Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
It's Not Easy


__ADS_3

"Hidupku sepi, Will. Aku bahkan tidak berani melihat masa depanku sendiri. Ini semua karena Camilla brengsek itu!" tukas Charlie marah.


Will merangkul pinggang Charlie dengan mesra, ia mengecup ceruk leher wanita itu dan membuat tanda cintanya disana.


"Aaahhh, Will. Aku sedang berbicara," dessah Charlie sedikit kesal.


"Lupakan saja Camilla, Andrew dan Oak lain. Fokus saja kepada kita. Kita pergi dari sini, menikah, dan kita buat keluarga kecil kita sendiri," bisik Will di telinga Charlie.


Charlie menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia membalikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Will. "Andaikan kamu orang kaya dan perusahaanmu masih berjalan, aku akan dengan senang hati menikah denganmu, Will. Namun sayangnya, perusahaanmu saat ini tidak ada yang berjalan dengan baik, lalu, bagaimana bisa aku menikahimu? Siapa yang menjamin hidupku menjadi lebih baik dari sekarang?" tanya Charlie.


"Kita bisa mulai semuanya dari awal, Charlie. Selama kita bersama, aku rasa kita bisa menghadapi segalanya," bujuk Will.


Charlie menggeleng. "Aku tidak materialistis aku hanya memainkan logika berpikirku. Dan lagi, di jaman modern seperti ini, tidak ada wanita yang menikah dan memulai segalanya dari nol. Tidak ada yang mau, Will!" sahut Charlie setengah mengejek.


"Tapi kita saling mencintai. Menikah itu cukup dengan cinta. Lihat saja kau dan Andrew. Kamu bergelimang harta, tapi Andrew tidak mencintaimu dan pada akhirnya kamu kembali bersamaku," tuntut Will tak mau kalah.


"Setidaknya aku bisa membuat diriku bahagia, Will. Cinta tidak dapat dipakai untuk membeli baju, tas, atau bahkan sepotong roti lapis," jawab Charlie.


"Aku tidak ingin bekerja, maka itu aku mencari seorang pria yang hartanya tidak akan habis kuhabiskan seorang diri. Jadilah pria seperti itu, Will. Aku akan memikirkanmu," ucap Charlie lagi menambahkan.


Will berdecih. "Andai saja ayahku tidak terlibat kasus korupsi aku juga pria kaya. Sayang sekali semuanya disita oleh pihak kepolisian," sahut Will.


"Kalau kamu cukup pintar, kamu akan menciptakan pekerjaanmu sendiri, Will. Berpikirlah dan gunakan otakmu. Pada akhirnya kekayaanmu akan habis," kata Charlie sedikit mengingatkan.


Will tidak bekerja. Ia akan mendapatkan uang jika ada seseorang yang membutuhkan jasanya. Ia cukup pintar dalam melakukan pekerjaan kotor, seperti mencuri, membobol sistem keamanan, atau bahkan sekedar menculik seseorang.


"Aku cukup pintar. Sudah berapa kali kamu memakai jasaku? Dan semua berjalan lancar tanpa ada masalah, ya kan?" balas Will mulai panas.


Charlie tau kalau dia membuka mulutnya lagi, maka ia tidak akan mendapatkan backingan dari siapa pun. Begitu ia mendengar suara Will meninggi, dengan cepat ia mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Kamu sudah makan? Aku lapar, ayo kita makan dulu," ujar Charlie.

__ADS_1


Will menarik tangan Charlie dan mencium bibirnya dengan panas karena emosi yang sudah tercampur aduk dan tertahan sedari tadi.


-


-


Di lain tempat, Camilla sedang bingung karena adanya laporan penculikan.


"Kenapa kamu tidak membawa ponselmu, Milla?" tanya Millo, menggaruk-garuk rambutnya dengan kasar. Ia bingung karena polisi-polisi itu sudah berkumpul di depan apartemennya dan sudah memasang police line disana.


"Ponselku?" tanya Milla, dan sekarang ia sibuk mencari dimana ponselnya.


Andrew menyodorkan ponsel Milla kepadanya. "Ponselmu tertinggal di atas sofa, itulah yang menyebabkan kami berpikir kalau kamu di culik," ucap Andrew.


Camilla menggelengkan kepalanya. "Ya sudahlah kalau begitu, mereka menjadi tanggung jawabku," kata Camilla, kemudian ia menghampiri para polisi dan menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.


