Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Merajut Hidup yang Terurai


__ADS_3

Nafisa bangun di salah satu kamar di rumah utama. Biasanya jika menginap di rumah keluarga Malik dia akan tinggal di paviliun untuk orang belakang bersama Mbok Mi, Lastri, dan pasukan lain yang bekerja di rumah itu.


Hari masih gelap terlihat dari sela tirai. Nafisa melirik jam, pukul tiga pagi.


“Non, gimana rasanya? Masih pusing?” Tanya Mbok Mi dengan nada cemas. Wanita itu tidur di sofa bed dekat jendela kamar. Terbangun mendengar gerajan Nafisa.


“Kok Mbok Mi panggil aku ‘Non’. Aku Nafisa Mbok, kan kita sama-sama di sini.”


Nafisa mendudukkan tubuhnya lalu bersandar ke sandaran tempat tidur. Matanya masih terasa berat dan tubuhnya mengawang.


Mbok Mi menggeleng, lalu membalas, “Sekarang Non sudah nggak sama lagi sama Mbok. Bu Sepuh sudah mengumumkan bahwa Non sudah jadi ‘orang dalem’. Terima aja, Non. Menurut Mbok, Non emang pantes jadi orang dalem di keluarga Malik, ketimbang Nyonya Val.”


Nafisa memejamkan mata. Niat sesungguhnya adalah menjauh dari keluarga Malik bukan malah menjadi bagian dari keluarga itu.


Perlahan, Mbok Mi menggenggam jemari Nafisa. Terpancar keraguan di matanya. Ragu karena kini ada jurang pemisah antara strata mereka berdua.


Seolah mengerti jalan pikiran wanita yang duduk di tepi tempat tidurnya, Nafisa menggengam balik jemari Mbok Mi.


“Nafisa adalah Nafisa. Non itu cuma embel-embel yang aku sendiri nggak peduli. Kita tetap berteman, bukan, tapi tetap bersaudara seperti dulu, ya, Mbok.”


Jemari Mbok Mi yang kuat ditempa pekerjaan berat sejak remaja, kini menggenggam erat tangan Nafisa.


“Non, maafin Mbok dan Lastri yang nggak nengokin ke penjara. Kami sama sekali nggak percaya kalau Non yang mau nyakitin Bu Sepuh. Pas liat rekaman CCTV, pun kami yakin itu bukan Non melainkan Nyonya Val. Terlebih Nyonya Val itu kompor banget. Jadi Mbok dan Lastri memutuskan menjaga Bu Sepuh secara bergantian”


Dari sudut netra Nafisa mengalir bulir bening. Ingatan atas kejadian di penjara berputar lagi di benaknya.


Mbok Mi melanjutkan, “Kami nggak ingin Nyonya Val melakukan yang aneh-aneh ke Bu Sepuh jadi setiap dia nengok, kami selalu mengawasi. Mbok Mi, Lastri, Pak Linggar, Pak Karso bergantian jagain Bu Sepuh, Non.”


“Iya, nggak apa kok, Mbok. Nafisa sudah terbiasa harus menghadapi semuanya sendiri.”


“Non jangan gitu. Non nggak sendirian lagi, ada Mbok Mi dan Lastri. Buat kami berdua, Non sudah seperti anak dan adik. Waktu dengar Non dapat vonis hukuman mati, kami nekat menceritakan penderitaan Non di telinga Bu Sepuh. Tetiba beliau sadar dan ya itu … ternyata di tangannya ada gelang Nyonya Val.”


“Nafisa senang, Bu Sepuh sembuh. Tapi Mbok, sebenernya aku pengin pergi jauh dari sini. Nafisa nggak mau lagi nerusin berjuang buat hak asuh. Hanya sebelum pergi, aku pingin peluk Aurelie dan Milo sekaliiii aja.”


“Nggak boleh, Non jangan pergi. Please, Non. Di sini aja, ya. Non aman kalau di sini.”


“Aman, Mbok? Dua orang yang bikin aku menderita berbulan-bulan ada di sini. Nafisa nggak bisa. Tiap ingat semua penderitaan, aku selalu marah sama Pak Zayn dan Pak Mikail. Atau sebaliknya, kalau liat mereka, Nafisa ingat siksaan di penjara.”


Mbok Mi tidak mampu menjawab. Membayangkan bagaimana Nafisa harus menerima pukulan dan bully serta pelecehan seksual membuatnya bergidig.


Semua itu karena Zayn langsung menyimpulkan berdasarkan gamis yang dipakai pelaku kejahatan. Valerie dan Nafisa memang kurang lebih memiliki perawakan yang sama.


