
“Assalamualaykum Abang, Aurelie, Milo,”
sapa Nafisa dengan ceria.
“Wa’alaykumussalam,” jawab Reno singkat sementara anak-anaknya asik bermain dengan mainan baru. Tidak menyapa ke arah ibunya.
Sedikit kecewa, namun Nafisa mengalah dan memandang anak-anaknya yang sedang seru bermain. Aurelie main dengan rumah-rumahan Barbie lengkap dengan beberapa Barbie dan Ken.
Sementara Milo yang masih berusia tiga tahun bermain dengan mobil-mobilan dan robot.
“Wah mainan baru.”
“Iya dari Dela. Dia merasa bersalah sama kita.” Lagi-lagi Reno menjawab singkat.
“Ooh alhamdulillaah. Anak-anak pasti seneng banget. Dari dulu mau belikan Aurelie rumah Barbie belum juga kebeli. Anak-anak, kok nggak ngobrol sama Mama?” Panggil Nafisa lembut, rasa rindunya sudah membuncah.
Hampir tiga bulan tidak bertemu dengan buah hati membuat dadanya terasa sesak. Perjanjian antara Reno dan Zayn adalah selama hutang belum lunas, Nafisa tidak diperkenankan pulang.
Aurelie mendekati layar hape ayahnya lalu menggelendot. Matanya memancarkan kerinduan namun seperti ada yang berbeda.
“Sayang, apakabar? Mama kangen sama Aurelie.”
“Kakak juga kangen,” ucapnya lirih lalu memeluk ayahnya.
Nafisa menatap Reno dengan pandangan bertanya. Sudah hampir sebulan terakhir suami dan anak-anaknya bersikap dingin saat video call.
Berusaha memahami situasi bahwa perubahan sikap anak-anak karena dirinya lama berjauhan. Dia banyak membaca blog atau tulisan para ibu yang bekerja jauh dari anak pasti akan mengalami ini.
“Bang, Kakak nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa mungkin ngantuk aja. Aku juga ngantuk nih, kapan-kapan kita teleponan lagi ya.”
Nafisa menahan kecewa. Beberapa waktu terakhir inj mereka hanya teleponan semingga dua kali paling banyak. Sering kali panggilan telepon Nafisa tak terjawab dan tidak ada call back dari Reno.
“Mas, apa semua baik-baik saja?”
Reno belum menjawab ketika Aurelie minta ijin untuk kembali bermain, melambaikan tangan sekilas ke Nafisa lalu menjauh.
“Baik, kok. Mmm kamu di sana?”
“Alhamdulillah lancar, Bu Maryam semakin hari beliau …”
“Nafisa, Abang ngantuk. Bisa lain kali nggak ceritanya?”
“Oh.”
Kecewa dengan jawaban suaminya, Nafisa hanya menjawab singkat.
“Bang, kapan aku bisa pulang?” Akhirnya ia bertanya penuh harap.
__ADS_1
“Kamu baik-baik aja di sana. Kalau Abang dah bisa bayar, kamu Abang jemput. Udah dulu ya. Assalamualaykum.”
Tak menunggu jawaban istrinya, Reno memutus sambungan telepon.
Menatap layar hape yang tiba-tiba gelap, Nafisa berusaha menahan sakit yang menusuk.
“Ya Allah, aku rindu suami dan anak-anakku. Ijinkan kami berkumpul kembali.”
***
“Mama Dela!” Milo berteriak melihat wanita yang baru keluar dari mobil yang baru masuk ke pekarangan mereka.
“Hai, Ganteng. Liat nih, Mama bawakan apa buat Milo dan Aurelie.”
“Yaay! Robot! Makasi Mama Dela.”
Reno mendorong pelan Aurelie untuk menyalami Dela.
“Salam sama Mama Dela,” bisiknya.
“Assalamualaykum Tante.”
“Aurelie, panggil Mama dong. Kan Papa udah menikah sama Mama Dela. Jadi panggilnya Mama.”
Dela tersenyum lalu merangkul Aurelie.
“Nggak apa. Panggil Tante aja, tapi yang jelas Tante nggak akan ninggalin kamu.”
“Barbie! Makasi Mama Dela.” Aurelie terpekik kegirangan melihat Barbie koleksi terbaru ada di tangannya.
Reno merangkul Dela sambil melihat kedua anaknya asik dengan mainan.
“Del, kamu nggak usah repot-repot.”
“Aku sayang sama mereka seperti anakku sendiri. Kalau kamu, sayang nggak sama aku?”
Reno menatap istri barunya dengan rasa cinta.
“Sayang banget.”
***
Maryam memandang Nafisa yang pagi itu nampak murung. Walau masih sigap dan cekafan membantunya, namun terlihat jelas matanya tidak memancarkan sorot ceria seperti biasa.
