
“Oom, ini rumah Oma Maryam? Ini rumah apa istana?” Tanya Milo polos.
“Ada barisan pengawalnya, Dek. Lihat di sana.”
Aurelie menunjuk ke barisan security yang sedang melakukan apel pagi.
Sengaja Zayn membunyikan klakson dan mereka pun langsung menghadap ke kendaraan.
Dengan tegap semuanya memberi hormat.
Mata Milo berbinar-binar melihat kegiatan yang tidak biasa dia jumpai. Biasanya di kompleks hanya ada dua atau tiga orang petugas security ala kadar yang berjaga.
“Mama, kita naik mobil dari pintu gerbang ke terasnya aja nggak nyampe-nyampe,” celetuk Aurelie sama polosnya.
Kepala dua anak itu menoleh ke sana kemari. Terpekik ketika melihat angsa dengan anggun keluar dari kolam dan melebarkan sayap seolah ikut menyambut tamu yang datang.
“Mama sekarang tinggal di sini?” Alis Milo terangkat tinggi menunggu jawaban ibunya.
“Kadang di sini, kadang di rumah Mama,” jawab Nafisa sambil mengelus pucuk kepala putranya.
Zayn menjawab, “Sekarang ini rumah Mama kalian juga, kok.”
“Waaaa Mama sekarang konglo … kongo … konmerat, apa Ma?” Tanya Aurelie berusaha menyebut kata yang terlalu susah untuk anak seusianya.
Bersamaan Zayn dan Nafisa tertawa. Kemudian Nafisa menjawab, “Konglomerat, Sayang. Dan bukan, ini bukan rumah Mama melainkan rumah Oma. Oom Zayn ni ngaco aja.”
Zayn mencuri pandang ke arah Nafisa yang duduk di belakang bersama Aurelie. Sementara di sampingnya Milo sibuk menunjuk-nunjuk ke sana ke mari.
Rasa hangat menjalari hati Zayn.
“Itu Oma, hey Oma. Oom buka jendela, Milo mau keluarin kepala.”
“Milo jangan aneh-aneh,” larang Nafisa ke anak bungsunya.
Menuruti kata ibunya, Milo hanya melambai-lambaikan tangan sambil memanggil Oma.
Begitu mobil berhenti, Aurelie dan Milo berlomba memeluk Maryam.
“Waaah Si Cantik dan Si Ganteng.”
Aurelie tersenyum malu-malu sementara Milo tertawa lebar, hidungnya kembang kempis dibilang ganteng.
Zayn turun sambil membawa tas-tas.
“Maaf, Pak, sini saya bawakan,” ujar Nafisa tidak enak.
“Kamu temenin anak-anak, ajak ke taman belakang, aku ada kejutan.”
Maryam melirik anaknya dan sangat bahagia melihat wajah Zayn yang berseri-seri.
“Nafisa, yuk temenin anak-anak. Ibu udah siapin kue-kue sama jus di teras.”
“Ayo Mama,” ajak Milo lalu menarik tangan Nafisa.
Sementara Zayn meletakkan tas di dua kamar yang sudah dia siapkan untuk anak-anak Nafisa.
“Moga-moga ibu dan anak-anaknya suka,” gumam Zayn melihat hasil karya interior designer yang disewa dua hari menyulap dekorasi kamar.
Dari teras belakang terdengar seruan gembira, “Kolam renang! Mama, ambil baju renang, Milo mau nyebur.”
Nafisa tidak percaya penglihatannya. Hanya beberapa hari dia meninggalkan rumah Maryam, kolam renang dewasa sudah ditutup rapat untuk keamanan putra-putrinya.
Di samping gazebo kini ada kolam untuk anak kecil, lengkap dengan seluncuran dan gua air terjun.
“Ini semua idenya Zayn. Ibu nggak boleh ngomong ke kamu. Dikerjain 24 jam non stop selama kamu nggak di sini. Gimana? Suka nggak?”
“Maa syaa Allah, suka, Bu. Terima kasih. Ya ampun, Milo. Sini dulu ganti baju jangan langsung nyebur.”
