
"Jadi, kamu adalah boneka baru Joe? Kau mirip sekali dengan kembaranmu," ejek Lizzie.
Beruntunglah karena Camilla sirah terbiasa berada di posisi tersakiti sehingga ia tidak terpengaruh oleh ucapan wanita yang sifatnya tak secantik wajahnya itu.
"Joe akan selalu kembali kepadaku, siapapun mainan barunya. Aku tidak khawatir saat mendengar berita kalau kalian berkencan. Kupikir, hubungan kalian tidak akan bertahan lama, apalagi kamu bukan tipe wanita idaman Joe," ucap Lizzie lagi.
Camilla tetap tak bergeming. Ia tak memperdulikan ucapan Lizzie. Selama itu tidak melukai harga dirinya maka ia akan membiarkannya. Begitulah prinsip hidup Camilla. Dia tidak terlalu memusingkan hal yang tidak ada gunanya.
Karena sikap dinginnya Camilla itu membuat Lizzie semakin panas. Tak mempan dengan ucapan, kali ini Lizzie mendekati Joe dan menggelendot manja kepadanya.
"Babe, kamu belum bosan dengan mainan barumu itu?" tanya Lizze manja. Jari lentiknya bermain di lengan Joe.
"Dia bukan mainan! Dan apa tujuanmu kesini?" tanya Joe, menyentakkan tangan Lizzie.
Lizzie menatap Joe dengan kesal. "Kamu berubah, Babe! Kamu bukan kamu yang dulu lagi!" seru Lizzie.
"Itu namanya dewasa. Anggap saja saat ini karma sedang menghampirimu. Kamu dulu mempermainkan adikku, jadi tidak salahnya jika aku mempermainkanmu," balas Joe santai.
__ADS_1
Millo menatap Joe. Ini berbeda sekali dengan kenyataannya.
Saat itu, jauh sebelum Millo bertemu dengan Camilla, ia berkencan dengan Lizzie. Seorang wanita cantik dan anggun. Ia memiliki manner yang cukup baik.
Pertemuan pertama mereka di sebuah pesta perayaan hari ulang tahun perusahaan salah satu partner Tuan Forest. Maka, Millo datang menemani ayahnya saat itu.
Disanalah Millo melihat seorang gadis yang sedang makan dengan anggun. Ia jatuh cinta pada gadis itu hanya melihat cara gadis itu makan.
Diam-diam Millo menghampiri gadis yang tengah makan stik domba itu dan duduk di sampingnya.
"Hai," sapa Millo.
"Dari keluarga mana?" tanya Millo, berusaha membuka percakapan.
Gadis itu menunjukkan nama mejanya. "Apa kau salah satu Warren?" tanya gadis itu.
Millo tidak melihat kalau di setiap meja sudah tertulis nama keluarga. Dengan wajah memerah, Millo kembali mengangkat gelasnya dan beranjak berdiri. "Oh, aku salah meja berarti," sahutnya salah tingkah.
__ADS_1
Gadis itu terkikik dan memegang tangan Millo. "Duduk sajalah, aku juga tidak mempermasalahkan siapa nama keluargamu. Peduli setan dengan hal itu," kata gadis itu membuat Millo tercengang.
"Kalau ada orang yang bertanya katakan saja aku sepupu Warren," bisik Millo.
Gadis itu kembali terkikik. "Memangnya siapa namamu?"
"Millo, kalau kamu?" Millo balas bertanya.
"Lizzie, Lizzie Warren," jawab gadis itu.
"Namamu cantik dan sangat cocok untukmu yang juga cantik," Millo mulai merayu.
Lizzie tertawa kecil. Mereka pun menjadi dekat dengan cepat. Hubungan mereka berlanjut sampai suatu hari, Millo mengungkapkan cintanya kepada Lizzie dan Lizzie menerimanya.
Hubungan manis itu berjalan dengan indah sampai Joe muncul. Tidak tau siapa yang mengawali, tapi tiba-tiba saja Lizzie memutuskan Millo dan berkencan bersama dengan Joe.
Yang membuat Millo sakit adalah Lizzie mengatakan kalau Joe jauh lebih tampan dan tentunya dia sudah mapan dengan penghasilan yang ia miliki tanpa mendompleng perusahaan ayah mereka.
__ADS_1
Dan saat ini, Millo tercengang mendengar pengakuan Joe. Apakah saat itu, Joe sengaja mempermainkan dirinya atau Joe mempermainkan Lizzie?
...----------------...