
Siang itu di kota Z yang biasa sepi dan damai, kini berubah menjadi ramai dan tampak dua orang saling memukul dan berbaku hantam.
Para pers bahkan menyiarkan itu secara live, dengan running text di bawahnya. "Dua Pria Konglomerat Adu Jontos, Karena Wanita?"
Tidak ada yang melerai atau memisahkan dua orang tersebut, kecuali satu orang wanita.
"Hei! Hei!" Camilla berusaha menarik Andrew akan tetapi tenaga Andrew yang tengah di kuasai emosi begitu besar dan justru membuat Camilla tersungkur.
"Aduh!" keluh Milla.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti berkelahi.
Camilla berdiri tanpa bantuan, ia mengusap-usap bokongnya kemudian ia berjalan membelakangi spot yang ramai itu. Setelah cukup jauh berjalan, ia berputar dan berlari dengan cepat. Setelah dekat dengan mobil Andrew, Camilla mengangkat kaki dan merentangkannya. Dengan sekuat tenaga ia menendang target yang ia tuju.
Prang!
Tendangan Camilla berhasil mematahkan kaca spion mobil sport Andrew.
Sontak saja perkelahian itu terhenti. Andrew menatap Camilla tak percaya. Ia melupakan Millo dan mengambil kaca spionnya yang patah.
Sedangkan Millo mengusir para wartawan yang berkerumun ramai di tempat mereka. "Bubar! Bubar!" serunya.
"Tuan Forest, bisa anda jelaskan kenapa anda berkelahi dengan Tuan Oak?"
"Apakah ini ada hubungannya dengan Camilla Madison?"
Para wartawan semakin penasaran apa yang menbuat mereka berkelahi.
Milla merebut salah satu mic wartawan itu dan melemparkannya. "Ini ada hubungannya dengan kalian! Paham! Pergi dari sini!" tukas Camilla dengan wajahnya yang galak.
Setelah mengusir para wartawan, Camilla mendekati Andrew sambil menggerutu. "Itulah akibatnya jika kalian berkelahi," kata Camilla kepada Andrew.
Andrew masih memegangi spion yang tadi di tendang oleh Camilla, terkadang ia berusaha menyambungkannya kembali. "Ah, Milla. Kamu ini! Kenapa tenagamu bisa sekuat itu sih?" tanya Andrew menolehkan kepalanya kepada Camilla.
"Aku tidak suka perkelahian. Untuk kalian, berdamailah! Aku tidak akan membiarkan kalian masuk ke dalam apart,-"
Tiba-tiba saja Andrew memeluknya dari belakang.
"Hei, pria mesum!" tukas Millo menarik tubuh Andrew.
Milla pun ikut memberontak dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Andrew. Namun, Andrew berbisik di telinganya. "Aku ingin memelukmu sebentar saja, Milla. Aku tidak tau apakah besok atau lusa aku dapat bertemu denganmu lagi,"
Sontak saja Camilla terdiam dan membiarkan Andrew memeluknya. Ia meminta Millo untuk membiarkan Andrew seperti itu.
"Cih! Sialan!" tukas Millo menjauh.
__ADS_1
Millo tidak tau apa yang terjadi, akan tetapi ia ingin mencari tau tentang keluarga Madison serta keluarga Oak. Maka hari itu juga ia menghubungi detektif andalannya untuk memata-matai dua keluarga itu. "Laporkan kepadaku secara berkala," perintah Millo.
Sementara Millo sedang memikirkan apa yang terjadi di antara keluarga Oak serta Madison, Andrew sedang membicarakan keputusasaannya pada Charlie.
"Aku tidak tahan bersama Charlie lebih lama lagi, dan yang kutakutkan adalah begitu anak di dalam kandungannya lahir, akan ada saja cara mereka untuk tetap menyatukan aku dan Charlie," ucap Andrew.
"Mereka membuatku sulit bertemu denganmu," sambung Andrew lagi.
Camilla menenggak air minum yang sedang di pegangnya. "Apakah gugatan ayahmu masih berjalan?" Camilla teringat kesaksiannya.
Andrew mengangguk. "Ya, tapi karena hasil test DNA menyatakan aku ayah dari anak yang di kandung Charlie maka gugatan cerai dibatalkan. Saat ini mereka kembali membuka kasus penculikanmu," jawab Andrew.
Camilla memegang tangan Andrew. "Bertahanlah, Ndrew. Aku tau ini tidak mudah tapi percayalah semua akan baik-baik saja," kata Camilla.
