
"Dimana Milla? Biasanya dia sudah menyiapkan segalanya," tanya Millo siang itu.
Siang itu, ia kembali ke apartemennya untuk menemui Milla dan ingin mengajaknya makan siang bersama. Namun, Milla tidak ada disana. Ia meninggalkan peralatan musiknya dengan sangat tidak rapi, berbeda sekali dari Camilla yang biasanya.
Sambil berpikir, Millo merapikan peralatan musik itu. Dia mencoba menghubungi ponsel Camilla.
Drrt! Drrrt!
Getarannya terasa dekat dengan Millo. Millo mencari sumber getarannya. Dan ternyata ponsel Camilla tertinggal di atas meja tamu.
Millo mengambil ponsel milik Camilla, dan memutar-mutar ponsel tersebut. 'Apa mungkin Milla diculik lagi?' ujar Millo bermonolog.
Dengan mempertahankan pemikiran seperti itu, Millo segera mengambil kunci motornya dan bergegas ke kantor polisi untuk melaporkan penculikan Camilla.
Sementara itu, Camilla dan Tuan Oak sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran yang sudah di pesan sebelumnya oleh Tuan Oak saat Milla bersiap-siap.
Setibanya mereka disana, Tuan Oak mempersilahkan Camilla untuk masuk terlebih dahulu. Tuan Oak memesan ruangan privat di restoran itu supaya tidak ada yang mengganggu percakapan mereka.
"Silahkan, Camilla. Santai saja dan aku harap kamu tidak perlu sungkan kepadaku karena kita sudah saling mengenal cukup lama," kata Tuan Oak.
Camilla tersenyum. "Baik, Tuan Oak," jawabnya.
Tak lama, pelayan datang dan meminta mereka untuk segera memesan. Tuan Oak memesan dan Camilla meminta kepada Tuan Oak untuk memesan apa yang Tuan Oak pesan. Untuk menghormati Tuan Oak.
"Kupikir kau sudah tau maksud kedatanganku?" tanya Tuan Oak.
Camilla menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, tapi saat Tuan Oak muncul di depan pintu apartemen kami, kupikir anda mencari Andrew dan memintanya untuk pulang," jawab Camilla sopan.
Tuan Oak tertawa mendengar jawaban Camilla. "Hahaha. Aku tidak berniat menyuruh Andrew pulang. Biarkan dia mandiri disana, sehingga dia tau kalau menjadi sepertiku tidak mudah. Dan segalanya butuh proses. Selama ini, dia hanya mengandalkanku saja tanpa berpikir. Aku tidak heran kalau istrinya sendiri berhasil mengelabuinya," kata Tuan Oak.
Camilla terdiam dan memberikan senyuman sebagai respon untuk pernyataan Tuan Oak.
"Maukah kamu menceritakan kepadaku mengenai kasus penculikanmu?" tanya Tuan Oak.
Camilla kembali tersenyum. "Kurasa tidak tepat dikatakan sebagai penculikan, karena itu ulah saudariku sendiri," ucap Camilla.
"Sama seperti saat kecil, kami saling menyembunyikan barang karena cemburu dan iri. Seperti itulah," sambung Camilla.
__ADS_1
"Kenapa saat itu kamu tidak melapor?" Tuan Oak bertanya lagi.
Camilla meminta ijin untuk minum terlebih dahulu, dan Tuan Oak mempersilahkannya.
"Aku berniat melapor tapi kupikir tidak ada laporan kehilangan jadi aku mengurungkan niatku untuk melapor. Dan lagi, saat itu aku panik. Yang ada di kepalaku hanyalah aku lapar, aku ingin makan, dan bagaimana caraku bertahan di kota itu," jawab Camilla.
Tuan Oak terkekeh. "Jadi, kamu mementingkan perutmu daripada tindakan kriminal yang menimpamu?" tanya Tuan Oak.
Camilla menutup mulutnya dan tertawa. "Iya. Karena mereka sepertinya membiusku dan meletakanku begitu saja di depan apartemen Millo. Aku belum makan malam saat itu, dan begitu sadar, aku kelaparan. Hahahaha," jawab Camilla.
Tuak Oak ikut tersenyum mendengar Camilla tertawa. "Dari awal Andrew mengenalkanmu kepadaku, aku sudah yakin bahwa kamu anak baik dan cerdas. Aku minta maaf karena aku tidak bisa membedakan kalian. Hatiku berkata ada yang salah dengan pernikahan Andrew tapi aku bersikeras kepada aturan, tidak boleh bercerai dan aku memaksakan itu kepada Andrew," kata Tuan Oak terdengar tulus saat meminta maaf.
Camilla menggerakkan tangannya. "Tidak perlu meminta maaf kepadaku, Tuan Oak. Aku menganggap masalah ini sudah lewat dan selama lima tahun aku berhasil hidup dengan baik dan bertahan cukup tangguh hingga saat ini," ucap Camilla.
