
"Gadisku? Apakah aku ketinggalan sesuatu? Ini gawat!" Andrew segera bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya menuju Kota Z, apartemen Millo.
Sepanjang perjalanan dia bertanya-tanya apa yang telah Ia lewatkan. Cara Joe memanggil Camilla dengan sebutan Gadisku itu jelas bukan sesuatu yang biasa.
Sesampainya di apartemen Millo, ia segera menekan bel apartemen yang memiliki bangunan cukup besar itu. Namun, tak ada jawaban dari sang pemilik apartemen tersebut.
Andrew melirik jam tangannya. "Apakah dia masih di tempat Bob?" tanya Andrew kepada dirinya sendiri. Ia pun berlari menuju tempat Bob.
Setelah sampai di tempat Bob, Andrew melihat Millo masih bekerja. Ia mengiringi seorang penyanyi yang menggantikan Camilla malam itu.
"Andrew Oak, apa kabarmu? Kupikir kamu sudah lupa jalan ke kota ini, huh?" sapa Bob ramah. Ia menjabat tangan Andrew dan menepuk pundaknya ringan.
"Hahaha, maafkan aku. Ada banyak yang harus kukerjakan di pusat kota, Bob," jawab Andrew, merasa sungkan.
"Tapi segalanya sudah beres? Kau sehat?" Bob kembali bertanya.
Andrew membusungkan dadanya. "Bagaimana kelihatannya, Bob?" tanya Andrew tersenyum.
Bob tertawa lagi melihat tingkah Bob. "Hahaha. Ya, ya, ya, kamu sehat, 'Drew," jawab Bob.
Andrew pun menunggu Millo hingga selesai di tempat Bob. "Bob, aku akan menyewa tempatmu selama satu jam dan kau bisa beristirahat. Nanti kami yang akan merapikan semuanya," ucap Andrew.
Namun Bob menggeleng. "Apa-apaan kalian! Aku akan mengusir kalian jika kalian akan membayar tempat ini!" sahut Bob seakan tersinggung.
Akhirnya, setelah perdebatan panjang dengan Bob, Andrew dan Millo tetap berada disana serta menuruti keinginan Bob untuk tidak membayar tempat itu.
"Hei, apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Andrew kepada Millo.
Millo menautkan kedua alisnya. "Ketinggalan apa? Aku tidak mengerti maksudmu?" tanya Millo sambil menggigit sepotong ayam yang disediakan oleh Bob malam itu.
Andrew pun menceritakan pertemuannya dengan Camilla serta Joe tadi. "Awalnya aku bertemu dengan Camilla, lalu kami berdua mengunjungi ayah Camilla. Entah apa yang dibicarakan oleh Tuan Madison tapi tampaknya ia mengancam Camilla. Setelah selesai bertemu, Camilla menangis dan aku memeluknya. Kem-,"
"Kamu memeluknya?" tanya Milloe melebarkan kedua matanya.
"Wajar saja, kan? Karena dia menangis. Apalagi yang harus aku lakukan?" tanya Andrew.
Milloe berusaha mengerti posisi Andrew. "Benar juga. Kalau aku berada di sisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku paling tidak tahan melihat Camilla menangis," kata Millo.
__ADS_1
Andrew mengiyakan. "Nah, benar 'kan?"
"Aku lanjutkan. Tiba-tiba saja, Joe datang dan mengambilnya dariku. Dan kemudian mengajaknya naik motor. Yang mengusikku adalah Joe menyebut Camilla dengan sebutan Gadisku," sambung Andrew.
"Gadisku? Apa maksudnya?" Millo balik bertanya karena dia juga tidak mengerti kenapa Joe memanggil Camilla dengan sebutan Gadisku.
"Apakah mereka sedekat itu? Ataukah kita terlewati?" tanya Andrew.
Millo berpikir, dahinya berkerut-kerut. "Mereka memang dekat tapi kupikir kedekatan itu hanya sebatas pengacara dengan kliennya saja," jawab Millo.
"Beberapa kali memang mereka sempat keluar bersama untuk makan ataupun hanya sekedar mengobrol biasa," sambung Millo menjelaskan.
"Kalau hanya pengacara, tidak mungkin memanggil kliennya dengan sebutan Gadisku," sahut Andrew lesu.
