Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Meet The Detective


__ADS_3

Seorang pria berjaket kulit berwarna hitam mengetuk pintu apartemen Millo di pagi hari itu.


"Permisi," sapa pria itu.


Millo yang membukakan pintu, bertanya sopan kepada pria itu. "Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Millo.


Pria itu mengeluarkan lencana detektif dari kepolisian pusat kota kepada Millo. "Saya detektif Daniel, ingin bertemu dengan Camilla Madison. Benar disini alamatnya?" tanya pria itu.


Millo menautkan kedua alisnya. "Benar. Tapi ada keperluan apa seorang detektif mencari Camilla?" tanya Millo.


Ia tidak mempersilahkan detektif itu masuk ke dalam. Alih-alih memintanya masuk, Millo mengajak sang detektif berbicara di luar.


"Oh, ini terkait laporan dari Tuan Oak tentang kasus penculikan yang terjadi lima tahun lalu, dan saya disini ingin mengumpulkan bukti dan mendengarkan kesaksian dari korban, yakni Camilla Madison," jawab Detektif Daniel.


"Tuan Oak?" Millo bertanya lagi.


Detektif Daniel paham, Millo bukan orang yang mudah menyerah, maka ia memberikan berkas dokumen kepada Millo untuk ia baca.


Millo mengambil dokumen itu dan membacanya dengan teliti. Tak lama ia berpamitan kepada Detektif Daniel untuk masuk ke dalam sebentar.


Ia membangunkan Andrew yang masih tertidur. "Hei, bangun, ikuti aku sebentar. Kita perlu bicara sekarang," ujar Millo.


Andrew mengerjapkan mata dan meregangkan tubuhnya. "Ada apa sepagi ini?" tanya Andrew.


"Ikut aku sebentar, jangan sampai Milla terbangun," jawab Millo.


Mereka berdua bangun dan berjalan dengan berjinjit supaya tidak menimbulkan suara sedikit pun. Kemudian mereka membuka pintu sepelan mungkin.


Setelah di luar, Millo memperkenalkan Andrew dengan Detektif Daniel.


"Detektif Daniel, apa yang membawa anda ke kota kecil ini? Bukan berlibur aku rasa," sahut Andrew.


Millo terkejut karena Andrew dan Detektif Daniel sudah saling mengenal. "Jadi, kalian sudah saling kenal?" tanya Millo.


Andrew mengangguk. "Ya, Detektif Daniel ini detektif keluarga kami. Papa selalu meminta tolong kepada Detektif Daniel ini untuk memata-matai atau menyelidiki kasus yang aneh. Biasanya berhubungan dengan pegawai kami," jawab Andrew menjelaskan.


Detektif Daniel tersenyum menanggapi pernyataan Andrew. "Dan tentu saja saya tidak sedang berlibur, Tuan Oak. Saya mencari Camilla Madison dan saya juga terkejut melihat anda berada disini," kata Detektif Daniel.

__ADS_1


"Camilla? Ada perlu apa dengan Camilla?" tanya Andrew menyelidik. Gesture tubuhnya segera berubah menjadi waspada.


"Ayahmu memintaku untuk menyelidiki kasus penculikan lima tahun lalu yang menimpa Camilla Madison. Dan kami meminta saudari Camilla untuk memberikan kesaksiannya dalam persidangannya nanti," jawab Detektif Daniel.


Andrew terdiam dan berpikir. 'Apakah ini ada hubungannya dengan papa? Apakah saat papa mengajak Milla bertemu saat itu?'


"Apakah Milla sudah setuju melakukan ini? Begini saja, aku akan membicarakan ini dengan papa. Setelah itu aku akan menghubungi anda kembali," ucap Andrew.


Namun, Detektif Daniel bersikeras ingin bertemu dengan Camilla hari itu.


Akhirnya Andrew dan Millo menyerah. "Tunggulah di cofee shop di pojokan sana. Kami akan membangunkan Milla terlebih dahulu,"


"Kalian tinggal bersama?" tanya Detektif Daniel.


Andrew dan Millo mengangguk. "Ya, ada masalah dengan itu?" tanya Millo.


Detektif Daniel menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak ada masalah. Baiklah, aku akan menunggu kaliam disana," jawab Detektif Daniel.


"Bagaimana?" tanya Millo setelah Detektif Daniel pergi.


Mengingat Detektif Daniel akan sangat menurut kepada perintah ayahnya, jadi tidak ada alasan untuk menghindari Detektif Daniel saat ia sudah dalam mode bertugas.


