
Brak!
"Kamu harus kembali kepada adikku!" tukas Camilla setelah kembali dari kediaman Madison. Ia mengacungkan jarinya ke arah Andrew.
Andrew menautkan kedua alisnya. "Hei, ada apa denganmu, Milla?" tanya Andrew bingung.
Entah apa yang di rasakan Camilla saat ini begitu mendengar Charlie mengandung anak Andrew. Hatinya berantakan, itu sudah pasti. Karena, begitu Andrew masuk ke dalam kehidupannya kembali, ia menjadi sangat senang tanpa alasan yang jelas.
Dan saat ia sedang menikmati waktunya dengan Andrew, tiba-tiba saja sebuah kabar yang tidak menyenangkan datang dari saudari kembarnya. Ya, bagaimana pun mereka sudah menikah, wajar jika Charlie mengandung anak dari Andrew.
Camilla sekarang berdiri dengan berpegangan pada sisi meja, untuk menahan dirinya sendiri supaya tidak terjatuh dan kehilangan kesadaran. "Dia mengandung anakmu, Andrew," jawab Camilla nyaris berbisik dan tiba-tiba saja dia berjongkok di hadapan Andrew dan terisak.
Millo memegangi Camilla. "Ada apa dengannya?" tanya Millo pada Andrew.
"Dia berkata adiknya mengandung anakku," jawab Andrew lemah, ia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Millo membantu Camilla untuk berdiri. "Tenanglah, Milla. Tenanglah. Ceritakan kepada kami, ada apa denganmu?" tanya Millo berbisik.
Camilla masih terisak, ia memeluk Millo dan menangis dalam pelukannya. Millo menenangkannya.
"Dia memintaku untuk kembali, dan,-"
"Maka, kembalilah. Pastikan kalau itu tidak benar, setelah urusanmu selesai kamu boleh kembali lagi kesini," Millo memotong ucapan Andrew.
Millo membawa Milla ke kamarnya. Andrew diam dan tidak bergerak. Ia berpikir benarkah Charlie mengandung? Dan kapan? Apakah saat ia mabuk? Andrew menghitung tanggal dan bulan dengan jarinya. Tapi apakah memang perlu waktu selama itu?
Tak lama, Millo keluar dari kamar Camilla kemudian ia duduk di samping Andrew. "Sepertinya dia shock, suhu tubuhnya naik dengan cepat. Aku membiarkan dia tertidur," ucap Millo memberitahu kondisi Camilla.
Millo beranjak dari kursinya dan berjalan ke dapur. Ia mengambil dua kaleng bir dari kulkas, dan memberikan satu kaleng kepada Andrew.
Mereka membuka kaleng bir dingin itu dan menyesapnya bersamaan.
"Jadi, apa rencanamu?" tanya Millo.
"Aku tidak mau kembali, dan aku rasa itu bukan anakku. Hubungan terakhirku dengan Charlie kira-kira dua sampai tiga bulan yang lalu," kata Andrew menjelaskan.
__ADS_1
Millo menghela nafasnya. "Apakah ini trik darinya supaya kamu kembali?" tanya Millo.
Andrew mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau," jawab Andrew pasrah.
"Kembalilah, Ndrew. Selesaikan masalahmu kalau perlu lakukan test DNA supaya kamu tau, janin siapa yang di kandung oleh Charlie," usul Millo.
Andrew mengangguk. "Aku pikir itu ide yang bagus, tapi aku akan pasti akan merindukan Camilla. Dan aku tidak tau apakan aku bisa kembali lagi kesini atau tidak. Keinginanku adalah ingin membawa Camilla bersamaku," ucap Andrew.
Millo menggoyangkan jari telunjuknya. "No, she'll stay with me," tolak Millo.
"Tell me why? She's my wife, Millo. Dan aku pikir kalian tidak memiliki ikatan atau hubungan apa pun," bantah Andrew.
"Tetap saja. She'll stay!" tukas Millo menegaskan.
Andrew mendengus. "Aku akan memanggilkan dokter untuknya," ucap Andrew lagi.
"Tidak perlu berbuat bodoh seperti itu, Andrew. Kembalilah kepada adikku dan bertanggung jawablah atas apa yang telah kamu perbuat. Kalau memang itu bukan anakmu, buktikanlah. Sebelum itu terjadi, aku melarangmu untuk menghubungiku!" tegas Camilla yang tiba-tiba terbangun.
An Hour A Go
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Oak," sahut Camilla sopan kepada penjaga di kediaman Oak.
"Baik, Nyonya Oak," kata penjaga itu dengan hormat.