"Aku memang sempat kecewa, tapi kupikir kecewa tidak bisa di makan, di beri saus sambal pun tidak bisa. Jadi, aku sudah membuang jauh-jauh rasa sedih dan kecewaku. Tapi, kecewa terhadap orangtuaku itu masih ada walau pun tinggal, sekecil ini," sambung Milla sambil membentuk bulatan kecil dengan jari-jarinya.
Tuan Oak dapat merasakan kekecewaan yang di rasakan Camilla dari suara Camilla yang getir saat menceritakan tentang keluarganya.
"Camilla, seandainya aku ingin membuka kasus lima tahun lalu, dan mempindanakan orang tua serta saudari kembarmu, apa kamu keberatan? Karena aku menganggap ini sebagai tindakan kriminal. Penculikan dan penipuan. Maukah kamu bekerja sama denganku untuk mengungkap kasus ini? Anggap saja kamu memberikan pelajaran kepada keluargamu," tanya Tuan Oak.
Dan sekarang, di hadapannya, seseorang akan mengungkap hal ini. Keadilan sudah berada di depan mata Camilla namun dia harus merelakan orangtua serta saudara kembarnya untuk diadili. Apakah dia sanggup?
***
"Hoh, itu Josh. Sedang apa dia disana?" Andrew yang baru saja kembali dari tempat bekerjanya melihat mobil ayahnya terparkir rapi di depan apartemen Millo.
'Apakah akhirnya papa menyerah dan memintaku untuk kembali? Huh! Tidak semudah itu, papaku sayang,' ujar Andrew dalam hati sambil terkekeh membayangkan ayahnya akan memeluk dan memohon padanya supaya ia kembali.
Dengan berbekal imajinasinya yang sederhana, ia berlari menuju apartemen Millo. Namun di tengah jalan, sebuah motor hampir saja menabraknya.
"Hei! Hei!" seru Andrew menghentikan motor itu. Ia mengenal motor itu, dan benar saja Millo berada di balik helm berwarna hitam itu.
"Oak, ikut aku ke kantor polisi sekarang!" tukas Millo membuka kaca helmnya sehingga mata hijaunya menyembul dari balik kaca helm.
"Kantor polisi? Untuk apa?" tanya Andrew seraya menaiki motor besar itu.
"Camilla diculik! Mereka menculik Camilla lagi!" jawab Millo nyaris berteriak karena sekarang ia melajukan motornya dengan kecepatan sangat tinggi.
__ADS_1
"Diculik? Mereka itu siapa! Ayo, cepatlah!" titah Andrew, rasa panik dengan cepat menyelimutinya.
Sesampainya mereka di kantor polisi, Millo dan Andrew segera melaporkan penculikan Camilla.
"Namanya siapa?" tanya salah seorang petugas polisi yang sudah siap mencatat.
"Millo Forest dan ini teman saya, Andrew Oak," jawab Millo.
Polisi itu menatap Millo tidak sadar. "Untuk apa aku butuh nama kalian? Aku butuh nama korbannya? Siapa nama teman kalian yang di culik itu?" tanya polisi itu lagi, nada suaranya terdengar sangat kesal.
"Ooh. Camilla. Camilla Madison," jawab Millo dan Andrew saling bersahutan.
"Madison? Tunggu! Bukankah nama kalian sama seperti nama keluarga konglomerat yang tinggal di pusat kota? Apa ini main-main atau laporan palsu?" tanya polisi itu sekarang ia curiga kepada mereka.
Dengan tak sabar, Millo dan Andrew mengeluarkan tanda pengenal mereka. Polisi itu segera memeriksanya.
"Kalian harus melaporkan penculikan ini ke pusat kota, bukan disini," kata polisi itu.
"Loh, kan diculiknya disini? TKPnya juga di apartemenku. Yang jelas, aku mau kalian memeriksa apartemenku sekarang!" titah Millo dengan gaya bosnya.
Polisi itu tak bisa berkata-kata lagi dan dengan cepat meminta armadanya untuk segera memeriksa apartemen Millo.
Sesampainya disana, iring-iringan mobil polisi serta suara sirine yang kencang membuat warga kota Z, menoleh ke arah mereka dan bertanya-tanya apanyang terjadi.
Polisi segera turun, dan memasang garis kuning di sekitar apartemen Millo. Tak beberapa lama sebuah mobil memasuki halaman parkir apartemen Millo.
"Loh, Andrew? Ada apa ini?"
"Ca...Camilla? Kamu tidak jadi di culik?" kali ini giliran Andrew yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Millo pun segera keluar untuk melihat keributan apa yang terjadi di luar dan ia terkejut begitu melihat Camilla berada disana dalam kondisi sehat dan tanpa kekurangan satu apa pun.
"Mi...Milla?" tanya Millo heran.
Mereka bertiga kini saling berpandangan,
...----------------...
__ADS_1