
Sebuah surat yang di tertutup amplop putih dengan cap kepolisian tiba di kediaman Madison. Pelayan di rumah tersebut menyampaikan amplop putih itu kepada Tuan Madison yang sedang bekerja di ruangannya.
"Tuan, ini ada surat dari polisi," sahut pelayan itu memberikan surat kepada Tuan Madison.
Tuan Madison menghentikan pekerjaannya, kemudian ia mengambil surat tersebut dari pelayannya. "Polisinya masih ada?" tanya Tuan Madison.
Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Sudah pergi, Tuan. Mereka hanya memberikan surat itu," jawab si pelayan.
Tuan Madison mengibaskan tangannya ke arah pelayan tersebut, tanda sudah waktunya pelayan itu keluar dari ruangan Tuan Madison.
Tuan Madison membuka surat tersebut, dan membaca isinya. Dadanya naik turun saat ia membaca surat itu. Tak lama ia *******-***** surat itu dan menggebrak meja dengan tangannya yang terkepal.
"Sialan! Oak sialan!" tukas Tuan Madison.
Setelah memasukan surat tersebut ke perapian, Tuan Madison menghubungi pengacaranya.
"Bicaralah dengan Camilla, minta ia memihak kepada kita. Bagaimana bisa ia tidak membela keluarganya sendiri dan malah membantu orang lain!" sahut Tuan Madison kepada pengacaranya.
"Baik, Tuan. Saya akan segera menemui Nona Madison," jawab sang pengacara.
Tuan Madison menutup panggilan telponnya dan menggerutu. Ia pun segera keluar dari ruangan kerjanya dan mencari Charlie.
Tuan Madison mengetuk pintu kamar Charlie. Ia tau Charlie ada di dalam. Sudah beberapa hari ini, Charlie tidak keluar kamar karena katanya tidak enak badan.
"Hei, bagaimana keadaanmu?" tanya Tuan Madison lembut, ia menghampiri ranjang Charlie dan duduk di samping putrinya yang sedang terbaring.
"Aku baik, tapi masih tidak enak," jawab Charlie. Wajah Charlie pucat pasi. Ini membuat Tuan Madison khawatir.
"Aku akan panggilkan dokter untukmu, kalau perlu semua dokter spesialis akan aku minta untuk memeriksamu. Apakah kamu sudah makan?" tanya Tuan Madison lagi memegang kening Charlie.
Charlie menggelengkan kepalanya. "Aku sedang tidak enak makan juga, pah," jawab Charlie lemas. Ia berusaha duduk untuk berbicara dengan ayahnya.
Ayahnya tidak tega meminta Charlie menemui Camilla di kota sebrang yang cukup jauh. Tuan Madison meminta alamat Camilla kepada Charlie.
"Minta saja dia datang kesini. Katakan kepadanya aku sedang sakit. Dia pasti akan datang," kata Charlie.
"Kamu tidak tau alamat tinggal Camilla?" tanya Tuan Madison.
Charlie menggelengkan kepalanya. "Tidak, karena aku selalu di antar temanku kalau kesana," jawab Charlie.
Tuan Madison menghela nafasnya. "Baiklah. Beristirahatlah dan pastikan perutmu terisi," sahut Tuan Madison.
Charlie kembali berbaring di ranjangnya. Sakitnya Charlie membuat Tuan Madison berpikir. Biasanya jika salah satu dari mereka sakit maka yang lain akan sakit. Apakah Camilla sedang sakit saat ini?
Pikiran itu menyiksa Tuan Madison. Bagaimana pun Camilla juga putrinya, siapa pun pasti akan mengkhawatirkan anaknya.
__ADS_1
Charlie memberikan nomor ponsel Camilla dan meminta Tuan Madison yang menghubunginya.
Tuan Madison menghubungi nomor ponsel tersebut,
Ring... Ring ..
Tidak ada jawaban, apa benar ini nomor Camilla? Tuan Madison kembali menghubunginya, dan seorang pria menjawabnya.
"Halo, Camilla sedang ada urusan sebentar dan ponselnya tertinggal. Dengan siapa saya bicara?" jawab suara pria di sebrang.
"Kamu siapa, bocah tengik!" tanya Tuan Madison kesal. Ia membayangkan Camilla menjalani kehidupan yang liar di luar sana.
"Saya dengan temannya, Millo. Dan anda siapa?" tanya Millo.
'Dia lagi! Anak ingusan sok tau itu!' ucap Tuan Madison bermonolog.
"Saya ayah Camilla! Kemana anak itu? Kalian berbuat macam-macam yah? Kenapa ponsel Camilla bisa ada di kamu, anak kecil?" tuntut Tuan Madison.
Terdengar dengusan dari Millo. "Camilla sedang berbicara dengan seorang detektif, Tuan Madison. Saya juga tidak tau ada urusan apa detektif itu dengan Camilla. Dan jika anda mempunyai pesan, anda bisa menitipkan pesan itu kepada saya, nanti pasti akan saya sampaikan," jawab Millo.
"Detektif? Detektif apa?" tanya Tuan Millo yang tidak dapat menahan rasa penasarannya.
