
"Kamu lapar Arum, kita mampir resto tempat biasa ya?"
"Heuuum, kamu benar nekat ya datang kekampus Ghani, padahal aku sudah lelah karena kita terhalang restu."
"Biar saja, memang kenapa kamu kan bukan istri orang. Apa kamu telah bertunangan dengan Jack?" Arum hanya terdiam mendengarkan.
"Untuk apa kamu khawatir aku sudah disini. Maaf andai aku tau saat tadi kamu dihampiri wanita Jack, maaf aku terlambat melindungimu." Ghani menatap sang kekasih.
"Tapi, kamu tau aku sebenarnya sakit saat wanita tadi bicara seperti itu. Bahkan dikampus mungkin aku akan menjadi bahan gunjingan karena wanita tadi masuk kekantin dengan ramai menuduhku."
"Tenanglah kamu ga usah khawatir ya! aku janji akan membantumu. Aku paham kamu ingin memberontak berbicara pada papa, tapi aku yakin kamu juga punya alasan dan takut jantung papa semakin buruk kan, aku rindu kamu yang kuat dan tegas."
"Terimakasih Ghani. Aku sangat berterimakasih padamu."
Lama mereka menghabiskan waktu makan dan berbicara penuh. Arum yang tiba disatu pantai meregangkan kedua kakinya di atas air laut, ia duduk bersama dengan Ghani diujung jembatan, menatap air laut dan ombak memang benar menenangkan juga mendengar suara burung yang terbang dengan angin kencang.
"Kenapa kamu melamun Arum?"
"Aku hanya mengingat Shiren, Ia sahabatku, aku lupa mengenalkanmu padanya. Dia bilang jika menatap ombak dipantai dan air laut membuat pikiran menjadi tenang. Sesulit masalah pasti akan ada jalan keluarnya bukan?"
"Mau aku antar ketempatnya?" ujar Ghani, tapi ia sedikit berfikir baik jika nama itu mempunyai kesamaan saja.
"Jangan Ghani please, aku ga mau libatkan mereka lagi, sudah cukup Ia juga mendapatkan kesulitan. Jangan biarkan ia terlibat antaranya dengan Jack. Shiren terhubung kembali. Bagaimanapun aku tak ingin merusak hubungannya karena masalah aku. Karena aku yakin sesuatu masih menyimpan dalam perasaannya. Kasian dia juga sudah mempunyai kehidupan. Jika aku menambah bebannya rasanya akan membuat masalah baru."
"Baiklah maafkan aku ya Arum, aku janji padamu tak akan bercerita."
Ghani pun menyentuh pipi Arum. Setelah itu Arum pun bersandar dipundak Ghani sambil memainkan memercik air dikakinya.
"Arum maafkan aku yang terlambat menyatakan padamu, Aku egois karena mencintaimu tapi aku menginginkan dirimu lebih dulu, harusnya saat diparis, aku tidak meninggalkanmu, jika tidak kamu tak akan terjerat seperti ini pada Jack!"
"Sudahlah. Semua ini sudah terjadi hanya satu kita harus menghadapinya dan menyelesaikannya. Aku hanya pasrah akan apa nanti yang terjadi itu saja."
Arum merogoh ponsel nya, terkejut ketika ia salah mengambil ponsel. Lalu ia sadar harus menjenguk sang papa di rumah sakit.
__ADS_1
"Aku harus ke rumah sakit."
"Aku antar, aku akan ikut bersamamu."
Hingga Arum pun tak bisa menolak, karena ia kagum akan sikap Ghani yang semakin hari membuktikan dirinya serius, untuk mendapat restu sang papa.
Tiba dirumah sakit, satu jam kemudian Arum setia menunggu diluar, dan diantarkan oleh Ghani. Arum pun masuk, dan Ghani senyum menyapa, duduk kembali ke luar. Setelah meletakkan buah.
"Kenapa kamu diantar dia, ndok.?"ucap papa tjien,
"Pah, please papa tidak usah berfikir tak enak, Arum membuat skripsi dan kebetulan tempat magang Arum dekat dengan Ghani. Lagi pula Ghani bisa membantu papa dari ranjang, Arum bereskan yang lain dulu ya."
Saat Arum pergi ke bagian administrasi, papa tjien tetap angkuh dan masam pada Ghani.
Ghani bersabar akan perlakuan papa Arum.
