
"Ghani, kamu ga bisa seperti ini hubungan kita, sudah lama berakhir. Bukankah kamu juga memutuskan jika aku wanita tak berperasaan?"
"Ghani kamu itu pria aneh, kamu pria buruk yang aku kenal. Tolong jauhi aku, jangan pernah muncul dihadapanku!"
"Arum, please maafkan aku. Baiklah aku akan mengirim sharelock nanti malam! Aku tau dia tidak ada kan? Aku akan menjemputmu lewat pintu jendela. Please kali ini saja!"
"Kita saling pikirkan lagi! hubungan kita, apa harus lanjut atau enggak Arum. Kamu tau kan, aku akan dinikhai oleh orangtuaku!" ujar Ghani pergi.
Semua mata memandang dan Arum segera mengambil buku dan bergegas dari ruangan perpus.
"Cieh! bisa bisanya dia datang lagi. Ghani kamu jangan mempersulit hatiku, hidupku sudah sulit tak tentu."
Auch.. air mata apa ini kenapa jatuh, Arum pun mengusapnya, entah kenapa perasaan ini sikap ini. Harusnya aku ga bertemu pria yang mengatakan jika aku adalah wanita buruk, tapi kenapa dia datang lagi? bahkan rasa cinta Arum sangat dalam pada sosok pria bernama Ghani.
Sebal!! Sebal!! Gemuruh Arum. Ia terdiam dengan mengepal membulat kertas tak tau arah.
"Kenapa kamu Arum, kusut sekali macam itu ye?"
Antie, mendekat wajahnya kehadapan Arum yang berada dimeja kampus.
"Apaan sih kalian ini, aku sedang badmood tak ingin diganggu!" kedua temannya pun duduk disamping Arum. Menatap penuh tanya, karena mereka yakin terjadi sesuatu hal.
"Untuk apa kalian duduk disini, lagi pula aku tidak apa santai aja. Kalian lebih baik fokus materi kita ini ya! Aku dah senyum kok, tadi masih kesel aja sama wanita tadi yang aku tabrak." Arum mengeles, padahal Antie tau jika Arum bertemu mantannya yakni Ghani.
"Owh! gitu toh kiraiin wajahmu berubah kenapa, benar - benar macam kasut yang telah dipakai tak dicuci berbulan bulan kau Rum."
"Udah deh, jangan ngeledek terus. Mending perhatiin aja dosen kita cool ya?"
Antie tersenyum dan kembali akan makala yang harus diselesaikan. Setelah mendengar Arum berbicara tak sehat.
"Eeeiikh, tadi bilang apa kamu, Arum mulai kumat deh. Bae - bae jelalatan nanti ada yang kambuh cowonya datang,"
Antie meledek, tapi Arum hanya memutar malas untuk berdebat, karena yang dimaksud Antie adalah Jack. Kekasih yang tak di inginkan.
"Oke Antie, suka kamu deh mau bicara apa." cetus Arum, meninggalkan temannya itu.
__ADS_1
Lepas pulang kuliah, Arum sudah di depan menunggu, ia mampir ke kedai coffe.
Hari ini rasanya nafas terasa lega, karena Jack kembali ke paris. Ia pun meregangkan tangannya dan berjalan menepi di tempat duduk, sebuah taman ia melihat lalu lalang keramaian, anak kecil bermain.
"Huuuh, rasanya sepertinya indah sekali melihat anak itu bermain dengan riang, tak punya masalah dan beban."
"Kamu lihat apa Arum?"
Ghani tiba saja datang sudah duduk disampingnya. Arum memutar mata jika yang ia lihat hanya salah, tapi memang jelas di sampingnya adalah mantan kekasih yang ia cintai.
"Ghani please! kamu jangan disini! Aku gak mau kamu dekat sama aku!"
Ghani tetap pada pendiriannya. Ia memakaikan jaket hitam pada Arum, topi hitam dan kacamata, menggulung rambutnya masuk kedalam topi. Sehingga wanita dihadapannya terkejut dan tersenyum.
"Oke! kalau begini kamu aman. Sekarang kamu mau ikut aku sebentar atau duduk seperti ini?" Arum pun luluh.
