
Seorang wanita dengan gaya modis mendatangi rumah tahanan khusus wanita.
"Saya ingin bertemu dengan Charlotte Madison," kata wanita itu. Sarung tangan berbahan suteranya yang ia lepaskan dan dengan penuh kasih sayang, ia masukan ke dalam tas kecilnya.
Sipir wanita yang menjaga rumah tahanan itu mengangguk. "Tunggu disini dan silahkan isi buku tamu dulu," tukas petugas sipir itu.
Dengan enggan, wanita modis itu mengambil alat tulis dari tangan si sipir dan menuliskan namanya di dalam buku tamu yang tampak dekil dan kertas yang sudah kekuningan.
"Dengan siapa?" tanya sipir wanita itu lagi.
"Lizzie. Lizzie Warren," jawab wanita yang bernama Lizzie itu.
Sang penjaga rumah tahanan pun mencatat nama Lizzie dan menghubungi temannya untuk mengeluarkan Charlotte Madison.
Tak lama, tampaklah seorang wanita berpenampilan kusut tetapi masih terlihat terawat keluar dari salah satu sel menuju ruang tamu tahanan.
Ruang tamu tahanan terdiri dari bilik kecil dengan kaca sebagai pembatas antara tamu dan tahanan, dan di meja bilik itu terdapat telepon kabel yang digunakan untuk berbicara kepada si tamu.
"Charlotte Madison?" tanya Lizzie dengan anggun.
Charlie mengangguk malas. "Siapa kau?" ketusnya.
Senyum terukir di wajahnya yang cantik. "Perkenalkan, namaku Lizzie Warren," jawab Lizzie melalui telepon kabel itu.
"Aku tidak mengenalmu! Apa tujuanmu kesini? Kalau kau kesini hanya untuk menanyai saudariku, pergilah! Aku muak ditanya seperti itu!" tukas Charlie kesal.
Beberapa hari ini, semenjak Joe membuka kepada media terkait hubungannya dengan Camilla. Charlie menjadi sasaran media juga.
Suara tawa Lizzie berderai begitu mendengar tanggapan Charlie. "Hahaha, aku bukan media. Kamu bisa melihatku datang dengan tangan kosong tanpa kamera dan kameraman," jawab Lizzie.
Charlie menjulurkan kepalanya sampai ke tepi kaca untuk memastikan apakah ada orang lain bersama wanita itu. "Oke, aku memutuskan untuk percaya kepadamu. Sekarang katakan kepadaku, apa kepentinganmu?" tanya Charlie.
"Dimana Camilla Madison? Aku ingin kamu menjadi partnerku untuk menghancurkan hubungan Joe dengan Camilla," cetus Lizzie.
"Aku tidak mau! Kau tau, jika kau mengganggu hubungan seseorang, kau akan mati ditendang kuda!" balas Charlie gusar. Seenaknya saja wanita ini memerintahkan dirinya untuk berbuat sesuatu yang hanya membuang waktunya dan tidak menguntungkan seperti itu.
Lizzie melipat kedua tangannya di dada. "Jaminannya adalah kebebasanmu. Aku hanya akan menanggungmu, tapi tidak dengan keluargamu. Bagaimana?"
Tawaran Lizzie membuat Charlie goyah. Jujur saja, ia sudah bosan berada di dalam sel kecil yang memuakkan itu. Ia ingin menghirup udara bebas secepatnya. .
__ADS_1
"Akan aku pikirkan. Berapa kau akan menbayarku?" tanya Charlie.
Lizzie tersenyum simpul. "Sebutkan saja harga tertinggimu," tantang Lizzie.
"Datanglah 3 hari lagi, aku akan memberikan jawabannya kepadamu," titah Charlie.
Lizzie menunjukan sebuah kotak kecil berisi makanan, dan di dalam makanan itu ia menyelipkan sebuah amplop berwarna cokelat. "Itu bayaranmu hanya untuk berpikir. Anggap saja itu uang untuk membuang sial," kata Lizzie dengan santai. Ia pun meletakkan gagang telepon dan mengembalikannya ke tempat semula.
Dengan langkah anggun, Lizzie Warren pergi meninggalkan ruang tahanan itu.
***
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu di pagi hari membangunkan Millo dsri tidurnya.
Semalam tadi, Camilla tidak pulang ke apartemennya jadi sudah pasti ini Camilla, pikir Millo. Dia akan memarahinya habis-habisan.
