
"Oho, Camilla Madison yang namamya makin meroket. Di luar dugaanku, kamu cantik. Pantas saja kembaranmu sangat iri kepadamu," ucap Joe mendekati Camilla yang beringsut masuk ke dalam apartemen.
"Aku tidak mengenalmu, dan maaf kami sibuk. Tidak ada waktu untuk berbicara omong kosong seperti kamu. Milo, bagaimana? Sudah siap?" Camilla mengindahkan Joe dan berpaling melihat kemajuan Millo dalam mensetting alat musik yang akan di mainkan oleh mereka malam nanti.
"Maaf, aku belum selesai karena bedebah itu menggangguku," jawab Millo dengan perasaan bersalah.
"Tidak masalah," ucap Milla santai.
Ia membawa kaki frame keyboard dan sengaja mengenai Joe.
"Hoi!" sahut Joe, beruntunglah ia menghindari Camilla kalau tidak, maka kepalanya akan terantuk kaki keyboard itu.
"Makanya jangan menghalangi jalan! Kami orang sibuk, dan tidak punya banyak waktu sepertimu!" tukas Camilla tanpa menoleh.
Millo mengikuti Camilla dari belakang dan begitu ia melewati kakaknya, ia berbisik, "Aku rasa sekarang kamu tau kenapa aku mencintainya. Dia sangat berbeda dengan Lizzie,"
Joe mendengus tertawa. "Aku bisa menaklukannya dan aku akan merebutnya darimu, adik kecil," balas Joe.
Millo memandang Joe dengan kesal tapi ia tidak terlalu mempedulikan ucapan Joe tersebut.
Joe mengikuti mereka, ia ingin tau apa yang akan mereka berdua kerjakan.
Malam itu, Joe dibuat terkejut oleh Camilla. Tak hentinya ia bertepuk tangan untuk gadis yang berani dan serba bisa itu. Mata Joe tidak lepas dari Camilla, seakan ada lem super kuat yang merekatkannya disana.
"Hei, siapa namamu?" panggil Joe kepada Bob tua yang ramah.
__ADS_1
"Bob, Tuan," jawab Bob.
"Aku suka kepada gadis itu, boleh aku tau sudah berapa lama dia bekerja disini?" tanya Joe.
"Hmmm, sudah cukup lama. Memang pintar Camilla itu, dia ramah juga kepada orang lain. Hampir semua pengunjung disini penggemar dia, Tuan," jawab Bob menjelaskan.
Joe kembali memandang Camilla dengan kagum. Dalam hati ia membandingkan betapa berbedanya Camilla dengan Charlotte. Bodoh sekali mereka yang tidak dapat membedakan mereka.
"Apakah tempat ini milikmu, Bob?" tanya Joe lagi.
Bob mengangguk malu-malu. "Iya, Tuan. Saya tinggal disini juga," jawabnya.
"Boleh saya membeli tempat ini?" tanya Joe.
Kedua mata Bob membesar. "Wah, hahaha. Tidak bisa, Tuan. Nanti saya tinggal dimana? Lalu, bagaimana dengan tempat ini? Tidak, Tuan. Tempat ini tidak akan pernah saya jual," sahut Bob salah tingkah.
Bob tercengang menatap pria yang ada di hadapannya itu. Raut wajah Bob berubah menjadi tegas dan dengan kesal, ia berkata, "Sudah kukatakan aku tidak menjual tempat ini! Tidak akan kujual berapa pun harganya!"
Joe mengangkatnya kedua tangannya tanda menyerah. "Oke, oke. Berikan ini kepada Camilla karena aku menyukainya dan menyukai penampilannya malam ini. Aku akan datang lagi besok, oke, Bob," ucap Joe tersenyum menggoda.
Bob mendengus kesal kepada Joe yang segera pergi dari bar malam tersebut.
***
Di lain tempat, Andrew Oak sedang kesal. Betapa mudahnya Charlie lolos dari jerat hukuman.
__ADS_1
"Joe Forest? Kau kenal dengan dia?" tanya Andrew kepada Detektif Daniel.
Detektif itu menganggukan kepalanya. "Dia pengacara muda yang memang cukup kompeten di bidangnya. Tapi, baru kali ini aku mendengar dia membela klien yang salah," kata Detektif Daniel.
"Yang aku pertanyakan adalah berapa banyak keluarga Madison membayar pengacara handal seperti itu? Setauku, keuangan mereka sedang berantakan apalagi setelah Scott meninggalkannya," tanya Andrew heran.
"Pengusaha kaya seperti anda atau pun keluarga Madison selalu memiliki simpanan yang bisa bertahan sampai 20 tahun ke depan, hahaha," canda Detektif Daniel.
Andrew tertawa mendengar ucapan Detektif Daniel. "Aku mau anda mengawal kasus ini terus. Aku melakukan ini bukan untukku atau ayahku, tapi untuk seseorang yang aku cintai," titah Andrew. Pandangan matanya menerawang memikirkan seseorang yang ia cintai.
"Siap, Tuan Oak. Kami akan tuntaskan kasus ini," ucap Detektif Daniel.
Setelah selesai berbincang-bincang dengan Detektif Daniel, Andrew berencana untuk menemui Camilla. Kalau dipikir-pikir sudah lama, dia tidak menemui gadis itu.
Namun, belum sempat ia menghubungi Camilla, Tuan Oak sudah memintanya untuk pulang. Dengan kesal, Andrew memutar mobilnya dan kembali ke rumah.
"Ada apa, pa?" tanya Andrew sesampainya di rumah.
"Aku dapat kabar dari Willam Scott, dia meminta bantuan kita," jawab Tuan Oak.
Kedua alis mata Andrew saling bertautan. "Bantuan? Untuk apa? Bukannya sidang dia di hari Selasa besok?" tanya Andrew.
Tuak Oak mengangguk. "Apa kau belum tau, status Scott berubah. Dia bukan tersangka melainkan saksi," kata Tuan Oak.
"Saksi?" Andrew membulatkan matanya. Bagaimana William Scott berubah menjadi saksi? Apa yang terjadi? Pikiran itu berkelebat di benak Andrew.
__ADS_1
...----------------...