Untuk membujuk Nafisa, Mbok Mi bercerita, “Bu Sepuh itu sayang banget sama Non. Mbok ceritain ya, Pak Zayn sebetulnya punya kakak. Lebih tua tiga tahun. Waktu itu Pak Sepuh, Bu Sepuh, dan Non Aisyah naik mobil dari Semarang kemudian mengalami kecelakaan. Non Aisyah meninggal di tempat. Bu Sepuh terpukul sekali.”


Mbok Mi mengingat masa-masa sulit yang pernah dialami Maryam.


“Bu Sepuh sering bilang, selama ini beliau membayangkan Non Aisyah kalau sudah besar ya kayak Non. Sholihah, cantik, pinter, mandiri, wis lah pokoke kumplit.”


“Kumplit sama amnesia dan apes,” jawab Nafisa tersenyum miris.


“Sssh, istighfar, Non. Allah pasti nggak akan mencoba hambaNya lebih dari kemampuan. Mbok tau pasti rasanya sakit dan mengerikan. Mungkin kalau Non perlu ketemu psikolog, bilang saja sama Bu Sepuh.”


Nafisa ragu untuk menerima saran Mbok Mi. Bukan apa-apa, tapi Bu Sepuh harusnya sudah santai di masa tuanya bukannya mengurusi hal-hal yang membuat sedih.


“Mbok, niatku sudah bulat. Aku akan pamit dari keluarga Malik. Datang baik-baik, pergi juga baik-baik. Biarlah Nafisa akan kembali berusaha tegar menerima yang sudah terjadi.”


“Dipikirin lagi, ya, Non. Kalau Mbok bilang lebih baik Non disini. Pak Zayn juga udah nyesel setengah mati. Kelihatan banget waktu Non masih pingsan, Pak Zayn sendiri yang gendong ke kamar ini. Lalu dia nangis lamaaa banget di samping tempat tidur Non. Bu Sepuh udah ngajak keluar tapi Pak Zayn tetap di sini.”


Mata Nafisa terbelalak.


“Aku … kami nggak cuma berdua kan di kamar ini?”


Wanita berumur lima puluh tahun itu menggeleng.


“Kami semua nunggu di sini. Setelah larut malam, cuma Mbok Mi sama Lastri tidur nemenin Non.”


Mata Nafisa mengeruh.


“Capek, Mbok … Nafisa capek,” lirih Nafisa.


“Tuh adzan subuh, Non mandi, sholat, lalu Mbok siapin sarapan. In syaa Allah lebih segar. Mohon kekuatan sama Allah ya Non. Termasuk juga untuk memaafkan Pak Zayn dan Pak Mikail.”


“Iya, Mbok.”


Karena tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat, Nafisa bangkit dibantu oleh Mbok Mi menuju kamar mandi. Ia melihat semua barang keperluan dari rumah sudah dipindahkan ke kamar itu.


“Pak Zayn yang suruh. Semua baju Non juga sudah di sini. Tenang aja, tiap hari rumah Non tetap dibersihkan oleh cleaning service.”


Tak ingin beragumen, Nafisa mengangguk.


Di kamar mandi ia membuka seluruh pakaian, lalu membasahi sekujur tubuhnya dengan air hangat.

__ADS_1


Teringat pada laki-laki misterius yang menyelamatkan dan pesannya untuk menciptakan kebahagiaan.


“Aku akan coba untuk bahagia lagi,“ gumam Nafisa ragu.


Setelah selesai membersihkan tubuh ia mengambil wudhu, berpakaian dan menghampar sajadah.


Usai sholat, tangan Nafisa menengadah, “Ya Allah, beri hamba untuk terus bersangka baik terhadap seluruh ketetapanMu. Beri hamba kekuatan jika lemah, beri hamba kesabaran jika marah, dan beri hamba keberanian jika takut. Jaga hamba, anak-anak hamba, Bu Sepuh, dan semua yang sudah percaya pada hamba. Aamiin.”


Ketika keluar dari kamar, sekelebat ia melihat Zayn memakai gamis dan membawa sajadah masuk ke dalam kamarnya.


Nafisa menghela napas panjang.


“Masih sulit untuk memaafkan.”


***


Minggu-minggu berlalu. Nafisa mulai aktif di kedai dan media sosial. Tak disangka dukungan banyak mengalir padanya.


Nafisa menceritakan bahwa bulan-bulan terakhir adalah sangat berat dan masih menyisakan trauma. Walau tidak semudah membalik telapak tangan, tapi dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bangkit.


Untuk mengalihkan pikirannya, Nafisa menyibukkan diri di kedai. Mencoba resep kue-kue baru untuk dijual.


Kedainya kembali booming. Followers media sosialnya bertambah. Hidupnya membaik.


Maryam juga membagikan harta yang cukup untuk Nafisa, termasuk mobil dan supir yang siap mengantarkan kemana-mana.


