Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Messy Day


__ADS_3

"Hei, Millo. Aku pinjam motormu." sahut Milla menyambar kunci motor Millo.


"Mau kemana?" tanya Millo, mengambil kembali kunci motor itu.


"Kota sebrang." jawab Milla.


Millo terdiam, "Pusat kota? Tempat asalmu?" tanya Millo.


Milla mengangguk, "Ada yang harus aku lakukan dan aku ingin balas dendam sedikit kepada mereka." jawab Milla lagi, senyumnya merekah menghiasi wajahnya yang manis.


"Aku akan mengantarmu." ucap Millo.


Karena Milla tidak punya pilihan lain, maka ia terpaksa mengikuti ide Millo. Ia naik ke atas motor besar Millo dan sekarang, ia sudah tidak ragu berpegangan kepada Millo.


Millo tersenyum lebar begitu tangan Milla melingkar di pinggangnya, "Oke. Kita jalan." sahut Millo, melajukan kendaraan roda duanya dengan suara menderu.


"Ikuti mereka!"


Sebuah mobil hitam, mengekor di belakang motor Millo.


"Tuan, sepertinya mereka ke arah rumah Tuan Oak." kata Josh, asisten Andrew.


Andrew mengangguk setuju, "Kenapa mereka kesana? Ada apa? Cepat, ambil jalan berputar, Josh!" seru Andrew.


Josh segera memutarbalikkan arah mobilnya untuk mencari jalan tercepat menuju ke kediaman Oak.


"Milla, benar ini rumahmu?" tanya Millo.


Milla menggeleng, "Ini bukan rumahku, ini rumah Andrew. Aku hanya ingin mampir sebentar untuk menyapa saudari kembarku tersayang." jawab Milla.


Millo memandang Milla dengan kerutan di keningnya, "Jangan katakan kepadaku, kamu akan mengajak dia bergelut." sahut Millo.


"Hahaha! Tidak aku hanya ingin mencari bukti! Ikuti aku! Ah, bisakah kamu memanjat?" tanya Milla meragukan.


Millo mendengus, "Aku lebih banyak makan asam garam daripadamu, Milla." tukasnya.


Tak lama, mereka sudah memanjati dinding kediaman Oak yang banyak di tumbuhi tumbuhan merambat.


Milla menuju kamar Andrew, dia ingat betul letak kamarnya. Kamar itu bersebelahan dengan kamar yang dipakai untuk merias dirinya di saat malam naas itu. Milla masih bisa merasakan sakit ketika melewati kamar itu.


Hup!


Kemudian sampailah mereka ke kamar Andrew. Milla menyiapkan kameranya dan benar saja, Charlie dan Will sedang melakukan sesuatu yang terlarang.


Will tentu sudah hafal jam kerja Andrew, dan dengan leluasa mereka bisa melakukan itu. Tapi bodoh sekali, mereka melakukan hal terlarang itu di kamar Andrew, dimana jendela kamar itu langsung mengarah keluar.

__ADS_1


Dengan merunduk, Milla merekam aktivitas panas mereka. Setelah dirasa cukup, Milla menyimpan video rekaman itu. Dan memberikan kameranya kepada Millo, "Tolong pegangi kameraku. Kita akan turun." ucap Milla.


Millo mengangguk dan mulai menapaki balkon serta tumbuhan merambat yang berada di sepanjang kamar.


Bruk!


"Ayo, kita kembali Millo." ajak Milla.


Namun sayang bagi mereka, Andrew sudah menunggu mereka di bawah dengan tatapan tajam.


"Camilla, halo." sapanya tegas dengan tangan berkacak di pinggang.


"Hai." jawab Milla.


"Aku pikir kamu sudah lupa jalan pulang." ucap Andrew menyindir pedas.


"Tadinya seperti itu. Baiklah, aku akan kembali. Bye, Andrew." sahut Milla.


Millo sudah bersiap menyalakan mesin motornya ketika tangan Andrew menangkap pergelangan tangan Milla dan menariknya ke dalam.


"Milla! Camilla!" Millo mengejar mereka ke dalam, tapi beberapa penjaga menghadangnya.


Di kamar atas, Charlie yang baru saja menyelesaikan ronde kesekiannya dengan Will mendengar suara ribut-ribut di bawah.


Charlie melongok ke bawah, ada sebuah motor dan suara seorang pria yang sedang berusaha memohon kepada para penjaga untuk masuk. Charlie mengedarkan pandangannya lebih jauh, "Mobil Andrew! Will! Sembunyilah! Aku akan turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi. Jika kondisi sudah aman, aku akan menemuimu kembali!" kata Charlie.


Ia menghampiri Will dan menciumnya, "Maafkan aku untuk pagi yang sangat kacau ini." ucap Charlie.


