Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Identity


__ADS_3

Apartemen Millo


Siang hari itu, Camilla, Millo, dan Andrew duduk mengelilingi meja bundar di apartemen Millo. Mereka memutuskan tidak ada lagi rahasia di antara mereka, sehingga mereka saling jujur satu sama lain.


"Anggap saja ini pertemuan pertama kita, bagaimana? Selama aku tinggal bersama Camilla, aku hanya menyebutkan nama lengkapku satu kali saja. Jadi, aku rasa ini saat yang tepat untuk memulai segalanya dari awal, deal?" usul Millo.


Camilla dan Andrew berpandangan. Millo menatap kepada Andrew. "Ada yang kamu lupakan, Oak," kata Millo.


Dan Andrew paham maksud Millo. Rambut keriting, tanda lahir, serta fondation berwarna gelap. Camilla menautkan alisnya dan berpikir untuk apa Andrew mengeluarkan itu semua?


Mereka menyiapkan satu botol kosong, kemudian Millo memutarnya. Botol tersebut berputar dengan cepat, kemudian melambat dan berhenti di Camilla.


"Baiklah, aku yang pertama," katanya.


"Namaku, Camilla Madison. Aku berasal dari tempat tadi dan aku tidak datang kesini dengan sukarela, tapi seseorang menculikku di malam pernikahanku dan membuangku ke kota ini. Aku sempat frustasi dan tidak ingin melanjutkan hidupku karena tidak ada satu orang keluarga pun yang mencariku. Baik itu orangtuaku atau calon suamiku, dan kupikir mereka tau itu bukan aku dan pernikahan di batalkan tapi nyatanya pernikahan tetap dilaksanakan. Jujur saja saat itu aku kecewa dan sangat sedih tapi seiring berjalannya waktu, aku berhasil melupakan mereka. Sekian," jawab Camilla.


Andrew menatapnya. Ini yang ingin ia dengar, dan bodohnya kenapa ia tidak mencari Camilla di kota lain? Kenapa ia menyerah saat itu? Kenapa ia beranggapan Milla berusaha kabur? Seribu perasaan bersalah dengan cepat masuk ke dalam hatinya.


"Camilla, maafkan aku kare,-"


Millo mengangkat telapak tangannya dan meminta Andrew untuk berhenti. "Nanti akan kuberikan waktu untuk kita membahas yang lain-lainnya," kata Millo.


"Milla, kamu sudah selesai?" tanya Millo lagi. Camilla mengangguk, namun mata Andrew tidak bisa lepas dari manik cokelat kehijauan Camilla.


"Oke, aku akan memutarnya kembali," sahut Millo. Ia memutar kembali botol minuman itu, dan botol itu berputar dengan cepat kemudian melambat dan berhenti di depan Millo.


Ia menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya hang terawat rapi. "Baiklah kalau begitu. Namaku Millo Forest. Aku mempunyai hobi berpindah-pindah supaya ayahku tidak dapat menemukanku. Aku tidak mau menetap di satu tempat karena aku tidak mau tinggal dengan ibu tiriku, dan aku juga tidak mau tinggal bersama ayah tiriku. Kedua orangtuaku sudah bercerai, tapi di depan umum kami tampak seperti keluarga bahagia yang minim prahara. Itu saja, sekian," kata Millo.

__ADS_1


Milla bertepuk tangan dan merangkul Millo. "Keputusan yang tepat, Millo. Maksudku,-" kembali Millo memotong pembicaraan Milla, dan memintanya untuk menunda pertanyaan, tanggapan serta komentar di sesi berikutnya.


"Your turn, Oak," ucap Millo.


Andrew berdeham. "Ehem! Namaku Andrew Oak. Aku tidak mempunyai masalah keluarga, bisa di katakan hidupku sangat lurus, tanpa ada masalah sampai aku menemukan kalau istriku ternyata bukan istriku. Saat aku mengetahui hal itu, aku segera mencari wanita yang seharusnya menjadi istriku, tapi aku sampai pada kesimpulanku sendiri saat itu dan berpikir kalau istriku sengaja kabur untuk menghindariku," kata Andrew. Saat ia berbicara, matanya terus menatap Camilla.


Kemudian ia mengambil barang-barang yang tadi sudah ia siapkan dan ia mengacak rambutnya dan berharap masih ada sisa keriting disana. "Aku ke kota ini karena aku ingin mencari bukti apakah wanita itu pergi atas keinginannya sendiri atau karena ada yang mengancamnya. Dan aku tau wanita itu tinggal disini dari video viral beberapa bulan yang lalu. Aku tau akan sulit mendekati wanita itu lagi, maka aku menyamar menjadi Robert Willow," ucap Andrew melanjutkan.


