Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Hate Me


__ADS_3

"Millo, aku di apartemen. Jangan katakan kepada pria itu aku disini! Usir saja dia!" seru Milla melalui panggilan ponselnya.


"Hei! Jang..." terlambat, Milla sudah menutup panggilannya.


"Apa dia temanmu?" tanya Andrew kepada Millo.


"Siapa? Ah, dia? Ya dia temanku." jawab Millo yang masih terkejut dengan aksi gila Milla yang spontan itu.


"Dimana kamu mengenalnya?" tanya Andrew mendetail.


Millo mulai tidak menyukai Andrew yang dianggapnya banyak tanya itu, "Aku mengenalnya saat kami bekerja di tempat ini." jawab Millo berbohong.


Andrew melirik tempat yang cukup ramai dengan suara musik itu, "Tempat apa ini?" tanya Andrew.


"Club malam." jawab Millo singkat.


Apa yang kamu lakukan disini, Millo?" tanya Andrew dalam hati.


Andrew memasuki club itu. Tempat itu kecil dan sangat padat serta ramai sekali. Namun, dibalik ramai dan padatnya tempat itu, Andrew bisa merasakan kehangatan disana. Semua mengenal Millo dengan baik dan bertanya kemana Milla.


"Millo, mana kembaranmu?" tanya seorang bartender.


Millo tertawa, "Hanya nama kami yang serupa, Bob." sahutnya.


"Millo, kemana Milla? Ah, tidak melihatnya sehari saja membuatku hidupku kacau." sahutnya.


Millo tertawa, "Dia sedang lelah katanya. Aku saja yang mengisi malam ini." jawab Millo.


Ia mengajak Andrew untuk duduk di salah satu kursi yang ada di club itu, kemudian ia mengambil gitar dan mulai memetik dawai gitar itu menjadi sebuah alunan lagu yang indah.


Sementara itu, Milla yang berada di apartemen Millo merasa bingung. Kenapa Andrew bisa ada disini? Kenapa setelah lima tahun, Andrew baru mencarinya? Camilla adalah wanita yang kuat, yang jarang sekali meneteskan airmata. Dan saat kejadian lima tahun yang lalu itu, tidak setetes pun airmata ia jatuhkan untuk Andrew yang tidak mencarinya.


Karena kesal dan tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan, Milla kembali mengambil kunci motornya dan menyalakan motor tersebut, melajukan kendaraan beroda dua itu menembus keheningan malam.


Namun, tiba-tiba di tengah jalan. Sebuah mobil mewah berwarna hitam menghadangnya, dan seorang wanita bersama seorang pria yang bertubuh tinggi juga kekar segera keluar dari mobil itu.


"Selamat malam Camilla." sapa wanita itu.


Milla melepas helmnya dan menatap wanita itu, "Charlie! Dan kamu yang menculikku! Ada apa kalian semua kesini?" tanya Milla.


Charlie mengedikkan sebelah matanya dan pria kekar itu meringkus Milla, menurunkan Milla dari motor dengan paksa. Namun, bukan Milla namanya jika dia pasrah begitu saja. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk tetap bertahan di atas motor dan dengan kakinya yang bebas, ia menendang barang sakti kebanggaan pria itu.


"Ooouuuchh! Wanita sialan!" erang pria itu.


"Will! Kamu baik-baik saja! Milla! Turun dari motormu sekarang juga!" perintah Charlie sambil memegangi Will yang meringkuk kesakitan.


"No way! Urus saja pria gigolomu itu! Bye!" ujar Milla santai, ia melajukan motornya dan membuang asap kendaraan bermotor itu di depan wajah Charlie dan Will.


"Milla! Ayo Will, lekas masuk! Tom, kejar dia!" tukas Charlie.

__ADS_1


Tom mengikuti perintah Charlie untuk mengikuti motor Milla. Milla meliuk-liukan motornya dan memasuki sebuah gang sempit hingga mobil Charlie tidak bisa mengikutinya.


"Cih! Mau apa mereka!" ucap Milla kesal dari atas motornya.


Ia terus melajukan motornya hingga sampai ke sebuah tempat yang sepi, dan jarang sekali di lewati oleh orang. Ia memarkirkan motor itu di samping sebuah kursi taman.


Dalam kesendiriannya, Milla merasa sesak di dadanya. Tidak! Dia tidak sedih, dia kesal dan dia marah. Milla tidak tau apa yang terjadi! Milla mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk Millo,


"Temui aku di tempat biasa." tulis Milla dalam pesannya.


"Oke. Tapi bagaimana dengan pria ini? Dia terus mengekoriku, dia ingin tau tentangmu Milla." balas Millo.


"Brengsek! Bisakah kamu memberikan dia obat tidur super kuat untuknya?" tulis Milla lagi.


"Hahahaha, aku akan kaya kalau aku mempunyai barang itu, Milla. Aku akan singkirkan pria ini setelah itu ceritakan kepadaku apa yang terjadi!" jawab Millo.


"Aku tidak bisa bercerita kepadamu! Ini masalahku! Ya sudah, jangan kesini!" Milla membalas pesan Millo dengan kesal


Pip! Ia mematikan ponselnya. Ingin sekali ia melempar ponselnya itu ke bawah, tapi kembali dia berpikir bahwa harga ponsel sekarang cukup mahal sehingga ia mengurungkan niatnya untuk melemparkan ponsel itu.


***


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Millo kepada Andrew.


Baru saja Millo mendapatkan pesan dari Milla untuk menahan Andrew disana, dia akan segera kembali untuk menemui Andrew.


"Kamu tidak perlu tau siapa aku." jawab Andrew kasar.


"Dia yang datang kepadaku." jawab Millo singkat.


