
"Andrew Oak, benar tebakanku?" tanya Millo malam itu.
Andrew tersenyum, ia tidak menyangka penyamarannya akan terbongkar dengan cepat. Ia mengajak Millo keluar dari apartemen dan membuka semua penyamarannya.
"Apa tujuanmu? Menyelidiki Camilla?" tanya Millo.
"Sejak kapan kamu tau aku Andrew Oak?" Andrew balik bertanya.
Kali ini, Millo yang tersenyum. "Dari sejak awal kedatanganmu. Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang tidak mampu melakukan apa pun dengan benar. Hanya ada dua kemungkinan saat itu, apakah kamu benar-benar seseorang yang bodoh atau seorang kaya yang menyamar dengan tujuan tertentu. Kamu tidak pernah mengeluh kelaparan padahal makanan yang di sediakan hanya makanan sederhana, dan bajumu. Kamu selalu mengganti bajumu sehari tiga kali. Jadi saat itu aku memutuskan kamu adalah seorang kaya yang sedang menyamar," jawab Millo.
Andrew bertepuk tangan. "Bravo, Forest. Aku pikir seorang Forest dilahirkan hanya untuk menjadi licik ternyata kamu terlahir cerdas," puji Andrew.
Millo mendengus. "Berapa Forest yang kamu kenal?" tanya Millo.
Andrew tidak menjawab pertanyaan Millo. Dia menyamar hanya untuk mencari bukti kebenaran bukan untuk berdebat tentang nama keluarga.
"Jadi, kamu mencari bukti tentang apa? Madison?" tanya Millo.
"Darimana kamu tau dia Madison?" Andrew balik bertanya.
"Camilla yang menceritakannya kepadaku saat ia memergoki saudara kembarnya sedang melakukan hubungan dengan seorang pria di pagi hari," jawab Millo.
Andrew teringat hari itu. "Ya, dan saudara kembarnya yang sedang berhubungan dengan pria di pagi hari itu adalah istriku," kata Andrew dingin.
Millo menatapnya. "What? Serius kamu?" tanya Millo tak percaya.
Andrew mengangguk.
"Kalau aku jadi istrimu, aku akan menghabiskan uangmu dan memaksamu untuk tidak kemana-mana selama seharian karena aku akan memintamu untuk melakukan hal itu bersamaku setiap hari. Kalau perlu sampai aku tidak sanggup lagi membuka kedua kakiku," tukas Millo.
__ADS_1
Andrew tertawa. "Mengerikan sekali pikiranmu, Forest. Jujur saja itu menyeramkan bagiku walau pun mungkin akan mengasyikan karena aku melakukannya dengan seorang yang aku cintai. Tapi nyatanya, aku tidak mencintai istriku saat ini," kata Andrew.
"Apa alasanmu tidak mencintai istrimu? Jangan-jangan dia berselingkuh darimu atau kamu penyebab dia berselingkuh? Lantas, kenapa kalian menikah?" tanya Millo bingung.
Andrew kembali ke dalam apartemen Millo dan keluar dengan membawa sebuah dokumen kecil di tangannya. Ia memberikan dokumen itu kepada Millo. "Baca saja siapa nama istriku yang tertera disana?" tantang Andrew.
Millo membaca dokumen tersebut dan kedua bola matanya membesar. "Kamu menikah dengan Camilla Madison? Lalu yang ini siapa? Aku yakin yang berada disini adalah Milla yang asli," sahut Millo terkejut.
"Ya, memang yang bersama kita ini adalah Camilla Madison yang asli. Yang jadi pertanyaanku adalah, siapa yang menukar mereka?" tanya Andrew.
"Itu bukti yang harus aku cari. Apakah kemauan Milla sendiri atau dia dipaksa oleh saudara kembarnya atau bagaimana? Itulah yang harus aku cari tau, Forest," sahut Andrew lagi menambahkan.
Millo dan Andrew kini terdiam. Mereka memikirkan segala kemungkinan yang ada.
"Kalau memang ini kemauan Milla sendiri, dia tidak akan pingsan dengan mengenakan gaun pengantin di depan apartemenku, dan lagi dia tidak akan begitu membenci kaum kita jika ia menukar pernikahan kalian, kan?" kata Millo berpendapat.
