
"Tuan Oak," sapa seorang pria kepada Tuan Oak. Pria itu membawa beberapa berkas berupa foto dan barang bukti lainnya.
"Detektif Daniel, silahkan masuk. Saya rasa saya sudah tau maksud kedatangan anda kesini. Jadi, bagaimana?" tanya Tuan Oak.
Detektif Daniel pun masuk, dan menyerahkan berkas-berkas yang ia bawa kepada Tuan Oak. "Ini akan memakan waktu yang lama karena kasus ini sudah lima tahun yang lalu dan tidak ada laporan saat kejadian itu berlangsung. Yang mau saya tanyakan, kenapa tiba-tiba?" tanya Detektif Daniel.
"Karena saya baru tau. Walau pun tidak ada kerugiam pada keluarga saya akibat kasus ini, tapi saya mau kasus ini di usut sampai tuntas," jawab Tuan Oak.
Detektif Daniel pun mengangguk, berusaha memahami permintaan kliennya tersebut. "Ada saksi?" tanya Detektif Daniel.
"Ada, tapi saya ragu apakah dia mau bersaksi atau tidak karena sepertinya saksi ini sudah melupakan kasus lima tahun lalu yang menimpa dirinya," jawan Tuan Oak lagi menjelaskan.
Detektif Daniel mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja. "Bisa saya minta keterangan tentang orang yang anda maksud? Jadi orang ini adalah korban?" tanya Detektif Daniel.
Tuak Oak berpikir sebentar, kemudian ia mengganggukan kepalanya. "Bisa dikatakan seperti itu,"
"Lantas, kenapa tidak melaporkan kasus ini andaikan ia benar di culik?" tanya Detektif Daniel lagi.
Tuan Oak terdiam kembali. "Karena kami tidak mencari, karena kami tidak dapat membedakan mana dia yang sebenarnya karena mereka gadis kembar," jawab Tuan Oak.
Detektif Daniel mencatat semua keterangan yang di ucapkan oleh Tuan Oak. "Baik, kami akan pelajari kasus ini dulu. Kami akan kabarkan kepada anda jika kasus ini di setujui untuk di selidiki,"
"Baik detektif, terima kasih," kata Tuan Oak mengulurkan tangannya kepada detektif Daniel.
Selepas kepergian Detektif Daniel, Tuan Oak menghubungi Andrew. Ia ingin berbicara dengan Camilla Madison. Bukan untuk membahas soal kasus lima tahun yang lalu saja tapi membahas persoalan lain dan hanya ingin sekedar mengobrol dengan Camilla.
Perasaan bersalah menghinggapi Tuan Oak, padahal dulu sebelum menikah Andrew dan Camilla cukup dekat tapi kenapa ia tak bisa membedakan Camilla dengan Charlie? Itulah yang membuat hatinya tidak enak terhadap Camilla.
Setelah mendapat balasan pesan dari Andrew, Tuan Oak segera mendatangi Camilla di kota Z.
-
-
__ADS_1
Sementara itu, Tuan Madison sangat murka kepada Charlie. Karena ulah Charlie, Tuan dan Nyonya Madison mendapatkan panggilan sebagai saksi atas kasus penculikan putrinya lima tahun yang lalu.
"Lihat ini! Karena ulahmu kita dipanggil sebagai saksi! Penculikan apa sih! Pakai otakmu sedikit kalau mau bertindak!" tukas Tuan Madison.
Charlie membuang mukanya untuk menghindari tatapan marah Tuan Madison. "Dari dulu baik-baik saja, tidak ada masalah. Bahkan saat kalian tau aku Charlie, kalian tidak bertanya dimana Camilla. Kenapa sekarang baru marah kepadaku?" tanya Charlie kesal.
Tuan Madison mengepalkan tangannya. "Mana aku tau kalau jadinya seperti ini! Lagian, untuk apa kamu menyusul saudaramu kesana! Sudah tau sifat Camilla tidak dapat di tantang, kamu memberikannya genderang perang kepadanya! Dia cerdas, Charlie! Sepuluh kali lipat lebih cerdas darimu! Jangan sekali-kali menantangnya karena kamu akan selalu kalah darinya! Kenapa hal itu tidak bisa kamu jadikan pelajaran!" seru Tuan Madison mengomel.
