Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Enjoy Your Life


__ADS_3

"Aku tidak pernah menyangka bahwa bekerja itu seberat ini." ucap Andrew saat melakukan panggilan video kepada Josh.


Josh terkejut melihat Andrew berlinangan air mata, "Tuan? Apa yang terjadi pada anda, Tuan Oak?" tanya Josh panik.


"Aku mengupas ini, mataku pedih sekali dan tak terasa air mataku berlinang dengan sendirinya." jawab Andrew dengan mimik wajah yang lucu.


Melihat Tuannya mengupas bawang, Josh seketika tertawa, "Aku pikir terjadi sesuatu dengan anda, tuan. Baiklah, semangat Tuan Oak demi cita-cita anda. Aku akan membantumu dengan doa dari jauh." jawab Josh mengejek Andrew.


Andrew menutup panggilan videonya dan menggerutu, "Bukan membantuku malah meledek! Lihat saja, Josh. Aku akan mengurangi gajimu!" bisiknya mengancam.


Tak lama, Camilla datang dan dengan sigap membantunya. "Apa kamu menangis? Kamu teringat keluargamu?" tanya Milla.


Andrew menggelengkan kepalanya dan menunjukkan sebuah bawang yang sedang di kupasnya. Sontak saja, Camilla tertawa terbahak-bahak, "Hahaha! Aku pikir kamu sedih, Willow. Ternyata karena bawang, hahaha. Maafkan aku. Sini, aku bantu." kata Milla seraya mengambil sebuah pisau dan bawang kemudian mulai mengupasnya.


"Boleh aku bertanya?" tanya Andrew yang tidak membuang kesempatannya untuk menyelidiki alasan Camilla kabur di hari pernikahan mereka.


Camilla mengangguk, "Hmm, silahkan." sahutnya. Andrew mengagumi kecepatan tangan Milla dalam mengupas bawang. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk menempa hidup seseorang, tapi Andrew mengakui kalau Camilla Madison bukan tipe gadis manja.


"Bagaimana kamu bisa sampai di kota ini?" tanya Andrew.


Milla tersenyum, "Kota ini kota kecil dan penduduk kota ini sangat ramah. Jadi aku suka disini." jawab Milla, dan itu tidak menjawab pertanyaan Andrew.


Maka, Andrew bertanya kembali, "Maksudku, apa kamu pindahan seperti aku? Tampaknya kamu sudah mengenal dengan baik tempat dan warga sini." tanya Andrew lagi. Dia menginginkan jawaban yang dapat memuaskan rasa ingin tahunya.


"Oh, aku sudah lima tahun berada disini, wajar saja jika aku sudah mengenal tempat ini dengan baik." jawab Milla.


"Kamu baru lima tahun disini? Tadinya kamu darimana?" tanya Andrew lagi semakin penasaran.


"Tidak dari mana-mana. Oke, aku sudah selesai. Aku akan mencuci tanganku dulu setelah itu aku akan bersiap-siap untuk acara malam nanti." kata Milla lagi.


Andrew merasa bahwa Cammila tidak terbuka kepadanya, lantas, apa yang menyebabkan Camilla bisa sampai di kota ini?


***


Sementara itu Charlie masih sibuk dengan ceritanya di depan orangtua Andrew.

__ADS_1


"Camilla, kapan Andrew kembali dari dinasnya?" tanya Nyonya Oak.


Charlie menjawab dengan gugup, "Ah, oh mungkin minggu depan, mah."


"Kok lama?" tanya Nyonya Oak khawatir.


"Dia tidak akan kembali! Aku memintanya untuk melepaskan nama Oak dan jangan jadi anakku lagi sebelum ia dapat mengatakan kejujuran kepadaku." ucap Tuan Oak yang tiba-tiba datang dan bergabung mereka.


Sebelum Charlie pergi ke ruangannya, Tuan Oak sudah memanggilnya lebih dulu, "Kamu! Tetap di tempatmu!" tukas Tuan Oak.


Tuan Oak mendekati Charlie sambil mengingat bagaimana rupa Camilla, saudari kembar Charlie.


"Kamu bukan Camilla, benar bukan? Camilla punya tindik di hidungnya. Hidungmu bersih! Kedua adalah, kukumu." bisik Tuan Oak yang sekarang sedang memperhatikan kuku-kuku Charlie.


"Camilla adalah pemain gitar, tidak mungkin memasang cat atau ornamen kuku seperti ini. Who are you?" tanya Tuan Oak lagi.


Charlie berdiri mematung sementara Tuan Oak mengitari dan terus memperhatikannya, "Dan dimana anakku?" tanya Tuan Oak lagi.


Bibir Charlie bergetar menahan marah, tapi sebenarnya dia takut, "Maksud papa, aku bukan anak papa? Siapa yang papa maksud dengan anak papa dimana?" tanya Charlie. Jantungnya berdetak cepat, ia takut apa yang ia lakukan akan terbongkar.