Namun, Andrew tiba-tiba teringat kalau ia ingin mengatakan sesuatu kepada Camilla. "Milla, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Andrew.
Camilla tersentak dan terdiam mendengar pertanyaan Andrew.
***
Kediaman Madison,
"Papa, aku pusing sekali," keluh Charlie saat Tuan Madison membawakan makanan untuknya.
"Aku tidak peduli. Aku tidak menginginkan anak ini," jawab Charlie ketus.
Tuan Madison meletakkan nampan makanan di atas nakas kamar Charlie. Kemudian ia meraba perut Charlie. "Darimana saja kamu kemarin?" tanya Tuan Madison.
"Aku bertemu Will," jawab Charlie membelakangi ayahnya.
Tuan Madison berdecak. "Ck! Berhentilah bertemu dengan pria pengangguran itu, Charlie!" tukas Tuan Madison.
"Makanlah, supaya anakmu sehat dan kuat. Apa pun yang terjadi kamu harus melahirkan anak itu! Anak itu harus hidup!" titah Tuan Madison.
"Huh!" Charlie melemparkan bantal ke arah pintu dengan kesal.
"Apakah aku tidak boleh punya keluarga normal? Kenapa aku tidak sebebas Camilla? Aaarrgghh! Sial!" isak Charlie.
Ketakutan keluarga Madison tentang bangkrut dan menjadi miskin membuat Tuan dan Nyonya Manor mengandalkan anak-anaknya untuk mendapatkan penyambung kekayaan.
Harapan Madison tentang pernikahan putri merek dengan Oak adalah kerjasama perusahaan serta pembagian saham. Namun, yang terutama sudah pasti anak mereka akan menjadi pewaris kekayaan Oak yang berlimpah-limpah itu.
Charlie menangisi dirinya sendiri. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanyalah bagaimana supaya anak ini tidak hidup. Kalau anak dalam kandungannya hidup, itu akan menjadi beban untuknya. Tidak! Ia tidak akan membiarkan itu terjadi!
Ia kembali teringat ancaman Will kepadanya saat itu, dan Charlie kembali gundah. "Aarggh! Aku bisa gila jika seperti ini terus!" ucapnya.
__ADS_1
Charlie menatap makanan yang berada di atas nakas, ia merasakan anak di dalam perutnya kini kelaparan.
Duk!
Charlie memukul perutnya dengan kesal. "Kalau tidak ada kamu, aku tidak akan menyedihkan seperti ini!"
Alih-alih makan, ia memilih tidur kembali di siang itu.
***
Malam itu menjadi malam yang tenang untuk Andrew dan Camilla. Sore tadi Millo mengirimkan pesan kepadanya, ia berkata malam ini, ia tidak akan pulang karena ada sesuatu hal yang ingin ia urus.
Camilla menjawab 'oke' dengan cepat.
"Kau tidurlah disini, sudah terlalu malam untuk pulang. Besok aku akan membangunkanmu pagi-pagi sekali supaya kamu bisa kembali," kata Camilla beranjak dari tempatnya untuk menuju ke kamar.
"Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku, Milla," sahut Andrew memegang pergelangan tangan Camilla.
"Aku akan menjawabnya setelah segala keruwetan ini terselesaikan dengan baik. Untuk saat ini, hatiku terbagi," jawab Camilla.
Andrew menelan salivanya kasar. Apakah maksud Camilla hatinya telah terbagi karena Millo? Padahal dia sudah mewanti-wanti Millo untuk tidak mendekati Camilla.
"Apakah ada Millo disana?" Andrew memyerah dengan rasa penasarannya.
Camilla mengangguk. "Ya, ada," jawabnya.
Baru saja, Andrew hendak membuka mulut untuk membalas ucapan Milla, ponselnya berdering. Ia melihat siapa yang menghubunginya di saat penting seperti ini.
Nama Nyonya Madison tertera di layar ponselnya. Ia mengangkat panggilan Nyonya Madison.
"Halo," ucap Andrew.
"Istrimu di bawa ke rumah sakit sekarang, ia mengalami pendarahan hebat!" jawab Nyonya Madison, nada suara Nyonya Madison terdengar panik.
"Apa? Baiklah, aku akan kesana sekarang juga," tegas Andrew.
"Ada apa?" tanya Milla khawatir.
"Charlie. Charlie mengalami pendarahan," jawab Andrew, ia menarik tangan Camilla.
"Kenapa aku?" tanya Camilla.
"Kau saudaranya!" tukas Andrew kesal kemudian mereka bergegas masuk ke dalam mobil Andrew dan melaju menembus pekatnya malam.
...----------------...
__ADS_1