Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Demi Kamu


__ADS_3

Nafisa merasa tubuhnya ditindih oleh seseorang. Masih setengah sadar ia melihat laki-laki tak dikenal melepaskan hijab dan cadarnya.


“Cantik.”


Laki-laki itu menyeringai. Matanya membola menatap wajah mangsanya.


Nafisa pura-pura terpejam padahal sesungguhnya dia mengumpulkan kekuatan. Perlahan ia coba menggerakkan jemari, lalu tangan, dan kaki.


Semua masih berfungsi baik.


Laki-laki itu mengelus wajah Nafisa dengan punggung tangan. Setengah mati Nafisa menahan mual ketika kulitnya disentuh.


“Jackpot banget dapet barang bagus.”


Tangan pria itu mulai bergerak untuk membuka kancing-kancing gamis wanita yang tergeletak di hadapannya.


Tiba-tiba sekuat tenaga, Nafisa mengarahkan kakinya ke area vital laki-laki itu.


Mata pria bejat terbelalak, wajahnya memerah. Sekejap terguling sembari mengerang kesakitan.


Nafisa melihat jendela. Tanpa pikir panjang, dia membuka lalu melompat keluar. Tak menyangka bahwa dia berada di lantai dua sebuah rumah.


Dia mengaduh ketika kakinya menjejak bumi dengan keras. Pergelangan kakinya sakit.


“Heh, mau kemana lu, ******?”


Nafisa bersitatap dengan laki-laki kerempeng dengan wajah jahat, Nafisa langsung berlari menerobos semak tinggi di depannya.


Sepertinya tadi dia dibawa ke daerah terpencil. Dia tidak melihat ada rumah. Hanya ilalang yang terus diterabas demi menyelamatkan diri.


Terpincang-pincang ia terus berlari. Di belakangnya suara motor menderu.


“Ya Allah, jaga hamba.”


Nafisa terus berlari. Dihiraukan kakinya yang tanpa alas menjejak ke tanah lembek. Gamisnya diangkat tinggi untuk memudahkan langkah.


Hingga akhirnya ia bertemu dengan jalan aspal kampung.


Sebuah motor mendekat. Nafisa berbalik arah lalu berlari lagi sekencangnya. Dari arah asal dia berlari bunyi motor yang mengejar makin mendekat.


Sementara motor yang ditemui di jalan tadi sudah berhasil menyusulnya.


Nafisa menemukan batu dan siap memukulkan ke pengendara motor.


“Ini aku Tio. Naiklah!”


“Sabtio? Kok bisa di sini?” Tanya Nafisa curiga.


“Nanti saja sesi tanya jawabnya. Buruan.”


Setelah mengucapkan bismillah, Nafisa pun naik ke boncengan dan Sabtio segera melarikan kendaraannya.


“Pegangan, Nafisa. Kalau nggak mau terlempar.”


Ragu, Nafisa tidak mau melingkarkan tangan ke tubuh laki-laki yang bukan mahram-nya.


“Nafisa! Pegangan!”


Dari spion Tio melihat dua motor mengejarnya. Beruntung motor sport yang dipakai termasuk yang terbaik di kelasnya, dengan sekali sentak motor pengejar tertinggal jauh.


Terdengar bunyi tembakan.


Wajah Tio berubah panik.


“Gila! Mereka bawa pistol. Nafisa merunduk.”


Nafisa mengeratkan pegangan ke tubuh penyelamatnya.


Dalam ketakutan ketika ancaman peluru menembus tubuhnya, ia berdoa agar masih bisa diijinkan untuk bertemu anak-anaknya dan melihat mereka tumbuh dewasa.


Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang sudah hampir terlupakan ketika tubuhnya merapat pada tubuh Tio.


“Astaghfirullah … “


Refleks dia melepaskan pegangan namun ditahan oleh Tio.


“Jangan, sedikit lagi kita bebas dari mereka. Bertahan.”


Air mata mengalir di pipi Nafisa ketika tangan Tio terus memegang tangannya.


Penjahat terus menembak sampai dari hadapan motor Sabtio muncul mobil polisi yang langsung menembaki para penculik. Mereka langsung kocar-kacir menyelamatkan diri.


Tio menghentikan motornya di tempat aman. Masih dalam posisi berboncengan dengan tangan Nafisa melingkar erat. Tangan Tio juga masih tetap memegang tangan Nafisa untuk beberapa saat.

__ADS_1


“Turunlah, kamu sudah aman.” Suara Tio terdengar bergetar. Akhirnya ia melepskan tangan Nafisa.


Dengan tubuh gemetar, Nafisa turun. Lututnya lemas tapi dipaksanya untuk tetap berdiri.


“Abang Reno?”


“Aku Tio.”


“Bukalah helm-mu, kumohon.”


