
"Camilla! Camilla! Camilla! Aaarrghhh!" Charlie terlihat sangat kesal kepada kembarannya itu. Dia berjalan bolak-balik sembari mengepal-kepalkan tangannya.
"Aaarrgghh! Wanita kecil sialan itu! Berani sekali dia mempermalukanku!"
Brak!
Emosi Charlie tak bisa dibendung manakala dia mengingat Will yang tertangkap basah oleh Camilla. Belum lagi hilang malunya, dia mengingat Andrew yang menyidangnya tadi. "Aarrgghh! Camilla brengsek! Lihat saja pembalasanku! Aarrggghhh!" seru Charlie.
Charlie mengambil tas kecilnya dan bergegas pergi ke rumah orangtuanya, dia sangat kesal dan akan mengadukan Camilla kepada orangtuanya.
"Charlie, bisa kita bicara?" tanya Andrew yang sudah menunggu di ruang keluarga. Dia tau, Charlie pasti akan pergi jadi dia menunggunya di bawah.
Charlie nenatap Andrew dengan wajah memerah, dia sudah menebak apa yang akan Andrew katakan. Charlie tidak dapat beralasan, dia duduk di kursi berlengan di depan Andrew.
"Tentang Will, sudah berapa lama kamu berhubungan dengannya?" tanya Andrew.
Charlie diam, ia tidak menjawab pertanyaan Andrew.
"Kamu tidak mau menjawabku?" tanya Andrew.
"Dia sahabatmu, dan kamu akan marah kepadanya?" Charlie bertanya kembali.
Andrew menghenyakkan dirinya ke sandaran kursi sambil menarik nafas, "Justru karena dia temanku, Charlie. Kenapa kalian tega sekali? Aku tidak tau sudah berapa kali kalian melakukan hal itu di belakangku. Dan, apa alasannya?" tanya Andrew.
"Karena hatimu masih berada pada Camilla, kan? Itu alasannya." tukas Charlie kesal.
Andrew memejamkan matanya, kedua tangannya ia tangkupkan dan ia letakkan di pucuk hidungnya. Perasaan hatinya mulai kembali bergejolak begitu nama Camilla disebut.
"Maafkan aku. Yang aku inginkan adalah bercerai darimu, tapi itu tidak mungkin aku lakukan karena orangtuaku mengenalmu sebagai Camilla bukan Charlotte. Saat ini, aku ingin menenangkan diriku sendiri. Aku akan pergi beberapa hari mungkin lebih untuk berpikir." kata Andrew.
"Pergilah. Aku tidak akan mencegahmu atau melarangmu." ucap Charlie.
Andrew mengangguk, "Dan kamu tidak meminta maaf?" tanya Andrew.
"Untuk apa? Aku tidak melakukan kesalahan, andai pun hubunganku dengan Will kamu anggap suatu kesalahan, seharusnya kamu berpikir dulu, kan? Apa itu benar-benar kesalahanku dan Will? Bukankah itu kesalahanmu yang belum bisa melupakan Camilla?" jawab Charlie.
Andrew menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau kalau kamu sepicik itu." kata Andrew.
Mereka berdua pun meninggalkan rumah mereka dan berpisah jalan.
***
Di apartemen Millo
"Milla, apa yang sebenarnya kamu lakukan tadi?" tanya Millo.
"Membuat keributan. Lima tahun aku menahan perasaanku supaya aku tetap menjaga nama baik keluargaku. Aku tau kalau aku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan, aku akan mencoreng nama Madison, sedang..."
"Kamu dari Madison? Kamu si Kembar Madison? Yang terkenal karena kepandaian mereka?" tanya Millo.
Milla memukul mulutnya, bodoh sekali ia bisa keceplosan mengucapkan nama Madison di depan Millo.
"Aaah, baiklah karena aku tidak sengaja mengucapkan nama keluargaku. Aku Camilla Violetta Madison." kata Milla memperkenalkan dirinya seolah mereka baru pertama kali bertemu.
Millo tertawa. Ia mengulurkan tangannya juga, "Aku Millo James Forest. Hai, Milla senang bertemu denganmu. Hahahaha." balas Millo tersenyum lebar.