Dari dalam rumah, Zayn keluar membawa dua baju renang untuk Milo dan Aurelie.
“Pakai ini, moga-moga ukurannya cocok. Kemarin Oom beli cuma kira-kira aja.”
Aurelie terpekik. “Baju renang little mermaid!”
“Baju renang avengers! Oom ganti bajunya di sini?”
Nafisa buru-buru mencegah Milo yang siap melepaskan pakaian.
“Di kamar, ayo.”
“Aku udah siapin kamar ganti juga di samping situ. Jadi nggak usah jauh ke kamar.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak buat semua ini. Ayo Milo, Aurelie.”
Sementara Nafisa dan anak-anaknya masih di ruang ganti, Zayn dan ibunya duduk di teras.
“Udah lama Ibu nggak liat wajah kamu kayak ceria dan berseri.”
Tak mau langsung setuju, Zayn mempersulit keadaan dengan berkata, “Ibu aja yang nggak pernah liat, aku tu selalu glowing, lagi.”
“Pelan-pelan ya. Nafisa itu masih rapuh.”
Netra Zayn mengarah ke ruang ganti yang riuh rendah dengan suara ibu dan anak-anaknya.
“Aku benar-benar suka, Bu. Bukan sekedar kasian atau rasa bersalah. Meski setiap ngomong ke aku bawaan dia marah-marah. Malah pengin aku pelukin, bilang kalau semua akan baik-baik saja.”
“Wah jangan peluk, kamu bakal dihajar.”
Zayn terkekeh. Dari arah ruang ganti Milo berlari sudah memakai satu stel baju renang bergambar Avengers dengan kaca mata renang bertengger di kepalanya.
“Omaaa, aku tambah ganteng nggak?”
“Pastinya. Pas banget sama kamu.”
“Yay! Makasih Oom!” Milo melonjak kesenangan.
Aurelie muncul dengan pakaian renang muslimah bertema Little Mermaid.
Menggandeng ibunya dia mendatangi Maryam dan Zayn lalu mencium tangan keduanya.
__ADS_1
“Terima kasih, Oom dan Oma.”
“Suka?” Tanya Zayn.
Masih malu-malu, Aurelie mengangguk lalu memeluk ibunya.
“Pak, Bu, terima kasih banyak. Saya … astaghfirullah, ini anak, Milo anak ganteng dan sholih, yuk meluncur yang biasa aja. Bahaya kalau kamu merosot kepalanya di bawah! Saya jagain Milo dulu. Yuk, Aurelie.”
“Biar aku nemenin Milo, sebentar ganti dulu.”
Tak lama Zayn keluar dengan memakai satu set pakaian renang. Nafisa harus menunduk untuk menjaga pandangannya dari wajah tampan dan tubuh yang terbentuk sempurna.
“Mama ikut nyebur,” pinta Milo dengan ide yang membuat Nafisa bingung merespon apa karena kini Zayn juga menatapnya.
“Mama jagain di sini aja. Kamu main sama Oom, ya. Pak sebentar saya mau bicara.”
“Ada apa?” Tanya Zayn sembari jalan mendekat. Mata coklatnya menatap lembut.
Berdesis Nafisa berkata, “Jangan kasih ide aneh-aneh ke Milo, anak itu nekat.”
Berusaha memasang wajah serius, Zayn mengangguk. “Siap!”
Tak sampai semenit, Milo sudah kegirangan bermain. Ternyata Zayn membeli pistol air dan terjadilah adegan seru saling tembak antara mereka.
Aurelie memilih tertawa dan menyemangati adiknya sambil duduk di pancuran jacuzzi.
Suasana pagi itu riang gembira. Rumah yang biasanya sepi dan dingin kini ramai dengan teriakan anak-anak.
Salah satu pekerja dapur yang melongok dari jendela berkata ke teman-temannya.
“Semoga Non Nafisa mau nikah sama Pak Zayn. Baru kali ini aku liat wajah Pak Zayn bersahabat. Biasanya kan angker dan siap makan orang.”