“Tidak.”


“Kamu Abang, kan? Kamu nggak bisa bohong. Aku baru sadar ketika bersandar di punggung Abang,” ucap Nafisa terisak.


“Kenapa, Bang?” Sambung Nafisa lagi dengan suara hampir tak terdengar.


Tio melihat ke belakang. Dilihatnya polisi berhasil melumpuhkan penjahat. Dari arah berlawanan terlihat beberapa mobil beriringan menuju mereka. Mobil Zayn dan rombongan.


“Aku bukan Reno. Maaf jika tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Tapi jika aku adalah dia, berarti cintanya padamu tak pernah pudar. Kamu adalah nafasnya. Kamu adalah matahari yang membawa kehangatan untuk hatinya yang sudah membeku.”


“Abang, please. Nafisa cuma perlu tahu, apa salahku? Kenapa Abang jahat banget sama aku? Nafisa menderita banget, Bang.”


Di balik helm, sepasang mata mengembun.


“Janji jangan menangis lagi karena pengkhianat itu, ya. Kamu terlalu baik untuk dia. Carilah kebahagiaanmu. Tegarlah di setiap langkah, Nafisa. Teruslah menjadi Nafisa yang baik hati dan jangan pernah berubah.”


“Abang …”


“Bukan, Nafisa. Aku bukan dia. Sekarang aku harus pergi. Ini adalah terakhir kali kita akan berjumpa karena aku akan pergi jauh. Jaga dirimu, Nafisa. Assalamualaykum.”


“Abang …” Pekik Nafisa memanggil.


Ia berlari terpincang-pincang untuk mengejar tapi Tio dan motornya makin menjauh.


Ketika berpapapasan dengan rombongan, Tio bicara sebentar dengan pengemudi mobil terdepan.


Nafisa jatuh terduduk. Kini lututnya benar-benar tak bertenaga.


Mobil-mobil itu mendekat kemudian pintu samping pengemudi terbuka.


Zayn dengan wajah cemas gegas mendekat.


“Nafisa …”


“Pak Zayn, tolong.”


“Istighfar, biar tenang.”


Zayn kemudian memberikan kerudung.


Masih gemetar, Nafisa memasang kerudung untuk menutup rambutnya.


Salah satu mobil polisi mendekat.


“Kami sudah menangkap sebagian dari mereka. Pentolannya berhasil lolos karena tidak ikut mengejar. Tapi tenang saja lah, serahkan pada kami. Secepatnya, bawa Ibu Nafisa ke kantor untuk memberikan kesaksian.”


Nafisa menggeleng. Trauma digelandang ke kantor polisi muncul.


“Jangan. Apa salah saya, Pak? Bukan saya yang menyakiti Ibu Sepuh!” Teriaknya panik.


Nafisa mulai menangis. Tangannya menggebrak-gebrak jendela dan berusaha membuka pintu.


Segera Zayn memberanikan diri untuk merengkuh Nafisa ke dalam pelukannya.


Wanita rapuh itu terus memberontak, matanya terpejam erat.


Zayn dengan lembut berkata, “Sssh, jangan takut, sekarang ada aku. Nafisa, buka matamu. Lihat, aku nggak akan meninggalkan kamu. Aku akan selalu melindungi kamu. Nafisa buka matamu …”


Para bodyguard memandang dengan iba. Mereka semua mengenal Nafisa sebagai seorang wanita yang ramah dan baik hati sebelum dipenjarakan.


“Nafisa, buka mata. Istighfar. Sayaang, istighfar.”


Zayn mendekap erat tubuh wanita yang terus memberikan perlawanan. Di saat itu Zayn benar-benar menyadari jika dia ternyata sudah teramat menyayangi Nafisa.


“Sssh … Sayang, istighfar.”


Nafisa mulai menghentikan perlawanan. Menyadari sedang menyadar ke tubuh Zayn, dia langsung menegakkan tubuh.


“Pak Zayn! Maaf. Tolong saya jangan dibawa ke kantor polisi. Saya mohon.”


Mata Zayn menatap lembut, lega karena Nafisa sudah mulai bisa menguasai diri.


Polisi yang melihat keadaan langsung merasa kasihan. Dia berkata, Nafisa bisa ke kantor jika sudah siap lalu gegas kembali ke pasukannya.

__ADS_1


“Kita pulang, ya,” ucap Zayn lembut.


Nafisa mengangguk. Kini kepalanya menyandar ke jendela. Bulir air mata masih menetes satu-satu.


Zayn melirik wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya. Bukan kasihan, bukan juga rasa bersalah. Melainkan sebuah perasaan murni mencintai dan ingin melindungi seseorang yang bahkan kepada Valerie belum pernah ia rasakan.


