
Banding Tuan Madison ditolak oleh Majelis Hakim dengan alasan, keputusan yang sudah ditetapkan tidak dapat diganggu gugat.
Camilla tidak ingin datang ke persidangan saat itu karena ia tidak tega melihat keluarganya dijatuhi hukuman seperti itu. Ia hanya menunggu di dalam mobil.
Seorang pria berjas cokelat tua berjalan menuju mobil sedan berwarna merah dengan simbol jaguar melompat di depannya.
"Maaf menunggu lama," kata pria itu.
"Tidak apa-apa. Bagaimana dengan keluargaku, Joe?" tanya Camilla kepada pria bernama Joe itu.
Raut wajah Joe berubah menjadi sedikit murung karena ia tak tau harus bahagia atau sedih saat menyampaikan kabar tentang keluarga Camilla.
"Maaf karena aku melepaskan keluargamu," sahut Joe tertunduk.
"Itu bukan salahmu," jawab Camilla.
"Masa tahanan 10 sampai 20 tahun di dalam sini," sahut Joe lagi.
Camilla menghembuskan napasnya. "Oke, semoga mereka bisa bertobat dan menjadikan ini sebagai pelajaran berharga untuk mereka,"
***
Di malam sebelum Joe bertemu dengan Tuan Madison dan memutuskan untuk tidak menjadi pengacara keluarga itu lagi. Joe bertemu dengan Camilla.
"Wah, seorang Camilla Madison mengajakku keluar malam ini untuk makan malam romantis," kata Joe saat itu.
Camilla menatap netra pria yang memiliki kepercayaan diri cukup tinggi itu. "Kalau menurutmu ini romantis, terima kasih. Uangku hanya cukup mentraktirmu di kedai kecil seperti ini,"
Joe membuka vest abu-abunya yang ia kenakan saat itu dan hanya memakai t-shirt yang menampakan lengan kekar serta otot dadanya yang tampak nyaman untuk disandari.
"Tidak masalah untukku selama itu bersamamu, di emperan jalan pun tidak masalah," goda Joe sambil tersenyum.
Camilla berdecih dan memalingkan wajahnya. "Cih!"
Pria berwajah bak lukisan itu tentu saja memiliki target. Begitu ia menyadari perasaannya, dengan cepat Joe menyusun taktik dan strategi bagaimana caranya untuk mendapatkan hati Camilla.
Joe sempat melihat wajah Camilla sempat merona. Detak jantung Joe pun kian cepat kala melihat semburat merah pada wajah Camilla.
__ADS_1
"Mau pesan apa?" tanya Camilla memberikan buku menu kepada Joe.
Joe mengambil buku menu dari tangan Camilla, ia menbaca buku tersebut dan memesan semua yang ada di buku menu itu.
"Buang-buang uang saja! Siapa yang akan makan makanan sebanyak itu, Joe?" tanya Camilla.
Joe mengacungkan tangannya. "Aku suka mengemil, jadi aku akan menghabiskan semuanya. Kebetulan aku juga sedang lapar," jawab Joe menunjukan senyuman lebarnya.
Mau tak mau, Camilla pun tersenyum.
"Tujuanku mengajakmu untuk bertemu karena aku ingin mengetahui sejauh mana kasus Charlie?" tanya Camilla memulai percakapannya.
Joe menceritakan tentang pertemuannya dengan Tuan Madison beberapa waktu lalu serta pertemuan pertama mereka. "Yang membuatku bingung adalah, kenapa keluargamu begitu membencimu? Apakah kau pernah melakukan kesalahan?" tanya Joe.
Camilla terdiam, matanya memandang gelas kaca yang dipenuhi oleh tetesan air yang mencair. "Aku hanya bercerita ini kepadamu karena kamu pengacara keluargaku. Maksudku, paling tidak kamu bisa membantu mereka nantinya," jawab Camilla.
"Charlie adalah adikku, aku lahir lebih dulu. Kami berbeda 10 sampai 15 menit. Orang tuaku menunggu Charlie untuk segera keluar tapi ternyata Charlie tidak kunjung keluar. Begitu keluar, wajah Charlie sudah membiru dan ia tidak menangis. Menurut dokter, Charlie kehabisan air ketuban serta nutrisi ibuku dan perbedaan berat badan kami juga cukup jauh saat itu. Orang tuaku berpikir aku telah mengambil segala sesuatu yang menjadi hak Charlie juga," Camilla menceritakan itu dengan nada getir. Tampak sekali ia ingin menangis tapi ia bertahan supaya kekuatannya tidak runtuh.