“Kamu udah pernah liat Non Nafisa tanpa cadar belum? Aku pernah. Cantik banget. Wuiiih Nyonya Val mah jauh. Kalau jadi menikah, Pak Zayn membuang batu kali dan mendapat berlian,” sahut pekerja lainnya.
“Kita doakan mereka jodoh. Sakjane aku tu dulu mpet banget sama Nyonya Valerie. Wis jan, njomplang banget sama Non Nafisa. Sing siji judes, sijine ruamahe pol.”
Mereka pun terus membicarakan kemungkinan Nafisa berjodoh dengan Zayn sambil bekerja.
***
Siang hari, Milo dan Aurelie sudah tertidur pulas. Mereka sangat menyukai kamar mereka.
Untuk Milo, nuansanya biru dengan tema super hero. Sementara untuk Aurelie berwarna pink dengan tema Little Ponny.
Nafisa membereskan baju-baju di ruang ganti setelah berenang.
Di teras, Zayn sedang duduk santai menghirup kopi.
“Duduk sini, temenin aku.”
Nafisa celinga-celinguk mencari Maryam.
“Ibu tadi masuk kamar katanya mau tidur siang.”
Canggung, Nafisa duduk mengambil kursi agak jauh dari Zayn.
Sekilas, Nafisa melirik tidak percaya.
“Beneran. Aku suka sama anak kecil. Dulu sebelum nikah sama Val, aku suka loh ke panti asuhan. Di sana main sama mereka, nyanyi, makan bareng.”
“Sekarang?”
Zayn menggeleng.
“Val nggak suka anak kecil. Katanya berisik. Kami juga menunda punya anak, karena dia masih berkarir di entertainment business.”
“Mulai lagi aja kunjungan ke Panti, Pak.” Nafisa enggan menanggapi tentang Valerie.
Mata Zayn berbinar.
“Besok, yuk. Kita ajak Aurelie dan Milo. Panti Asuhannya bagus, kok. Sudah kurenov. Untuk anak-anak yatim dhuafa. Juga ada sekolahnya kalau mereka mau sekolah di sana. Ada juga yang sekolah di negeri atau swasta terdekat. Semua gratis.”
“Maa syaa Allah, saya nggak nyangka loh. Boleh, nanti saya siapin cupcakes dan snack.”
“Mau nggak malam ini kita ke mall belanja bingkisan buat mereka? Aku kepikiran belikan tas dan kotak pensil buat mereka.” Zayn bersemangat.
“Nggak online aja? Kaan lebih muuur … eh maaf lupa, duitnya Bapak kan nggak berseri.”
“Mulai naksir?” Zayn menaik turunkan alis.
“Saya malah insecure sama Bapak. Dari kecil tinggal di panti. Kadang kalau pompa air trouble, ya mandi di kali, Pak. Jalan dulu dua kilo. Kemudian Bapak kan beda banget dari sisi pergaulan. Mana pantes orang kayak saya ini bersanding sama Bapak. Gini deh, Bapak mikir-mikir lagi kalau mau kenalan lebih jauh sama saya.”
“Bukannya kebalik? Kayaknya saya yang belum pantes ngelamar kamu. Iman masih cupu, tatto juga sebadan.”
“Sebadan?” Nafisa terbelalak.
“Yep, sebagian besar. Aku udah cari tahu untuk menghapusnya, tapi ternyata lebih sakit dan secara agama tidak dianjurkan. Kenapa kaget? Kamu urung niat ya mau kasih kesempatan kita untuk saling mengenal?”
“Bukan begitu. Pernikahan itu harus bisa menghadirkan ketenangan. Maka itu kriteria saya mencari pendamping adalah dia harus memiliki agama yang baik termasuk pengetahuan tentang Qur’an dan hadits. Kemudian dia mampu secara finansial. Bapak pasang tatto kan artinya …”
“PR ku masih dua yang pertama, ya?”
“Tiga sebetulnya Pak. Karena sumber nafkah Bapak dari bisnis yang nggak halal dan thoyyib. Bunga pinjaman itu riba dan dibenci Allah.”