__ADS_1
"Apa kamu tau, kita seperti berada di sebuah acara dansa para pejabat tinggi, dan saling memperkenalkan diri dengan memakai gaun atau jas yang rapi." kata Milla.
"Benar sekali. Sayang kita belum pernah bertemu sebelumnya." kata Millo menyayangkan.
"Aku tidak pernah datang, kecuali kalau orangtuaku memaksaku. Mereka punya penyakit yang serius, orangtuaku itu." jawab Milla
Millo menatapnya serius, "Oh, yah? Apakah parah?" tanya Millo.
Milla mengangguk, "Parah. Parah sekali. Kami sudah mengunjungi beberapa dokter di berbagai negara tapi tidak ada satu pun yang mampu menyembuhkan orangtuaku." kata Milla serius.
Millo membenarkan posisi duduknya, "Separah itu kah penyakit orangtuamu? Apa penyakitnya kalau aku boleh tau." tanya Millo.
"Ya, mereka menderita penyakit tidak mau hidup miskin kronis." jawab Milla tertawa.
Millo pun tersenyum, "Kupikir penyakit serius, Milla! Jahat sekali ucapanmu!" ujar Millo.
Milla masih tertawa tergelak, "Hahaha. Kamu yang menanggapinya terlalu serius, Millo. Tapi aku membenci mereka. Selama lima tahun kemarin, mengetahui mereka tidak peduli kepadaku, itu rasanya sakit sekali. Jadi aku menganggp, aku sudah tidak punya keluarga lagi." ucap Milla.
Mereka terdiam sesaat, kemudian Millo mulai bercerita tentang hidupnya, "Keluargaku broken home. Ayahku yang katanya terhormat itu selingkuh dengan seorang wanita muda yang seumuran denganku. Ibuku mengetahuinya dan terus menangis sampai akhirnya memutuskan untuk bercerai. Tapi aku tidak memilih siapa pun, dan aku pergi dari rumah kemudian sampailah aku disini." kata Millo.
Milla menepuk punggung Millo, "Turut prihatin, sobat. Kita lupakan masa lalu suram kita dan ayo kita bekerja!" tukas Milla bersemangat.
Millo mengambil tangan Milla, dan menarik tubuhnya kemudian memeluk Milla, "Terimakasih kamu datang ke hidupku, Milla." sahut Millo.
Milla tersenyum di dalam pelukan temannya itu, "Terimakasih juga mau menampungku." jawab Milla.
***
Kala itu di sebuah salon di pusat kota, "Bagaimana penampilanku, Josh?" tanya Andrew.
Josh melihat ke arah tuannya yang sudah bertransformasi menjadi seorang pria aneh. Rambut lurus dan klimis Andrew berubah menjadi keriting berantakan, wajah putih mulusnya berubah menjadi kecoklatan, begitu pula dengan penampilannya.
Josh mengacungkan kedua ibu jarinya, "Aku tidak yakin ini berhasil atau tidak tapi aku tidak mengenalimu lagi, Tuan." kata Josh.
"Benarkah?" tanya Andrew. Dia segera bercermin di kaca salon itu dan terkejut melihat pantulan dirinya sendiri,
"Astaga, Josh! Aku tidak menyangka aku sejelek ini. Aku buruk rupa sekali." ucap Andrew tapi dia tidak bisa menahan tawanya.
"Jadi, siapa namamu, Tuan Oak?" tanya Josh lagi mengetest ingatan Andrew.
"Aku adalah Robert Willow. Aku tidak mempunyai pekerjaan dan ingin bekerja di club malam itu. Aku berasal dari kota N yang jauh disana, dan aku berkelana ke kota Z untuk mencari peruntungan disini." jawab Andrew.
"Bagaimana, ada kesalahan kah?" tanya Andrew.
Josh menggeleng, "Itu sempurna, Tuan." jawab Josh tersenyum.
Andrew berpikir kembali, "Tapi bagaimana awal mula kemunculan Robert ini? Hmmm, bagaimana kalau aku pingsan di depan club malam itu, tapi kamu harus mengecek apakah Milla ada disana. Bagaimana menurutmu?" tanya Andrew.
"Ide bagus, Tuan Oak. Kapan kita akan mulai ini?" tanya Josh.
