Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
My Heart Is : Open


__ADS_3

Kediaman Andrew


"Tuan Oak, saya akan bacakan jadwal hari ini." sahut Josh bersiap membuka tablet untuk mengecek jadwal tuannya.


Namun, Andrew mengangkat tangannya ke arah Josh. "Kosongkan semua jadwalku sampai besok. Aku ingin sendiri selama dua hari ini. Dan aku akan membawa mobilku sendiri, tidak perlu diikuti." perintah Andrew.


Josh termenung mendengar ucapan Andrew yang tidak pernah meminta untuk mengosongkan jadwal apa pun masalah yang sedang ia hadapi.


'Nona Madison, apa yang telah kamu lakukan terhadap Tuan Oak?' batin Josh dalam hati.


"Tapi, Tuan. Hari ini ada jadwal penting yang harus anda hadiri. Jika anda tidak datang...."


Brak!


Andrew menggebrak meja, "Bisakah kamu mengerti kondisiku sekarang? Aku sedang tidak ingin melakukan apa pun! Aku akan ke kota itu sekali lagi! Wakilkan semua rapat-rapat pentingku, Josh!" sahut Andrew.


Ia segera mengambil kunci mobilnya, tapi langkahnya di cegat oleh Charlie, "Josh, keluarlah! Aku ingin bicara dengan suamiku." ucap Charlie.


Charlie mendorong Andrew hingga ia terjatuh di atas meja kerjanya, "Mau apa kamu, Charlie?" tanya Andrew.


Dengan cepat Charlie menyelipkan kedua kaki Andrew diantara kakinya, "Aku ingin bicara denganmu. Kalau aku tidak memaksamu seperti ini, kamu tidak akan berbicara denganku." sahut Charlie.


"Katakan saja apa maumu?" tanya Andrew lagi mengalihkan wajahnya dari Charlie.


Namun, Charlie termasuk wanita yang kuat. Ia menarik jas yang dipakai Andrew. Sekarang wajah mereka dekat sekali, "Andrew, apa kamu tau saat hari pernikahan itu. Milla memintaku untuk menukar perannya. Dan, kenapa aku mau? Karena aku mencintaimu, Andrew. Aku mencintaimu." jawab Charlie yang sekarang mulai masuk ke dalam leher Andrew dan mengecupnya disana.


Andrew memejamkan matanya, menikmati sensasi yang tidak bisa ia tolak walaupun hatinya bersusah payah melawan.


"Kamu tau, Milla tidak mencintaimu. Buktinya dia kabur, ya kan? Mulai sekarang, lihatlah aku Andrew. Perhatikan aku dan cintai saja aku." ucap Charlie lagi, kali ini dia tidak ragu untuk mencium bibir suaminya itu.


Andrew yang selalu menolak ciuman Charlie, kini ia membalasnya. Mereka saling berpagutan, nafas mereka semakin berpacu seiring gerakan mereka yang semakin memanas.


***


Di lain tempat, Milla sedang melakukan konser mini di depan club seperti biasanya dengan Millo memainkan gitar dan menjadi backing vocal untuk mengimbangi Camilla.


"Siapa yang pernah patah hati? Aku akan menyanyikan sebuah lagu tentang patah hati. Bagi kalian yang sedang patah hati, silahkan mengambil cokelat yang berada di topi anyamanku dan tentu saja a little peny for me, hehehe. Let's sing it!" Seru Milla dengan gayanya yang khas. Jari-jarinya lincah bermain di atas tuts keyboard dan suaranya lembut di dengar begitu pas dengan iringan gitar dari Millo.

__ADS_1


"Aku pikir kamu tidak akan sanggup mengeluarkan suara hari ini ternyata wow. Kamu benar-benar membuatku terpukau, Milla." kata Millo sambil menghitung lembaran uang berwarna-warni di dalam topi.


Milla tertawa, "Aku bukan wanita lemah dan cengeng. Aku sanggup bangkit dengan cepat." jawabnya.


Millo tetap tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada temannya itu. Yang dia tau adalah, dia semakin tertarik dengan Camilla.


Setelah selesai, mereka kembali ke apartemen untuk beristirahat. Milla memesan makanan China dari restoran dekat apartemen mereka. Lima belas menit kemudian, makanan itu sudah di antarkan ke ruangan mereka.


"Makan dulu supaya sehat dan waras." kata Milla sekenanya.


Millo tertawa, "Hei, pria di malam itu. Siapa dia?" tanya Millo.


"Namanya Andrew. Dia calon suamiku. Nyaris menjadi calon suamiku." jawab Milla sambil menyeruput ramennya.


