Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Charlie's Idea


__ADS_3

"Kenapa mama harus berkata kalau aku mengandung? Kan jelas-jelas aku tidak mengandung! Dan lagi, kenapa juga Camilla bodoh itu harus datang! Aaarrgghh! Rencanaku sudah berjalan dengan bagus sebelum kalian semua mengacaukannya!" tukas Charlie marah-marah kepada kedua orang tuanya.


Nyonya Madison bersiap untuk membela diri. "Itu refleks dan spontan kami lakukan! Camilla juga saudaramu, anak kami. Wajar saja kami terkejut melihat dia ada disana. Mama pikir Milla sudah mati atau pergi ke tempat yang sangat jauh seperti katamu," kata Nyonya Madison.


Charlie tidak bergeming. Ya, ia pun berpikir demikian. Namun, siapa menyangka kalau ternyata Milla berhasil bertahan dan bahkan membalikan keadaan.


"Mama, apa mungkin Camilla membalas dendam?" tanya Charlie.


Kedua mata Nyonya Madison membesar. "Mungkin saja, Charlie. Dan selama ini ia dibantu oleh Forest itu. Forest Coorp itu perusahaan apa sih? Mama belum pernah dengar," tanya Nyonya Madison.


"Putranya dibiarkan ugal-ugalan seperti itu! Bagaimana cara dia mendidik anak?" Nyonya Madison kembali menanyakan kiprah Nyonya Forest dalam membesarkan Millo.


"Ehem!" Tuan Madison berdeham.


"Forest Coorp. Perusahaan minyak terbesar di negara ini. Bagaimana bisa kamu tidak tau soal itu? Mereka bergerak di bidang plantation juga. Apa yang kalian lakukan saat pertemuan para pengusaha? Hanya Camilla yang memperhatikan ini. Terkadang aku menyesal karena aku mempertahankan kalian berdua di hidupku!" tukas Tuan Madison.


Nyonya Madison dan Charlie memberengutkan bibir mereka karena kesal. Nyonya Madison mengakui kalau kali ini ucapan suaminya benar. Camilla gadis pintar dan cerdas. Camilla jugalah yang berhasil menyeret nama Kembar Madison Yang Cerdas.


Tak bisa di pungkiri bahwa anak kesayangannya, Charlie hanya mengandalkan wajah dan tubuhnya saja untuk mendapatkan apa yang ia mau. Begitu pula dengan simpati pria.


Seperti sekarang, ia memperhatikan anak gadisnya itu sedang menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Nyonya Madison menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Charlie.

__ADS_1


***


Sore hari itu, Charlie menghubungi Will untuk menceritakan kekesalannya.


"Mau kemana sekarang?" tanya Will.


Charlie mengangkat bahunya. "Suka-sukamulah. Aku sedang tidak bisa berpikir," jawab Charlie.


"Sejak kapan kamu bisa berpikir? Hahaha," kata Will menggoda.


Charlie menatap mata Will tajam. "Tapi? Apa yang kamu lakukan saat ini bersamaku? Menemani gadis bodoh? Begitu?" tanya Charlie galak.


"Hanya kamu yang menyayangiku, sayang ayahmu di penjara karena kasus korupsi. Kalau tidak ada kasus itu, mungkin aku diijinkan untuk menikah denganmu," jawab Charlie.


"Tapi kamu bilang kamu mencintai Andrew," tuntut Will.


"Itu karena aku sempat cemburu, Camilla bisa mendapatkan Andrew. Setelah aku tinggal bersamanya, itu tidak terlalu mengasyikkan. Dia terlalu sibuk memikirkan Camilla," balas Charlie.


Charlie mengakui perasaannya saat ini. Mungkin saja dulu, ia tidak mencintai Andrew hanya iri karena Camilla berhasil mendapatkan Andrew. Tapi sekarang, Will lah segala-galanya untuk Charlie.


Malam itu, Will mengajak Charlie menginap di sebuah hotal mewah. Disanalah mereka menghabiskan malam berdua. Semua ruangan yang ada di kamar itu, tidak terlewatkan oleh mereka.

__ADS_1


"Thank you, Will karena sudah menemaniku sore ini. Lelah sekali rasanya sejak kemarin malam aku terus berdebat dan berpikir. Kepalaku rasanya mau pecah," keluh Charlie.


"Belum lagi, mama memintaku berpura-pura mengandung anak Andrew demi mempertahankan Andrew," sambung Charlie.


Will berpikir, tangannya sibuk bermain di salah satu gundukan indah milik Charlie. "Kalau begitu, ayo kita berikan Andrew seorang anak," kata Will tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Charlie terkejut.


"Mendapatkan hartanya paing tidak. Katakanlah kamu mengandung, lalu minta pertanggungjawaban Andrew. Setelah itu kalian bisa bercerai dan menuntut harta gono gini untukmu dan anak kita," usul Will bersemangat.


Charlie menautkan kedua alisnya. "Lalu? Bagaimana caranya meyakinkan Oak kalau itu anak Andrew?"


"Kita akan menjebaknya," jawab Will kemudian berbisik kepada Camilla mengenai rencananya.


"Bagaimana?" tanya Will lagi.


Charlie mengangguk. "Itu ide bagus. Kita habiskan harta Oak terlebih dahulu. Aku penasaran seberapa banyak hartanya, hahaha," jawab Charlie menyetujui asal Will.


Malam itu, mereka bermain tanpa pengaman karena mereka berniat menjadikan anak mereka sebagai Oak, bukan sebagai Scott.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2