“Maaf, waktu sama Reno kamu juga pake kriteria itu?”
“Sayangnya, enggak. Dulu saya menikah sama Reno karena memenuhi permintaan Ibunya. Saya memang sudah suka, tapi kalau ditanya sudah siap menikah waktu itu? Ya belum. Tapi sejalan waktu cinta itu bertumbuh walau ternyata perkawinan kami tidak panjang. Maka dari itu ke depan saya lebih hati-hati.”
“Dulu saya sama Val cuma liat fisik aja. Buat saya, dia adalah wanita tercantik. Dia harus jadi milik saya. Cuma sedangkal itu pikiran saya tentang pernikahan dan perkawinan.”
Nafisa menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, matanya menerawang jauh.
Suara Zayn terdengar lembut, “Aku merasa tenang setiap dekat kamu. Dari dulu, bahkan waktu masih di Yogya, kamu udah menghadirkan ketenangan buatku melalui bagaimana kamu menjaga Ibu. Rasa itu nggak pernah kudapat dari Val. Kamu pernah ada rasa apa gitu nggak sama aku?”
“Ya Allah, enggak Pak. Saya memakai cadar ini bukan saja menutup diri dari non mahram tapi juga menjaga hati ini dari orang yang nggak tepat.”
“Sekarang sudah ada rasa?”
“Naksir? Belum. Tapi kalau surprise, iya. Impress, banget. Saya nggak nyangka Bapak yang biasanya kayak kulkas bisa main sama anak-anak.”
__ADS_1
Zayn memejamkan matanya menikmati silir angin dan kebersamaan dengan Nafisa.
“Jangan tidur atuh, Pak. Saya tinggal deh, ya.”
“Please, stay. Aku akan berusaha memperbaiki agamaku, pengetahuanku terhadap Qur’an dan hadits, supaya bisa menyunting kamu. Semoga saya dapat keikhlasan untuk mengubah bisnis riba.”
“Dalam Islam, hutang itu diperbolehkan, asal tidak ada unsur riba. Misalnya bapak kasih pinjaman 100, sepakat buat dibayar di akhir periode 150. Udah itu aja simplenya. Lalu kalau telat jangan dibungain. Kalau mau belajar, ada beberapa ustadz yang bisa diajak diskusi.”
“Kalau perusahaan aku bubarin dan aku jadi kere, kamu masih mau?”
“Oh pas banget, kedai lagi butuh tukang panggul tepung berkarung-karung. Cocok.”
Zayn tergelak sambil melemparkan tisue ke arah Nafisa yang langsung melempar balik.
Dari dalam rumah Maryam diam-diam menatap keduanya dengan pandangan penuh harap.
“Semoga kalian berjodoh. Aamiin.”
***
Malam itu Zayn, Nafisa, dan anak-anak ke Mall untuk mencari bingkisan.
Setelah selesai, mereka duduk di sebuah kafe. Sembari menunggu makanan Zayn mengajak Milo dan Aurelie melihat ke toko seberang yang menjual peralatan sulap.
Nafisa berdiri untuk cuci tangan ketika dari sudut mata berkelebat bayangan dari dua arah.
Beberapa orang terpekik.
“Mikail! Ngapain sih kamu halangin dia? Perempuan itu pelakor, narapidana. Gayanya aja sok suci, pakai cadar padahal BUSUK! Dia mau pakai anak-anak untuk merebut mantan suaminya yang sekarang jadi suami saya. Iya, kan? Itu taktik kamu, merebut hak asuh supaya Reno balik sama kamu?”
Dela dengan perut membuncit karena hamil besar, memaki dan mengatai Nafisa yang dihalangi Mikail. Bisik-bisik dari pengunjung kafe pun mulai terdengar. Sebagian menatap Nafisa dengan sinis dan curiga. Yang lain langsung menjadi penonton sambil merekam.
“Otak lu hilang atau gimana sih, Del? Elu tu yang pelakor. Gara-gara lu, Nafisa bercerai dari suaminya. Lu bilang pulak kalo Nafisa, ibu nggak bertanggung jawab. Sekarang gue tanya, siapa yang bikin perusahaan Reno bangkrut, ha? Elu kan yang jebak Reno? Supaya bisa rebut dia? Bukannya elu yang bikin Reno tergantung terus sama elu?”