Karena sepenuhnya kesalahannya yang telah mengabaikan Arum, dan membiarkan Jack lebih dulu masuk.
Ucapan Ghani. Namun hanya mendapat balasan isyarat saja. Sepanjang perjalanan mereka diam hingga berada di tepi rumah. Ghani pun mengantar hingga papa tjien ke kamar dan beristirahat.
"Ghani makasih ya kamu sudah antar. Oh ia kamu pulang dulu aja sudah larut malam. Juga untuk soal tadi maafkan sikap papa ya!"
"Tak apa Arum, aku akan sabar perlahan."
Arum tersenyum ketika Ghani melontarkan kata itu.
"Ghani semangat ya berjuang ambil hati papa, bye selamat malam." Ghani pun tersenyum memberi balasan dan kode membulat tanda cinta pada kekasihnya itu.
Sepanjang perjalanan, ia merasa harus tetap berusaha mengambil hati calon mertuanya itu. Dulu kesalahan Ghani adalah mengabaikan Arum, karena ia terlibat masalah intern dalam keluarga. Sehingga kala Arum memintanya datang ke rumah, mengakui dirinya adalah kekasihnya. Ghani saat itu tak bisa datang, hingga satu pekan kembali menjelaskan. Papa Tjien tak merestui, menganggap Ghani pria tidak gentle dan bertanggung jawab.
'Kali ini, aku akan lebih baik lagi menjagamu Arum. Akan aku buktikan jika aku dan kamu tetap bersatu.' batin Ghani.
Sementara di lain tempat, Ghina merasakan hal tak biasa. Ia menghubungi Ghani untuk tidak pulang, dikarenakan di rumah ramai kedatangan keluarga Shiren. Karena sang papa terlihat sumringah kala kedua orangtua Shiren datang, dan Ghina mendengarkan jika perjodohan Shiren dan Ghani akan tetap berlangsung.
__ADS_1
Ghani yang menerima pesan itu, ia tetap pulang dan akan menolak mentah mentah di depan papanya kala perlu. Karena ia tidak peduli, Bunda Hanum memang lemah. Tapi ia sedikit kesal, meninju sebuah pohon karena memutar otak, bagaimana cara menolak perjodohan. Tanpa nama baik sang papa tidak semakin rumit, yang akan membuat Bundanya masuk rumah sakit kala syok.
"Arrggggh." teriak Ghani kesal.
***
Esok Harinya.
Menjelang sore Arum yang sudah membersihkan diri, ia pun mengecek ponsel. Begitu banyak panggilan Jack, vcall. Baru saja ingin membalasnya Jack pun sudah memanggil sambungan vcall.
"Hello sibuk kau gadis, kemana saja kamu?" ucap Jack,
"Maaf Jack ponsel ku tertinggal, maaf sekali lagi."
"Arum dengarkan perkataan ku sekali lagi, jangan membantah atau mengelabui saat satu jam lagi, bersiaplah aku akan menjemputmu!"
"Ta - tapi Jack papa baru sembuh."
Namun sia - sia Arum tak dapat membantah karena ponsel telah dimatikan lebih dulu oleh Jack, tiba saja papa Tjien datang ke kamar, dan bicara jika papa sudah membaik lebih baik.
Arum hanya menurut jika menyangkut papa, karena papa telah mengetahui obrolan pembicaraannya dengan si pria besar gila.
"Pah, sebentar lagi Arum pergi sebentar saja, papa gak apa ditinggal." papa Tjien pun kala itu mengangguk, raut wajah terlihat senang jika mendengar seorang Jack, entah harus menjelaskan perlahan seperti apa, jika papa tau Jack sudah akan menikah dan pernah menikah.
Senyum terpaksa Arum memeluk papa, ia hanya sayang papa. Namun ia harus berkorban perasaan demi seorang papa agar bahagia.
Satu jam kemudian Arum sudah rapih dengan gaun coklat bergaris maron.Terlihat Jack menemui papa dengan bucket bunga cantik, ia pun memakai jas setelan senada, juga ia memberikan sebuah kotak kecil didepan papa Arum.
Tapi saat itu juga, Arum menatap ponselnya berdering. Dan itu adalah nama panggilan dari Ghani.
"Siapa yang meneleponmu?" ujar Jack, menatap Arum.
Tbc.
__ADS_1