Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
The Moments


__ADS_3

Suatu malam di club malam milik Bob, Millo tampak sibuk sekali. Ia mengatur disana dan disini serta ini dan itu. Bob pun tampak sibuk, memberikan lilin dan setangkai bunga matahari kepada pengunjung yang mulai berdatangan memenuhi tempat miliknya tersebut.


"Akan ada acara besar sepertinya, Bob?" tanya salah satu pengunjung.


Bob tertawa terkekeh. "Hehehe. Acara anak muda. Saya pendukung utama saja, hehehe,"


Tak lama, ia menghampiri Millo yang sedang mengatur lampu untuk di nyalakan nantinya. "Bagaimana, nak Millo? Semua beres?" tanya Bob.


"All is well," jawab Millo tersenyum.


Akhirnya setelah segala persiapan selesai, Millo meminta Bob untuk menunggu aba-aba darinya. Bob mengangguk mengerti.


Millo bersiap untuk memanggil Camilla yang katanya sedang ada sedikit urusan sehingga ia akan datang terlambat, begitu ijin Milla kepadanya.


Namun, di perjalanan ia melihat Milla sedang berselisih paham dengan seorang pria. Millo mengenali pria itu. Itu pria yang bermain gila dengan istri Andrew. Mau apa dia kesini?


Millo mendekati mereka sepelan mungkin dan berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Dengar! Dia yang memintaku! Sekarang, turuti saja kata-kataku!" tukas pria seram itu.


"Aku tidak mau!" tukas Milla.


"Hei! Aku tidak ingin memakai kekerasan, ikut aku dulu! Pulanglah ke rumahmu!" pria itu semakin memaksa Camilla dan mulai menarik tangannya.


Namun, baru saja Millo akan bergerak, Milla sudah menggerakkan lututnya lebih dulu ke arah benda pusaka milik pria itu,


Dugh!


"Sudah kubilang, aku tidak mau, kan!" seru Camilla.


Pria itu meringkuk kesakitan, dan kesempatan ini dipakai oleh Camilla untuk menyikut tulang belakang pria itu,


Bugh!


Tak lama, pria itu jatuh tersungkur,


Bruk!


"A...awal saja kamu, Milla!" ancam pria itu sambil mengerang kesakitan.

__ADS_1


Milla berjongkok di hadapan pria itu. "Hei, Will. Kamu dibayar berapa oleh Charlie? Kalau tidak di bayar, jangan pernah menuruti perintahnya! Oh, aku titip pesan. Jangan usik hidupku, bagaimana pun, aku tidak akan pernah mau menggantikan peran dia, karena dia yang memulai ini jadi dia harus bertanggung jawab menyelesaikan segala kekacauan yang telah ia buat!" kata Camilla sembari menepuk pundak Will.


Layaknya seorang superhero wanita yang baru saja memenangkan pertarungan melawan seorang penjahat, Camilla bergegas pergi dengan kepala terangkat tinggi, tak di pedulikannya Will yang terus memanggil namanya untuk kembali.


Millo mengejarnya. "Milla. Aku baru saja melihatmu, siapa itu?" tanya Millo.


"Kamu lupa? Itu selingkuhan saudara kembarku, dia memintaku untuk kembali ke rumah itu sebagai Charlie," tiba-tiba saja kekuatan yang tadi di tunjukan oleh Milla menguap begitu saja.


Ia kini tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Millo memeluknya. "Manusia itu tidak selamanya kuat, Milla." bisik Millo.


Milla terisak. "Aku kuat, hanya saja saat ini aku lelah dengan tingkah lakunya. Kenapa dia menggangguku terus? Tidak bisakah ia melihatku bahagia?" isak Milla, kesal.


Kini Millo menimbang rencananya. Kondisi hati Milla sedang kacau dan dia berencana untuk memberikan kejutan ungkapan cinta, apakah Milla baik-baik saja jika ia tetap melakukan hal itu padahal ia tau Milla baru saja terguncang?


"Millo, aku minta maaf sepertinya kamu harus bekerja sendirian malam ini. Aku... Tidak! Aku akan bekerja malam ini! Ayo kita jalan!" ucap Milla.


Melihat perubahan drastis dari diri Milla membuat Millo semakin tidak yakin kalau Milla baik-baik saja. "Apa kamu yakin kamu baik-baik saja? Tidak mau off?" tanya Millo.


