
Harap-harap cemas, Nafisa mengendarai mobilnya menuju rumah yang dulu dihuni bersama Reno.
Wanita itu khawatir ucapan Dela benar, bahwa anak-anaknya sudah lupa atau malu punya ibu yang pernah dipenjara.
“Bismillaah, yasarallah …. Mudahkanlah ya Allah,” gumamnya saat memasuki kompleks perumahan.
Beberapa tetangga sedang berkumpul membeli jajanan yang biasa lewat di sore hari. Mereka melihat Nafisa datang.
“Mbak Nafisa, apakabar?” Tanya Bude Nanik. Tetangga yang dititipi anak-anak namun malah memihak Dela dan menghina dina Nafisa.
Masih terngiang celaan dari Bude Nanik ketika Nafisa datang dengan memendam rindu namun malah dituduh gila kerja dan tega meninggalkan anak.
Segar diingatan betapa setelah Reno mendorong Nafisa dan menalaknya, ibu-ibu itu tidak ada yang berbelas kasihan.
Sedang tak ingin berbasa-basi, Nafisa menjawab sekenanya lalu melangkah ke pekarangan rumah yang dulu pernah jadi istananya.
Belum sempat mengetuk pintu terdengar teriakan dua anak kecil bersahut-sahutan memanggilnya.
“Mama … Mama … Milo kangen,” teriak si Bungsu yang langsung menghambur dan memeluk erat ibunya.
Demikan juga dengan Aurelie yang berurai air mata namun tidak berkata apa-apa tapi langsung memeluk dan membenamkan wajah di tubuh ibunya.
“Mama jangan pergi,” bisik Aurelie akhirnya.
“Iya, Sayang. Mama akan sering sama-sama kalian mulai sekarang.”
Di ambang pintu, Reno dan Dela melihat dengan tatapan dingin pertemuan ibu kandung dan anak-anaknya yang penuh air mata.
Para pengasuh siap mengantar dengan membawa barang-barang Aurelie dan Milo.
Nafisa menggeleng.
“Kalian nggak usah ikut, aku mampu mengurus anak-anakku tanpa bantuan kalian.”
Dela hendak membantah namun Nafisa menatapnya dengan tatapan menantang. Wanita itu terdiam dan urung niat.
Reno hanya berkata, “Kabari kalau perlu kami jemput.”
Malas menjawab, Nafisa hanya mengangguk lalu menyuruh anak-anaknya mengucapkan salam dan mengajak mereka ke mobil.
“Waaah, Mama mobilnya baluuu,” cetus Milo dengan wajah berbinar.
Maryam menghadiahi Nafisa dengan mobil mewah BMW X5 seri terbaru. Mobil itu teramat jarang dipakai. Nafisa dengan segala kesederhanaan dan tekat untuk mandiri lebih memilih memakai taksi online.
Namun khusus untuk menghadapi Reno dan Dela, dia tak segan mengendarai mobil mewah itu.
“Alhamdulillah, yuk, naik. Malam ini kita nginap rumah Mama, besok ke rumah Oma Maryam. Mau nggak?”
“Mauuu!!” Keduanya bersorak-sorai.
Sebelum Nafisa masuk ke mobil, Bude Nanik dan beberapa ibu-ibu menghampiri.
“Mbak, kami mau minta maaf. Dulu kami terbawa perasaan dan langsung membela Bu Dela tanpa cross check dulu.”
“Baiklah, Bude, maaf saya harus pergi,” jawab Nafisa yang benar-benar malas bicara dengan mantan tetangganya.
Salah seorang menyahut, “Abis Mbak Nafisa nggak cerita-cerita sih kenapa tiba-tiba kerja.”
Menahan emosi, Nafisa menjawab, “Jika Ibu di posisi saya, apakah akan serta merta mengumbar aib suami?”
“Nggak, Mbak. Maafkan kami.”
“Sudahlah, semua sudah berlalu. Semoga ke depan baik-baik untuk kita semua,” balas Nafisa dengan mencoba tersenyum.
“Sombong …” Celetuk Bude Nanik sambil mencibir.
Nafisa melirik lalu masuk sebentar ke mobil untuk menyalakan mobil. Tak lupa membuka sedikit kaca-kaca agar anaknya aman di dalam.
Tetap tenang ia menghadapi barisan tetangga comel di depannya.
“Begini, Bude. Sebagai sesama manusia, kita memang wajib saling memaafkan. Jujur saja apa yang kalian katakan kepada saya waktu itu sangat menyakitkan. Terlebih kita sudah lama kenal, bukan satu dua hari. Kita juga saling menyimpan nomor telepon. Kenapa nggak nanya kebenarannya dan malah langsung mempercayai istri barunya Reno?”