"That's oke. Pergilah." kata Will.


Seakan tak rela melepas Charlie, Will menarik kembali tangan Charlie dan mengecup bibir Charlie.


***


"Apa yang kamu lakukan di rumahku?" tanya Andrew.


"Itu urusanku. Dan karena sudah selesai, aku ingin kembali." jawab Milla. Ia menghindari tatapan mata Andrew.


"Kenapa kamu tidak meminta ijinku untuk datang kesini? Kamu cerdas kan?" tanya Andrew semakin kesal karena Milla sama sekali tidak menatapnya.


"Untuk apa aku meminta ijinmu? Sudah kukatakan aku hanya sebentar dan lagi urusanku tidak ada hubungannya denganmu." bantah Milla.


Perdebatan demi perdebatan mereka lakukan dan tak kunjung selesai.


"Kembalilah, Milla." ucap Andrew pada akhirnya.

__ADS_1


"Oh, ada tamu ternyata?" sahut Charlie dan segera bergabung dalam perdebatan mereka.


"Charlie, bisakah kamu kembali lagi ke atas..."


"Dan menemani selingkuhanmu disana. Aku yakin, saat ini dia sedang bersembunyi di suatu tempat. Kasihan sekali pria itu nasibnya seperti barang curian yang harus di sembunyikan jika pemiliknya datang." Milla memotong ucapan Andrew.


Andrew menatap Milla tajam, dia tidak apa maksud ucapannya tersebut, "Selingkuh? Siapa yang selingkuh?" tanya Andrew.


Charlie yang panik segera menggelendot manja kepada Andrew, "Aku rasa dia sedang mabuk." jawab Charlie.


Dengan cepat, Camilla menaiki tangga berputar rumah itu, menuju kamar Andrew. Sontak saja, Charlie berteriak memanggil namanya. Namun, teriakan saudari kembarnya itu hanya dianggap angin lalu oleh Milla.


Brak!


"Hei, laki-laki brengsek! Keluar kamu dari persembunyianmu!" Milla menggedor-gedor pintu lemari, dan kini ia membuka pintu kamar mandi, masuk ke dalam dan memeriksa semua bagian kamar kecil itu.


Charlie mengejarnya, "Camilla! Jangan gila, kamu yah! Hentikan, Camilla! Aku akan laporkan ulahmu ini kepada mama!" tukas Charlie.


"Aku menangkapmu, laki-laki buaya!" Milla berseru kepada Will yang berhasil di temuinya sedang meringkuk di bathtub. Milla menyeretnya keluar dan membekuknya dengan mudah.


"Camilla!" Charlie yang panik melayangkan tangannya ke pipi Milla tapi Milla menangkap tangan Charlie dan memutarnya hingga Charlie mengaduh kesakitan.


"Milla! Lepaskan tangaku, wanita gila!" tukas Charlie.


Di tengah keramaian itu, Milla berteriak memanggil Andrew di depan wajah Charlie, "Andrew! Andrew! Lihat apa yang kutemukan!"


"Aarrgghh! Telingaku! Lihat saja Milla! Tunggu pembalasanku!" tukasnya.


Andrew segera datang dan begitu terkejut melihat pemandangan rumit yang terjadi di dalam kamarnya. Milla sedang duduk di atas seorang pria yang tangannya tertekuk ke belakang tubuhnya, tangan Milla yang satu lagi membekuk tangan Charlie.


Setelah mencerna apa yang terjadi, Andrew segera memanggil petugas keamanan yang bertugas di rumahnya. Dan tak lama, ketiga perusuh itu segera di amankan.


"Will, aku tidak menyangka kamu akan bermain gila dengan istriku di belakangku." ucap Andrew, suaranya sarat dengan kekecewaan.


Kemudian ia menoleh kepada Charlie, "Aku tidak mungkin menceraikanmu, Charlie. Kamu tahu bagaimana orangtuaku, kan? Tapi aku tidak bisa bersamamu lagi." sahut Andrew lemas.


Sekarang mata Andrew menatap Milla, "Aku ingin bicara denganmu." kata Andrew


Milla menggeleng dan beranjak bangkit dari kursinya, "Tidak mau! Aku akan pulang. Dan ini, maafkan aku karena aku sedang kesal kepada saudariku tersayang ini." ucap Milla memberikan video rekaman Charlie dan Will yang tadi ia rekam bersama Millo kepada Andrew, setelah itu ia mengecup pipi Charlie.


Sebelum Milla pergi, ia memberikan jari tengahnya kepada Will.


Dengan cepat Milla keluar dari rumah itu, ia sempat menoleh ke belakang untuk melihat apakah Andrew mengejar dan akan menahan kepergiannya? Ternyata tidak. Milla menghela nafas, dan melangkahkan kakinya sejauh mungkin dari rumah itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2