"Maka dari itu perlakuan ayah dan ibuku kepadaku sangat berbeda. Walaupun menurut orang-orang aku lebih cantik aku lebih cerdas, tetap saja orang tuaku lebih sayang kepada Charlie. Dan tampaknya hal itu akan berlaku sepanjang hidupku," sambung Camilla lagi.
Entah kenapa, Joe sekali memeluk Camilla saat itu. Gadis yang biasanya tegar dan pemberani itu, saat ini tampak lemah dan rapuh.
Joe juga merasa bersalah karena telah menceritakan pertemuannya dengan Tuan Madison beberapa waktu lalu apalagi ia sempat mengatakan kalau dari ucapan Tuan Madison seperti menjual Camilla kepadanya.
"Maafkan aku kan aku tidak tahu kalau ternyata ceritanya seperti itu," ucap Joe.
Camilla sudah kembali menjadi Camilla yang biasa. Joe sempat terkejut melihat perubahan pada air mukanya. Camilla menyeringai lebar dan menyantap hidangan yang sudah disajikan di depan meja mereka.
Dari kejadian itulah, Joe memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pengacara keluarga Madison.
***
Joe melajukan mobilnya untuk kembali ke kota Z yang jaraknya berkilo-kilometer jauhnya dari pengadilan. Jarak dari pengadilan sampai ke kota Z kira-kira menghabiskan waktu 4 jam.
Di dalam mobil, Camilla tertidur dengan nyenyak. Joe paham kalau ada beban yang sangat berat di pundak Camilla.
Setelah 4 jam kurang sedikit, akhirnya sampailah mereka ke Kota Z.
__ADS_1
"Millo, aku sudah sampai. Buka pintunya,sekarang" tulis Samm dalam pesannya. Namun, Millo tak kunjung membalas pesan dari kakaknya itu.
Karena tidak sabar, Joe pun menggendong Camilla dan dengan segala kekuatan yang ada ia mendobrak pintu apartemen Millo.
Brak!
Pintu apartemen pun menjebak terbuka. Coba mencari kamar Camilla dan membaringkannya di atas ranjang berwarna putih dengan selimut merah maroon bermotif bintang-bintang.
Joe membelai rambut Camilla dan ia pun ikut berbaring di samping ranjang Camilla.
Keesokan harinya, Joe terbangun lebih dulu dan memanggil Millo. Namun, ia tidak menemukan Millo dimana-mana. Tak mau pusing, Joe kembali ke kamar Camilla. Dilihatnya gadis itu sudah terbangun.
"Pagi," sapa Joe.
"Hai, Joe. Selamat pagi juga. Dimana Millo?" tanya Camilla.
Joe mengangkat kedua bahunya. "Aku juga sedang mencari di mana Millo,"
Camilla tidak mempermasalahkan di mana Milo saat itu dan ia mulai sibuk melakukan pekerjaan rumahnya. Ia bertanya kepada Joe apa yang sedang ia inginkan untuk sarapan.
"Aku akan memakan apa saja yang telah kamu buatkan untukku," jawab Joe.
Camilla mengangguk. Ia mengeluarkan sebonggol jagung serta beras yang akan ia masak menjadi bubur jagung dengan tambahan asparagus serta sup telur.
Tangan Camilla dengan cekatan memotong ini dan itu serta menyiapkan meja makan untuk mereka makan nanti. Kamila memberikan segelas susu untuk Joe. "Untukmu, lumayan untuk mengisi perutmu yang mungkin sudah lapar," kata Camilla.
Joe tidak hanya mengambil gelas susu tapi ia juga mengambil kedua tangan Camilla. "Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya Joe.
"Apa itu?" tanya Camilla berusaha melepaskan tangannya.
"Apakah kamu akan menerimaku jika aku berkata kalau aku mencintaimu. Maksudku mungkin belum sampai tahap cinta tapi aku menyukaimu dan rasa sukaku ini memaksaku untuk memilikimu," jawab Joe.
Camilla seakan tidak terhipnotis oleh tatapan tajam Joe. Iya tidak dapat bergerak dan tidak dapat menghindar. Ia merasakan seonggok daging yang ada di dalam tubuhnya berdegup-degup kian kencang.
"Katakanlah kalau kau juga menyukaiku, Camilla," desak Joe.
...----------------...
__ADS_1