Namun bukan Nafisa namanya jika tidak memilih naik taksi online kemana-mana bersama Mbok Mi dan Lastri.


Wanita yang sedang berusaha merajut kembali hidupnya ingin berdiri di atas kedua kakinya.


***


Zayn mengendarai mobilnya melewati kedai Nafisa. Dia melirik dan melihat banyak orang mengantri untuk masuk ke kedai.


Melihat mobil ibunya, laki-laki itu memberanikan diri untuk mampir. Berulang kali dia berusaha bicara dengan Nafisa tapi wanita itu selalu menghindar.


“Mungkin ini saatnya,” gumamnya sambil memarkirkan mobil sport seri terbaru.


Kehadirannya cukup membuat heboh para kaum hawa yang menjadi mayoritas pelanggan kedai.


Ada yang terkagum pada penampilannya, namun tidak sedikit yang menatap sinis entah karena apa. Zayn mengangguk pada Lastri yang sedang melayani pelanggan dan langsung masuk ke dapur.


Nafisa membalik badan untuk mengambil sesuatu dan matanya bersirobok dengan Zayn.


Sementara Nafisa langsung memasang cadar, netra Zayn membola dengan kecantikan Nafisa.


Meski bukan pertama kali dia melihat wajah wanita itu, namun baru saat itu ia menyadari pesona wajah yang selalu tertutup cadar.


“Pak,” sambut Nafisa dengan nada dingin, sementara Zayn berusaha keras bisa mengusai dirinya.


Maryam menoleh dan mendekat untuk menyambut putranya. Nafisa di lain pihak berpaling dan melanjutkan pekerjaan.


Ibu dan anak itu saling menyapa ketika Maryam menarik tubuh Zayn yang jangkung kemudian berbisik, “She’s single loh.”


“Idih, Bu. Bukan tipe aku …”


Zayn buru-buru meralat jawabannya.


“Maksudku, sekarang aku nggak mau berhubungan dengan siapa pun.”


Maryam tersenyum lebar, tahu betul anaknya sedang meredam rasa malu karena tertangkap basah.


“Ya nggak usah sekarang, besok juga boleh,” balas Maryam terkekeh.


Wanita itu kemudian memanggil ke Nafisa.


Dengan tatapan malas, Nafisa menoleh ke arah Zayn untuk menyapa.


“Siang, Pak.”


Zayn hanya mengangguk ketika Nafisa mempersilakan duduk di ruangannya.


“Ada kehormatan apa hingga manusia mulia seperti Bapak mau menengok hamba yang hina dina ini?” Sindir Nafisa sementara Maryam hanya terkekeh.


Zayn tidak membalas. Pria itu tersenyum tipis.


“Aku senang kedaimu tambah ramai.”


“Tambah ramai? Karena pemiliknya residivis?” Tanya Nafisa dengan nada sarkasme.


“Ssh, Sayang, jangan gitu. Zayn hanya ingin menengok,” ucap Maryam untuk menenangkan.

__ADS_1


Nafisa mengangguk sambil menggigit bibir di balik cadar.


“Maaf. Saya memang bermaksud menyindir Bapak. Setiap melihat Bapak, saya bawaannya ingin marah,” balas Nafisa akhirnya.


“Aku ikhlas, meski kamu marahi seumur hidup. Kesalahanku begitu besar.”


“Anda sudah menuduh saya hingga menjadi fitnah. Sadarkah Anda, fitnah itu bagai membuang bulu ayam di sebuah perempatan. Bagaimana pun Anda berusaha untuk mengumpulkannya, bulu-bulu itu tetap beterbangan ke segala penjuru.”


“Maaf. Jika saja aku bisa menebus dengan hidupku.”


“Bapak mau masuk penjara lalu diperkosa tiap malam?” Tanya Nafisa berapi-api.


Maryam dan Zayn terdiam.


“Nggak usah muluk-muluk sampai enam bulan. Dua hari aja, Pak,” sambung Nafisa lagi, air mata mulai mengalir deras dan buru-buru diusap.


“Nafisa, aku benar-benar minta maaf. Kalau kamu mau aku bersujud di hadapanmu, akan kulakukan. Tapi aku nggak bisa membalik waktu. Jadi jika marahmu bisa membuat lega, aku terima.”


“Berusahalah untuk tidak menjadi manusia sombong. Menganggap kami orang kecil ini debu yang bisa kalian tepis karena mengganggu. Dan ijinkan saya pergi jauh meninggalkan ini semua. Terlalu sakit berada di sini.”


“Nafisa, jangan,” lirih Maryam.


Nafisa bersimpuh di hadapan Maryam.


