
Andrew, Millo, dan Camilla menatap Tuan forest dengan ketidak pastian. Mereka bingung harus menjelaskan masalah ini darimana.
Tuan Forest beranjak berdiri dari kursinya. "Aku harap kalian tidak sedang bermain-main, saat ini kalian sudah menjadi incaran wartawan. Apa pun yang kalian lakukan akan diperhatikan oleh wartawan jadi aku sarankan kepada kalian untuk berhati-hati saat bertindak terutama kamu, Millo. Jangan membuat malu nama Forest dan aku menyerahkan kekacauan ini kepada kalian. Aku tidak terlibat dan aku tidak ingin terlibat dengan urusan cinta monyet ini," ujar Tuan Forest dari berjalan menuju keluar.
Andrew, Millo dan Camilla masih mendengar wartawan yang berkumpul di depan pintu apartemen Millo
"Apa yang harus kita lakukan? Lagi pula kenapa kamu harus menyebut nama Camilla, Milo?" tanya Andrew kesal.
"Maafkan aku. Nama Camilla tercetus begitu saja dari mulutku. Aku tidak mau dijodohkan dan aku belum mau menikah," kata Millo. .
"Lain kali di pikir dulu sebelum bicara. Sekarang bagaimana? Aku tidak berani keluar, pasti beritanya sudah di release dimana-mana," ucap Camilla sambil mengintip dari jendela apartemen.
Beberapa orang wartawan masih menunggu mereka di depan apartemen dan ada beberapa warga lokal juga yang berkumpul disana.
"Mereka benar-benar mengerikan," sambung Camilla lagi.
Andrew ikut melihat bersama Camilla dan berdiri di sampingnya. Ia menyibakkan gorden jendela itu supaya lebih jelas melihat keluar.
"Hhhh," keluh Andrew sembari menghembuskan nafas.
Untuk sementara sudah di putuskan mereka tidak dapat keluar dari apartemen dulu. Camilla menjadi satu-satunya orang yang mampu memasak dengan baik, memutuskan untuk melihat ketersediaan bahan makanan di lemari es milik mereka.
Tak lama suaranya terdengar dari balik pintu lemari pendingin dua pintu itu. "Ah, kenapa di saat seperti ini, lemari es kita kosong?" keluh wanita berkuncir satu itu.
Millo menghampiri Camilla dan melihat isi lemari pendingin mereka yang menyedihkan itu. "Terpaksa kita harus keluar," katanya.
"Satu orang saja, aku atau kamu. Camilla tetap di dalam," sahut Andrew.
Mereka bertiga mengangguk. Setelah melakukan suten sebanyak empat kali, akhirnya Andrew yang harus keluar untuk membeli bahan makanan.
Ia memakai kacamata hitam, masker serta topi cap. "Oke, i'm ready," ucapnya disertai dengan anggukan semangat dari dua orang temannya.
Baru saja ia membuka pintu, kamera segera di arahkan kepadanya, dengan secepat kilat, Millo kembali menutup pintu dan gorden apartemennya.
"Benar-benar mengerikan," sahut Millo.
Camilla menghela nafas dengan kasar, tangannya terlipat di dada. "Ini juga kan karena kamu! Kenapa harus membawa namaku!" tukas Camilla yang memutuskan untuk memperpanjang rasa kesalnya kepada Millo.
"Kan sudah kubilang, aku tidak mau di jodohkan dan satu-satunya wanita yang kukenal dengan baik hanya kamu," ucap Millo membela diri.
__ADS_1
"Tapi tidak harus namaku!" sahut Camilla menatap Millo dengan tatapan sengit.
Millo mendekati Camilla, pria berkulit putih itu memegang tangannya seperti memegang tangan seorang putri. "Camilla," ucap Millo lembut.
Suara Millo yang menyapa indra pendengaran Camilla dengan lembut itu berhasil membuat hatinya melunak. Ia membiarkan Millo meneruskan kata-katanya.
"Maafkan aku. Aku tau beribu maaf tidak akan bisa menarik ucapanku, tapi paling tidak aku akan membantumu memulihkan nama baikmu," janji Millo kepada gadis yang sedang duduk di hadapannya itu.
Camilla akhirnya tersenyum, dan ikut berlutut bersama Millo. "Kalau begitu, kamu harus mencuci piring selama satu tahun. Baik itu sarapan, makan siang, dan makan malam. Deal?"
Bibir Millo terkembang. "Baiklah, deal," jawab Millo.
***
Sementara itu,
"Maafkan aku, kawan. Aku harus kembali dulu setelah membelikan pesanan kalian. Aku rasa ini tentang test DNA Charlie serta rumor yang beredar di media," ucap Andrew melalui panggilan telpon kepada Millo.
Setelah mendengar jawaban dari Millo, Andrew menutup panggilan telponnya. Dengan cepat ia mengambil semua yang dibutuhkan oleh teman-temannya dan memasukkannya ke dalam keranjang. Tak lupa ya memberikan ekstra es krim, cookies, coklat ke dalam keranjang yang sama untuk Camilla.