Para wanita itu gelagapan. Tertampar karena memang waktu itu sebegitu mudah terhasut omongan Dela.
“Kalau kita baru satu, dua hari kenal, saya maklum. Bude Nanik, kita sering minum teh sore bareng, cerita-cerita segala macam. Menurut Bude, apa mungkin saya rela ninggalin anak hanya untuk mengejar uang jadi care giver? Apa selama ini kalian memandang saya sebagai wanita serakah dan gila harta?”
“Bukan, tapi, Dela bilang …” Bude Nanik berusaha membela diri.
“Saya berproses untuk menerima ini semua. Termasuk berproses dalam memaafkan. Saya bukan orang munafik yang sekadar menerima maaf tapi dalam hati masih mendongkol. Jadi saya yang minta maaf jika tidak merespon dengan pelukan persahabatan.”
Tidak ada yang berani menjawab Nafisa.
“Baiklah, saya permisi dulu, assalamualaykum.”
Lega karena sudah berada di dalam mobil, Nafisa menoleh ke anak-anaknya yang sibuk terkagum dengan mobil baru ibunya.
“Mama, ada sun roof. Bukain, Milo pengin berdiri.”
“Boleh, tapi kalau masih di dalam kompleks ya. Keluar gerbang harus ditutup. Berbahaya,” jawab Nafisa sambil tersenyum. Milo memang punya rasa ingin tahu yang tinggi.
Perlahan, Nafisa menjalankan mobil, sementara Milo berteriak seolah sedang bertempur dalam peperangan.
Sementara itu Aurelie memilih pindah ke tempat duduk depan lalu memegang tangan Nafisa.
__ADS_1
“Aurelie kangen, Ma.”
“Mama juga. Nanti malam kita tidur bareng di kamar Mama. Just the three of us.” Nafisa mengusap lembut pipi Aurelie.
“Milo, ayo duduk. Mama mau tutup sun roof-nya.”
“Okay, Mama. Milo mau pakai seatbealt juga kayak Kakak.
Dengan terampil jari-jari gendut Milo menyematkan seat bealt lalu dia duduk laksana bos yang sedang diantar driver dan pengawalnya.
Ibu dan anak itu menikmati momen kebersamaan dengan bernyanyi, saling berceloteh, hingga tiba di rumah Nafisa.
Di sana sudah ada seorang bodyguard yang ditempatkan Zayn untuk menjaga rumah.
Milo berseru, “Waaa, mama udah kayak presiden ada yang jagain.”
“Iya dong, presiden direktur kedai kue.”
Milo berjalan dengan gaya tengil melewati bodyguard yang menahan tawa dan langsung memberi hormat.
Nafisa dan Aurelie berjalan di belakangnya sambil tertawa geli melihat kelakuan laki-laki kecil banyak gaya itu.
Sampai di dalam rumah, Milo berubah menjadi aleman. Lari menuju kamar Nafisa dan langsung membaringkan tubuhnya sambil menepuk-nepuk kasur.
“Mama bobo sini, lepas kerudung, Milo mau main rambut.”
Aurelie mengikuti dan langsung tidur di sisi lain memberikan ruang untuk Nafisa agar berbaring di antara mereka.
Tak henti Nafisa bersyukur karena anak-anaknya tidak sedikit pun melupakannya. Mereka tetap Aurelie dan Milo yang senang bermanja-manja.
Nafisa menciumi kedua anaknya. Mereka bercanda, tertawa melepas rindu yang sudah sekian bulan menyesakkan dada.
Ketika Milo akhirnya tertidur, Aurelie berkata, “Mama, aku pernah liat Mama di luar sekolah. Kenapa Mama nggak masuk? Apa benar yang Mama Dela bilang kalau Mama masuk penjara karena membunuh orang?”
Berusaha menekan emosi, Nafisa berkata lembut, “Mama kangen banget sama kalian, tapi takut untuk masuk. Benar, Mama memang pernah di penjara, tapi itu karena Mama difitnah. Maafkan Mama, ya karena sering meninggalkan kalian.”
“Mama … Mama nggak bunuh orang, kan? Mama Dela sering bilang kalau Mama pembunuh.”
“Naudzubillah, tindakan keji itu jauh dari pikiran Mama,” jawab Nafisa berusaha meredam amarahnya. Dalam hati dia berjanji akan membuat perhitungan dengan Dela.
