
Tepat pukul tujuh, supir pribadi Tuan Forest sudah siap menjemput Millo di depan apartemennya.
"Camilla, apa kamu akan baik-baik saja jika aku tinggal sebentar? Aku janji ini tidak akan lama," kata Millo pagi itu.
Camilla mengangguk dan memberikan senyum manisnya. "Pergilah, jangan khawatirkan aku," jawab Milla.
Beruntungnya kondisi Camilla pagi itu sudah jauh lebih baik, dan memang Camilla sedang ingin sendiri. Maka begitu tau Millo ada wawancara dengan sebuah majalah, Milla mendukungnya.
"Berjanjilah kamu tidak akan berbuat macam-macam!" seru Millo.
Melihat tingkah Millo, Camilla tertawa. "Hahaha, kamu pikir aku akan melakukan suatu kebodohan? Of course, no. Don't worry, Millo. I'll be fine," jawab Milla.
Millo mengangguk percaya, setelah itu ia bergegas pergi dan masuk ke dalam mobilnya, namun sepersekian detik kemudian Millo berbalik arah.
Cup!
Millo mengecup kening Camilla dan menepuk pucuk kepalanya dengan lembut. "Tunggu aku yah," katanya dengan wajah memerah.
Tak hanya wajah Millo yang memerah, wajah Milla pun berubah menjadi seperti strawberry.
Millo tersenyum dan tersipu-sipu selama perjalanan menuju kediaman keluarganya. Paling tidak dia menganggap kecupan tadi sebagai jimat keberuntungan untuknya di hari itu.
Setibanya di rumah, beberapa wartawan sudah menunggu. Begitu, mobil yang di tumpangi Millo memasuki area rumahnya, wartawan dengan cepat mengambil gambar serta video Millo.
Tak puas sampai disitu, begitu Millo keluar dari dalam mobil, para wartawan segera mengerubunginya seakan Millo adalah makanan dan para wartawan itu lalat.
"Tuan Forest, bisa katakan kepada kami kemana anda selama ini?" tanya salah seorang wartawan.
Millo memakai kaca mata hitam dan sudah berganti pakaian dengan setelan jas serta sepatu pantofel berwarna senada.
"Berdasarkan informasi yang saya dengar, hari ini Tuan Felix Forest akan mengumumkan calon tunangan anda. Benarkah demikian?" seorang wartawan bertanya lagi.
Millo menghentikan langkahnya dan menjawab pertanyaan wartawan itu. "Tidak ada pertunangan atau pernikahan, aku datang ke sini karena diminta oleh ayahku yang mengatakan bahwa akan ada wawancara bersama sebuah majalah jadi sebagai anak yang baik aku datang," jawab Millo.
Wartawan semakin memberondongnya dengan pertanyaan yang lain. Namun, Millo diamankan dengan segera oleh tiga orang petugas keamanan.
__ADS_1
"Kupikir kamu kan melarikan diri dan tidak akan datang. Aku baru saja berniat untuk menjemputmu secara paksa ternyata kamu memilih untuk menjawab pertanyaan wartawan daripada menemuiku," sindir Tuan Forest.
"Tentu saja, wartawan lebih memilih menyuarakan suara kebenaran daripada papa," jawab Millo santai dan mengambil tempat duduk jauh dari Tuan Forest.
Tuan Forest berdecak kesal. "Hei, Millo! Sebentar lagi kita akan memulai pemotretan dan sesi wawancara, jaga sikapmu! Kamu seperti ibumu, yang selalu berbuat semaunya! Tidak tau aturan!" tukas Tuan Forest tajam.
Millo mengepalkan tangannya dan memukul lengan kursi yang terbuat dari kayu jati tebal itu, dan setelah itu mengutuk dirinya sendiri.
Sekitar tiga menit, tim penata rias keluarga Forest sibuk membenahi make up serta tatanan rambut kliennya.
"Frederica! Mendekatlah padaku! Millo! Kamu sebelah sini!" Tuan Forest mengatur posisi Millo dan ibunya.
"Senyummu kurang terlihat alami, Frederica! Anggap saja aku selingkuhanmu!" tukas Tuan Forest lagi. Ia menarik-narik lengan Frederica dan menarik serta mendorong Millo hanya demi mendapatkan gambar yang sempurna.
Selesai sesi pemotretan, mereka mendapatkan waktu untuk beristirahat lima menit. Dan waktu lima menit itu dipakai Millo untuk menghubungi Camilla.
"Hai," sapa Millo melalui panggilan ponsel.
"Hai, kamu sudah selesai?" tanya Milla.
Millo tersenyum, senang rasanya mendengar suara Milla saat ia sedang merasa tak karuan seperti ini.
Tapi harapannya meleset, Camilla tertawa. "Sudahlah, aku ingin ke tempat Bob. Aku ingin menemui dia daripada aku sendiri disini. Susul aku disana kalau kamu selesai sebelum sore," kata Camilla.
"Baiklah, kabari aku jika terjadi sesuatu dan,-"
"MILLO! HEI! DIMANA KAMU?" suara Tuan Forest menggelegar dan memutus percakapan Millo dengan Camilla.
"HEI, TUAN FOREST! HEI! AKU DISINI!" balas Millo tak kalah kencangnya.