Kendaraan mereka melaju membelah matahari yang mulai naik.


“Jam berapa, Pak?”


“Jam sembilan pagi. Kamu hilang dari jam tiga sore kemarin.”


“Kok, Bapak bisa ketemuin saya?”


“Temen kamu tadi, Tio. Kemarin sore aku dapat laporan mengenai penculikan kamu. Mereka berhasil melumpuhkan bodyguard dengan senjata listrik. Dan karena mereka membawa pistol tidak ada yang berani menolong.”


Nafisa memijat pelipisnya. Terlalu banyak kejahatan di sekitarnya dalam kurun setahun.


“Lalu Tio?”


“Entah dari mana, dia dapat nomor teleponku. Tio minta aku untuk melacak hapenya karena dia diam-diam mengikuti kamu. Sekarang kita ada di daerah luar perbatasan Karawang. Sinyal Tio sempat mati, tadi dia mengatakan kehabisan bateri. Jadi aku kesulitan melacak.”


Tak menjawab, Nafisa hanya melempar pandangan ke luar jendela. Sawah-sawah menghijau dikbinasi dengan bangunan pabrik di belakangnya. Tak sadar dia mengusap pergelangannya yang mulai membengkak.


Zayn bertanya dengan hati-hati, “Apakah … apakah kita perlu ke rumah sakit? Untuk memeriksakan kalau … kalau mereka …”


“Nggak perlu, Pak. Saya tau rasanya diperkosa,” jawab Nafisa yang tahu arah pertanyaan Zayn.


Sebutir air mata menetes. Zayn dan para bodyguard tersentak mendengar jawaban Nafisa.


“Maaf, Pak Zayn. Saya tidak bermaksud ketus. Dokter Yuni mendorong saya untuk berdamai pada keadaan. Hanya saja jika teringat kembali, rasa marah itu tiba-tiba menggelegak.”


Zayn menghela napas panjang.


“Kamu berhak marah padaku. Pukuli aku, sakiti aku. Terserah. Aku nggak akan melawan. Bahkan jika kamu bunuh, itu pun masih jauh lebih baik dibanding keadaanmu.”


Air mata kembali menetes. Nafisa buru-buru mengusapnya. Wanita itu tak mau lagi membahas kejadian menyakitkan yang pernah menimpanya.


“Terima kasih sudah menyelamatkan saya.“


Tak ada jawaban dari Zayn yang masih berusaha menguasai perasaan marah terhadap dirinya sendiri.


“Pak, tadi Bapak sempat liat wajah Tio, nggak?”


Kening Zayn berkerut.


“Laki-laki yang menyelamatkanmu? Dia hanya buka kaca helm tapi di dalamnya pakai masker.”


“Oh …”


“Siapa dia?”


“Katanya dia dokter di rumah sakit tempat saya dirawat. Dia juga yang menyelamatkan ketika dulu saya pengin mati.”


Mendengar penjelasan Nafisa, kening Zayn semakin berkerut. Tio muncul terlalu sering untuk ukuran seorang dokter. Belum lagi tindakan dua kali menyelamatkan Nafisa.


“Kamu ingin aku menyelidiki dia?” Tanya Zayn perlahan.


“Dia bohong. Tidak ada dokter di rumah sakit dengan nama Sabtio Naren. Mungkin sebaiknya tidak perlu diselidiki … untuk apa?” Lirih Nafisa.


“Sabtio Naren?”


“Nggak usah diselidiki, Pak. Please saya mohon. Jika Bapak mau bantu, tolong segera antar pulang karena pekan ini jatah sama anak-anak. Saya nggak mau hilang satu hari pun.


“Siap. Kita menuju lanud helikopter. Kita tiba di Jakarta dalam waktu singkat. Tidurlah dulu.”


Nafisa memejamkan mata. Berharap semua hal buruk berhenti menimpanya.


***


Setelah menempuh perjalanan berjam-jam seorang pria memarkirkan motornya di sebuah garasi privat.


Dilepaskan helm, masker, dan jaket. Dilemparkan barang-barang itu.


Tangannya meraih sebuah alat yang terpasang di lehernya. Sebuah alat yang khusus dia pesan dari luar negeri untuk mengubah suara.


Di garasi yang dia sewa hampir sembilan bulan yang lalu ketika dunianya terbalik, dia berdiri menghadap sebuah foto wanita cantik yang sedang tersenyum.


“Aku akan selalu mencintai kamu.”


Laki-laki itu mengambil napas dalam, lalu masuk ke dalam mobil yang diparkir di garasi itu .


“Aku bisa, harus bisa. Demi kamu dan anak-anak.”

__ADS_1


Tak lama dia sudah membelah jalanan ibu kota menuju rumah yang dulu pernah menjadi istana cintanya.


***


__ADS_2