"Hei, wanita ******! Kemana saja kau semalaman? Sekarang kau mengetuk pintu rumahku seperti aku ini berhutang banyak kepadamu! Lih-," omelan Millo terputus dan ia terpana melihat seorang gadis cantik berdiri di depan apartemennya.
"Li-, Lizzie?" sapa Millo.
-
-
"Oh, jadi kamu meninggalkan keluargamu dan tinggal di kota ini? Lalu, bagaimana dengan ibumu?" tanya Lizzie yang sedang asik mengunyah waffle buatan Millo.
"Tidak ada hubungannya dengan ibuku! Apa maumu?" ketus Millo. Namun, ia tidak dapat memungkiri kalau pesona Lizzie masih sanggup membuat hatinya bergetar.
Lizzie menyesap susu putih yang disediakan oleh Millo juga. "Kau tidak ada kopi hitam?" tanya Lizzie
"Kamu pikir aku restoran? Minumlah apa yang telah disediakan dan jangan terlalu banyak meminta! Aku bukan pelayanmu!" sahut Millo gusar.
Suara tawa Lizzie yang merdu memenuhi seluruh ruangan di apartemen Millo. "Hahaha. Kamu tidak berubah, Millo. Ah, tadi kalau aku tidak salah mendengar, kamu menyebut nama Camilla. Apakah dia Camilla Madison? Dia tinggal bersamamu? Disini?" cecar Lizzie.
Millo tidak tau harus menjawab apa. Selama ini memang ia menyembunyikan keberadaan Camilla dari para putra dan putri konglomerat demi menjaga nama baik Madison. Itupun ia lakukan atas permintaan Camilla sendiri.
Namun tampaknya, akhir-akhir ini Camilla sudah sering terekspos dengan berbagai macam kasus terutama kasus percintaannya.
__ADS_1
"Bukan Camilla Madison, tapi Camilla saja. Sudahlah! Untuk apa kamu mencari Camilla?" tanya Millo.
"Dia merebut kekasihku, wajar saja aku mencarinya," jawab Lizzie santai.
Alis mata Millo saling bertautan. "Kekasihmu? Yang mana?"
"Joe! Statusku dan dia, masih berkencan! Kupikir dia ada disini, ternyata aku malah menemukanmu," ucap Lizzie terdengar kesal.
Menjelang siang, entah apa yang terjadi. Beberapa awak media kembali berkumpul di depan apartemen Millo.
"Apa yang mereka cari, sih?" tanya Millo bingung. Ia curiga ini pasti ulah Lizzie.
"Ulahmu, kan?" tanya Millo dengan tatapan kebencian.
Lizzie tersenyum santai. "Kita lihat saja apa yang terjadi," jawabnya.
Sekitar 35 menit kemudian, sebuah mobil SUV berwarna hitam metalik memasuki halaman parkir apartemen Millo.
"Ada apa ini? Kenapa banyak sekali wartawan yang berkumpul di sini? Apakah si bodoh Milo berbuat ulah lagi?" tanya Joe.
Camilla mulai tidak nyaman karena ada beberapa wartawan yang mengintip ke dalam mobil. "Apakah kita akan tetap disini atau nekat keluar?" tanya Camilla.
Joe mengambil topi capnya dan memakaikannya ke kepala Camilla. Kemudian, ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Camilla.
Begitu melihat gadis berambut ikal itu turun, wartawan segera mengerumuninya. Cahaya blitz kamera terarah kepadanya.
"Camilla, kenapa Anda masih tinggal bersama Millo? Bukanlah Anda mengencani kakaknya?"
"Camilla, sebenarnya siapa yang ingin kau kencani? Oak atau Forest bersaudara?"
Pertanyaan-pertanyaan para wartawan semakin menggila dan membuat Camilla serta Joe tidak nyaman.
Joe melindungi Camilla dari himpitan para wartawan tersebut. Dengan cepat ia mengetuk pintu apartemen Millo dan untunglah, Millo sudah siap menerima Camilla.
"Apa yang terjadi?" tanya Joe kepada Millo.
Jari telunjuk Millo terarah kepada gadis yang sedang asik membuat asap dari rokok elektriknya. Ia melambaikan tangan kepada Joe. "Hi, babe,"
"Lizzie?"
__ADS_1
...----------------...