Kedua mata Tuan Forest membesar, ia berkacak pinggang. "Anak kurang ajar kamu yah! Tidak punya tata krama dan sopan santun! Pantas saja, kerjaan ibumu hanya berselingkuh sampai tak sempat memperhatikan perilaku anaknya sendiri!" ucap Tuan Forest. Inilah awal mula pertengkaran yang terjadi di antara mantan suami istri tersebut.
Nyonya Forest yang mendengar ucapan mantan suaminya itu sontak saja terkejut. "Apa maksudmu aku tidak pernah memperhatikan perilaku anakku sendiri? Lalu, di manakah peranmu sebagai seorang ayah? Kamu sendiri sibuk dengan selingkuhanmu tapi kenapa kamu selalu menyalahkanku?" tuntut Nyonya Forest.
Wajah Tuan Forest warna memerah menahan emosi karena ucapan Nyonya Forest. "Penyebab aku berselingkuh juga karena kamu yang tidak sanggup melayaniku. Untuk apa aku mempertahankanmu jika kamu tidak sanggup melakukan apapun di rumah ini selain menjual dirimu kepada selingkuhanmu!" cetus Tuan Forest sambil mendengus.
__ADS_1
Plak!
Tangan Nyonya Forest melayang ke pipi Tuan Forest. Namun, dengan sigap Tuan Forest menangkap tangan Nyonya Forest dan menghentakkannya.
Nyonya forest meringis kesakitan. Tepat saat itu, datanglah wartawan yang ingin mewawancarai keluarga Forest.
Spontan saja, Tuan Forest tersenyum ramah dan memanggil Nyonya Forest dengan mesra. "Frederica sayang, wartawannya sudah datang. Apa kamu sudah siap?"
Tuan Forest juga tersenyum ramah kepada Millo yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Millo mendengus. "Anda punya berapa kepribadian, pah?" tanya Millo dengan suara sedikit lantang.
Tuan forest merangkul pinggang Milo dan mencubitnya di sana sambil berbisik, "Jika kamu mengacaukan acara ini aku tidak akan pernah memaafkanmu walaupun kamu anak kandungku sendiri!" ancam Tuan Forest.
"Silakan. Aku tidak takut dengan ancamanmu," jawab Millo tersenyum.
Sesi wawancara pun segera dilakukan. Pertanyaan demi pertanyaan mampu dijawab dengan baik oleh Tuan Forest seorang diri. Sedangkan Nyonya forest hanya tersenyum dan menanggapi sesekali pernyataan Tuan forest.
Pertanyaan pun diajukan kembali, kali ini pertanyaan itu untuk Millo. "Tuan Millo Jonathan Forest, saya mendapatkan kabar bahwa katanya anda akan dijodohkan dengan seorang putri pengusaha juga pilihan ayah anda. Apakah itu benar? Dan Kalau boleh tahu siapakah nama putri pengusaha tersebut?"
Millo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah mendengar pernyataan tersebut dari ayahku atau dari siapapun jadi aku anggap kabar itu sama sekali tidak benar," jawab Millo.
Namun, Tuan forest tertawa. "Hahaha! Anak saya memang pemalu dan agak tertutup untuk masalah pribadi. Akan tetapi kabar pertunangan antara Millo anak saya dengan putri seorang pengusaha yang merupakan sahabat baik saya itu benar adanya dan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Tunggu saja undangan dari kami, hahaha! jawab Tuan Forest sambil merremas-rremas pundak Millo.
Millo menelan salivanya kasar. "Mohon maaf karena menurut saya ini kesalahpahaman yang terjadi antara saya dengan ayah saya. Saya belum pernah mendengar sekalipun tentang acara pertunangan ini. Kalaupun saya diharuskan menikah maka saya akan menikah dengan wanita pilihan saya sendiri," balas Millo, ia menentang rencana dadakan ayahnya itu.
Millo tidak mau menerima dengan siapa pun yang akan di jodohkan dengannya, walaupun wanita itu adalah anak seorang presiden, Millo tidak akan peduli itu. Bagi Millo, wanita satu-satunya hanyalah Camilla.
Wartawan itu mengarahkan kamera serta micnya kepada Millo. "Jadi, apakah anda sudah memiliki calon sendiri?" tanya wartawan itu.
Millo mengangguk dengan mantap. "Ya saya sudah memiliki seorang wanita yang saya cintai," jawab Millo.
"Omong kosong macam apa lagi ini, Millo? Kamu sudah dewasa dan sudah saatnya untuk bertindak dewasa. Kamu sudah tidak bisa lagi bermain-main apalagi urusan jodoh, ya kan? Hahaha!" tampak sekali Tuan Forest menahan emosinya di depan wartawan.
Akan tetapi wartawan itu tidak menggubris komen kaku yang dilontarkan oleh Tuan Forest. Wartawan wanita itu melanjutkan fokusnya kepada Millo. "Kalau boleh kami tahu siapa nama wanita yang beruntung itu?"
__ADS_1
Millo menjawab tanpa ragu. "Madison. Camilla Madison. Dialah wanita pilihan saya sendiri yang saya cintai sejak 5 tahun yang lalu," jawab Millo tersenyum.
...----------------...