"Kenapa nyaris? Kenapa tidak di teruskan? Apakah kamu kabur saat malam resepsimu berlangsung?" tanya Millo.


Milla mendengus tertawa, "Huh! Kami bahkan belum sempat melakukan pemberkatan. Tapi dia sudah." jawab Milla lagi dengan santai.


Kali ini ia mencoba berdamai dengan situasi dan kondisi hatinya. Dia berharap beban yang ia panggul selama lima tahun lebih itu terangkat sedikit. Paling tidak dia bisa bernafas lega.


Milla mengangguk, "Yup." jawab Milla.


"Siapa yang menikah dengannya? Kenapa tidak kamu ajak gelut saja wanita itu?" tanya Millo lagi.


"Dia saudari kembarku. Budak seksnya yang menculikku dan membuangku kesini." jawab Milla enteng.


"Uhuk! Uhuk! Jawabanmu membuatku tersedak ramen, Milla! Uhuk!" sahut Millo.


Setelah Milla memberikannya segelas air, barulah Millo bisa normal kembali.


"Kamu punya saudara kembar?" tanya Millo.


Milla mengangguk, "Lupakanlah! Satu pelajaran yang bisa aku ambil dari kasusku. Orang yang dekat denganmu justru mereka yang paling menyakitimu. Selama setahun aku bertanya-tanya kenapa orangtuaku tidak mencariku, padahal anaknya hilang satu? Induk bebek saja mencari anaknya, tapi orangtuaku tidak mencariku. Menyedihkan! " tukas Milla mengeluarkan sakit hatinya.


Millo sudah menyiapkan sekotak tissu untuk Milla, persiapan kalau-kalau Milla menangis. Alih-alih dipakainya untuk menangis, Milla memakai tissu itu untuk membuang cairan di hidungnya yang keluar karena kepedasan saat makan ramen.


"Belum cukup sampai situ, calon suamiku pun tidak mencariku. Luar biasa sekali mereka itu!" tukas Milla lagi.

__ADS_1


Millo tersenyum, "Karena dia mengira kembaranmu itu kamu." jawab Millo menerka-nerka.


Milla mendengus lagi, "Hah! Kami identik tapi wajah kami tidak mirip, paling tidak itu yang aku rasa. Namun, orang lain banyak mengatakan kalau aku dan kembaranitu nyaris tidak ada beda. Mereka sulit sekali membedakanku. Padahal, kalau di perhatikan kami berbeda sekali." jawab Milla.


Kemudia ia berdiri di depan Millo, menarik-narik wajahnya. "Perhatikan aku, mata saudaraku seperti ini," kata Milla menarik kedua matanya ke samping.


"Wajah saudaraku seperti ini," Milla kembali membuat wajahnya tampak aneh.


"Sedangkan aku," kini Milla diam dan berpose di depan Millo.


Millo mengangguk sambil tersenyum kecil, "Ya kalian sangat berbeda. Dan yang aku tau hari ini adalah, kamu lucu sekali, Milla." jawab Millo tertawa.


Milla pun ikut tertawa, "Hahaha! Sudah lama aku tidak tertawa sepuas ini. Terimakasih, Millo karena kamu sudah mau menampungku dan menerimaku. Aku tau aku menyebalkan, maafkan aku juga karena aku kadang bawel dan senang mengatur tap..."


Cup!


Millo mengecup bibir Milla, "Aku menyukaimu sejak awal aku menemukanmu di depan apartemenku." ucap Millo menatap tajam ke arah mata hazel Milla.


***


Charlie dan Andrew tergeletak di ranjang setelah menyelesaikan ronde permainan mereka untuk ketiga kalinya.


Charlie tersenyum, "Andrew, aku tidak menyangka ternyata kamu cukup kuat." kata Charlie dengan nafas tersengal-sengal, belum teratur.


Andrew mendengus, "Sesukamulah. Aku pergi dulu." kata Andrew, mengambil kemejanya.


Namun, Charlie merebut kemeja Andrew. "Kamu mau pergi kemana?" tanya Charlie.


"Aku ingin menemui Camilla. Aku rasa dia berbohong, aku tidak percaya ucapannya." sahut Andrew.


"Kamu tau, kamu akan dianggap brengsek olehnya. Kamu mencari dan menemui Milla setelah lima tahun berlalu. Dan lagi, apa yang baru saja kamu lakukan itu sudah termasuk sebuah penghianatan. Lupakanlah dia, Andrew." bisik Charlie.


Andrew terdiam, ia memikirkan kata-kata istrinya.


Tak lama ia mengambil ponselnya dan kembali berbaring di ranjangnya. Hatinya hanya berpusat pada Milla tapi hari ini ia melakukannya dengan Charlie tanpa ada Milla di benaknya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2