
Pov Nafisa
Aku menatap akta cerai yang baru dikirim Mikail. Benda segi empat yang menyatakan bahwa hubungan pernikahanku dengan Reno Barlian resmi berakhir secara agama dan negara.
Jika kubaca di novel-novel, tokoh laki-laki yang berselingkuh akan menyesal setelah berpisah dengan istri pertama, namun sepertinya tidak begitu dengan Reno. Tidak sekali pun terucap kata maaf dari bibirnya.
Di novel juga pasangan yang berselingkuh akan menuai apa yang mereka tabur, tapi pasangan Reno dan Dela malah semakin makmur.
Usia kehamilan Dela telah masuk empat bulan. Mereka mengadakan acara tebak gender yang mewah dan meriah.
Aku mengenali wajah-wajah tetanggaku dan para karyawan yang bekerja di kantor Reno. Tertawa bahagia bersama mantan suamiku, istri, dan anak-anakku.
Sepertinya semesta benar-benar mendukung bersatunya Reno dan Dela.
Di setiap kunjungan, Milo selalu menceritakan tentang calon adiknya. Mereka bahkan sudah menyiapkan kamar bayi.
Aurelie lebih sedikit pengertian. Setiap kami bertemu dia lebih memilih bermanja denganku. Anak perempuanku tidak berani menanyakan hubunganku dengan ayahnya, namun pasti dia merasakan.
Kini anak-anakku memiliki pengasuh masing-masing. Aku bersyukur mereka baik dan tidak memihak siapapun. Sebetulnya aku kurang setuju dengan pengaturan ini, tapi kedua anakku masih di bawah hak asuh ayah dan ibu sambungnya.
Mantan suamiku tidak pernah sekali pun mengantar atau menjemput anak-anak saat mengunjungiku. Hanya supir dan para pengasuh.
Kini aku tinggal di sebuah rumah mungil yang kubeli dari hasil pembagian ganti rugi rumah.
Ya, rumah yang ditempati Reno dan Dela adalah atas namaku. Mikail membantuku untuk mendapat hak atas rumah itu. Karena Aurelie dan Milo tidak mau pindah, maka Reno memberikan uang senilai setengah dari harga rumah.
Rumah mungilku terletak di kompleks belakang tak jauh dari rumah Ibu Maryam. Sosok yang memintaku untuk menganggapnya sebagai ibu. Beliau selalu mendorong dan menyemangati aku untuk bangkit untuk mendapatkan hak asuh anak-anak.
Kutata rumahku senyaman mungkin. Aku tidak berani membelanjakan uang banyak-banyak. Hampir semua perabot kubeli dari toko online yang menjual barang bekas.
Aku tinggal mencari tukang kayu untuk memoles sana sini atau mengganti dudukan sofa-sofa dengan bahan cerah.
Kupasang lantai kayu berwarna coklat terang, agak belang karena aku beli sisa-sisa stok di rak diskon. Bersyukur jiwa seniku bisa diandalkan sehingga pengaturan bahan yang pas-pasan malah bisa jadi estetik.
Aku memberanikan diri untuk mengecat sendiri ruangan-ruangannya. Dulu waktu pindah ke rumah lama, aku pun mengecat beberapa kamar, berkreasi seperti yang aku lihat di saluran-saluran medsos.
Hanya bagian depan dicat oleh tukang yang dikirim Bu Maryam. Kubuat semua berwarna putih. Nantinya aku akan menanam tanaman obat seperti jahe, kunyit, sereh di pinggir-pinggir halaman kecilku, lalu beberapa tanaman hias akan kususun bertumpuk di teras.
Ruang tengah dan ruang makan kucat warna krem. Karpet-karpet kudapat gratis dari orang-orang asing yang hendak pulang ke negerinya. Sungguh bermanfaat informasi dari media sosial saat ini.
Kamar tidurku berwarna hijau sage, warna yang sedang trending. Untuk kamar anak-anak, kupakai paduan warna biru muda dan kuning dengan sedikit mural di beberapa bagian.
Di halaman kecil belakang rumah, aku pasang perosotan dan ayunan kecil. Juga kubuat area bermain karena anak bungsuku sangat imaginatif dengan mainan-mainannya.
Aku ingin anak-anakku nyaman saat berada di rumah ini walau ukurannya tidak sebesar rumah mereka.
Sebulan penuh aku mengerjakan. Setiap progresnya kuabadikan di aku media sosial. Tak kusangka ternyata banyak yang meminati. Dalam sekejap posting, ratusan bahkan ribuan likes kudapatkan.
Tawaran kerja sama pun datang satu persatu. Aku merasa tertantang untuk membuat konten yang menarik tentang penataan rumah.
Lama kelamaan, aku mulai bisa menghasilkan uang dari media sosial. Beberapa barang perlengkapan rumah juga kudapat dari hasil barter endors.
Tak henti aku mengucap syukur. Walau hatiku pernah hancur berkeping, meski pernikahanku tergadaikan, dan posisiku disingkirkan, namun banyak kemudahan datang setelahnya.