Wartawan yang sudah dari tadi mengikutinya menunggu Andrew selama ia berbelanja. Begitu ya keluar dari supermarket tersebut wartawan itu segera menyerbunya kembali.
Andrew mengangkat telapak tangannya sebagai tanda bahwa ia menolak untuk diwawancarai saat itu.
Setibanya Andrew di apartemen Millo, ya segera masuk dan meletakkan barang-barang belanjaannya kemudian ia mencari Camilla.
"Milla, aku harus pulang sebentar," ucapnya meminta maaf.
"Ayahku ingin aku bertemu dengannya. Kemungkinan hasil tes DNA Charlie sudah keluar dan mungkin juga Ayahku ingin bertanya seputar rumor yang terjadi saat ini," sambung Andrew lagi.
Camilla menghembuskan nafasnya. "Baiklah, Semoga semuanya baik-baik saja dan aku harap masalah ini cepat selesai. Aku ingin hidup dengan tenang seperti dulu sebelum video itu viral kemana-mana," sahut Camilla
Andrew melihat tatapan sendu dari gadis berwajah manis itu. Entah dorongan dari mana ia sendiri juga tidak tau, Andrew mengungkapkan perasaannya kepada kamilah saat itu juga, "Milla, jika masalah ini sudah selesai maukah kamu mempertimbangkan untuk kembali bersamaku?" tanya Andrew.
Andrew membuat Camilla membeku sesaat. Camilla tidak dapat berkata-kata mendengar pernyataan dari Andrew.
"Aku tidak membutuhkan jawabanmu saat ini, aku hanya ingin kau mempertimbangkannya. Kamu bisa menjawabnya ketika kamu sudah siap. Aku akan menunggu," ucap Andrew sambil memakaikan topi capnya di kepala Camilla.
***
__ADS_1
Ketika Andrew sampai di kediamannya, ia dikejutkan oleh banyaknya wartawan yang berkumpul di depan kediaman Oak.
Untunglah penjaga di rumah keluarga Oak selalu siaga dan dengan sigap mereka membantu Andrew untuk masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini, pah?" tanya Andrew.
"Sudah saatnya kamu mengatakan kebenaran tentang Camilla dan Charlotte Madison," jawab Tuan Oak.
Andrew menggelengkan kepalanya. "Kita belum mempunyai bukti yang cukup kuat, pah untuk membongkar kebohongan ini,"
Tuan Oak menunjukkan sebuah pena kepada Andrew. "Sudah ada disini, ini adalah bukti rekaman suara Camilla. Ia bersedia menjadi saksi untuk kasus lima tahun yang lalu. Dengan ini, kita bisa sekaligus membersihkan nama Camilla," jawab Tuan Oak lagi dengan yakin.
Memikirkan bahwa hal itu dapat memulihkan nama baik Camilla, maka Andrew menyetujuinya. "Baiklah kita lakukan itu,"
Dengan langkah pasti, Tuan dan Nyonya Oak serta Andrew membuka gerbang rumahnya supaya para wartawan dapat masuk. Pelayan keluarga Oak sudah menyiapkan speaker untuk memutar rekaman suara Camilla.
Konferensi pers pun dimulai, suara Camilla memenuhi ruangan keluarga Oak. Para wartawan pun mendengarkan dengan seksama. Tak henti-hentinya mereka menggelengkan kepalanya.
Setelah rekaman selesai di putar, para wartawan satu per satu bertanya kepada Tuan Oak dan Andrew.
"Jadi, Camilla Madison yang sebenarnya belum menikaj dan berada di kota Z?" tanya salah seorang wartawan.
Andrew mengangguk. "Ya, itu benar. Yang bersamaku selama lima tahun adalah saudari kembarnya, Charlotte Madison," jawab Andrew sambil memegangi mic.
"Lalu, apakah anda sudah mengetahui siapa otak di balik penculikan Camilla Madison lima tahun yang lalu?" tanya salah seorang wartawan berbulu mata lentik.
"Itu, kami belum mendapatkan buktinya dan kasus itu masih dalam proses penyelidikan. Sudah ada beberapa nama yang kami kantongi, tinggal menunggu waktu saja nama tersebut akan kami release," jawab Tuan Oak.
Konferensi pers mereka terganggu karena kedatangan sebuah mobil. Dari mobil itu keluarlah keluarga Madison, Tuan dan Nyonya Madison serta Charlotte Madison alias Charlie.
Sontak saja para wartawan mengalihkan perhatiannya kepada mereka.
Tuan Madison jalan dengan mengacungkan sebuah amplop besar berwarna cokelat. "Saya membawa bukti bahwa pernikahan Andrew Oak dan Charlotte Madison, anak kami berlandaskan cinta," tukas Tuan Madison.
Andrew dan ayahnya saling bertukar pandang.
"Bisa perlihatkan kepada kami ini tentang apa, Tuan Madison?" tanya wartawan laki-laki yang berada cukup dekat dengan pintu gerbang.
"Ini adalah bukti DNA, siapa ayah biologis dari bayi yang berada di kandungan putri saya," jawab Tuan Madison tersenyum puas, seolah ia baru saja mencetak home run.
__ADS_1
...----------------...