
"Bagaimana keputusanmu, Charlie? Aku akan memanggilmu seperti itu supaya kita tampak lebih akrab," sahut Lizzie sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Charlie.
"Suka-sukamulah. Aku sudah memutuskan. Aku setuju dengan usulmu dan segera keluarkan aku dari sini!" titah Charlie.
Senyum Lizzie terkembang dari sudut bibirnya. "Kamu memilih jalan yang tepat. Baiklah, aku akan memproses pembebasanmu hari ini juga. Ingat, hanya kamu!" sahut Lizzie menegaskan.
"Huh! Siapkan aku gaun yang paling bagus, karena seluruh kekayaanku disita oleh Bank. Gaun serta sepatu dan perhiasannya," pinta Charlie licik.
Lizzie memandangnya tak percaya. "Hohoho, azas pemanfaatan yang hebat. Aku akan memberikannya kepadamu saat kamu sudah selesai menjalankan tugasmu," tolak Lizzie.
"Mana bisa aku bekerja dengan memakai pakaian seperti ini, kan? Atau memakai pakaian putih hitam, bisa-bisa orang menyangka aku waitress dan menyuruhku bekerja di restoran," ucap Charlie bersikeras.
Charlie dapat mendengar kedua kaki mungil Lizzie dihentakkan, dan ia tersenyum puas.
"Baiklah, setelah kau bebas, pilihlah pakaianmu sendiri!" ucap Lizzie yang akhirnya menyerah kepada Charlie.
'Lihat saja, tak akan kubiarkan kau memperalatku, Rubah Betina Licik!' ucap Lizzie dalam hati. Ia pun berjalan pergi untuk mengurus pembebasan Charlie.
Tentu saja bukan Lizzie sendiri yang mengurusnya. Ia hanya tinggal menunggu di mobil mewahnya yang nyaman. Tak lama, tampaklah Charlie dengan seorang pria berbadan tegap dan besar mendampinginya.
"Thank you, Bert," ucap Lizzie kepada pria kekar itu.
Charlie segera masuk ke dalam mobil mewah itu. "Akhirnya aku bisa menemukan AC kembali," ucap Charlie sambil mengibaskan kedua tangannya.
Ia sangat menikmati pendingin mobil tersebut. Di dalam sel, hanya ada kipas angin kecil untuk dia dan ibunya. Mereka harus berbagi kipas setiap hari, belum lagi suasana sel yang sangat pengap.
Lizzie memperhatikan Charlie sementara ia meminta sang supir untuk segera melajukan kendaraan mewahnya.
"Awas saja sampai kau lupa tata cara masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan jangan jalan di sebelahku sebelum kau rapi!" tukas Lizzie. Ia tampak jijik melihat Charlie dengan rambut kusut, pakaian ala kadarnya dan kulit yang tak terawat.
Setibanya di pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota, Lizzie segera mencari salon terbaik (bukan salon yang biasa ia datangi) di tempat itu untuk menata rambut Charlie lengkap dengan perawatannya.
"Kau tau, berapa biaya yang kuhabiskan untuk ke salon saja? Aku mengharapkan lebih darimu, Charlie. Sebisa mungkin kau harus bisa memisahkan Joe dan saudara kembarmu," sahut Lizzie mengingatkan.
__ADS_1
Charlie yang kini sudah tampak segar dengan model rambut baru, berjalan di samping Lizzie dengan percaya diri. "Tenang saja, kebetulan Joe memiliki hutang yang belum ia bayarkan kepadaku," katanya angkuh.
"Hutang apa? Setahuku Joe tidak pernah berhutang," timpak Lizzie.
Kini, mereka masuk ke dalam toko pakaian formal. Lizzie memiliki pengarah gaya pribadi yang ia pekerjakan untuk memilihkan pakaian, sepatu, hingga aksesoris apa yang akan ia pakai setiap hari.
"Nona Warren," ucap seorang pria dengan tampilan sedikit feminim menyapa Lizzie dengan hormat.
Lizzie memeluk pria itu dengan hangat. "Sudah lama, Ken?" tanya wanita cantik itu.
"Ney, tidak ada yang lama untuk Nonaku ini. Apa? Apa yang mau kamu cari, Hon?" tanya Ken nama pria feminim itu.
