Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
The Forest Guys


__ADS_3

"Aku perlu kau kesini hari ini dan sekarang! Aku tidak terima kata nanti!" titah Charlie kepada Camilla melalui sambungan ponsel.


"Kenapa kau memerintahku? Aku tidak ada kepentingan untuk menemuimu jadi mohon maaf aku akan menolak perintahmu," jawab Camilla dari seberang. Tanpa menunggu jawaban dari saudarinya, Camilla sudah menutup ponselnya terlebih dahulu.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Bob setelah melihat Camilla kembali dengan air muka kesal.


Camilla menghela nafas dengan kasar. "Apakah salah jika aku membenci keluargaku sendiri?" tanya Camilla menopangkan dagunya.


"Tidak. Kalau memang keluargamu melakukan kesalahan yang menyakiti hatimu wajar saja jika kamu membencinya," jawab Bob sambil mengelap meja-meja tamu.


"Rasanya aku ingin melepas nama Madison yang tersemat di belakangku," ujar Camilla lagi dan membantu Bob untuk mengelap meja.


Bob mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya. "Sebenarnya tidak perlu rumit seperti itu, jadilah Camilla saja. Camilla yang baik," jawab Bob.


Camilla tersenyum mendengar jawaban dari Bob. Benar kata Bob, kalau memang dia tidak ingin ada nama Madison di belakang, cukup lepaskan nama itu dan kemudian jadilah Camilla saja.


"Aku akan mencoba usulmu. Keluargaku membuatku lelah, hanya mengingat aku bagian dari keluarga itu saja sudah membuatku sangat frustasi," ucap Camilla lagi.


Bagaimana Camilla tidak lelah? Ada saja yang dibuat oleh keluarganya itu dan terkadang membuat Camilla sakit kepala.


"Kali ini apa permintaan mereka?" tanya Bob, ia memandang kepada gadis di kepang dua itu.


"Mereka memintaku pulang untuk di kenalkan kepada Joe Forest. Aaarrgghh! Apa hubungan orang itu denganku?" jawab Camilla sambil mengeluh.


"Forest? Ada hubungannya dengan Millo?" tanya Bob.


Camilla mengangguk sembari mengambil seraup kacang pistachio di atas meja bar.


"Aku baru tau kalau Millo punya kakak. Aku pikir dia anak tunggal," ucap Bob lagi.

__ADS_1


"Itulah, aku tidak tau apa yang terjadi dengan mereka. Biarlah kita menyimpan misteri keluarga kita masing-masing dengan baik. Bukan begitu, Bob?" sahut Camilla tersenyum.


Bob membalas senyuman Camilla dan merangkul gadis itu dengan sayang.


Sementara itu, Millo yang sedang asik membersihkan alat musik untuk mereka tampil di malam itu, di kejutkan dengan suara bel di pintu.


Bel pintu itu terus di bunyikan seakan meminta Millo untuk segera membukakan pintu untuk sang pengunjung.


"Sabar! Aku berjalan bukan melayang!" seru Millo dari dalam dengan kesal. Ia berjalan tergopoh-gopoh untuk membuka pintu.


"Hei, kamu sungguh tam-," omelan Millo berhenti seketika begitu ia melihat tamu yang sedang berdiri di hadapannya dan membentangkan senyuman mengejek.


"Hi, little brother," sapa tamu itu.


"Joe! Darimana kau tau tempatku. Jangan katakan Charlie yang memberi tahukan kepadamu!" sahut Millo sengit. Ia mengitari pandangannya ke sekitar apartemen untuk mencari Charlie.


"Hei, aku belum mengizinkanmu untuk masuk! Katakan kepadaku apa keperluanmu?" tukas Millo.


Joe duduk di salah satu kursi malas dan mengambil foto berpiguran bergambar Millo dan Camilla saling berangkulan. "Aku mencari wanita di foto ini, Camilla Madison," jawab Joe sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas pigura foto itu.


"Kamu tidak ada hubungannya dengan Camilla Madison atau Camilla manapun jadi silakan pergi dari rumahku!" perintah Millo menarik tangan kakak tertuanya.


Joe menepiskan tangan Millo. "Aku tau dia tinggal bersamamu, dan aku penasaran wanita seperti apa yang membuat kamu jatuh cinta,"


"Dari mana kamu tahu itu?" tanya Millo lagi.


Joe mendengus kasar. "Huh! Apakah kamu lupa hasil wawancaramu sudah keluar dan pernyataan murah yang sangat menarik perhatianku. Kamu menyebut nama Camilla Madison dalam percakapan itu. Tentu saja itu membuatku tertarik. Aku pikir itu hanya akal-akalan mu saja untuk menghindari perjodohan yang sering diajukan oleh papa tapi ternyata nama Madison terkenal karena kecerdasannya," jawab Joe.


"Sialan! Wawancara itu! Aku bodoh sekali bisa lupa! Aku akan menarik semua eksemplar majalah itu!" ujar Millo bergegas mengambil ponselnya.

__ADS_1


Namun, Joe merebut ponsel itu dari tangan Millo. "Percuma saja, berita itu sudah tersebar kemana-mana walaupun dibarengi dengan hasil konfirmasi yang telah kalian lakukan. Itu membawaku kepada Charlotte Madison yang ternyata memiliki kasus luar biasa. Lewat Charlotte itulah aku bisa sampai di sini," ucap Joe santai.


"Kalau begitu masalah ini sudah aku anggap selesai. Pergilah sekarang juga karena sebentar lagi aku akan bekerja!" titah Millo.


Joe tidak bergeming. "Aku akan menunggu Camilla di sini. Kecuali jika kamu mau berbaik hati untuk mengenalkanku dengannya," kata Joe berusaha melakukan penawaran kepada adik bungsunya itu.


"Aku tidak akan mengenal kamu kepadanya!" tukas Millo.


Senyum Joe semakin lebar. "Apa kamu takut ia akan jatuh cinta kepadaku? Seperti Lizzie Warren?" pancing Joe.


Wajah Millo kini memerah. "Lizzie adalah masa lalu dan sudah kulupakan. Pergilah, Joe!" kali ini Millo memohon kepada pria necis yang sedang bermain dengan ponsel Millo itu.


"Sudah kukatakan, Lizzie Warren tak cocok denganmu. Sayang sekali dia tidak tahan lama, hehehe," ucap Joe terkekeh.


Bugh!


Satu bogem mentah telah di terima oleh Joe. Ia terhuyung dan memegangi kepalanya. Raut wajahnya berubah menjadi liar dan ia menyeringai lebar penuh kemenangan. "Aku lupa kamu belum pernah merasakan nikmatnya Lizzie Warren, hehehe. Dia memutuskanmu hanya untuk bercinta denganku. Sungguh wanita yang luar biasa,"


Bugh!


Satu pukulan kencang kembali mendarat di pipi Joe. Joe masih tersenyum, berbeda sekali dengan Millo. "Tutup mulutmu, Joe! Kau menganggap semua wanita dapat kau pakai seperti permen karet! Beruntunglah aku karena Camilla gadis yang sangat cerdas, dia tidak akan melakukan kebodohan seperti Lizzie!" seru Millo.


"Ada apa denganku?"


Millo dan Joe menoleh ke arah pintu yang terbuka secara bersamaan.


"Camilla!" sahut Millo.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2