Kini mereka bertiga terdiam, entah apa yang mereka pikirkan saat itu. Mereka saling berpandangan, apa yang akan terjadi kalau Camilla tetap menikah saat itu, dan Millo tidak kabur dari rumah. Apakah mereka akan menjadi seperti ini?


"Oke, aku rasa aku tidak diinginkan saat ini dan aku cukup tau diri jadi aku akan membiarkan kalian berdua berbicara sementara aku menunggu di luar," kata Millo undur diri.


Andrew berdiri untuk menghargai keputusan Millo itu. "Thank you so much, Forest," ucap Andrew.


***


Milla terdiam. Dia tidak tau haris bersikap seperti apa kepada Andrew terlebih lagi saat mereka berdua saat ini. Milla menghela nafasnya panjang. "Bisakah kita tidak membicarakan hal ini lagi? Karena itu sudah berlalu dan sudah sangat lama sekali. Aku tidak mau mengingat itu lagi, Andrew. Aku sakit jika mengingatnya," pinta Milla.


"Maafkan aku dulu, karena sebelum aku mendengar kamu memaafkanku hidupku tidak akan tenang," kata Andrew.


"Aku sudah memaafkanmu dari sejak lama, dan bahkan sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memaafkanmu," jawab Camilla.


Andrew tersenyum lega. "Bisakah? Bisakah aku tau siapa yang menukarmu?" tanya Andrew.


"Aku rasa itu tugasmu untuk mengungkap kebenarannyaz Drew. Karena aku yakin saat ini mereka tidak akan tinggal diam dan pasti mereka merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekedar penculikan," jawab Camilla.


"Apakah itu Will dan Charlie?" tanya Andrew lagi,

__ADS_1


Camilla mengangkat bahunya. "Aku tidak mengiyakan dan tidak berkata tidak. Itu tugasmu, Andrew," balas Camilla.


Andrew menganggukan kepalanya. "Apa kamu tau, untuk sampai sini aku menyerahkan segala fasilitas yang kupunya dan bahkan nama Oak yang tersemat di namaku?" tanya Andrew.


"Itu urusanmu dan itu pilihanmu, aku tidak peduli. Aku akan meminta Millo untuk masuk kembali," ujar Milla,


Namun, sebelum ia sampai ke depan pintu, Andrew memeluknya. "Maafkan aku, Camilla. Dan misalkan kamu bersedia untuk kembali lagi bersamaku, aku..."


Camilla menggelengkan kepala dan menarik tubuhnya dari pelukan Andrew. "Maaf, tapi aku tidak bisa. Untuk saat ini dan seterusnya kita bisa berteman," jawab Camilla.


Kemudian ia membukakan pintu untuk Millo dan memintanya masuk ke dalam. Untuk saat ini, Andrew harus puas hanya berteman dengan Camilla. Baginya, dekat dengan Camilla sudah hal terbaik yang ia dapatkan.


***


Sementara itu di kediaman Oak,


Tuan Oak dan Nyonya Oak masih shock atas kejadian yang baru saja terjadi. Mereka tidak menyangka bahwa selama ini anak-anak mereka mempermainkan mereka.


"Aku sudah mengajarkan kepada anakmu, bahwa pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa di permainkan. Tapi kenapa mereka malah bermain-main dengan janji dan komitmen mereka? Mereka mengucapkan janji sakral itu kepada Tuhan, lalu kenapa di permainkan?" ucap Tuan Oak. Jelas sekali ia kecewa kepada Andrew dan Charlie.


"Kita harus melepaskan Camilla Madison. Dia tidak bersalah. Namun, aku penasaran siapa dalang di balik semua ini? Kamu begitu juga tidak, pah?" tanya Nyonya Oak.


Tuan Oak mengangguk. "Ya, kita harus mencari tau siapa dalang semua ini. Jika mereka sudah terbukti salah, maka aku tidak akan tanggung-tanggung untuk membatalkan perjanjian kerjasama itu!" ujar Tuan Oak.


"Hubungi Detektif Daniel, dan minta ia untuk menyelidiki kasus lima tahun lalu!" tukas Nyonya Oak.


Dan terhitung dari subuh hingga sore hari itu, Tuan dan Nyonya Oak tampak sangat sibuk. Bahkan mereka belum tidur lagi dari semenjak bangun subuh tadi. Tak apalah, pikir Tuan Oak, asalkan masalah ini cepat selesai.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2