Sulungnya berkata dengan nada manja, “Aurelie sayang Mama. Aurelie nggak mau Mama pergi-pergi lagi. Apa aku dan Milo nggak bisa tinggal aja sama Mama?”
“Kamu mau tinggal sama Mama?”
“Mau, cuma kasihan Papa.”
“Papa kan ada Tante Dela sebentar lagi punya anak. Dia bahagia.”
“Setiap malam, Papa masuk ke kamar terus pelukin kita lamaa banget. Aurelie pura-pura tidur, tapi pas ngintip, ternyata Papa nangis.”
“Nangis?”
“Iya, Ma. Setiap malam loh, Papa selalu cium kening Aurelie sambil bilang, ‘Semoga kamu baik-baik aja Nafisa, Sayang.’ Gitu. Kenapa kita nggak tinggal bareng kayak dulu aja, Ma?”
Nafisa menghela napas panjang. Hatinya tercubit.
“Kan sekarang Papa sudah menikah dengan Tante Dela, jadi ya kita nggak bisa tinggal bareng kayak dulu. Tapi yang jelas Mama dan Papa sayaaaang banget sama kalian.”
Suara Aurelie terdengar lirih ketika berkata, “Papa … Papa juga masih sayang sama Mama.”
***
Selama anak-anak menginap di rumah, Nafisa mengajak mereka ke kedai, jalan-jalan ke taman bermain, mengantar dan menjemput sekolah, dan mereka selalu tidur sekamar.
Tidak seperti Dela yang memanjakan dengan mainan, Nafisa lebih suka kegiatan-kegiatan dimana anak-anaknya bisa bereksplorasi.
Guru-guru sekolah lega melihat Nafisa sudah kembali bersama anak-anak walau hanya seminggu. Aurelie dan Milo pun nampak makin riang semenjak bertemu dengan Nafisa.
Maryam sudah bolak-balik menelepon, menagih janji supaya Aurelie dan Milo menginap di rumahnya.
Meski demikian, wanita paruh baya itu sadar bahwa Nafisa dan anak-anak perlu waktu untuk bersama setelah sekian bulan berpisah.
Sore itu, Nafisa mempersiapkan barang-barang untuk dibawa ke rumah Maryam ketika melihat mobil Zayn Malik berhenti di depan.
“Duh, ngapain sih ni orang pakek ke sini.”
Tidak ingin menimbulkan impresi jelek, Nafisa membukakan pintu setelah memakai kembali cadarnya.
“Assalamualaykum, halo Nafisa. Aku disuruh Ibu menjemput kamu dan anak-anak.”
“Waalaykumussalam, silakan masuk, Pak. Bisa aja, orang barusan telepon Ibu dan saya bilang mau berangkat sendiri ke sana,” jawab Nafisa setengah berbisik.
Zayn hanya tertawa lalu berjalan ke taman belakang rumah yang terhitung hanya beberapa langkah dari pintu utama. Matanya berkeliling mengamati rumah Nafisa.
“Silakan, jangan anggap rumah sendiri, loh,” sindir Nafisa.
Lagi-lagi Zayn hanya tersenyum sambil melirik Nafisa.
Entah kenapa, Nafisa bergidig dan berharap Zayn bertingkah seperti biasanya: kulkas.
“Mama … Mama siapa yang datang?” Seru Milo dari kamarnya. Anak itu terdiam melihat sosok Zayn yang terlihat tampan tapi sangar karena tato menyembul dari balik kemeja.
“Mama, ada rampok!” Milo menghambur ke arah Nafisa dan memeluk erat. Demikian pula Aurelie yang ikut keluar dan kaget melihat Zayn, langsung bersembunyi di belakang Nafisa.
__ADS_1
Laki-laki yang berdiri tidak kejuntrungan karena polah anak-anak Nafisa itu menggaruk kepala yang tidak gatal lalu menutup tattonya dengan mengancingkan kemeja.
“Anak-anak, Oom ini memang mirip rampok, tapi dia anaknya Oma Maryam.”
Zayn mendelik mendengarkan penjelasan Nafisa. Ia kemudian duduk di atas lutut sambil mengulurkan tangan.
“Halo, namaku Zayn, kamu pasti Milo.”
“Bukan, Milo lagi pergi,” balas Milo sambil terus memeluk ibunya dan tidak mau melihat Zayn.
“Mama, kayak di film superhero, penjahatnya pake gambar di badan,” ucap Milo lirih.
Sementara Aurelie mulai mengintip Zayn.
“Oom orang baik atau orang jahat? Kalau jahat nanti aku pukul.”
Satu alis Nafisa terangkat, menunggu jawaban Zayn.