Dengan langkah perlahan, mereka mengetuk kamar Camilla.


Tok! Tok! Tok!


"Milla, apakah kamu sudah bangun?" tanya Millo.


Andrew membuka pintu kamar Camilla dengan perlahan, lampu kamarnya masih gelap dan tampak Camilla masih berada di balik selimutnya.


Andrew dan Millo mendekati Milla, mengusap pundaknya perlahan.


"Milla, bangunlah sebentar," bisik Millo di telinga Milla.


Andrew menatap Millo tidak senang. "Jangan terlalu dekat, Millo. Kamu bisa saja menciumnya dengan tidak sengaja nanti!" tukas Andrew dalam bisikan.


"Aku akan menjadikannya seperti itu," jawab Millo menatap wajah Milla lekat-lekat.

__ADS_1


Andrew mengepalkan tangannya. "Aku akan membawanya pergi dari sini kalau begitu! Awas! Biar aku saja yang membangunkannya!" seru Andrew lupa berbisik.


Dan suaranya membangunkan Milla. "Ada apa berisik sekali sih?" tanya Camilla, ia segera beranjak dari ranjangnya dan mengucek-kucek kedua matanya.


"Pa...pagi. Maafkan aku karena telah membangunkanmu dan si bodoh ini, suaranya tidak tau sopan santun! Maafkan kami," ucap Millo.


Camilla membuka matanya. "Kenapa kalian berdua bisa ada di kamarku?" tanya Milla dan menaikan kembali selimutnya hingga menutupi semua bagian tubuhnya yang hanya memakai kaus oversized tanpa bawahan. Bagian pahanya sempat terekspos dan kedua pria itu melirik ke arah sana.


"Ma...maafkan kami. Kami tidak memperhatikan itu dan sekarang kami akan keluar dan menunggumu di luar. Maafkan kami. Millo, ayo!" ajak Andrew salah tingkah dan menutupi matanya.


Setelah sepuluh menit akhirnya Milla keluar dari kamarnya dengan memakai satu set overall. Rambutnya yang ikal ia biarkan tergerai begitu saja.


"Ada apa?" tanya Milla.


"Ada seorang detektif mencarimu," jawab Millo singkat.


Milla mengerutkan keningnya. "Detektif? Aku tidak melakukan kejahatan, bahkan saat ini nyawaku saja belum terkumpul sepenuhnya," kata Camilla membela diri.


Andrew menarik lengannya dan meminta Camilla duduk di kursi sebelahnya. Dengan cekatan, Andrew menuangkan susu putih ke dalam mangkuk sereal dan memberikan dua genggam besar sereal ke dalam mangkuk yang sudah terisi susu itu.


"Makanlah," sahut Andrew.


"Thanks," balas Camilla sambil menyuap sesendok besar sereal ke dalam mulutnya.


"Detektif apa ini? Kenapa ia ingin bertemu denganku?" tanya Camilla sembari mengunyah.


Millo dan Andrew menjelaskan secara bergantian tentang Detektif Daniel.


Camilla menarik nafas dan menghembuskannya. "Aku belum menjawab pertanyaan ayahmu tentang menjadi saksi mengenai kasus penculikan lima tahun lalu. Aku tidak pernah membayangkan kalau keadaan ini menjadi serius. Dan ini sudah lima tahun berlalu, maksudku kita lupakan saja, dan hidup dengan membuka lembaran baru di dalamnya. Itu lebih mudah di jalani daripada harus berlarut-larut seperti ini. Aku tidak suka!" tukas Camilla.


Ia tidak pernah membayangkan Charlie akan mendekam di dalam penjara karena ulahnya. Belum lagi orangtuanya juga akan ikut terseret kasus ini, kan?


Dalam hatinya ada sedikit rasa benci kepada saudari kembarnya itu yang selalu mencari masalah. Dsn tidak hanya sekali saja Charlie seperti itu. Tapi semenjak mereka kecil pun begitu. Charlie yang berbuat, Camilla yang akan bertanggung jawab. Maka dari itu, Camilla lebih memilih menghindari keluarganya sejauh mungkin. Bukan karena takut hanya saja dia tidak ingin ribut dan di lain sisi juga Camilla lelah karena harus menanggung akibat dari perbuatan-perbuatan yang tidak ia lakukan. .


"Aku akan menemui Detektif Daniel," sahut Camilla memutuskan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2