Tiba-tiba saja kedua mata Millo melebar dan berkilauan. "Bob! Kita bisa tanya kepada Bob!" seru Millo.
Millo pun memanggil Bob yang menunggui mereka di dalam rumah dengan atap dari PVC itu.
"Selalu berisik, Millo ini!" titah Bob mengejek. Walaupun begitu ia tetap keluar.
"Apakah Camilla pernah bercerita tentang sesuatu? Tentang hatinya mungkin?" tanya Andrew.
Senyum terukir dari wajah Bob yang mulai memasuki usia senja itu. "Dia menceritakan banyak hal kepadaku. Keluarga, kalian berdua, dan yang terakhir ini tentang Joe," jawab Bob.
"Apa yang ia katakan tentang Joe?" tanya Millo.
"Hmmm, kemarin Camilla bercerita kalau Joe baru saja mengungkapkan perasaannya kepada Camilla.," Melihat wajah putus asa dari Andrew dan Millo, membesarkan hati mereka dengan mengatakan kalau Camilla hanya menganggap Joe sebagai kakaknya.
Kedua pria yang ada di hadapan Bob itu menghembuskan nafasnya lega. "Posisi kita masih aman, Andrew," kata Millo.
"Aku tidak tau, karena Camilla mengatakan kalau ia nyaman saat berada di dekat Joe. Itu tanda-tanda cinta, kan?" tanya Bob.
Milloe dan Andrew saling berpandangan. "Berarti kami yang tidak peka, ****!" tukas Andrew.
"Kalau sainganku Joe, aku mundur teratur," sambung Andrew lagi.
"Begitu pula aku. Tampaknya malam ini kita akan patah hati," kata Andrew
__ADS_1
"Yeah, kau benar. Joe sangat sempurna. Tidak ada bisa kita lakukan lagi, " ucap Andrew.
***
Sementara itu, Joe memberhentikan mobilnya di sebuah restoran berbintang lima.
Ia masuk ke dalam restoran itu sambil menggandeng Camilla. "Aku akan memesankan makanan untukmu," kata Joe.
Ia memesan semua makanan yang ada di restoran itu untuk Camilla.
"Hei, kenapa Andrew memelukmu?" tanya Joe sambil menunggu datangnya makanan yang telah ia pesan.
"Kurasa itu urusanku! Aku tidak harus melaporkan kepadamu tentang apa yang terjadi dengan diriku," tukas Camilla.
"Memang tidak perlu. Aku hanya bertanya kepadamu!" tukas Joe.
"Tidak ada apa-apa yang terjadi diantara kami, Joe," jawab Camilla. Ia sendiri tak tau kenapa ia menjawab seperti itu. Apa mungkin ia takut membuat Joe patah hati?
"Kamu memiliki dua hutang jawaban kepadaku karena kamu tidak mau menjawabnya secara langsung, Camilla," balas Joe
"Kalau kalau kamu menganggapnya hutang, silakan saja" jawab Camilla.
"Makanya, jawablah aku!" tukas Joe.
Camilla teringat permintaan ayahnya untuk mendekati Joe. Maka, dengan mengesampingkan perasaan cintanya kepada Joe dan mencoba menyelamatkan keluarganya dari jeruji besi, ia telah memutuskan jawaban untuk Joe.
"Pertanyaan kemarin, aku akan menjawabnya," ucap Camilla.
Joe terkesima dan menunggu jawaban dari Camilla. "Apa jawabanmu?" tanya Joe.
"Ya, aku juga menyukaimu," jawab Camilla.
Joe bersorak senang. "Benarkah? Benarkah itu, Milla? Aku akan segera mengumumkan ini ke awak media dan memberitakan kalau kamu dan aku sudah resmi menjadi sepasang kekasih," sahut Joe. Ia memegang tangan Camilla dan mengecup punggung tangannya.
Camilla tersenyum di balik kesedihannya. Ia tau ini salah karena menerima cinta Joe karena ingin meminta bantuan dari Joe untuk membebaskan keluarganya. Ada rasa sakit yang tidak dapat ia jelaskan di dalam sana yang berdenyut-denyut kian kencang.
...----------------...
__ADS_1