“Nggak usah ikut-ikut, Mik.”
Nafisa yang berhasil mengatasi kekagetannya maju untuk menghadapi Dela.
“Bener, Pak. Nggak usah ikut campur. Biar saya hadapi dia,” jawab Nafisa tenang.
“Ohooo, sekarang bukan cuma Reno yang lu kejar, ada Zayn sama Mika. Lu tu orang udik! Nggak pantes bersanding sama mereka.”
“Del, saya udah bilang berkali-kali, saya ikhlas kamu ambil suami saya. Hubungan saya dan Reno sudah selesai. Sekarang apa salah jika saya memperjuangkan hak asuh? Anak-anak saya masih kecil, loh. Mereka perlu ibu kandungnya.”
Tatapan sinis pengunjung kafe kini mengarah ke Dela yang tidak menyangka Nafisa akan berani membalas.
“Pergi, Del. Jangan sampai gue ikut campur lebih jauh,” desis Mikail menahan geram.
Wajah Mikail yang baby face berubah garang, namun nada bicaranya tetap tenang.
“Kamu nggak akan berhasil, Nafisa! Saya nggak akan tinggal diam. Reno dan anak-anak adalah milik saya!”
“Reno, silakan ambil. Tapi anak-anak, saya akan terus berjuang, Del. Kamu sedang hamil, tidak bagus teriak seperti ini.”
Dela yang keras kepala malah maju untuk menarik cadar Nafisa. Dengan gesit, Mikail mendorong Nafisa ke belakang agar menjauh.
“Del, gue udah ingetin, ya. Gue nggak mau kasar sama wanita apalagi lagi hamil. Tapi kalau lu terus serang Nafisa, gue akan perkarain ke polisi.”
“Mama?” Terdengar suara lembut memanggil.
“Aurelie, sini sama Mama Dela.”
Kasar, Dela menarik tangan Aurelie.
“Nggak, Aurelie masih mau sama Mama.” Teriak Aurelie memberontak dan menghambur ke Nafisa.
Milo bersembunyi di balik tubuh besar Zayn. Tangannya menggandeng erat.
“Brengsek kamu, Dela! Berani kasar sama anakku!”
“Dela, peringatan terakhir, keluar dari tempat ini,” ancam Mikail. Matanya tajam menatap Dela.
“Antar anak-anak tepat waktu, jangan sampe telat! Wanita tolol!”
Nafisa refleks menutup mata dan telinga Aurelie, demikian juga dengan Zayn membawa Milo menjauh. Mereka tidak ingin Aurelie dan adiknya melihat hal-hal buruk yang bisa dilakukan oleh orang dewasa.
“Bu, silakan keluar atau kami panggil security,” tegas manajer kafe.
Mendengus kesal, Dela keluar sambil memaki Nafisa.
Aurelie mulai menangis.
“Sayang, jangan takut semua akan baik-baik.”
Sambil berlinang air mata, Aurelie menoleh ke Mika yang basah kuyup.
“Oom diguyur Mama Dela?“
“Enggak, kok Sayang.”
“Makasi udah jagain Mama. Saudaranya Oom Zayn, kan? Aurelie liat fotonya di rumah Oma.”
“Iya adik sepupu. Udah yuk kita duduk lagi. Kamu udah pesan?”
Aurelie menjawab dengan anggukan.
Tak lama Zayn dan Milo kembali.
“Gimana kondisi kamu dan Aurelie?” Tanya Zayn cemas.
“In syaa Allah nggak apa. Nanti aku ngomongin sama anak-anak biar mereka nggak bingung. Pak Mika, terima kasih sudah melindungi saya.”
“No worries, saya akan jagain kamu.”
Zayn melotot ke arah adik sepupunya yang pura-pura tidak melihat dan bicara Aurelie.
“Yang telat, minggir,” gumam Mikail ditujukan ke Zayn.
***
__ADS_1