Millo yakin Camilla Madison bukanlah seorang wanita yang keji yang gemar memainkan hati seorang pria apalagi pria yang mencintainya dan dicintainya. Ia masih ingat sekali tatapan kosong Milla saat pertama kali bertemu dengannya. Dan bagaimana raut wajahnya kala ia membakar gaun pengantin itu. Belum lagi saat ia menceritakan tentang saudara kembar dsn orangtuanya serta seorang pria yang nyaris menjadi suaminya, tidak mencari Camilla saat ia tidak ada. Tidak mungkin orang yang kabur akan sanggup bercerita segetir itu.
Andrew menggelengkan kepalanya. "Kalau aku sudah tau siapa orangnya, aku tidak akan mengobrol santai denganmu seperti sekarang ini, kan?" kata Andrew gusar.
Millo tertawa mendengar Andrew berkata seperti itu. "Hahaha, benar juga katamu. Oh, maafkan aku sebelumnya. Apakah kamu mempercayai saudara kembar Camilla?" tanya Millo.
Andrew kembali menggeleng. "Tidak sedetik pun. Dulu, dia selalu menjadi primadona. Banyak sekali lelaki yang ingin menjadi kekasih Charlotte Madison. Berbeda sekali dengan Camilla, tidak ada seorang pria pun berani mendekat kepadanya. Charlie iri sekali saat malam itu aku menjemput saudarinya, bukan dia. Tunggu! Apakah maksudmu?" ucap Andrew.
Millo mengangguk. "Yup. Bercinta dengan seorang pria di kamarmu saja dia berani, bagaimana kalau hanya menukar dirinya dengan Camilla, see?" tanya Millo mencoba menerka-nerka.
"Tapi tetap saja kita harus mencari buktinya, kan? Cara satu-satunya adalah Camilla harus beberkan segala kelakuan Charlie dan orangtuanya," jawab Andrew.
Millo bergumam setuju. Tak beberapa lama mereka tertidur sangat lelap.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Camilla. Setelah melihat Millo dan Andrew tertidur nyenyak, Camilla jalan keluar dari apartemen dengan kaki berjingkat-jingkat.
Dengan membawa sebuah ponsel, ia berbicara dengan seseorang yang menghubunginya.
"Berikan tanda jika sudah dekat tempatmu!" perintah orang itu.
Milla menutup ponselnya dengan kesal. Siapa dia bisa memerintah seenaknya! Cih!
Tak lama Milla menyalakan lampu senter pada ponselnya begitu ia melihat sebuah mobil yang sudah sangat di kenalnya melintas.
"Masuklah!" titah seseorang yang berada di dalam mobil itu.
"Apa maumu? Sudah kubilang jangan ganggu hidupku!" tukas Milla kesal.
"Dengar! Aku mau kita bertukar peran kembali! Kamu, jadilah Charlie! Sedangkan aku, kamu bisa lihat penampilanku, sudah tampak seperti kamu. Aku akan menjadi Camilla Madison," kata orang itu.
"Jangan gila, Charlie! Aku sudah menjauh dari hidupmu, kenapa kamu masih terus mengusik kehidupanku?" tanya Milla.
Charlie mendengus. "Aku tidak gila, Milla. Aku akan diam sampai Andrew mengganti nama di akta pernikahan kalian menjadi namaku," jawab Charlie.
Milla mengambil akta nikah itu dari tangan Charlie, kemudian ia mengambil tas slempang serba adanya yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi, lalu ia mengambil sebuah penghilang tulisan dan menghapus nama di akta tersebut.
Setelah selesai ia memberikan sebuah pulpen kepada Charlie. "Sudah kuhapus, sekarang tuliskan namamu disana!" perintah Camilla kesal.
Charlie menatap kembaranyya tak percaya. "Kamu lebih gila dariku, Milla! Kenapa kamu menghapusnya? Apa kamu tau bagaimana nanti tanggapan Andrew terhadapku?" tuntut Charlie.
"Itu urusanmu, bukan urusanku. Kamu boleh mengambil peranku, Charlie sayang. Tapi ada satu hal yang harus selalu kamu ingat, hanya ada 1 Camilla Madison di dunia ini dan itu tidak ada kloningan atau duplikatnya!" jawab Camilla kesal kemudian ia keluar dari mobil Charlie dan kembali ke apartemen Millo.
Selepas kepergian Milla, Will bertepuk tangan dan memuji Camilla tanpa henti. "Menyerahlah Charlie sayang, kali ini lawanmu sangat cerdas dan berani," goda Will tanpa memperdulikan gumaman kesal dari Charlie.
__ADS_1
...----------------...