"Baiklah, aku akan ikut padamu."
Ghani pun tanpa aba- aba langsung menarik tangan Arum, berjalan cepat masuk kedalam mobilnya.
"Jack kenapa kamu memperlakukanku, seperti ini, aku seperti hewan peliharaan. Suasana tanpa cinta didekatmu rasanya tak nyaman." batin Arum yang membuka ponsel dan menutup lipat ponselnya.
"Kenapa kamu tidak minta, kamu tidak ingin dijodohkan dengannya?" tanyanya pada Arum.
"Ghani. Bukankah kamu juga akan dijodohkan, begitupun aku. Aku juga lelah, bingung kenapa kedua orangtua kita tidak merestui?"
Dua puluh menit berlalu saling hening diam didalam mobil.
"Arum, tatap mata aku, sekarang please!"
Ghani, yang dari tadi memegang setir mobil diparkiran menatap intens wanitanya.
"Ghani, kita tak boleh seperti ini. Kamu sudah .... ?"
Namun jari telunjuk Ghani mendarat sempurna ke bibirnya, agar Arum diam tak banyak bicara.
__ADS_1
"Aku tau dan aku tidak akan berhenti untuk mengikutimu. Meski harus sembunyi sembunyi dan kamu menyamar. Jika didekatku dengan penyamaran seperti ini. Aku rela, sampai benar benar kamu milik seseorang aku akan berhenti. Arum, aku ingin kita saling dekat seperti ini!"
"Ghani tapi, .."
Arum sedikit panik, tapi Ghani menggenggam tangan Arum dan mengecup jari jemarinya.
"Maafkan aku, percayalah aku pernah membuatmu kecewa. Maafkan aku pernah bersikap dan mengabaikanmu. Tapi kamu tau, aku tak bisa menghilangkan kamu didalam hidupku. Semakin jauh aku semakin cinta bertambah dan tumbuh."
"Apa kamu mau menerimaku kembali, kita sama sama memperjuangkannya?"
"Ghani, aku! aku gak bisa melibatkanmu, aku takut kamu celaka nanti!"
"Arum, please! meski aku celaka olehmu. Aku akan berhenti jika Jack benar - benar melamarmu dan dia benar mencintai melindungimu. Izinkan kita kembali lagi. Aku mencintaimu, meski sadar aku salah di waktu yang tidak tepat!"
Aku ingin disampingmu, membantumu, dan jadilah Arum yang tegar berani, aku tau posisimu sulit.
Kita akan coba hadapi. Aku akan membantumu, dan memperjuangkannya. Akan ku tebus apapun luka yang membekas karena telah mengabaikanmu, dalam hubungan kita.
Arum terbawa suasana ia bingung harus berbuat apa ketika Ghani memaksa untuk kembali.
"Ghani aku bisa apa meski aku takut? Aku takut suatu hari musibah menghampiri lebih kuat dari sebelumnya, aku pun menderita jika kita berpisah darimu." batin Arum.
Cinta memang membuat mata tertutup, tapi dengan kekuatan cinta, semua masalah pasti tak mungkin jika tak ada jalan keluarnya.
akan kah kamu bisa melewatinya bersamaku.
Hari itu, Arum sadar jika cinta pertamanya ada pada sosok pria bernama Ghani. Begitupun sebaliknya. Tapi jeruji penghalang restu dan keluarga mereka masing masing telah menjodohkan pada pasangan yang dianggap baik untuk bagi keluarganya.
Arum, sedikit pening. Kala itu mereka sedang duduk di taman, makan coklat dan bercerita. Tapi saat itu juga. Kepala Ghani dipukul dari arah belakang, dan saat Arum menoleh, ia terkejut Ghani tergeletak. Tiba saja ia dibius oleh seorang pria tak dikenal memakai topeng.
Malam itu, adalah malam bersejarah. Sosok Arum tak kembali melihat Ghani. Ia sudah berada di dalam kamarnya, ketika pagi cerah menyingsing dari celah jendela.
"Pah, aku dimana?" tanya Arum, pada sang papa yang sedang duduk menatap tajam.
Tbc.
__ADS_1