"Bukan dengan Nyonya Oak, saya dengan Madison. Camilla Madison," sahut Camilla lagi.
Penjaga itu memperhatikan wajah Camilla, dan tak beberapa lama si penjaga meminta maaf. "Maafkan saya Nona Madison. Saya pikir anda Nyonya Oak," kata penjaga itu.
Camilla tau sekali siapa yang dimaksud oleh penjaga itu. Nyonya Oak berarti Charlie. Dan dia sudah terbiasa dengan reaksi orang-orang yang terkadang sering tertukar mengenali mereka.
Tak lama, penjaga itu keluar lagi dan mempersilahkan Camilla untuk masuk. Sambil mengucapkan terimakasih, Camilla bergegas menemui Tuan Oak yang sudah menunggunya di ruang keluarga.
"Selamat siang, Tuan Oak," sapa Camilla.
Tuan dan Nyonya Oak berdiri untuk menyambut Camilla. Mereka menyambut Camilla dengan hangat. "Milla, apa kabar, nak?" tanya Nyonya Oak.
__ADS_1
"Kabar baik, Nyonya Oak. Terimakasih," jawab Camilla.
Nyonya Oak mempersilahkan Camilla untuk duduk dan dengan cepat, meja ruang keluarga itu di penuhi dengan berbagai macam kue manis, dan sepoci teh untuk Camilla.
Camilla merasa tidak nyaman dengan sambutan yang begitu berlebihan itu. Ia tau kenapa Tuan dan Nyonya Oak menyambutnya.
"Maksud kedatanga saya kesini adalah un,-"
"Saya tau. Kamu sudah bertemu dan berbicara dengan Detektif Daniel oleh sebab itu, kami berterima kasih karena kamu bersedia bekerja sama dengan kami," kata Tuan Oak. Nada suaranya sangat puas begitu mengetahui Camilla telah berbicara dengan Detektif Daniel.
Camilla mengangguk-anggukkan kepalanya tidak sabar. "Tapi kedatangan saya bukan untuk menceritakan pertemuan saya dengan Tuan Detektif. Saya ingin anda mencabut gugatan anda untuk keluarga saya," ucap Camilla dengan tegas.
Tuan dan Nyonya Oak saling berpandangan. "Apa maksudmu, Camilla?" tanya Nyonya Oak dengan lembut. Kali ini, Nyonya Oak beranjak dari tempatnya dan berpindah ke samping Camilla.
"Maafkan saya sebelumnya. Kabar ini mungkin akan membuat kalian terkejut, tapi adik saya atau istri Andrew sedang mengandung anak dari Andrew," jawab Camilla sambil memperlihatkan hasil testpack kepada Tuan dan Nyonya Oak.
Tuan Oak mengambil testpack itu. "Apakah ini benar-benar hasil dari pemeriksaan yang telah ia lakukan?" tanya Tuan Oak tampak terpukul.
Camilla mengangguk. "Ya, Tuan. Baru saja saya berkunjung kesana dan Charlie terlihat sangat pucat. Dia hanya berbaring dan mual saat mencium bau makanan," kata Camilla menjelaskan.
"Aku mau hasil pasti dari dokter kandungan. Ayo, mah, kita kesana sekarang. Ah, hubungi dokter kandunganmu juga. Siapa namanya itu?" tanya Tuan Oak.
"Dokter Jane," jawab Nyonya Oak yang segera mengambil ponselnya dan meminta dokter Jane untuk datang sekarang juga.
Tuan dan Nyonya Oak kembali duduk dan menatap Camilla. "Sekarang, apa rencanamu?" tanya Tuan Oak.
Camilla mengangkat bahunya. "Saya tidak punya rencana apa pun. Semua yang ada di dalam kepala saya adalah untuk saya. Saya tidak memikirkan Charlie atau Andrew, mereka tidak ada hubungannya dengan saya," jawab Camilla dingin.
Tapi Camilla berbohong. Kehamilan Charlie membuat hatinya sakit, karena ia sempat berharap kalau dia akan kembali dekat dengan Andrew seperti dulu tanpa ada jarak di antara mereka.
Namun, dengan hamilnya Charlie, tidak mungkin itu akan terjadi, kan?
"Kalau anda sudah selesai, saya permisi," ucap Camilla lagi.
Tuan dan Nyonya Oak memandang Camilla dengan sedih, dan Camilla tau apa yang di harapkan oleh mereka. Harapan Tuan dan Nyonya Oak sama seperti harapannya, semoga kabar ini salah dan tidak benar.
__ADS_1
...----------------...