Camilla menggelengkan kepalanya. "Aku harus segera melupakan ini, mengambil keputusan dan menyelesaikan masalahku dengan cepat!" sahut Milla.


Milla mengambil kunci motor dari saku celana panjang yang Millo pakai. "Aku pinjam, aku akan segera mengembalikannya kepadamu sebelum pagi," tukas Milla kemudian berlari untuk mengambil motor Millo yang berada di apartemen mereka.


***


Kediaman Andrew Oak


Milla melajukan kendaraan roda duanya dengan cepat, menembus kegelapan malam. Ia berhenti di depan kediaman Andrew dan Charlie.


Baru saja Milla hendak melewati pagar, ia sudah di hadang oleh penjaga. Dengan kesal, ia memutar jalan belakang dan memanjat tembok depan rumah itu dan melompat masuk ke dalam.


Dengan langkah pasti, Milla segera menyusup ke dalam rumah itu. Rumah Andrew termasuk rumah yang unik. Pintu depan rumah itu mengarah langsung ke ruang keluarga dan dapur, tapi bagi tamu yang masuk dari basement maka akan segera di arahkan ke ruang tamu.


"Charlie! Charlie! Charlie! Keluarlah!" teriak Milla dari ruang keluarga yang sangat besar itu.


Tak lama, Charlie keluar dengan tergesa-gesa. "Ssstt! Ssst! Ini bukan di hutan, Milla! Kamu bisa memakai teknologi abad ini, ponsel! Pakai ponselmu!" bisik Charlie sambil marah-marah.


"Aku malas memakai ponselku," kata Milla, kemudian ia duduk di sebuah kursi berlengan yang cukup nyaman.


"Kenapa datang malam-malam? Aku meminta Will untuk mengata,-"

__ADS_1


"Aahhh! Kenapa berbisik sih! Aku biasa di desa dimana orang-orang akan saling berteriak untuk menyapa. Memang apa yang sedang kamu sembunyikan, Charlie?" tanya Milla.


Krieet...


"Camilla! Siapa itu?" tanya seseorang yang tiba-tiba membuka pintu dari kamar atas.


Milla mengerutkan keningnya. "Siapa itu, Charlie?" tanya Milla tanpa sedikit pun menurunkan nada suaranya. Ia beranjak dari kursi nyamannya dan bergegas menaiki tangga, begitu sampai di atas, betapa terkejutnya Camilla karena orangtua Andrew ada disana.


***


"Maafkan saya karena telah mengganggu tidur anda," kata Camilla meminta maaf setelah akhirnya orangtua Andrew memutuskan untuk bangun di malam itu.


"Jadi? Kamu Camilla yang asli?" tanya Tuan Oak.


Charlie menatap Milla dengan mata memelas dan memohon.


"Ya, saya Camilla yang asli, Tuan Oak," jawab Milla jujur.


Charlie tampak mengerucut di sofa besar yang ia duduki.


"Yang selama ini menikah dengan anakku adalah, saudara kembarmu, begitu?" tanya Tuan Oak.


Camilla mengangguk, matanya tajam menatap Tuan dan Nyonya Oak. Ia tak habis pikir, kenapa selama ini mereka tidak dapat mengenalinya padahal dulu sering kali Andrew mengajak Camilla ke rumah mereka. Semirip itukah ia dengan Charlie?


"Kenapa kamu menukar pernikahanmu sendiri, Milla?" tanya Tuan Oak lagi.


"Itu karena,-"


"Dia tidak mau menikah dengan Andrew, pah," sahut Charlie.


Tuan dan Nyonya Oak kini memandang Charlie dengan kesal. "Aku tidak memintamu berbicara, aku ingin dia yang berbicara. Atau apakah kamu memang sudah merencanakan penukaran ini?" tanya Tuan Oak tajam.


Charlie diam seketika.


"Karena apa, Camilla? Kami percaya kamu anak baik, tidak mungkin kamu melakukan ini tanpa alasan yang jelas. Dan masih terekam jelas di benak saya betapa bahagianya kamu saat Andrew mengajakmu menikah. Apa yang sebenarnya terjadi, Milla?" tanya Tuan Oak.


Tuan dan Nyonya Oak terus menatap Camilla, dan sekarang ia tidak tahu harus memulai kisahnya darimana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2