak sudah lebih baik. Alhamdulillah.”
“Saya mau sholat, apakah bisa, Bidan?”
“Oh, bisa-bisa. Saya lepas infusnya sebentar.”
Setelah tangannya bebas, Nafisa perlahan mengikuti perawat yang ditugaskan menemaninya ke musala klinik.
Ketika Nafisa pingsan, Mika dan Dian sudah saling bertukar cerita.
Untuk kepentingan perawatan, Mika menceritakan bahwa Nafisa mengalami amnesia sejak belia dan sempat mengalami depresi mental ketika lepas dari penjara.
Dian menitikkan air mata mendegar kisah hidup Nafisa.
Dari sisi Dian, dia yakin bahwa wanita yang menjadi pasiennya adalah Nafisa Salsabila, sahabat di masa kecil.
Dari dompet, ia mengeluarkan foto dirinya dan Nafisa sedang tertawa lebar di pinggir sungai. Berangkulan, masing-masing membawa sekeranjang ikan.
Mikail pun percaya karena wajah Nafisa tidak banyak berubah setelah dewasa. Dian bercerita bahwa Nafisa pindah ke Malaysia, namun setelah itu hilang kontak.
Pernah, Dian mendapat penugasan ke Negeri Jiran selepas pendidikan bidan. Ia menyempatkan mencari Nafisa.
Perusahaan tempat ayah Nafisa bekerja mengatakan ayah Nafisa pindah ke Dubai dalam kondisi koma dan Nafisa hilang atas perintah ibu tirinya.
Beruntung mereka menyimpan barang-barang keluarga malang itu dan mengijinkan dibawa pulang oleh Dian.
Dian sudah minta ibunya, Bu Romlah yang tinggal di kampung halaman untuk datang mengajak serta bibi Nafisa yang kini sebatang kara setelah suaminya meninggal. Bibi Nafisa adalah adik kandung ibu Nafisa.
__ADS_1
Bersama Mikail, mereka semua sepakat untuk menjaga dan merawat Nafisa.
***