“Orang baik, dong. Kalau Oom orang jahat, pasti udah dihajar sama Mama kalian,” jawabnya sambil mengedipkan mata ke arah Nafisa.
Di balik cadarnya Nafisa menjebik.
Milo meski takut-takut mulai menoleh ke arah Zayn.
“Kalau orang baik, kenapa badannya digambarin? Di film yang Milo tonton, penjahatnya pakai gambar kayak Oom gitu. Emang Oom nggak punya kertas sampai harus gambar di badan?” Cecar Milo dengan lafadz yang masih pelo.
“Soalnya kurang kerjaan,” gumam Nafisa yang masih bisa didengar jelas oleh Zayn yang lagi-lagi mendelik.
“Ini namanya tattoo, sebagian orang bilang ini seni. Oom suka pakai tattoo, tapi ternyata setelah belajar, tattoo itu dilarang di agama kita.”
“Nggak bisa dicuci? Kakak suka gambar-gambar di tangan bisa hilang kalau dicuci pakai sabun. Sini Milo bantuin cuci.”
“Yang ini nggak bisa sayangnya. Tapi makasih udah mau bantuin. Sekarang udah mau salaman belum sama Oom?”
Milo mengangguk namun masih ragu mengulurkan tangannya.
Zayn tetap menggantungkan tangan menunggu balasan Milo namun ternyata Aurelie yang menyambut.
“Aku Aurelie, kakaknya Milo. Awas kalau Oom jahat sama Mama, nanti aku gigit.”
Dua kali diancam oleh anak perempuan cantik di hadapannya, dalam hati Zayn berkata, “Fix, ini anak Nafisa Salsabila.”
Melihat Aurelie berani, Milo pun ikut menyalami. Matanya masih melihat Zayn dengan sorot waspada.
Untuk mencairkan suasana, Zayn tiba-tiba berkata, “Liat deh, Oom bisa sulap. Liat ini ada berapa koin?”
“Dua!” Seru Milo penuh semangat karena dia memang pada dasarnya suka sesuatu yang seru.
“Niiiih, Oom gosok-gosok. Eh, ilang.”
Alis Milo terangkat.
“Loh, mana? Tadi nggak jatoh.” Dia lalu berjalan mengeliling Zayn yang berlagak tidak tahu.
Mau tidak mau, Nafisa tersenyum melihat atraksi yang dibuat Zayn.
“Di kantongnya, Oom,” pekik Aurelie sambil tertawa.
“Bukan, tapi di sini!” Balas Zayn sambil bertepuk tangan dan dua koin itu kembali muncul di telapaknya.
“Yaay! Oom hebat. Lagi dong, bisa nggak bikin rumah ini hilang?” Tanya Milo dengan mata berbinar.
Zayn yang kemampuan sulapnya amat sangat terbatas cuma bisa cengar-cengir lalu menggeleng.
“Ajakin, Oom main di belakang. Mama mau masukin barang-barang sebentar lalu kita berangkat.”
Zayn mendongak ke arah Nafisa, meyakinkan mama singa itu memercayakan Aurelie dan Milo padanya.
Sebelum kembali berbenah, Nafisa berkata pelan kepada Zayn, “Awas kalau ada apa-apa sama mereka, nanti aku …”
“Gigit! Nggak boleh, abis nikah, baru kamu boleh gigitin aku,” jawab Zayn dengan wajah jahil tapi berharap.
“Kenalan dulu.”
“Serius?”
Nafisa mengangguk lalu memberi kode Zayn untuk mengikuti Milo yang sudah menarik-narik tangan laki-laki jangkung itu untuk bermain di taman belakang.
Sengaja Nafisa tidak menutup pintu depan dan menyuruh bodyguard berjaga di depan teras untuk menghindari fitnah.
Dari dalam, Nafisa melihat sisi lain dari Zayn. Sisi yang hangat, penuh tawa, bahkan kadang-kadang membadut.
Hampir selesai berkemas, terdengar sapaan, “Assalamualaykum.”
Mikail berdiri di ambang pintu dengan mata menatap tajam ke arah kakak sepupunya yang sedang berguling-guling sambil bercanda dengan Milo.
“Waalaykumussalam. Pak Mikail? Ngapain?”
“Aku … aku mau jemput kamu sama anak-anak, terus mau ajakin ke mall.”
Belum sempat Nafisa menjawab, dengan Milo yang sudah duduk di pundaknya, Zayn berkata, “Nggak usah, Nafisa dan anak-anak sama aku. Kasian delo.”
***
__ADS_1