Berulang kali Maryam melihat Nafisa menghela napas. Wanita paruh baya yang kini nampak segar dan kembali cantik seperti sebelum kena stroke itu ingin memeluk Nafisa.
Mikail sudah menceritakan semuanya pada Maryam. Pria yang sedang kasmaran itu diam-diam menyelidiki dari mana Reno bisa langsung melunasi hutang dan bunga seluruhnya.
Betapa terkejut saat mengetahui bahwa Dela-lah yang melunasi seluruh hutang. Terlebih lagi saat dia tahu Reno dan Dela sudah menikah siri.
__ADS_1
Sebagai sesama wanita, Maryam ikut merasa teramat sedih dan sakit. Di matanya, Nafisa adalah sosok ibu tangguh yang rela dan ikhlas berjuang untuk keluarganya.
Tak mengerti bagaimana Reno yang dilihatnya sangat menyayangi Nafisa akhirnya berpaling saat istrinya sedang membanting tulang.
Maryam menatap wajah yang sedang gundah gulana. Ingin rasanya melindungi Nafisa, perawat yang sudah dianggapnya sebagai anak dan sudah berjasa atas kesembuhannya.
“Ibu akan jaga kamu, Nafisa. Tapi pertama, kamu akan merasa teramat sakit dulu,” gumam Maryam yang lagi-lagi melihat Nafisa menghela napas sambil menyiapkan makanan.
***
Beberapa hari kemudian, Nafisa sedang termenung di depan teras belakang paviliun. Sore itu cuaca mendung, barisan pegunungan tertutup awan gelap segelap hati Nafisa.
Berulang kali ia menelepon Bude Nanik yang dititipi anak-anaknya, namun selalu di-reject. Begitu pun pesan yang hanya dibaca. Nafisa ingin menanyakan kondisi Aurelie dan Milo.
Menelepon Reno pun sama saja. Tidak diangkat. Entah kenapa hati Nafisa belakangan ini merasa tidak enak.
Hampir tiga bulan ia berjauhan dari keluarga tanpa sekali pun bertemu.
Matanya menatap kosong ke arah langit kelam. Kilatan petir mulai terlihat walau hujan belum turun. Nafisa pun berdiri dan masuk ke dalam.
Maryam dan Mikail sedang bercakap di ruang tengah. Biasanya, sore hari Maryam menikmati kue-kue yang dibuat Nafisa. Mereka mengobrol tentang banyak hal.
Akhir-akhir ini Mikail sering bertandang ke paviliun, sehingga Nafisa memilih berada ruang belakang atau teras paviliun sampai pria itu pergi.
“Nafisa, duduk sini, Nak.”
Hati Nafisa yang sedang murung sedikit terhibur mendengar bagaimana Maryam menyebut dirinya sebagai ‘Nak’.
Nafisa duduk di samping Maryam.
“Minggu depan, kita akan ke Jakarta. Kamu ikut nemenin ibu medical check up, ya.”
Netra Nafisa langsung berbinar.
“Apa Nafisa boleh …”
“Boleh, nanti Ibu temenin. Ibu juga pengin ketemu langsung sama Reno dan anak-anakmu.”
Diam-diam Mikail melirik ke arah Nafisa. Pria itu tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Nafisa jika mengetahui kebenaran.
Saat Mikail mendapatkan informasi dan membuktikan dengan mata kepala bahwa Reno dan Dela sudah menikah, dadanya menggelegak.
Sebagai laki-laki Mikail merasa terusik dengan keberadaan jenis laki-laki tidak setia macam Reno. Lelaki yang tega mengkhianati istrinya berkali-kali.
Mikail juga berhasil mendapatkan bukti bahwa jauh sebelum Nafisa menjadi gadai, Reno dan Dela sudah kerap berhubungan di penthouse, apartemen, bahkan villa-villa mewah yang mereka sewa. Waktu itu hampir tiap hari mereka melakukan perbuatan dosa.
Reno pun mempercayai Dela untuk mengelola dana perusahaan. Sebuah langkah bodoh yang mengakibatkan ia harus menggadaikan pernikahan dan istri.
Lebih laknat lagi ketika ia sudah tidak mampu membayar, Reno malah lari ke Dela dan menerima bantuan. Akhirnya Reno pun tenggelam dalam cinta dan kenyamanan yang ditawarkan Dela.
__ADS_1
Di lain pihak, Mikail juga mengharapkan jika akhirnya Reno dan Nafisa berpisah. Walau akan menyakitkan bagi wanita yang diam-diam ia sukai, namun Mikail akan memiliki kesempatan untuk mendekati Nafisa dan mengenalnya lebih jauh.
***