Sore itu setelah kunjungan Tuan dan Nyonya Oak ke tempat Andrew, Charlie menghubungi Will dan mengajaknya untuk bertemu di suatu tempat.


Setelah mereka bertemu, Charlie meminta Will untuk mengantarkan dirinya ke tempat Camilla, "Antarkan aku lagi kesana!" perintahnya.


"Untuk apa?" tanya Will.


"Menurutku, lebih baik saat ini kamu berdiam di rumah mewah itu tanpa melakukan apa pun dan sesekali jadilah menantu idaman keluarga Oak yang tidak hanya menghabiskan uang suaminya dengan berfoya-foya. Jadilah seperti Camilla." ucap Will lagi.


Charlie mendengus, "Aku? Harus menjadi seperti Camilla? Aku tidak akan sudi! Aku harus bisa memasak, merapikan rumah, dan segala yang dilakukan oleh Camilla, aku tidak sanggup, Will. Lebih mudah jika aku menyuruhnya menjauh saja, kan?" tanya Charlie.


Will menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, "Sesekali pakailah otakmu untuk berpikir, Charlie. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan kecantikan dan fisikmu saja. Manusia itu menggunakan ininya untuk tetap bisa bertahan hidup." kata Will sambil menunjuk pelipisnya.


Charlie berdecak kesal, tapi ucapan Will ada benarnya juga. Dia tidak bisa main asal melabrak, dia harus memasang siasat dan strategi supaya dia bisa menang karena posisi Charlie saat ini seperti pion catur yang sudah terdesak dan tak ada jalan untuk kemana-mana.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Charlie.

__ADS_1


"Mainkan peran Camilla. Apa tadi katamu? Pasang tindik hidung, dan gunting pendek kuku-kukumu. Setelah itu berlatihlah untuk bisa menguasai segala hal." jawab Will.


Charlie menatap kuku indahnya dengan sedih, "Bagaimana aku bisa kehilangan mereka, Will? Aku tidak sanggup. Lihat berlian Swarovski ini, cantik bukan? Dan kamu memintaku untuk memotong semuanya. Astaga, aku sayang mereka." ucap Charlie lagi.


Dia juga membayangkan rambut Camilla yang selalu diikat seadanya, spontan saja Charlie memegang rambut ikalnya dan membelainya dengan rasa sayang.


"Aku harus merelakan ini semua hanya untuk cinta, Will? Rasanya bodoh sekali yah?" sahut Charlie terisak.


"Apa kamu pernah mencintai Andrew? Yang kamu cintai harta Andrew yang tak akan pernah habis. Nikmati saja hidupmu, Charlie. Dan kamu harus selalu berusaha untuk sesuatu yang ingin kamu dapatkan, bukan?" jawab Will tersenyum mengejeknya.


***


Hari demi hari, Andrew semakin dekat dengan Camilla. Tentu saja ia masih menyamar menjadi Robert Willow di kota itu.


"Ternyata menyenangkan berbicara denganmu, Milla. Kamu gadis yang sangat cerdas." ucap Andrew suatu hari.


Camilla tertawa, "Tidak juga. Kalau aku cerdas aku sudah menjadi seorang pengusaha. Itu yang selalu ayah dan ibuku katakan. Kalau kamu tidak bisa menjadi seorang pengusaha maka kamu harus menjadi seorang istri pengusaha, paling tidak." jawab Camilla.


"Kenapa kamu tidak mau?" tanya Andrew semakin detail.


"Untuk apa aku menikah dengan orang kaya atau pengusaha? Maksudku, mereka semua baik tapi entahlah aku tidak suka dengan hal-hal seperti itu karena aku juga tidak mau berubah." jawab Milla.


Andrew meyakinkan dirinya kembali, "Apa kamu pernah memiliki kekasih pengusaha?" tanya Andrew.


Camilla tampak ragu saat menjawab, "Aku tidak pernah punya kekasih karena aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya saja, aku sempat hampir menikah dengan seorang pengusaha." jawab Milla.


Andrew membenarkan posisi duduknya, "Boleh aku tau kenapa kamu berkata hampir?" tanya Andrew lagi.


"Karena....karena aku..."


"Milla, ayo mulai! Pengunjung mulai berdatangan ." Millo berseru kepada Milla sambil melambaikan tangannya.


Milla berpamitan kepada Andrew, "Kalau kamu mau, kamu bisa bergabung bersama kami. Alat musik apa yang bisa kamu mainkan?" tanya Camilla.


"Apa saja bisa aku lakukan." kata Andrew semangat. Dia memutuskan untuk bermain perlahan dan tidak memburu-burui Camilla. Selama Camilla ada di dekatnya, Andrew merasa sanggup menikmati hidup yang keras dan penuh lika liku ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2