"Malam ini. Dan kamu tidak boleh terlalu dekat denganku, awasi aku saja dari jauh. Oke, Josh!" seru Andrew.
"Baik, Tuan Oak." jawab Josh menuruti perintah tuannya.
***
__ADS_1
Malam itu, Milla dan Millo sedang asik bernyanyi menghibur para pengunjung yang datang di club malam itu.
"Angkat tangan kalian ke atas, dan ikuti irama musik kami. Menarilah!" ajak Milla.
Millo memainkan gitarnya, melantunkan sebuah lagu bernada ceria.
Para pengunjung pun mengikuti irama musik mereka sambil sesekali berdendang bersama.
Setelah selesai, mereka membelikan segelas bir kepada pemilik club malam itu, "Untukmu, Bob. Aku yang traktir." sahut Milla penuh gaya.
Bob menerima gelas bir itu sambil tersenyum, "Terimakasih anak baik. Aku doakan kamu selalu sehat sehingga bisa menghiburku dan orang lain." jawab Bob.
"Apakah hanya Milla yang kamu doakan, Bob?" protes Millo.
Bob tertawa, "Kamu yang harus menjaga Milla supaya tetap sehat, Millo." jawab Bob.
Millo tersenyum, "Doakan aku supaya aku lebih sehat dari Milla sehingga aku bisa terus menjaganya, bukan begitu, Bob? Hahaha!" ucap Millo berkelakar.
Bob tertawa kembali, "Ya, ya. Aku doakan kalian sehat dan bahagia selamanya. Hati-hatilah di jalan pulang. Ini sudah terlalu larut." ucap Bob.
"Amin! Terimakasih doanya, Bob. Sampai jumpa lagi!" sahut Milla dan Millo bergegas pergi dari club malam itu.
Begitu mereka sampai di parkiran motor, "Millo, apakah itu orang mati? Apakah dia sudah mati?" tanya Milla menunjuk kepada seseorang yang tergeletak di bawah pohon, di dekat parkiran motor.
Millo mendekati orang tersebut dan mengeceknya, "Dia masih hidup. Mungkin pingsan. Kasihan sekali." kata Millo.
"Kita bawa saja ke apartemen kita lalu kita beri dia makan dan minum. Sepertinya dia seorang tunawisma, kasihan sekali. Aku akan menggendongnya." kata Milla bersiap mengangkat tunawisma itu.
"Mana bisa, kan? Bantu aku. Naikan dia ke atas motor!" tukas Millo.
Dengan susah payah mereka menaiki tunawisma itu ke atas motor, dan Milla memeganginya di belakang.
"Ini aneh sekali." keluh Milla.
Millo tertawa, "Bersabarlah." jawab Millo dan ia segera melajukan motor itu perlahan supaya tunawisma dan Milla tetap aman di atas motornya.
Setibanya di apartemen mereka, tunawisma itu dibaringkan di sebuah sofa panjang.
"Halo, pak! Bangunlah." kata Milla sambil memberikan minyak angin ke hidung tunawisma tersebut.
Tunawisma itu pun terbangun, dam dengan perlahan duduk walaupun masih tampak lemas.
"Ini, minumlah dulu. Apakah kamu sudah makan?" tanya Milla yang terkejut karena ternyata tunawisma itu masih sangat muda, mungkin seumuran dengan Millo dan Milla.
Tunawisma itu mengambil gelas dari tangan Milla dan meminumnya dengan cepat, "Uhuk! Uhuk!"
Milla mengusap punggung tunawisma itu, "Pelan-pelan saja nanti kamu tersedak." kata Milla.
Millo datang dan membawakan semangkuk sup jagung dan roti lembut untuk tunawisma itu.
Tunawisma itu tampak menikmati makanannya, sehingga Milla berani bertanya kepadanya, "Maaf, tapi siapakah namamu? Dan darimana asalmu?" tanya Milla.
"Aku Robert Willow, panggil saja aku Rob. Aku dari kota N, aku masih mau berjalan sampai pusat kota tapi aku lemas sekali maka itu aku berbaring di bawah pohon di tempat tadi." jawab Rob tidak jelas karena mulutnya penuh makanan.
"Siapa namamu tadi?" tanya Millo lagi.
__ADS_1
"Robert Willow."
...----------------...