"Entahlah, saya juga tidak tau. Eh, tapi tunggu dulu, Tuan. Sepertinya Camilla sudah selesai. Saya akan sambungkan anda dengan Camilla," kata Millo.
Kemudian terdengar ia memanggil Milla dengan suaranya yang keras. "Camilla, ayahmu menghubungimu,"
Tuan Madison berdeham untuk menyiapkan dirinya berbicara dengan Camilla. "Ehem! Saudarimu sakit, pulanglah sebentar. Dia ada di rumah kami saat ini," sahut Tuan Madison.
Belum selesai Camilla menjawab, Tuan Madison sudah menutup panggilan telpon dengan Camilla.
Camilla hanya menatap ponselnya dengan heran. "Ada apa dengan ayahku?" tanya Camilla kepada ponselnya.
Millo dan Andrew yang baru saja kembali dari pekerjaannya menyapu jalan menghampiri Camilla. "Ada apa, Milla?" tanya Andrew.
"Papaku memintaku pulang karena Charlie sakit, katanya. Tapi aku baik-baik saja," kata Camilla.
"Tentu saja kami baik-baik saja. Tidak ada hubungannya sakit Charlie dengan kamu, kan?" tanya Millo.
Camilla berdecak tak sabar. "Tentu saja ada. Aku dan Charlie kan saudara kembar. Biasanya kalau aku sakit maka Charlie akan ikut sakit begitu juga sebaliknya. Dan itu berlaku dimana pun kami berada walaupun kami terpisah, itu akan seperti itu," kata Camilla menjelaskan.
"Lalu, kamu mau kesana? Aku akan mengantarmu," kata Millo menawarkan.
"Tidak, aku yang akan mengantarnya," balas Andrew tak kalah cepat.
Milla pun tak kalah cepat, ia mengambil kunci motor dari tangan Millo. "Aku akan jalan sendiri. Ini urusanku, kalian jaga rumah!" tukas Camilla.
__ADS_1
Ia memakai helmnya dan melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Kediaman Madison,
Setibanya di rumah, Camilla masuk dan segera di sambut oleh pelayan serta juru masak di rumahnya.
"Oh, Nona Madison. Kamu masih hidup, kami pikir,- maafkan kami," ucap salah satu pelayan di rumah itu.
Camilla memeluk mereka satu per satu. "Dimana papaku?" tanya Camilla.
Salah satu pelayan menunjukkan dimana Tuan Madison kepada Camilla.
Camilla mengetuk pintu ruangan kerja ayahnya. Dan terdengar sahutan yang menyuruhnya untuk masuk.
"Hai, pah," sapa Camilla.
Tuan Madison mengangkat wajahnya dan meminta Camilla duduk di kursi persis di depan Tuan Madison.
"Adikmu sakit, dan kamu bertemu dengan detektif yang tidak jelas. Sekarang, bisa jelaskan kepadaku?" tanya Tuan Madison tanpa basa basi.
Inilah yang dibenci Camilla dari keluarganya. Tidak ada yang menanyakan bagaimana keadaan dia, hanya Charlie, Charlie, dan Charlie saja yang mereka pikirkan.
"Aku ingin bertemu Charlie. Dia ada di kamarnya, kan?" tanya Camilla. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu ruangan kerja Tuan Madison.
"Hei, aku belum selesai berbicara denganmu, duduk!"! titah Tuan Madison dengan tegas.
Tapi Camilla menolak. "Nanti saja. Aku ada urusan dengan putrimu," sahutnya.
'Anak kurang ajar!' batin Tuan Madison. Wajahnya memerah menahan emosi.
Sementara itu, Camilla segera naik menuju ke kamar Charlie. "Hei, sister," sapa Camilla.
Charlie segera duduk dan memandangi saudara kembarnya itu. Bahkan tanpa janjian pun, warna baju mereka serupa.
"Sakit apa kamu? Kenapa aku baik-baik saja?" tanya Camilla yang segera meminta Charlie untuk bergeser. Dan ia segera berbaring di samping saudari kembarnya itu.
Charlie tertawa mengejek. "Huh! Tentu saja kamu baik-baik saja. Sakitku bukan sakit biasa. Aku sedang mengandung," kata Charlie percaya diri.
Camilla tertawa tergelak. "Hahaha! Siapa yang menghamilimu? Kamu kebanyakan bermimpi, Char. Bangunlah dan hadapilah kenyataan," sahut Camilla.
"Andrew. Aku mengandung anak Andrew. Aku akan menunjukkan buktinya kepadamu," ucap Charlie. Kemudian ia merogoh sarung bantalnya dan mengambil suatu benda persegi panjang dari dalamnya.
"Nih, lihat saja hasilnya. Sudah kukatakan kepadamu, kan kalau kami sempat melakukan hubungan badan setelah ia menemuimu dari video viral itu," kata Charlie dengan senyumnya yang culas.
Camilla memegang testpack yang menunjukkan dua garis merah dan menatap saudarinya tak percaya. Apakah benar Charlie mengandung anak Andrew?
__ADS_1
...----------------...