“Bu, aku sudah dengar mengenai almarhumah Non Aisyah. Semoga kelak Ibu dibukakan pintu surga olehnya. Tapi saya bukan Non Aisyah. Saya hanyalah manusia yang hidupnya sudah dirusak oleh putra Ibu. Mantan napi seperti saya ini sudah tidak punya peluang untuk mendapatkan hak asuh. Lebih baik saya pergi sekalian, Bu, ketimbang tidak bisa bersama anak-anak.”


Zayn menggeleng.


“Saya pastikan, hak asuh akan jatuh ke tangan kamu.”


“Nggak usah bantu, Pak. Bapak mau apa? Bayar orang? Paksa orang? Nggak berkah. Saya nggak mau anak-anak saya terkena akibat dari perbuatan Bapak.“


“Tapi …”


“Enggak, Pak. Cukup. Jika saya bertahan di sini bukan karena harta atau lindungan dari Bapak. Saya sayang sama Ibu Sepuh. Biar saya berjuang sendiri untuk hak asuh. Saya juga sudah cari pengacara untuk menggantikan Pak Mikail.”


Maryam tidak berkata apa-ap, namun terlihat air mata mulai mengembang.


Zayn tidak tega melihat ibunya menangis. Pria pun bersimpuh di samping Nafisa.


“Maafkan Zayn, Bu. Apa yang Zayn lakukan kepada Nafisa sangatlah rendah dan keji. Tapi aku berjanji untuk terus membuat Nafisa ada di sisi Ibu.”


Maryam menggeleng.


“Jangan paksa Nafisa lagi, Nak. Jika memang Nafisa ingin pergi karena terlalu berat berada di antara kita, Ibu … Ibu ikhlas. Maafkan Ibu, Nafisa. Memang selama ini Ibu menganggap kamu sebagai ganti dari almarhumah Aisyah. Tapi Ibu menyayangi karena ketulusan dan perlakuan kamu ke Ibu. Sejak kenal kamu, Ibu seperti punya anak perempuan lagi.”


Nafisa menunduk, bulir bening membasahi cadarnya.


“Tinggalah bersama Ibu. Aku akan pergi dari rumah jika kamu tidak sudi melihatku. Kamu nggak akan pernah bertemu aku lagi,” ucap Zayn dengan nada memohon.


***


Nafisa mendengarkan pengacara yang mewakili Reno dan Dela sibuk menjelekkan dirinya.


“Majelis Hakim yang saya hormati. Terlepas dari pernyataan Bapak Zayn Malik, tapi pelaku kejahatan tidak pernah terungkap. Bisa saja dia adalah Nafisa Salsabila namun keluarga Malik tidak ingin melanjutkan tuntutan. Apakah kita rela membiarkan Aurelie dan Milo diasuh oleh orang yang masih diduga melakukan pembunuhan?”


Pengacara Nafisa, seorang wanita yang pernah merasakan pahitnya dipisahkan dari anak langsung berdiri untuk menyanggah.


“Bapak dan Ibu Majelis Hakim. Kami sudah mendapatkan pernyataan dari Ibu Maryam Malik, Bapak Zayn Malik, dan Bapak Mikail Malik yang bersumpah bahwa bukan klien saya yang mencoba membunuh Ibu Maryam. Ini surat pernyataannya.”


Majelis Hakim membaca surat pernyataan yang diberikan pengacara Nafisa.


Tak mau kehilangan angin, pengacara lawan berkata, “Tetap saja Nafisa Salsabila adalah mantan narapidana dan terbukti kejiwaannya sedang terganggu. Kami bukannya tidak mau Nafisa bertemu anak-anaknya, hanya kami tidak yakin dengan kondisi sekarang, Nafisa bisa diserahi hak asuh. Siapa yang akan menjamin Nafisa tidak akan kehilangan kendali atas dirinya?”


“Saya, saya yang akan menjamin.”


Terdengar suara dengan nada bariton memenuhi ruangan.


Nafisa menoleh ke belakang lalu mendecak. Sementara pemilik suara dengan mantap maju.


“Saya Zayn Malik. Ibu saya Maryam Malik adalah korban dari kekejaman seseorang yang tidak kami sangka tega hendak membunuhnya. Saya pastikan dia bukan Nafisa.”


“Pak Zayn, biarkan saya menyelesaikan urusan ini seperti yang sudah kita sepakati, tanpa campur tangan Anda,” cetus Nafisa tegas.


Zayn tidak mempedulikan, tatapannya lurus ke arah ketiga majelis hakim.


“Bagaimana Anda menjamin Nafisa akan bisa mengasuh dengan baik anak-anaknya?” Tanya Ketua Majelis Hakim


“Karena saya akan menjadi pendampingnya. Ya, saya akan menikahi Nafisa Salsabila dan kami akan membesarkan Aurelie serta Milo bersama.”


***

__ADS_1


__ADS_2