Usai beres urusan rumah, aku menjajagi untuk memulai usaha.
Bu Maryam yang sudah pernah merasakan panganan buatanku tidak ragu untuk ikut memodali. Lagi-lagi aku menolak. Bukan sombong, tapi aku ingin membuktikan daganganku diterima lebih dulu oleh pasar.
Beliau sudah teramat sangat baik. Enggan jika ternyata usahaku gagal dan merugikan sosok yang sudah mendukungku.
Aku mengawali usaha dengan mengirimkan kue-kue kering sebagai tanda perkenalan ke ibu-ibu tetangga. Lagi-lagi Allah Maha Baik padaku. Setelah itu banyak pesanan kue-kue kering yang datang.
Aku pun bergabung di arisan dan taklim. Di sana jajan pasarku selalu ludes. Lama kelamaan aku disibukkan dengan pesanan-pesanan baik individual maupun untuk pesta.
Bu Maryam memintaku untuk mengambil sekolah memasak. Beliau bersedia membiayai. Namun setelah kuhitung, aku memutuskan untuk mengambil kursus membuat dessert dan aneka nasi daerah.
Enam bulan setelah perceraianku dengan Reno, aku membuka kedai pertamaku. Di sana aku menjual kue kering dan dessert. Selain itu aku juga membuka pesanan aneka nasi-nasi khas daerah, kue ulang tahun, juga rupa-rupa jajan pasar.
__ADS_1
Alhamdulillah usahaku berjalan sukses. Dalam waktu tiga bulan, aku sudah membuka kedai ke dua.
Semakin membahagiakan ketika Aurelie dan Milo sering datang ke kedai. Mereka semangat untuk ikut melayani pelanggan. Walhasil para pelangganku jatuh cinta pada mereka dengan segala kelucuan dan kekonyolan bocil.
Ternyata ejekan Reno yang mengatakan aku tak berpenghasilan memperkuat tekatku untuk membuktikan bahwa dengan ridho Allah dan kemauan yang gigih, aku bisa bangkit.
Nafisa Salsabila akan merebut hak asuh Aurelie dan Milo dari dua manusia yang sudah begitu kejam menghancurkan perkawinanku.
\~End Pov\~
***
Dari sebuah kafe di seberang kedai milik Nafisa, seorang laki-laki menyeruput kopinya.
Matanya tertuju pada wanita dengan gamis biru muda dengan kerudung dan cadar senada sedang mondar-mandir membawa kue-kue dan dessert ke rak jualan.
Berulang kali laki-laki itu mengusap wajah dengan kasar. Akhirnya ia menghabiskan kopinya lalu beranjak pergi.
***
Di kedainya, Nafisa sibuk menyiapkan segala sesuatu sebelum jam buka.
Pagi itu mereka akan menerima beberapa murid dari taman kanak-kanak untuk menghias cupcake.
Masih ada waktu setengah jam sebelum mereka datang. Nafisa mengumpulkan para staff termasuk Mbok Mi dan Lasti yang kini sering membantu di kedai.
Setelah semua staff duduk mengelilingi meja besar di area depan, Nafisa membuka briefing pagi.
Baru beberapa kata terucap dia tertegun melihat pria yang keluar dari mobil lalu masuk lagi.
Tak mengindahkan, Nafisa terus memberikan arahan kepada para staf sebelum tertegun lagi melihat pria tadi mengulang kegiatan yang sama. Begitu terus sampai lima kali.
Para staf pun akhirnya ikut mengamati.
“Ditelepon aja kali, Bu, daripada dia kejepit pintu mobil nanti kita juga yang mesti nolongin,” cetus Lasti dengan kening berkerut memperhatikan pria yang memutuskan untuk masuk lagi dalam mobil.
Nafisa terkekeh lalu menelepon, “Assalamualaykum Pak Mikail, jadi mau di mobil aja atau masuk ke kedai?”
“Waalaykumussalam, emang liat?” Tanyanya dengan nada dipaksakan tetap berwibawa.
“Semua juga liat. Ayo masuk, Pak. Saya buatin teh poci.”
“Yang kayak dulu di Yogya?”
“In syaa Allah,” ucap Nafisa sambil tersenyum.
Ketika semua melihat Mikail berjalan mendekati kedai, kompak mereka berkata, “Akhirnya.”
“Eh udah bubar, dia suka ribet kalau banyak orang,” titah Nafisa.
“Siap! Bismillaah hari ini ludes kayak biasa dan banyak pesenan. Aamiin!” Serentak mereka semua berseru sebelum membubarkan diri ke pekerjaan masing-masing.
Bersamaan dengan itu seorang pria dengan paras setengah dewa masuk ke dalam kedai.
“Mana Nafisa?” Tegurnya tanpa basa-basi ke arah salah satu staf.
“Di belakang, Pak. Lagi bikin teh poci,” jawab staf itu sopan. Mikail bukan orang sembarangan.
Mikail memandang berkeliling. Menyukai bagaimana Nafisa menata kedainya. Perabot putih berpadu dengan kayu coklat muda dan ornamen-ornamen bernuansa etnik.