Andrew melihat ayahnya berdiri disana sambil mengamati Camilla. Sementara Camilla berbicara dengan para polisi, Andrew menghampiri ayahnya.


"Ada perlu apa papa datang kemari?" tanya Andrew.


"Hei! Apa-apaan itu! Kamu ingin membuangku, begitu?" tanys Andrew kesal.


"Tapi, kenapa papa tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Andrew lagi.


"Aku menyukainya, dan lagi aku tadi ada urusan sebentar dengan Camilla. Aku mengajaknya makan siang di pusat kota," jawab Tuan Oak.


Andrew mengikuti ayahnya yang masih memperhatikan Camilla. "Aku juga menyukainya. Maka itu aku ingin sekali lagi menikahinya. Apakah boleh seperti itu?" tanya Andrew kepada ayahnya.


Tuan Oak berdeham dan sekarang menatap Andrew. "Aku hanya akan menerimanya dan belum tentu aku menerimamu walau pun kamu anak kandungku. Jagalah dia, Andrew," sahut Tuan Oak dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.


Selepas kepergian Tuan Oak, para polisi pun sudah kembali. Tentu saja mereka mendapatkan sanksi. Sanksi untuk mereka adalah membersihkan jalanan setiap pagi dan sore selama seminggu.

__ADS_1


"Kita harus mengerjakan ini, kan? Aaarrgghhh! Milla!" Millo berseru dengan kesal.


"Yeee, bukan salahku. Kalian saja yang tidak berpikir dan menggunakan kekuasaan untuk memerintahkan polisi itu. Padahal laporan kehilangan boleh di lakukan kalau sudah hilang selama 1x24 jam," tukas Camilla.


"Aku saja yang hilang lima tahun tidak ada yang mencari. Tapi aku berterimakasih kepada kalian, aku tidak muncul 30 menit, kalian sudah melaporkanku hilang, hehehe," ucap Camilla lagi, kali ini ia tersipu malu.


Millo mengacak-acak rambut ekor kuda Milla. "Karena aku takut kalau kamu benar-benar akan di culik jadi kami melaporkanmu," kata Millo.


Andrew merangkul pundak Milla. "Jadi, kamu sudah makan siang?" tanya Andrew. Sedari tadi ia menahan lapar di perutnya.


Krrruuuukkk!


Suara perut Andrew membuat Milla mengulum senyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan, tapi aku belum kenyang. Makan di restoran mahal itu porsinya hanya sesendok. Mana bisa aku kenyang makan begitu. Ayo, masuklah. Aku akan membuatkan kalian makanan," ajak Camilla.


Ia merasa bahagia sekali hari ini bahkan ia melupakan pertanyaan Tuan Oak tentang keinginannya untuk membuka kasus penculikan lima tahun yang di alaminya.


-


Sementara itu, Tuan Oak menemui Detektif Daniel setelah kembali dari kota Z.


"Aku sudah berbicara dengan Camilla Madison. Benar dugaanku, dia di culik di malam pernikahannya. Namun sepertinya, Camilla Madison melindungi saudari kembarnya. Dia berkata kasus lima tahun yang lalu bukanlah kasus penculikan, tapi kasus kecemburuan sesama saudari seperti biasa," cerita Tuan Oak.


Detektif Daniel mencatat semua keterangan yang di berikan oleh Tuan Oak. "Berarti dengan kata lain, dia tidak ingin kasus ini di buka?" tanya Detektif Daniel.


"Aku memaksanya untuk tetap mengusut kasus ini dan aku tetap menggunakan tuduhan penculikan serta penipuan kepada Charlotte Madisson dan adanya keterlibatan dari William Scott," jawab Tuan Oak.


Detektif Daniel menautkan kedua alisnya. "Scott? Namanya sama seperti Timothy Scott yang tersandung kasus korupsi itu," ujar Detektif Daniel.


Tuan Oak mengusap-usap dagunya. "Timothy Scott? Menarik. Atau mungkin William Scott adalah putra Timothy Scott? Bisa kita selidiki bersamaan nantinya. Catat saja nama William Scott sebagai tersangka utama penculikan ini," kata Tuan Oak lagi.


"Baik, saya akan memeriksa keterlibatan mereka berdua pada kasus lima tahun yang lalu, Tuan Oak," sahut Detektif berusia 40 tahunan itu.

__ADS_1


Tuan Oak mengangguk-angguk puas dengan apa yang ia kerjakan hari ini. Ya, dia akan menghukum keluarga Madison karena telah menipunya selama lima tahun.


...----------------...


__ADS_2