Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
I Owe You


__ADS_3

"Ada apa denganmu, Milla? Kamu tampak resah sekali?" tanya Bob saat melihat Camilla yang mondar-mandir tidak jelas. Terkadang ia menggigiti kukunya, mengetuk meja dengan jarinya, dan kadang tiba-tiba berdiri secara mengejutkan.


"Bob, bisakah aku bercerita kepadamu?" tanya Camilla.


Bob menghentikan aktifitasnya dan duduk di samping gadis yang sedang galau itu. "Anggap saja aku ayahmu, Milla. Ceritakan seluruh kegundahan hatimu," ucap Bob lembut.


"Kau tau Joe Forest, kan? Akhir-akhir ini kami dekat karena urusan keluargaku. Dia sosok pria yang baik, dia seperti kakakku karena dia jauh lebih tua dariku. Tapi, perasaan itu terus berkembang, Bob. Aku menjadi nyaman dekat dengannya. Kemarin malam, dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku harus jawab apa, Bob?" tanya Camilla, menutup wajahnya.


Pria paruh baya itu tertawa geli melihat Camilla. "Kamu sudah dewasa rupanya, Milla. Jawab saja apa yang ingin hatimu lakukan. Ikuti kata hatimu," jawab Bob.


Camilla memgangkat wajah cantiknya dan menatap Bob putus asa. "Tidak semudah itu, kan? Kalau aku bisa jujur, di hatiku masih ada celah sedikit dan ada Andrew di dalam sana. Aku juga tidak enak kepada Millo kalau aku menerima Joe. Aku bingung, Bob. Andai saja tidak ada cinta-cintaan seperti ini," kata Camilla lirih.


Bob sontak tertawa. "Camilla, Camilla. Kalau tidak ada cinta-cintaan seperti yang kau maksud, aku tidak akan mungkin duduk di sampingmu dan melupakan pekerjaanku. Itu kulakukan karena aku mencintaimu," sahut Bob.


"Tapi itu cinta yang berbeda dengan laki-laki itu. Aku harus jawab apa, Bob?" tanya Camilla lagi.


"Dengarkan hatimu. Aku akan memberikanmu cuti malam ini untuk memikirkan apa yang hatimu kehendaki. Pulanglah!" tukas Bob memulai kembali aktifitasnya.


Camilla menatap pria yang senang menyampirkan lap kain di pundaknya itu dengan tatapan tidak percaya. "Kau mengusirku, Bob? Kejam sekali," balas Camilla tersinggung.


Bob mendorongnya sambil tersenyum. "Dengarkan hatimu dan ikuti dia. Ingat, ini saatnya kamu untuk bahagia, Milla," sahut Bob lagi.


Camilla keluar dari bar milik Bob dengan bersungut-sungut. Karena hari itu masih sore, ia bingung harus kemana. Sedangkan Joe menunggu jawabannya malam ini. Ini tidak semudah saat Milla menjawab pernyataan cinta dari Millo atau bahkan lamaran Andrew.


"Millo, bisakah aku pinjam motormu?" tanya Camilla yang memutuskan untuk mengunjungi keluarganya.


Millo yang saat itu sedang asik memainkan keyboard, menoleh ke arah Camilla. "Kamu mau kemana?" tanya Millo..


"Mengunjungi ayah ibuku dan juga Charlie," jawab Camilla singkat. Ia sudah memakai jaket hoodie denimnya dan mengambil sarung tangan serta helm.


"Kan jauh, Camilla. Aku antar! Naik mobil saja, aku akan panggil supirku," kata Millo meninggalkan keyboardnya.


Camilla menggelengkan kepalanya. "Aku ingin sendiri. Ada yang harus kupikirkan dan lagi Bob menyuruhku cuti hari ini," ucap Camilla.

__ADS_1


"Heh? Lalu aku?" Millo bertanya.


Camilla mengangkat kedua tangannya ke samping. "Tapi kurasa kau harus tetap bekerja karena hari ini ada yang membooking tempat itu selama satu jam," jawab Camilla.


Setelah berpamitan dan perdebatan yang sengit dengan Millo, akhirnya Milla diizinkan mengendarai motor besar itu seorang diri.


Jarak dari Kota Z ke rumah tahanan di pusat kota cukup jauh, dan membuat Camilla harus berhenti 2 kali selama di perjalanan. Yang terakhir ia berhenti karena Millo menghubunginya.


"Ya belum sampailah! Bagaimana aku bisa sampai dengan cepat kalau kau menghubungiku setiap 15 menit sekali! Aku akan mengabarimu begitu aku sampai!" tukas Camilla dan menutup kembali ponselnya.