Aroma kue-kue yang baru matang menggugah selera.
Pintu dapur terbuka. Nafisa keluar membawa teh poci dan cangkir-cangkir dan potongan fruit cake yang masih hangat.
“Mumpung masih anget, Pak. Monggo dicoba.”
Bagai anak kecil, Mikail langsung melahap kue dan menyeruput teh poci bergantian.
__ADS_1
Nafisa tidak menemani, sebagai wanita yang menyandang status janda, dia harus lebih menjaga jarak dengan laki-laki.
“Duduk sini,” titah Mikail sembari melahap potongan besar fruit cake.
“Saya harus siapin bahan untuk menghias cupcake dulu, Pak. Disambi, ya.”
Mikail diam-diam memperhatikan Nafisa. Semakin hari wanita itu menyita perhatiannya. Bahkan saat dia harus mengawal Zayn keluar negeri, Mika sering mencari tahu tentang Nafisa melalui Maryam.
“Nafisa, apa kamu nggak mau mempercepat pengajuan hak asuh?” Usaha Mikail agar Nafisa mau duduk bersamanya.
Seperti dugaan, Nafisa menghentikan kegiatannya kemudian mendekat dan duduk di hadapannya.
“Jika dulu aku dikalahkan karena finansial, sepertinya saat ini kondisi sudah lebih stabil. Aku sudah punya penghasilan tetap dari dua kedai.”
“Mmm kamu hebat.”
“Wuidih, tumben muji.”
Mikail yang juga terkejut sendiri atas ucapannya gegas menutupi dengan menyeruput teh poci.
“Nanti aku akan ajukan berkas-berkas. Bersiaplah biasanya akan ada perlawanan keras.”
Nafisa menatap ke luar kedai.
“Sama sekali aku nggak menyangka akan berebut hak asuh dengan ayahnya anak-anak. Dulu kupikir rumah tangga kami baik-baik saja. Ternyata …”
Mikail menatap Nafisa yang masih terus melihat ke arah orang lalu lalang di luar kedai.
“Kamu … kamu masih cinta sama dia?”
“Mungkin lebih pada keikhlasan yang belum sempurna. Ego yang terusik atas pengkhianatan. Di luar itu aku sudah nggak kepikiran untuk kembali padanya, jika pun ada kesempatan.”
“Nggak mau coba membuka hati untuk orang lain?”
Nafisa tergelak.
“Siapa lah yang mau sama janda anak dua? Pangeran Kodok?”
Mikail mengusap kasar wajahnya. Jika ditanya, dia ingin menjalin hubungan dengan Nafisa, tapi seperti ada tembok pemisah di antara mereka berdua.
Nafisa melanjutkan, “Pak, di hati dan kepala saya sekarang cuma ada anak-anak. Belum punya energi untuk membuka hati. Mungkin juga emang nggak ada yang mau sama saya.”
“Kamu nggak pengin buka cadar? Kayak aksi selebriti yang lagi bermasalah dengan suaminya?”
“Masing-masing punya pertimbangan. Buat saya, karena sekarang hidup sendiri, apalagi nggak punya keluarga satu pun, di balik cadar saya merasa aman. Saya juga harus mawas diri jika berkhalwat atau berhubungan dengan laki-laki.”
Mikail mengangguk. Dalam keseharian, sebagai pria tampan dan sukses, banyak wanita yang rela melempar diri mereka padanya.
Walau memiliki kesempatan untuk menjadi seorang playboy, bergonta-ganti pasangan, tapi Mika tidak berminat. Bahkan sempat beredar gosip bahwa dia bukanlah penyuka wanita.
Untuk urusan percintaan terlebih lagi masa depan, Mikail termasuk makhluk langka dengan pemikiran kolot. Meski dia tidak menjalankan agama dengan baik, namun Mikail tidak juga ingin berzinah sebelum menikah.
Satu untuk selamanya. Dan dia berharap Nafisa adalah satu untuk selamanya.
“Pak, dulu waktu membantu urusan perceraian, Bu Sepuh tidak mengijinkan saya membayar.”
“Waktu itu kamu nggak akan sanggup. Sekarang aja belum tentu,” ledek Mikail.
“Emang sih, bisa jadi saya bangkrut buat bayar Bapak,” balas Nafisa sambil merenung.
“Udah nggak usah dipikirin. Saya akan bantu kamu. Yang penting saya boleh gratis makan kue kamu sama minum teh poci.”
Di balik cadar, Nafisa tersenyum.
“In syaa Allah, siap. Eh itu anak-anak yang mau menghias cupcake udah dateng. Mau bantuin saya jadi host?”
Mikail menggeleng, menyelesaikan kue dan teh lalu berpamitan. Sebelum masuk mobil dia menoleh ke arah Nafisa yang sudah sibuk menyambut para tamu kecil.
__ADS_1
“Sabar, Mik. Dia perlu waktu,” gumam Mikail pada dirinya sendiri.
***