Charlie tertunduk dan terdiam. Ia tidak ada niat bertemu Camilla jika video sialan itu tidak pernah viral dan Andrew menyusulnya kesana. Siapa sangka kalau video itu ternyata menjadi titik kehancuran hidup Charlie?
"Ini karena video itu! Semua bermula dari video sialan itu dan...dan.. Andrew menyusulnya kesana, menemuinya dan semua berantakan seperti ini, huhuhu," isak Charlie.
Tuan Madison menautkan alisnya. "Video? Video apa? Aku tidak pernah tau ada video," sahut Tuan Madison.
Charlie mengambil ponselnya dan menunjukan kepada ayahnya video yang membuat berantakan hidup Charlie saat ini.
Tuan Madison menonton video itu. "Siapa yang merekam ini? Dan kenapa video amatir ini di viralkan?" tanya Tuan Madison tak habis pikir.
"Aku akan mengurus ini dan menyiapkan pengacara. Kamu bersiaplah untuk menyiapkan alasan yang jelas dan kuat untuk persidangan nanti," titah Tuan Madison kepada Charlie.
Charlie mengangguk lemah.
***
Di kota Z, pertemanan antara Camilla, Millo dan Andrew menjadi semakin dekat. Sekarang Andrew sudah tidak khawatir lagi tentang uang karena Milla mengajarinya untuk melakukan bermacam-macam pekerjaan.
Mulai dari tukang parkir, kasir di pom bensin, waitress, dan karena Andrew tidak memiliki bakat musik, jika malam hari Milla dan Millo mengisi acara di club malam, maka Andrew membantu Bob menyajikan minuman atau makanan ringan kepada para pengunjung.
Dan sama seperti pengunjung disana, Milla dengan cepat menjadi primadona di hati Andrew. Kalau biasanya dia sudah jatuh cinta lagi, dan lagi, kali ini Milla menggeser semua hal di hidup Andrew dan memakai mahkota kebesaran serta duduk di klasemen teratas hidup Andrew. Setinggi itulah kedudukan Camilla di hidup Andrew saat ini.
Berbeda lagi dengan Millo, ia sangat yakin kalau Milla menyukainya karena Milla selalu sependapat dengannya dan selalu membela Millo jika ia dan Andrew berdebat mengenai masalah apa pun.
Pengungkapan cintanya yang saat itu sempat tertunda kini mulai di rencanakan kembali.
__ADS_1
"Kau tau, aku akan mengungkapkan cintaku kepadanya," sahut Millo suatu hari kepada Andrew.
Andrew memandangnya kesal dan biasa akan pergi meninggalkan Millo jika Millo mulai menbahas soal pengungkapan cintanya.
Siang itu, selagi Milla sedang berlatih sebuah lagi di apartemennya, seseorang mengetuk pintu apartemen Millo.
Camilla segera membukakan pintu untuk tamunya dan bertapa terkejutnya Milla karena ayah Andrew sudah berdiri di depan apartemen mereka.
"Tuan Oak," kata Camilla sopan dan mempersilahkan Tuan Oak masuk.
Tuan Oak masuk dan melepas topinya. Camilla membantu Tuan Oak melepas mantelnya.
"Thank you," jawab Tuan Oak.
"With my pleasure, sir," jawab Milla cerdas.
Camilla mengira Tuan Oak mencari Andrew. "Andrew sedang bekerja di club, akan saya panggilkan," kata Milla.
Namun Tuan Oak melambaikan tangannya. "Tidak perlu. Tujuanku kesini ingin bertemu denganmu, Camilla," kata Tuan Oak.
Milla mengerutkan keningnya. "Denganku? Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Tuan?" tanya Camilla.
"Jam berapa teman-temanmu kembali? Bisakah kita mengobrol di tempat yang lebih pribadi?" tanya Tuan Oak.
Camilla tersenyum. "Ini kota kecil, Tuan Oak. Tidak akan ada tempat pribadi. Kemana pun anda pergi, mereka akan menyapa saya," jawab Milla.
Tuan Oak tertawa kecil. "Hohoho. Baiklah, keberatan jika ikut bersamaku sebentar?" tanya Tuan Oak.
Camilla menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan Oak. Anda bisa tunggu sebentar sementara saya bersiap-siap," kata Milla.
Tuan Oak pun mengangguk dan ia menunggu Camilla di mobilnya. Hingga Camilla keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil menyusul Tuan Oak.
...----------------...
__ADS_1