Tangan Lizzie menarik lengan kemeja Charlie. "Aku mau, kamu urus dia. Harus cantik, elegan, dan tampak pintar. Aku tidak mau terlalu berlebihan, alami saja. Tapi buat dia tampak pintar," pinta Lizzie.
Menurut Lizzie, peson Camilla jauh lebih menarik daripada Charlie. Padahal, secara fisik, Charlie jauh lebih cantik dan terawat. Namun, ada sesuatu yang membuat Lizzie lebih tertarik kepada Camilla dan ia baru mengetahuinya sekarang.
Mata Camilla menunjukan kalau ia adalah wanita yang cerdas dan tangguh, ini yang tidak Lizzie temukan pada Charlie.
Ken melihat Charlie dari atas ke bawah dan memutari keseluruhan tubuh Charlie. "Hmmm, bisalah. Warna bebas, kan, Babe?" tanya Ken lagi kepada Lizzie.
Jari Ken membentuk bulatan. "Oke," jawabnya menyanggupi.
Tak lama, ia meminta Charlie untuk masuk ke dalam kamar ganti untuk mencoba beberapa lembar pakaian yang sudah ia siapkan.
Dua jam kemudian,
"Charlie, keluarlah, Sayang," seru penata gaya handal itu.
Charlie keluar dengan jumpsuit berwarna hitam, kacamata oval, serta tas tenteng berwarna senada serta sepatu high heels yang menambah kesan anggun untuk Charlie.
"Bagaimana?" tanya Ken.
Lizzie beranjak dari sofanya dan menghampiri Charlie. Ia memutari wanita yang baru saja keluar dari rumah pesakitan itu.
__ADS_1
"Not bad, ini oke? Ada yang lain?" tanya Lizzie lagi.
"Tentu saja, Nonaku," jawab Ken.
Ia kemudian membawakan sehelai kemeja sutera serta rok model midi menggantung. "Kalau ini?" tanya Ken, meminta pendapat kliennya.
"Oke. Sekarang aku minta gaun," titah Lizzie.
Ken segera berlari ke rak pakaian yang sudah disiapkan di butik itu. Segala jenis merk, model, warna, semua tersedia dengan lengkap.
"Bagaimana dengan ini? Ini tidak seperti anak-anak tapi lebih kepada ceria dan girlie," timpal Ken, mengambil sebuah gaun tanpa lengan dengan model punggung terbuka berwarna merah muda lembut. Gaun itu dipenuhi bunga-bunga kecil di atasnya. Di bagian tengah, dihiasi dengan pita cantik dan tepat di tengah pita itu ada setitik berlian cantik. Bagian bawah gaun itu polos dengan warna sedikit lebih gelap dan memiliki 2 layer berbahan tulle.
Lizzie mengambil gaun itu. "Ini untukku, Ken! Carikan yang lain untuk dia!" Ujar Lizzie.
Akhirnya, setelah sekian lama, Ken membawa sebuah gaun model helther neck berwarna biru tua. "Kalau ini?" tanya Ken sembari menyeka keringatnya.
"Good. Aku akan ambil beberapa helai untuk setiap modelnya. Masukan ke tagihanku, Ken. Pekan ini, kami akan mengadakan pertemuan calon pewaris perusahaan. Aku akan memesanmu di jam 4 sore. Oke?" sahut Lizzie.
"Baik, Nonaku. Dan ini belanjaanmu, Nona," ucap Ken sambil memberikan beberapa tas berisi pakaian.
***
Hari yang ditunggu pun tiba.
"Hei, Charlie. Joe pasti akan datang mengajak Camilla. Kau sudah menyusun rencana?" tanya Lizzie.
Charlie mengangguk. "Tentu saja. Aku sudah punya ini," katanya sambil memperlihatkan bungkusan kecil berwarna merah.
"Good. Aku akan mempersiapkan kameramen. Dan kuperingatkan kepadamu, Charlie. Joe milikku, begitu aku menemukan satu sidik jarimu menempel di tubuhnya, aku tidak akan ragu untuk memutuskan kerjasama kita ini dan kukembalikan kau ke dalam penjara sempit itu. Paham?" ancam Lizzie.
Charlie mengeratkan rahangnya. Inilah yang tidak ia suka kalau bekerja bersama orang lain, ia akan diperintah dan diancam.
"Ya, aku paham," jawab Charlie pelan. Kali ini, ia akan mengalah dan menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan wanita angkuh uang ada di depannya sekarang ini.
__ADS_1
...----------------...