Andrew mengerutkan keningnya, "Bagaimana? Apa maksudmu dia datang kepadamu? Kamu siapanya Camilla?" tanya Andrew menuntut.


Millo merutuki Milla dalam hati, kenapa Milla begitu lama. Millo takut salah menjawab pertanyaan Andrew, karena dia sama sekali tidak mengenal Milla. Milla tidak pernah bercerita tentang dirinya.


Di lain tempat, Charlie sudah menemukan Milla saat Milla hendak memutarkan motornya ke arah apartemen Millo.


"Akhirnya, aku menemukanmu." ucap Charlie puas.


"Apa maumu, Charlie?" tanya Milla.


"Andrew datang kesini kan? Begitu dia melihat video viralmu, aku tau dia pasti segera mencarimu kesini." jawab Charlie.


Milla sama sekali tidak paham apa maksud saudari kembarnya itu, "Video? Video apa? Aku tidak pernah menyebarkan video tentang diriku." sahut Milla.


Charlie berdecak dan melemparkan ponsel miliknya ke arah Milla, "Lihatlah!" ucapnya.


Milla menangkap ponsel Charlie dan melihat video yang di putarkan Charlie, kemudian ia melemparkan kembali ponsel itu kepada Charlie.


"Aku tidak peduli! Mau itu Andrew, atau seorang presiden pun aku tidak peduli!" sahut Milla dan bersiap menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Buat dia benci padamu, Milla! Buatlah karangan seindah mungkin, buatlah Andrew sangat membencimu dan buatlah dia patah hati kepadamu. Sakitilah hatinya bahkan kalau bisa, sangat sakit sampai untuk bicara pun sulit. Kalau itu sudah kamu lakukan, aku tidak akan mengganggu hidupmu, lagi." perintah Charlie.


Milla memandang saudara kembarnya dengan tatapan tajam menusuk, baru kali ini dia merasa benci sekali kepada orang lain hingga rasanya ingin mencabik-cabik tubuh Charlie yang sekarang menyeringai puas di depannya.


"Serahkan kepadaku! Aku juga tidak mau berurusan dengan kalian lagi!" jawab Milla dingin dan melajukan motornya, meninggalkan Charlie yang tersenyum senang.


***


Malam panjang Camilla masih berlanjut, tubuhnya sudah lelah, pikirannya sudah minta diistirahatkan apalagi hatinya yang sudah ingin sekali mengakhiri ini.


Karena video bodoh itu, Milla jadi berurusan dengan masa lalunya dan saat ini di depan Milla sudah duduk dengan manis, Andrew. Seorang pria yang nyaris saja menjadi suaminya.


"Apa yang terjadi saat itu, Milla?" tanya Andrew.


Hati Milla berkecamuk, setelah lima tahun dia tidak melihat pria yang hampir saja di nikahinya dan kini ada di depannya itu membuat jantungnya berirama tidak teratur.


Milla masih menyukai pria itu dari sejak awal Andrew mengajaknya menikah di acara kelulusan, dengan sekuat tenaga dia menahan airmatanya supaya tidak jatuh.


"Aku kabur." jawab Milla tanpa menatap Andrew.


"Kenapa? Dan kenapa di hari kelulusan itu kamu menjawab ya, Milla? Kamu mempermainkanku?" tanya Andrew suaranya tercekat.


Milla tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang di berikan Andrew. Pedih sekali rasa hatinya saat itu.


"Sampai detik ini, aku masih mencintaimu Milla. Kembalilah bersamaku." pinta Andrew memohon.


Milla mengusap ujung matanya, "Aku tidak mau." jawabnya dengan suara sedingin mungkin.


"Lihat aku Milla. Tatap aku. Katakan kamu mencintaiku juga. Milla, kumohon." Andrew terus meminta dan sekarang ia sudah menggenggam tangan Milla.


Milla memejamkan matanya, dia harus melawan hatinya. Milla melepaskan tangannya dari genggaman Andrew, "Dengar, Andrew. Aku... Aku tidak mencintaimu. Dan saat kamu melamarku, aku tidak mau membuatmu malu di hadapan teman-teman kita jadi aku menerimamu. Dan ketika hari pernikahan kita, aku meminta Charlie untuk menggantikanku dan aku kabur ke kota ini." jawab Milla berusaha untuk terus menatap mata Andrew.


Andrew seakan tertampar mendengar jawaban Milla, "Kamu yakin, Milla? Kamu yakin itu yang terjadi? Kamu tidak sedang berada di bawah ancaman Charlie, kan?" tanya Andrew.


Airmata Andrew menetes dan jatuh ke pipinya, ingin sekali Milla memeluknya.


"Ya, aku yakin Andrew. Itu yang sesungguhnya terjadi." jawab Milla dingin.


Keheningan menghampiri mereka, matahari sudah memamerkan cahayanya dari ufuk timur.


"Sudah pagi, aku harus bekerja." tukas Milla. Ia segera bangkit berdiri.


Tiba-tiba Andrew menarik tangan Milla dan memasukan tubuh Milla ke dalam pelukannya.


"Aku ingin sekali tidak percaya denganmu karena ini terlalu sakit untukku, Milla. Biarkan aku seperti ini sebentar sebelum aku ikhlas melepasmu." isak Andrew di dalam pelukan Milla.


Ingin sekali tangan Milla membelai punggung pria yang dicintainya dan selalu dicintainya itu. Milla hanya bisa mengerjapkan kedua matanya untuk mencegah airmatanya turun.


"I wish you happy, Milla." bisik Andrew, melepas pelukannya dan kemudian ia berbalik masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Selepas kepergian Andrew, Milla terhenyak di kursinya dan menumpahkan airmata lima tahunnya disana.


...----------------...


__ADS_2