Setelah berada di atas kendaraan roda dua itu selama 2 jam, sampailah Camilla di rumah tahanan. Saat ia mengisi buku tamu untuk masuk ke dalam rutan, ia bertemu dengan Andrew.


"Camilla," sapa Andrew.


Camilla menoleh. "Hai, Andrew. Sedang apa kamu disini?" tanya Camilla.


"Tentu saja ingin mengunjungi keluargamu, untuk apalagi memangnya?" tanya Andrew.


"Ada yang harus kuselesaikan dengan ayahmu dan lagi aku ingin tau kondisi Charlie karena menurut pengacaraku, dia mengalami shock yang cukup berat," kata Andrew.


Sepintas rasa khawatir tampak di wajah Camilla. Namun, ia berhasil menyamarkannya. "Apa yang harus diselesaikan?" Mereka berdua berjalan menuju sel tempat ayah Camilla.


"Apa saja, ini dan itu," jawab Andrew.


"Camilla!" seru Tuan Madison begitu melihat ayahnya dari balik jeruji besi.


Camilla dan Andrew duduk di depan meja kaca dan mengambil telepon untuk berbicara dengan ayahnya.


"Papa, bagaimana di dalam sana?" tanya Camilla.


"Lihat saja badanku. Belum 7 hari aku disini, badanku menyusut," jawab Tuan Madison. Ia sengaja membuat Camilla khawatir dan merasa bersalah.


"Makan saja yang banyak dan jangan pilih-pilih makanan, itu akan membuat papa bertahan di dalam sana," balas Camilla, suaranya mulai terdengar tercekat. Camilla sudah tidak dapat memandang ayahnya lagi.

__ADS_1


"Keluarkan aku dari sini dengan bantuan Joe Forest. Kalau kamu melihat kondisi saudarimu serta ibumu, itu lebih memprihatinkan," titah Tuan Madison.


Camilla menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa," jawab Camilla.


Wajah Tuan Madison sekarang berubah menjadi menakutkan. Andrew yang menyadari kalau Tuan Madison mengintimidasi Camilla, segera merebut telepon itu dari tangan Camilla.


"Apa yang kau inginkan dari Camilla, Tuan Madison? Dengar, tujuanku kesini untuk meminta pembelaan darimu karena Majelis Hakim memintanya untuk meringankan hukumanmu, tapi kurasa itu tidak kuperlukan lagi. Membusuklah kau disana, Tuan!" tukas Andrew kesal.


Mata Tuan Madison memandang tajam ke arah Andrew dan Camilla secara bergantian. Andrew mengajak Camilla untuk segera pergi dari sana.


"Hei, kamu tidak perlu memikirkan ucapan ayahmu atau menjalankan apa yang di perintahkan olehnya, Milla. Aku tau apa yang kamu pikirkan," kata Andrew.


Camilla mengalihkan pandangannya untuk menghindari air mata yang nyaris saja terjatuh dari pelupuk matanya. "Aku merasa bersalah kepada mereka karena memberikan kesaksian yang memberangkatkan hukuman mereka," jawab Camilla.


Andrew memeluknya. "Tidak ada yang menyalahkanmu, Milla. Kamu sudah melakukan yang seharusnya kamu lakukan dan aku bangga padamu," ucap Andrew.


Camilla menyeka cairan putih bening yang meluncur dengan cepat membasahi pipinya. Andrew mempererat pelukannya.


Setelah puas mengeluarkan emosinya, Andrew melepaskan pelukannya. "Sudah hampir malam, kamu mau makan bersamaku?" tanya Andrew.


Camilla melihat jam tangannya. "Aku tidak bisa, aku sedang ingin memikirkan sesuatu dan sekarang aku tidak punya waktu untuk itu. Maafkan aku, Andrew dan terima kasih untuk bahumu," ucap Camilla lagi, ia mengambil kunci motornya dan bergegas menaiki kendaraan pinjaman Millo itu.


Namun, Andrew menahannya. "Makan saja dulu bersamaku. Kau harus makan, setelah itu kamu boleh sendirian. Ayo!" tukas Andrew.


Sebelum Camilla menepis tangan Andrew, tangan lain memaksa Andrew untuk melepaskan cengkeraman tangannya dari Camilla. "Ia milikku, Andrew,"


Andrew san Camilla serentak melihat siapa pemilik tangan besar itu. "Joe?"


"Maafkan aku, tapi gadis ini berhutang jawaban padaku. Camilla naiklah!" Joe mengambil alih motor besar itu dan menarik Camilla untuk naik di belakangnya.


"Bye Andrew. Terima kasih sudah mau berbaik hati kepada gadisku. Camilla, apa kau sudah siap?" tanya Joe, kemudian ia berpamitan kepada Andrew dan melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tinggi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2